
"Maas? Kok disni? Gak usah gitu ah! Malu ditempat umum". Ujar Anisa melepaskan pelukan Farhan.
"Kamu gak papakan?". Tanya Farhan dengan meneliti wajah hingga badan Anisa.
"Apaan sih mas? Aku gak papa, Mas ngapain kesini?". Jawab Anisa.
"Gak papa, khawatir aja. Tadi Bunda nelvon katanya kamu ketemu orang itu". Ujar Farhan. Spontan langsung menutup mulutnya.
Kenapa malah keceplosan siiih. Bener-bener dah, gak bisa jaga rahasia kalau sama Anisa.
"Siapa?". Tanya Anisa.
"Emm, hahahha. Nggak. Bercanda Mas tadi. Ayah mau ikut Bunda jalan-jalan tadi". Jawab Farhan bingung.
"Kenapa Ayah gak ngomong tadi? Kan Anisa udah ngajak". Ujar Anisa menghampiri Ayah.
"Baru kepengen. Ya udah ngajak Farhan". Jawab Ayah.
"Yang, ini wangi deh". Ujar Farhan mengalihkan pembicaraan.
"Iyaa Mas, tadi adek pilih yang itu". Jawab Anisa beralih pada parfum kembali.
Alhasil Farhan dan Ayah menjadi bodyguard 2 wanita yang tengah berbelanja.
"Makan siang dulu yuk sebelum pulang". Ajak Ayah. Sepertinya Ayah mulai bosan.
"Yang, ikut Mas dulu yuk! Nanti kita nyusul Ayah sama Bunda". Ajak Farhan langsung menggandeng tangan Anisa.
"Tu anak gak pamitan dulu sama orang tua". Ujar Ayah setelah kedua anaknya pergi.
"Hallah! Kayak gak pernah muda ajah. Ayo Yah". Ajak Bunda.
.
.
.
"Ngapain kesini?". Tanya Anisa ketika Farhan mengajak ke toko jam.
"Mas mau beliin jam tangan buat sayangku. Beberapa waktu lalu mas desain jam. Hari ngambil". Jawab Farhan.
"Han!". Panggil seseorang.
"Gimana? Bisakan?". Tanya Farhan.
"Aman! Lo gak berniat ngenalin adeknya Faisal ke gua?". Sindir orang itu.
"Fix, mereka bertiga temenan. Kok tahu sama aku?". Batin Anisa.
__ADS_1
"Nih Yang, temen Kak Ical. Tomi". Ujar Farhan.
"Assalamu'alaikum ukhti". Sapa Tomi dengan gaya buayanya wkwkwk.
"Wa'alaikumussalam". Jawab Anisa dengan mengembangkan senyumnya.
"Duduk dulu". Ujar Tomi mempersilahkan.
"Mana? Aku mau lihat hasilnya". Ujar Farhan.
"Gak sabaran banget sih. Makan-makan aja dulu". Ujar Tomi.
"Gak mau. Takut ntar istriku ketularan buayanya". Canda Farhan.
"Sembarangan kalau ngomong". Jawab Tomi.
Tomi mengambil sebuah kotak di laci mejanya. Sepertinya itu benar-benar dipesan khusus. Tomi menyerahkannya pada Farhan.
"Nih, coba aja dulu. Nanti kalau kurang pas biar dibetulkan". Ujar Tomi.
Farhan meraih tangan Anisa dan memakaikan jam di tangan itu.
"Mas yakin ini desain sendiri? Kayaknya ini mahal banget deh mas". Tanya Anisa ragu.
Farhan cengengesan dibuatnya.
"Sedikit apanya? Kami disini kebingungan naruh tu alat". Sindir Tomi. Ia sedikit kepanasan melihat pemandangan dua insan itu. Farhan memelototi Tomi agar tak bicara.
"Alat apa?". Tanya Anisa kepo.
"Gak usah didengerin orang itu. Ngawur. Kaaan,cantik kalau ditangan kamu yang". Puji Farhan.
"Makasih Mas, Adek suka bangeet". Jawab Anisa.
"Mas minta, kamu pakai ini terus kalau lagi diluar rumah ya? Pliiis, Mas mohon. Walaupun hanya didepan gerbang, tolong pakai ini. Ini tahan air kok tenang aja". Ujar Farhan.
"Mas kenapa sih? Mukanya jangan gitu. Serius banget". Jawab Anisa.
"Mas serius yaang, duarius malahan". Ujar Farhan.
"Tapi kenapa?". Tanya Anisa bingung.
"Gak papa, biar istrinya mas selalu ingat sama mas". Jawab Farhan.
"Susah deh kalau udah didepannya orang bucin. Mending gua tinggalin". Ujar Tomi dan beranjak pergi.
"Makanya cepet nyusul!". Teriak Farhan.
__ADS_1
"Kita nyusul Ayah sama Bunda yuk Mas". Ajak Anisa.
"Gak usah, Ayah sama Bunda udah pulang. Kelamaan nunggu kita. Kita makan dirumah aja. Mas pengen dimasakin". Jawab Farhan.
"Oke deh, mumpung tadi udah belanja bahan makanan Bunda".
Kling! Notiv sms di hp Farhan bunyi. Hari gini masih pakai sms? Orang biasanya WA.
"..........."
Farhan terdiam membaca sms itu.
"Dari mana dia tahu nomor hpku?". Batin Farhan.
"Kenapa Mas?". Tanya Anisa.
"Oh, gak papa. Ayo pulang". Ajak Farhan.
Farhan memberi tahu Ayah jika ia pulang terlebih dahulu. Akal-akalan Farhan agar bisa berduaan.
.
.
.
.
.
.
Anisa POV
Ketika sampai mansion, kudapati ruangan yang sangat sunyi. Kemana Ayah dan Bunda? Bukannya sudah pulang?
"Kita langsung masak ya?". Ajak Mas Faridz sambil berjalan ke arah dapur. Akupun mengikutinya.
"Kita?". Tanyaku balik. Maksudnya kita?
"Iyaa, Mas bisa masak tahuu. Masakannya Mas gak kalah enak sama punya yayang". Ujar Mas Faridz menyombongkan diri.
"Oh ya? Boleh dong Adek dimasakin baang, Adek mo duduk manis ajah disini". Jawabku langsung duduk manis di kursi dapur. Memilih tempat yang pas untuk menonton pak suami masak.
"Okeeh! Siapa takut". Tantangnya.
Kulihat mas suami tengah memilih bahan masakan yang pas untuk siang ini. Mulailah acara iris mengiris dan ulek mengulek ia kerjakan.
Aku tak heran jika Mas suami jago masak. Dia kan udah biasa dipondok. Selain itu kuliah juga diluar negeri. Biasanya potongan seperti Mas suami yang dulunya pendiam lebih memilih untuk mandiri. Masak sendiri.
__ADS_1
Aku baru ingat, saat kak Ical mondok atau kuliah katanya jarang makan diluar. Mungkin chefnya Mas suami ini. Hahahah. Kak Icalkan jarang masak dirumah. Mana mungkin bisa masak? Mungkin juga mas suami yang ngerjain.
Bersambung....