
Sudah dua hari ini hujan mengguyur kota setengah desa Jombang. Suasana dingin dengan aroma petrikor yang sangat menenangkan, membuat sebagian besar para penghuni semesta bumi menyukainya. Begitu pun dengan Anisa, sedari tadi ia menikmati turunan rahmat dari sang pencipta. Sudah setengah jam ia berdiri di balkon, sesekali ia tersenyum melihat anak-anak tampak bermain hujan dengan canda tawa yang terukir dari bibir lengkung mereka.
Jika masih seumuran mereka, ia yakin akan melakukan hal sama. Saat ini pun ia sangat menyukai hujan.
Grep! Sebuah tangan melingkar di perutnya. Pelukan siapa lagi kalau bukan sang suami.
"Lagi liatin apa?" Tanyanya.
"Adek senang lihatin mereka Mas. Kalau anak kita nantinya ada disana, pasti akan bahagia seperti itu," Jawab Anisa.
Farhan mengeratkan pelukannya. Menenggelamkan kepalanya pada ceruk leher Anisa. Ia tetap mengendus meskipun jilbab Anisa menghalanginya.
"Mas, aku pakai jilbab lho," Lirih Anisa menahan sensasi gelinya.
"Dingin-dingin kayak ini enaknya meluk kamu Yaang," Jawab Farhan.
"Kita ke kamar, Mas boleh nyentuh Adek," Ujar Anisa membalikkan badannya.
Ekspresi bingung Farhan terlihat dengan sangat jelas. Bukannya saat ini ia tengah menyentuh sang istri? Lalu kenapa disuruh menyentuh lagi?
"Adek sudah suci dari hadas Mas," Jelas Anisa.
Senyuman mengembang pada bibir Farhan dan langsung menggendong ala bridal style.
"Astaghfirullah!" Tentu saja kalian tahu bagaimana kagetnya Anisa uang tiba-tiba digendong itu.
"Kapan sucinya? Kok baru ngomong sih?" Tanya Farhan sembari berjalan.
"Barusan," Jawab Anisa singkat.
"Sarapannya nanti aja ya," Lirih Farhan ketika meletakkan Anisa di tempat tidur.
__ADS_1
"Siap bos!" Jawab Anisa dengan melingkarkan tangannya di leher sang suami.
.
.
Di belahan bumi lain tepatnya di sebuah rumah khusus asatidz, seorang wanita tengah menyiapkan beberapa sandangan untuk dibawa pergi esok pagi.
"Assalamu'alaikum," Sapa seorang laki-laki memasuki rumah.
"Waalaikumussalam, sudah selesai ngajarnya Mas?" Jawab Wardah. Segera ia menghampiri sang suami dan mencium tangannya.
Tak ada respon dari sang empu. Cak Ibil merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan memejamkan matanya.
"Kita berangkat ke rumah Anisa nanti malam. Aku sudah ngomong ke Ical," Ujar Cak Ibil dengan mata tertutup.
"Kok ngomongnya ke Kak Ical Mas? Tidak ke Mas Farhan atau Anisa saja ta?" Tanya Wardah pelan-pelan.
Hening! Lagi-lagi tak ada respon apapun dari Cak Ibil.
Wardah memutuskan untuk menelepon Anisa. Jika tak memberi kabar takutnya malah menambah masalah nantinya. Ia keluar dari kamar, takut jika mengganggu sang suami.
Tut! "Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan!" Begitulah ujaran mbak-mbak operator. Sudah 4 kali menelepon tak ada tanda-tanda akan di angkat. Kebiasaan! Pasti Anisa mendiamkan nada deringnya.
"Kemana sih ni anak? Apa aku telpon Mas Farhan ya? Iya deh!" Gumamnya.
Tuut, tuut, tuut, tak di angkat juga. Sekali, dua kali, klik!
"Assalamu'alaikum! Nanti dulu ya? Saya sedang sibuk!" Ujarnya dari telepon.
"Eh! Mas Farhan! Maaf-maaf, saya perlu sebentar," Jawab Wardah cepat. Bahkan ia lupa tak menjawab salam Farhan.
__ADS_1
"Hallo Wardah? Ada apa?" Suara Anisa. Iya, itu Anisa.
"Kok kamu gak jawab telepon aku sih? Aku udah 4 kali lho nelpon kamu!" Gerutu Wardah.
"Hehehe, maaf sayang akoooh," Jawab Anisa.
"Cepetan sih dek, nanggung tahuu!" Terdengar keluhan Farhan.
"Iya, bentar. Sabar... Ih! Jangan gitu Mas! Geli tahuu!" Suara yang awalnya pelan tiba-tiba berteriak.
Wardah bagai pendengar setia radio saja kali ini.
"Maaf Wardah, ada apa?" Tanya Anisa. Akhirnya ia mengingat Wardah yang masih setia mendengarkan.
"Mas Aibil mau ngajak ke rumah kamu nanti malam,"
"Apa! Kenapa tiba-tiba? Mas Faridz ah! Dibilagin jangan jahil tangannya!" Tanya Anisa spontan ditambah teriakannya lagi.
"Huufft! Kamu lagi ngapain sih? Heboh banget! Tadi Mas Aibil nelpon Kak Ical katanya," Ujar Wardah.
"Ooh, ya udah kalau ngomong ke Kak Ical,"
"Udah ya Wardah! Sampai ketemu nanti malam. Nanggung nih! Maaf, babay," Ujaran Anisa terpotong oleh Farhan dan langsung mematikannya.
"Dasar suami istri sedeng! Tapi kayaknya seru deh kalau suami kita bucin," Gumam Wardah.
Ia kembali ke kamar dan melanjutkan beres-beresnya.
Bersambung....
Ayo baca novel lhu-lhu yg satunya gaess! Sambil nunggu up bagian ini. Wardah bermutasi menjadi
__ADS_1
Visualnya Wardah di revisi yaaak 😉