Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Ff


__ADS_3

Ayoo, yang belum baca part revisi monggo dibaca....


Sudah diperbarui yaa sama Lhu-Lhu.... :")


Anisa sudah kembali ke tempat tidur. Farhan tak akan membiarkan sang istri kelelahan kali ini. Anak kecil yang tadi masih setia dengan mata tertutupnya.


Umi masuk bersama Abi kali ini. Memeluk Anisa, memberi wejangan-demi wejangan. Tak lupa meledek Farhan. Hahaha. Abi mendekati Anisa dan duduk di sampingnya Farhan dihempaskan saja. Diciuminya anak perempuan satu-satunya itu.


Anisa masih betah berada di pelukan Abi. Rasanya baru kemarin ia berlarian mengajak Abi dan Umi jalan-jalan. Kini ia sudah berproses akan menjadi orang tua seperti Abi dan Uminya. Umi memijit kaki Anisa.


"Bunda dan Ayah suruh masuk saja tak apa Han," Ujar Umi. Farhan menurutinya dan memanggil Ayah dan Bunda.


Suara lengkingan Bunda membangunkan Faisal girl. Ia menangis karena kaget. Dengan sigap Bunda menggendong Hilya.


"Pelankan suaramu. Lihat, cucuku bangun," Ujar Umi.


"Maaf, aku terlalu semangat ingin memeluk menantu kesayanganku ini," Jawab Bunda Yang mengambil alih pelukan Abi pada Anisa.

__ADS_1


Bunda terus memeluk Anisa tak kasih kendor. Bahkan Umi tak dibiarkan kenyamanannya memeluk Anisa. Bunda terus saja mengelus perut Anisa dengan senyuman yang terus berkembang. Membuat siapa saja yang melihatnya tampak haru. Maklumlah, ini merupakan cucu pertama untuk Bunda dan Ayah.


Kak Ical dan Kak Aisy menyusul masuk. Oke! Seluruh keluarga tampak memanjakan Anisa kali ini. Anisa dan Farhan mendapat wejangan yang membeludak.


"Padahal baru 6 minggu, udah kelihatan ya dek," Ujar Kak Aisy mengelus perut Anisa dengan lembut.


"Itu baru perkiraan Kak," Jawab Anisa.


"Kalau ini sih udah kayak orang hamil 3 bulan namanya." Celetuk Kak Aisy sembari mengelus perut Anisa.


Ujaran Kak Aisy ternyata membuat persetujuan manusia di sana. Kecuali Farhan tentunya. Ia selalu mendapat ejekan karena tak peka atas kehamilan sang istri. Kak Ical selalu meledeknya. Sepertinya ia mulai puas.


"Kalau ngomong tuh dijaga. Ada anaknya juga," Ujar Kak Aisy sewot. Bisa-bisa anaknya nanti terkontaminasi pikirannya.


"Hehehe, maaf yaank.... Keceplosan," Jawab Kak Ical dengan cengengesan. Yang lain pun tertawa melihat wajah sang empu yang terlihat jelas jika ia 'Suami Takut Istri'. Hahaha


.

__ADS_1


.


.


Anisa clingak-clinguk mencari keberadaan gawainya. Ia ingin memberi kabar gembira ini lada Wardah. Oh iya! Kebetulan yang lain sudah keluar tadi. Umi dan Abi bersikeras untuk bermalam beberapa hari disini. Jadilah Kak Ical dan Kak Aisy pulang sendiri. Hilya pun tak mau pulang. Setelah diberikan bujukan demi bujukan yang membutuhkan waktu lama, akhirnya ia mau.


"Nyari apa sayangku?" Tanya Farhan setelah keluar dari kamar mandi yang hanya mengenakan handuk.


"Nyari hp Mas, mau nelepon Wardah," Jawab Anisa.


"Hpnya Mas simpan. Gak boleh main hp terlalu lama sama Bunda," Jawab Farhan.


"Mau nelpon Wardah Mas," Rengek Anisa.


"Huufft... Pakai hp Mas ajah," Jawab Farhan akhirnya. Farhan mengambil gawai di nakasnya dan memberikan pada Anisa.


"Makasih suamiku," Ujar Anisa mengambil gawai dan dengan iseng menarik handuk Farhan.

__ADS_1


"Eh! Eh! Eh! Jangan jail yaa! Ntar Mas keblabasan lho!" Teriak Farhan panik. Untuk belum lepas. Anisa tertawa terpingkal-pingkal dibuatnya....


Bersambung......


__ADS_2