Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Keluar


__ADS_3

Sebelumnya mohon maaf jika typo beterbangan dimana-mana :")


Terlihat sebuah rumah berlantai dua dengan interior yang cukup mewah dibanding dengan bangunan-bangunan yang telah dilewati sebelumnya. Rumah ini cukup jauh dari rumah-rumah sebelumnya. Bahkan rumah-rumah sebelumnya terkesan lebih sederhana dengan lanttai satu. Daerah ini lebih terkesan pedesaan atau bahkan dapat disebut terpencil.


“Kenapa jauh sekali tempat tujuannya Pak?” tanya Anisa pada Pak Haris. Sudah tiga jam perjalanan, hingga kini berhentti di depan rumah berlantai dua.


“Ini rumah mama saya, kita istirahan disini terlebih dahulu sebelum kembali ke Jombang,” jawab Haris.


Anisa mengikuti Haris di belakangnya. Diketuknya pintu kayu tersebut. Tak lama setelah itu keluarlah seorang ibu-ibu paruh baya dan tersenyum pada Farhan. Itu pasti ibunya Pak Farhan, pikir Anisa. Mereka berdua saling berpelukan, seperti sudah lama tak bertemu.


“Kenapa lama sekali tak menengok Mama? Imah sedang pulang kampung, jadi Mama sendiri,” ujar ibu paruh baya itu pada anaknya.


“Maaf Ma, Haris baru bisa menjenguk Mama saat ini,” jawab Haris.


Tatapan ibu paruh baya itu tertuju pada seorang wanita canting di belakang anaknya. Didekainya Anisa. Anisa mencium tangan ibu itu untuk menghormatinya. Senyuman terukir di bibir ibu itu.


“Ayo masuk Nak,” ujarnya pada Anisa. Anisa mengangguk dan ikut masuk kedalam.


Anisa diantarkan menuju sebuah kamar oleh Haris. Kemudian Haris meninggalkannya agar Anisa bersih-bersih dan istirahat.


“Bukannya Pak Haris pernah bilang jika orang tuanya sudah meninggal semua?” gumam Anisa setelah Haris keluar. Ia baru ingat akan pernyataan Haris tempo lalu.


“Gadis itu siapa? Calon kamu?” tanya Ibu itu kepada anaknya yang duduk di sebelahnya setelah mengantarkan Anisa.


“Doakan saja Ma,” jawabnya.


“Dia cantik, manis, sepertinya wanita baik-baik. Pintar anak mama mencari calon,” Ujar Mamanya.


“Iya Ma, baik banget,” jawabnya singkat. Kemudian berlalu menuju lantai atas. Sepertinya ke kamarnya.


Tok! Tok! Tok!


Anisa membuka pinti kamarnya. Ibu paruh baya itu membawakan semangkuk sup dan air putih untuk Anisa.


“Kata Farhan, kamu gak mau makan bareng... kenapa?” tanya Ibu itu setelah dipersilahkan masuk oleh Anisa.


Anisa tersenyum, “Tidak apa-apa Bu, hanya tidak berselera,” Jawab Anisa.


“Tangan kamu terluka, sebentar Mama ambilkan obat merah,” ujar Ibu itu hendak beranjak dari duduknya.


“Tidak usah Bu, saya tidak apa-apa. Saya hanya ingin meminta tolong pada Ibu,” pinta Anisa.


“Boleh, minta tolong apa Nak?” tanya Ibu itu.


“Bolehkah saya meminjam hp Ibu? Saya ingin memberi kabar kepada suami saya,” pinta Anisa sedikit memohon.


Terukir sentuhan kaget di wajah ibu itu. Apa mungkin anak semata wayangnya membawa kabur istri orang? Astaga! Bagaimana mungkin anaknya seperti itu?


“Boleh Nak sebentar, tapi hp Ibu jadul. Hahaha, maklum orang jaman dulu,” jawabnya sembari menutupi kekagetannya. Iapun mengubah panggilannya mengikuti kehendak Anisa.


Dikeluarkannya hp ketikan jaman dahulu dengan senter di atas kepala hpnya dari dalam saku celana. Anisa tersenyum dan menerima uluran dari ibu itu. Mulai dipencetnya hp jadul itu setelah berterima kasih.

__ADS_1


“Jangan berani-berani kamu menghubungi Farhan!” suara sedikit membentak hadir ditengah mereka dan menyahut hp sang ibunda.


Anisa kaget dibuatnya. Kenapa tidak boleh?


“Mama keluar dulu ya, Haris ada perlu dengan Anisa,” ujarnya lembut dengan menunttun sang ibu. Ibu itu sempat akan menanyakan suatu hal pada Haris, tapi pintu kamar itu segera di tutup olehnya.


Haris mendekati Anisa dan berdiri dihadapannya.


“Jangan berani-berani menghubungi Farhan! Attau kamu akan tahu akibatnya!” ujarnya tegas pada Anisa.


Anisa menjauh dari Haris, “Apa maksud anda?” tanya Anisa.


“Hahaha! Jika dulu aku tidak bisa mendapatkanmu, maka sekarang adalah saatnya! Sudahlah Anisa, lupakan Farhan! Kita mulai bersama hidup kita. Aku akan membahagiakan kamu sayang,” ujar Haris.


“Anda jangan macam-macam dengan saya Haris! Mas Faridz akan menemukan saya! dia akan menyelamatkan saya!” tegas Anisa.


“Iya, menyelamatkanmu dalam mimpi!” tekan Haris dan terus mendekati Anisa. Anisa terus menjauh dan menjauh hingga,


“Haris! Mama akan mengambil mangkuk makanan Anisa,” teriak ibu Haris dibalik pintu.


