
“Kalian tahu? Mbak Anisa itu ternyata orangnya supel banget lho. Udah baik, cantik, hafidzoh, pokoknya sempurna banget deh!” ujar Meli kepada teman-temannya ketika Anisa dan Farhan mulai berjalan ke arah ndalem.
“Kemarin yang ngajak ngobrol Ustadz Farhan di parkiran siapa ya?” Tanya Tias teman Meli.
“Emm, itu- Kak Hanum. Anggota pengurus keamanan,” jawab Meli.
“Pasti malu banget, udah nawarin diri deket-deketin Ustadz Farhan, eh malah ditolak mentah-mentah. Hahaha, aku kalau jadi dia malu setengah mati”. Ujar Hana, salah satu santri pula.
“Hey, jangan keras-keras! Nanti ada yang ngadu malah dihukum kamu sama Mbak Hanum,” Meli mengingatkan.
Begitulah santri. Jangan beranggapan jika santri itu semuanya pendiam, kalem, taat, atau dapat dibilang sempurna. Santri jika sudah berkumpul dengan gengnya pasti bicaranya ngalor ngidul. Tak segan-segan, para santri hobi menggosip juga.
“AAAHHH! COCWIIIITTT,” teriak para santri ketika melihat Farhan menggandeng Anisa.
Maklumlaah, bergandengan tangan dengan lawan jenis yang bukan makhromnya merupakan larangan keras untuk mereka. Boro-boro gandengan tangan, kettahuan ngobrol berdua dengan lawan jenis saja sudah ditakzir (dihukum).
Setiap kali Farhan atau Anisa memperlihatkan hal-hal yang manis pasti para santri akan menjerit histeris. Terkhusus santri putri. Hahaha. Melihat hal itu, Farhan justru lebih gencar memamerkan kelembutan dan perilaku manisnya terhadap Anisa pada mereka.
Sesi foto-foto pun dimulai. Setelah para Asatidz berfoto, kini giliran Mbak dan Mas pengurus. Itu untungnya menjadi pengurus. Selalu dilibatkan jika ada acara spesial. Tak enaknya, ia akan menjadi bahan perbincangan para santri atas perbuatannya. Bukan hanya perbuatan melanggar atau buruknya, bahkan para santri juga doyan membicarakan segala sisi perbuatan Mbak atau Mas pengurus. Harus tebal telinga deh!
Setelah para pengurus, Umi memberi izin kepada para santri untuk ikut berfoto. Umi kira hanya beberapa yang ingin, ternyata hampir semua santtri yang ingin. Akhirnya Umi memilih santri yang boleh ikut berfoto. Tentunya tidak mungkin jika santtri berjumlah 3.000 jiwa berfoto semua. Bisa-bisa kelar 7 hari 7 malam. Selain Umi yang memilih, Anisa dan Farhan juga diminta untuk memilih. Tentu saja mereka berdua memilih santri yang dikenal saja. Aksi rebutan pun tak bisa dihindari. Ini mah seperti ajang pembagian zakat fitrah. Hahaha.
.
.
.
Acara semalam selesai pada tengah malam. Anisa dan Farhan langsung bersiap-siap untuk kepulangan mereka hari ini. Capek? Tentu saja! Anisa telah siap dengan tas jinjingnya, Farhan juga telah siap dengan tas ransel tempat bajunya dan Anisa. Kini mereka hendak berpamitan pada Abah dan Umi.
__ADS_1
“Adek yakin mau pakai baju kayak ini?” tanya Farhan ketika melihat pakaian Anisa.
“Iyaa Mas, aku pengen mampir ke suatu tempat,” jawab Anisa.
“Ini kurang sopan kalau sama Kyai sayang,” ujar Farhan menasehati.
“Siapa bilang aku mau kayak gini aja? Adek mau pakai outher kok,” ujar Anisa. Ketika Farhan membuka pintu keluar,
“Husna ikut pulang!” Ujar Husna tiba-tiba, yang ternyata sudah didepan pintu asrama mereka berdua.
“Kan belum liburan sayaang,” Jawab Anisa dengan merangkul Husna.
“Pengen refreshing kak,” Keluh Husna.
“Gak boleh ngeluh gitu dong. Nanti juga ada waktunya buat istirahat, nanti kalau sudah khatam dijamin senengnya masyaallah. Dari dunia sampai akhirat,” ujar Anisa menyemangati Husna.
“Udah, ngaji yang bener. Kakak mau sowan dulu. Ayo dek,” ajak Farhan. Akhirnya Husna melepskan Anisa. Awalnya sowan ke ndalem niatnya hanya sebentar. Ternyata Umi dan Abah masih mengajak ngobrol bersama. Alhasil membutuhkan waktu satu jam untuk sowan.
“Udah sana masuk kelas. Kakak mau pulang,” ujar Farhan.
“Pulang ajah! Gak usah ajak Kak Ica,” jawab Husna sewot.
“Bisa-bisanya kamu ya. Kakak sama Kak Ica tuh satu paket. Gak bisa dipisahin. Ngawur!” Ujar Farhan tak terima.
“Husna, ditimbali (dipanggil) Ustadzah,” panggil salah satu teman Husna yang menjempunya.
“Tuh udah dijemput. Sana gih,” Ujar Farhan.
“Ayo kak, ke kelas. Aku duluan ya. Assalamu’alaikum,” ujar Faiz menyalami Farhan dan Anisa serta memberikan gawainya pada Anisa untuk dibawa pulang.
__ADS_1
“Bentar Hana! Tunggu dulu ya, aku mau lihat kakak aku pulang dulu,” ujar Husna pada temannya.
Anisa dan Farhan bergegas meninggalkan pesantren setelah berpamitan pada Husna yang terus merengek.
“Kamu manja banget sama Mbak Anisa,” ujar Hana pada Husna dalam perjalanan ke kelas.
“Kak Ica tuh luar biasa. Gak tahu kenapa aku sayang banget sama dia,” jawab Husna.
.
.
.
.
Farhan tak langsung kembali ke mansion. Ia dan Anisa mampir terlebih dahulu ke sebuah kebun teh. Bukan inisiatif Farhan kali ini. Anisa yang meminta Farhan untuk mampir. Sebelum kembali pada rutinitas awal mereka kata Anisa.
Pantas saja Anisa sudah mengenakan outfit yang pas dari tadi. Farhan sempat heran saat istrinya mengenakan pakaian seperti itu saat sowan. Anisa mengambil sebuah topi di jok belakang dan memakainya.
“Ternyata udah nyiapin semua yaa, curang ah!” ujar Farhan menyindir Anisa. Farhan tak membawa perlengkapan jalan-jalan, alhasil ia memakai baju koko ketika sampai tempat tujuan.
Anisa mengajak Farhan untuk ke kebun teh. Padahal mereka sudah pernah ke kebun teh. Tapi, kali ini bukan kebun teh yang pernah mereka kunjungi. Tak sebagus ttempat yang dulu memang. Farhan sengajak mampir di sini, karena jaraknya yang tak terlalu jauh dari daerah mereka. Anisa memang sangat menyukai suasana asri seperti ini. Ia tampak sangat menikmati. Farhan dengan iseng mengambil foto istrinya.
Mereka tak lama berrada disana. Mengingat perjalanan yang masih lumayan... akhirnya mereka pulang.
Bersambung....
__ADS_1
Kalian belum baca cerpen Lhu-lhu siih :"(
Kan jadi sediiihhhh... 😭😢