Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Seketek


__ADS_3

Tak kuat melihat kemesraan manusia di depannya, Achara memilih untuk pamit. Anisa merasa tak sopan kali ini. Apa sang suami terlalu berlebihan di hadapan orang? Memang sedari tadi yang mengajak berbicara Achara itu Anisa. Farhan hanya menanggapi sekedarnya dan lebih sering berbincang dengan Anisa. Jangan lupa sikap manjanya. Ia bahkan tak peduli dengan kehadiran orang lain di ruangannya.


"Achara cantik ya Mas," Goda Anisa saat wanita itu telah pergi.


"Iya, tapi cantik istrinya Mas..." Jawab Farhan.


"Dia muslim apa nggak?" Tanya Anisa penasaran.


"Gak deh yang, soalnya waktu Mas izin sembahyang gak ada yang ngikutin selain rombongan kita," Jawab Farhan.


Anisa manggut-manggut dibuatnya. Itu berarti tak ada kesempatan bagi wanita itu untuk menyusup ke hati Farhan. Walaupun sebenarnya ia sudah sangat percaya dengan suaminya.


"Assalamualaikum," Sapa Pak Toni dan Bapak Wakil Rektor.


"Wa'alaikumussalam," Jawab Farhan dibarengi dengan Anisa.


"Anisa, apa kabar setelah ditinggal suami satu hari ini?" Tanya Pak Toni bercanda.


"Hahaha, bapak bisa saja, alhamdulillah masih baik-baik saja pak. Yang di samping bapak itu yang mengkhawatirkan kalau moodnya anjlok," Jawab Anisa.

__ADS_1


"Iya Nis, waktu rapat tadi aja gak berhenti lihatin hp. Palingan juga nungguin notif dari kamu," Sambung Pak Wakil Rektor. Ternyata bisa bercanda juga bapak ini. Mukanya terlihat sangar siih. Setelah berbincang lama, akhirnya Anisa menyudahi sambungan video calllnya.


"Ya udah Mas, adek mau ke bawah, dipanggil Mbah Uti kayaknya," Pamit Anisa.


"Yaahhhh, cepet banget siih," Rengek Farhan.


"Tuh-kan Nis, dedek bayinya masih kangen," Ledek Pak Toni.


"Hahaha, titip calon abinya dedek bayi ya Pak. Ini udah dua jam lho vidcalllnya. Assalamualaikum," Tanpa menunggu jawaban Farhan, Anisa langsung mematikan gawainya.


Benar-benar minta di masukan dalam karung si Farhan. Tak tahu tempat untuk manja. Ketahuilah, kini Anisa malu. Pipinya merah merona. Mungkin seperti ini rasanya Farhan dulu. Dulu saat Anisa yang moodnya juga turun naik.


.


.


.


"Sudah selesai. Nanti sore - lusa kita jalan-jalan refreshing keliling Thailand. Baru esoknya lagi kita kembali ke Indonesia." Jelas Pak Toni.

__ADS_1


"Refreshing? Saya sore nanti langsung pulang saja ya, bapak saja yang mewakilkan pihak kampus kita," Ujar Farhan.


"Jangan ngawur Han!" Jawab Pak Hamidin sesepuh mereka yakni Wakil Rektor.


"Pak," Lirih Farhan dengan muka melasnya. Benar-benar jatuh martabat Farhan di hadapan dua dosen plus pengurus Universitas itu.


"Saya gak bisa makan makanan selain masakan Anisa, mual terus," Sambungnya dengan sedikit merayu.


"Susah ternyata kalau suami yang nyidam Pak," Celetuk Pak Toni.


"Ya sudah pulang sana." Jawab Pak Hamidin.


Farhan masih ragu. Ia ingin pulang, tapi takut dengan Ayah.


"Tenang, nanti saya yang ngomong dengan Ayah kamu," Ujar Pak Hamidin seolah tahu pikiran Farhan yang bergelut.


"Terima kasih pak! Terima kasih banyak!" Girang Farhan.


Ia segera mencari dan memesan penerbangan untuk sore hari ini. Sayangnya ia hanya menemukan penerbangan pada pukul tujuh. Mau tak mau ia mengambil saat itu. Dari pada tak pulang.

__ADS_1


Farhan tak akan memberi tahu kepulangannya yang dipercepat. Ia ingin melihat ekspresi Anisa ketika tiba-tiba ia pulang. Sampai di hotel, Farhan segera berkemas. Ia begitu excited untuk pulang ke rumah. Ia tak perlu susah susah mencari makanan yabg cocok agar tak mual.


...Bersambung... ...


__ADS_2