“Kamu selamat kali ini sayang,” lirih Haris dan berlalu membuka pintu.


“Alhamdulillah,” lirih Anisa dan berjongkok dengan bersandar pada dinding.


“Kamu kenapa Nak?” tanya Ibu Haris.


Anisa berdiri dan menghampiri Ibu paruhbaya itu.


“Terima kasih jika Ibu mau membantu saya keluar dari sini, saya mempunyai suami Bu,” lirih Anisa.


“Ibu tak tahu pokok masalah ini sebenarnya apa, tapi ibu tahu yang dilakukan Haris itu salah. Ibu akan membantumu Nak. Tapi Ibu tidak bisa jika meminjamkan hp Ibu, karena masih dibawa Haris” ujar Ibu itu.


“Terima kasih Bu, tidak apa-apa. Kita cari cara lain,” ujar Anisa dan dibalas senyuman oleh ibu Haris.


“Ya sudah, kamu makan itu. Ibu yakin kamu belum makan. Ada yang diperlukan lagi?” tanya Ibu itu.


“Saya boleh meminjam alat sholat dan Al-Quran Bu?” tanya Anisa.


“Tentu saja boleh, di lemari itu sudah tersedia perlengkapan sholatnya. Ibu pergi dulu ya, mau menyiapkan makan malam,” pamit sang ibu.


“Boleh Anisa bantu?” tanya Anisa.


“Tentu saja boleh. setelah kamu sholat, temui Ibu di dapur sebelah ruang keluarga,” ujar sang ibu.


Anisa mengangguk dengan senyuman yang terus mengembang. Alhamdulillah ia masih berttemu orang baik di rumah ini. Bahkan beliau akan membantunya terbebas dari rumah ini. Setelah itu ia akan kembali bertemu dengan suaminya. Yang terpenting saat ini adalah keluar dari rumah ini dahulu. Baru setelah itu ia akan mencari cara bagaimana caranya pulang.


Tunggu! Kenapa Anisa terlupa untuk menanyakan dimana tempat ini? Tadi diperjalanan Anisa sempat bertanya pada Haris, tapi tak dijawabnya. Oke, tidak masalah. Nanti ia bisa bertanya pada Ibu Haris.


Anisa segera melaksanakan sholat dan mengqadha sholat yang sempat tertinggal kemarin hari. Setelah sholat, Anisa menyempatkan membaca Al-Quran sebentar. Barulah ia menghampiri Ibu Haris.


Anisa tak bingung mencari dimana letak dapur. Karena memang tak jauh dari kamar yang ditempatinya. Dilihatnya kini Ibu tengah mengiris sayuran hijau. Sepertinya itu buncis. Anisa mendekat dan menyapa ibu.

__ADS_1


“Kata Haris, kamu suka memasak. Coba deh kamu masakin Ibu,” ujar sang ibu lembut.


Ternyata Haris sering menceritakan kepada Mamanya perihal Anisa. Dari mana ia tahu kalau Anisa suka memasak?


“Haris satu kantor sama kamu kan?” tanya Ibu.


Oh iya! Bagaimana mungkin Anisa melupakan hal itu. Pasti Haris sering melihat Anisa membawa bekal. Bahkan ia sering membagikan cemilan hasil memasaknya kepada teman dosen sekantor.


“I-iyya Bu,” jawab Anisa.


Anisa mulai membantu Ibu memasak. Ia mengambil bahan masakan sebagai pelengkap lauk di kulkas yang dittunjukan Ibu. Disisi lain, Haris tengah memandangi Mamanya dengan pujaan hatinya tengah memasak bersama. Mamanya sesekali tertawa bersama Anisa.


“Aku berharap bisa melihat pemandangan seperti ini setiap hari,” gumamnya.


.


.


.


.


Kini Abi dan Ayah beserta anak mereka dan beberapa pengikutnya telah berada di kalimantan. Mereka juga bekerja sama dengan pihak berwajib unttuk mengantisipasi kejadian-kejadian yang tidak diinginkan.


“Ayah! GPS jam tangan Anisa berfungsi kembali! GPS jam tangan Anisa tidak berada dititik yang sama!” Ujar Farhan terkaget. Kini mereka tengah berada di perjalanan menuju lokasi. GPS jam tangan Anisa sempat tak terkoneksi, kini mulai bisa berkoneksi kembali. Perjalanan yang mereka lalui tidak semulus jalanan kota. Mereka harus melewati jalanan berbatuan, berlumpur, khas jalanan plosok.


“Kita ikuti GPS itu,” perintah Ayah.


“Bagaimana jika nanti kita di jebak?” tanya Faisal.


“Jarak kita dengan lokasi awal apa masih jauh Han?” tanya Abi.


“Kurang lebih 20 KM lagi bi,” jawab Farhan yang sebelumnya telah menyimpan lokasi awal.


“Kita kesana terlebih dahulu. Siapa tahu kita menemukan petunjuk,” ujar Abi.


“Lebih baik kita utuskan orang kita sebagian ke lokasi awal, sedangkan kita mengikuti lokasi baru,” ujar Farhan.


“Ide bagus! Saya settuju dengan Farhan!” ujar Om Hari salah satu teman Abi dan Ayah yang ikut dalam misi ini.


Akhirnya Ayah memberi perintah kepada orangnya sesuai saran Farhan. Sedangkan mereka putar balik mengikuti arah GPS yang baru.


Bersambung...


Assalamu’alaikum para pembaca novel Lhu-lhu...


Sepertinya rencana crazy upnya ditunda deh... :”(


Lhu-lhu kurang sehat kali ini...


Mohon maaf yang sebesar-besarnya ....🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2