
*Anisa Prov
Tumben sih macet banget ni jalan. Mau kemana owe? Biasa laah, jalanin tugas dari Ibu Negara. Sebenarnya aku tu males banget yang namanya terjun ke dalam kemacetan jalanan kota jombang ini... Kalau tidak perintah dari Umi atau Abi, mana mungkin aku disini.
Satu jam yang lalu, "Sayang, jangan lupa nganterin bingkisannya Farhan yaa. Mau gak mau, kamu harus mau. Umi gak menerima penolakan". Ujar Umi.
Aku sebagai anak yang bener-bener berbakti mana mungkin bisa menolah perintah mutlak itu. Hufft... Sudah kesekian kalinya aku menghembuskan nafas beratku. Sebenarnya gak berat sih, mungkin lebih condong pada rasa mengeluhku. Hehehe. Sudah setengah jam aku terjebak macet, akhirnya lancar juga lalu lintas ini.
Alhamdulillah, akhirnya sampai juga.
"Assalamu’alaikum? Pak keamanan?". Panggil ku pada petugas kegerbangan wkwkwk.
"Wa’alaikumussalam, ada perlu apa ya mbak?". Tanya bapak itu.
"Emm, saya ada perlu dengan mas Faridz". Jawabku.
"Oalaah, temannya den Farhan to? Monggo mbak, masuk". Pinta bapak keamanan.
"Terima kasih pak". Ucapku.
"Sami-sami". Jawab sang bapak.
Kulajukan mobilku kedalam mansions keluarga pak Afif yang amat sangat terpandang ini. Tak kusangka, sudah 2 kali ini aku menginjakkan kaki ke rumah ini.
"Assalamu’alaikum?". Sapaku.
"Wa’alaikumussalam, maaf mbak, dengan siapa dan ada perlu apa ya?". Tanya seorang perempuan paruh baya, sepertinya salah satu asisten rumah tangga disini.
__ADS_1
"Mohon maaf bu, saya Anisa. Temannya mas Farhan. Ada perlu dengan beliau". Jawabku.
"Siapa mbok?". Sepertinya itu suara Bunda.
"Temannya den Farhan ndok". Jawab ibu asisten itu.
"Lho! Anisa sayaaang? Sini masuk sayang. Ya Allaah, Bunda kangen lhoo". Ucap Bunda dengan memelukku dan menuntun untuk masuk ke mansion bak istana ini.
"Pagi Bunda, kedatangan Anisa tidak mengganggu kan?". Tanyaku.
"Pagi sayang, tidak dong, Bunda malah senang sekali akhirnya kamu main kesini". Jawab Bunda. Ku balas dengan senyuman. Aku duduk di samping Bunda yang tak melepaskan genggamannya pada tanganku.
"Emm, ada perlu dengan Bunda atau Farhan?". Tanya Bunda.
"Oh iyaa, Anisa mau ngantar barang Husna yang ketinggalan". Jawabku dengan menyodorkan bingkisan pada Bunda.
"Kamu kasih Husna sendiri yaa, yuk ikut Bunda ke kolam belakang. Farhan, Husna, sama Ayah lagi ngumpul disana". Ujar Bunda. Bunda menggandeng ku menuju kolam.
"Hehehe, iya Bunda... Umi nyaranin buat ngantar sekarang. Abi juga kasihan kalau Anisa ngasih taunya semalam. Ntar mas Faridz bolak-balik, hehehe". Jawabku. Sampailah kami di kolam yang ada ditaman mereka.
"Husna sayang? Coba lihat siapa yang datang? Ucap Bunda. Terlihat Husna tengah berenang dan bercanda dengan mas Faridz.
"Ha! Kak Anis?". Ucap Husna. Iapun keluar dari kolam menghampiri Anisa.
"Yaah, gak bisa pelukan deh. Husna basah". Sambung Husna Setelan berhadapan dengan Anisa.
"Salim aja yaa?". Ucapku. Husna Pun mencium tanganku.
__ADS_1
"Anisa? Sini nak. Duduk sama Ayah". Pinta pak Afif. Aku menghampiri beliau dan mencium tangan beliau untuk bersalaman.
"Apa kabar pak?". Sapa ku.
"Alhamdulillah baik, sini duduk sini". Pinta beliau. Akupun mengikuti.
"Jangan panggil pak, Saya lebih suka kalau dipanggil Ayah sama kamu". Sambung beliau.
"Coba deh panggil Ayah. Ayah pengen denger". Sambung beliau lagi.
"Yaaa, pipinya kak Anis merah ituuu.. Hahaha, pasti kak Anis malu". Ledek Husna yang sudah kembali ke dalam kolam.
"Iya, ayah". Ucapku akhirnya.
"Naah, gitu dong...". Ujar Ayah.
*Farhan Prov
Uluh-uluuh, manis sekali kalau sedang malu. Dari tadi ku perhatikan Anisa. Tampak akrab sekali dia dengan Ayah dan Bunda.
"Kak? Kak?". Panggil Husna.
"Hem?". Jawabku.
"Kenapa senyum-senyum?". Tanya nya.
"Siapa yang senyum? Gak kok". Jawabku. Masak iya aku tersenyum? Kenapa aku gak sadar? Bisa-bisanya kepergok Husna.
"Masaaak? Husna lihat jelas banget lho, kakak lagi senyum-senyum lihat kak Anis, Ayah, sama Bunda". Tuturnya.
__ADS_1
"Salah lihat kamu". Elakku.
"Terserah kakak deh". Jawab Husna akhirnya.