
Sudah tiga hari ini Anisa dirawat di rumah sakit. Caca masih setia menemaninya sembari menunggu Eza dan Wardah pulang ke Jombang. Haris pun juga sudah akrab dengan keluarga mereka. Untuk sementara waktu di Jombang, mereka berdua menginap di rumah Bunda Wardah. Awalnya mereka berencana untuk menginap di hotel, tapi Bunda melarang keras.
Rutinitas Anisa yang tak terlalu sibuk, mulai tiga hari ini berubah drastis setelah kehadiran si kembar. Untung saja masih ada Bunda dan Umi, jadi ia masih dibantu oleh dua bidadari tak bersayap itu. Ada Farhan juga yang setia membantu dan menemaninya.
Seperti saat ini, tepat pukul 2 dini hari si Bungsu menangis dengan kencangnya. Bunda, Umi dan yang lainnya sedang istirahat di ruang sebelah yang memang dikhususkan untuk keluarga yang menginap. Caca sama sekali tak terusik dalam tidurnya. Ya! Malam ini Caca bersama Haris tidur di rumah sakit. Haris katanya hendak menemani Farhan begadang, tapi nyatanya ia ikut molor di sofa.
Farhan segera menggendong baby mungil itu, menimangnya dengan telaten dan sabar. Tapi masih saja menangis. Dicek kondisi bawahnya, tampak baik-baik saja, tak ada tanda-tanda mengompol ataupun poop.
"Adek belum ***** tadi Mas, makanya kebangun. Tadi waktu mau dinenenin udah pules duluan," lirih Anisa yang terbangun.
"Kaan, jadi kebangun," lirih Farhan.
Senyuman Anisa terukir melihat upaya sang suami yang bersikeras tak mau membangunkannya.
"Kasihan Adeknya haus," ujar Anisa lagi.
Mau tak mau Farhan memberikan babynya kepada Anisa. Mengelus lembut puncak kepala Anisa.
"Dasar Haris! Katanya mau nemenin begadang," gumam Farhan.
"Hahaha, ngantuk orangnya... Sini Mas bobok sama aku," ujar Anisa.
Tempat tidur Anisa memang cukup luas, tak masalah jika satu ranjang dengan Farhan. Toh dulu ia juga satu ranjang waktu dirawat di single bad. Farhan duduk di sebelah Anisa sembari mengelus lembut pipi gembul bayi mereka. Sang Kakak tak rewel sama sekali. Ia tidur pulas kali ini.
__ADS_1
🌼🌼
Dua hari Caca di rumah sakit, tapi hari ini ia tak kemari. Ingin my time katanya. Padahal Wardah hari ini mau langsung ke rumah sakit katanya. Pasti akan semakin ramai kamar Anisa dengan kedatangan Wardah.
Benar saja, Wardah membuka pintu, Anisa sudah heboh tak karuan melihat sahabatnya itu.Untung saja baby twins tak ada di sini. Sedang di ruang pemeriksaan kata Bunda. Karena setelah asar mereka akan pulang ke mansion.
"He krucil! Udah dibilangin nggak usah pulang! Malah ngintil!" geram Bunda melihat Husna memasuki ruangan Anisa bersama Wardah.
"Adudududuuu! Sakit Bundaaa!" teriak Husna yang kini dijewer Bunda.
Untung saja ada Ayah yang melerai dua wanita yang sedang bertengkar itu. Akhirnya kini Husna duduk bersama sang Ayah, tak mau melirik Bundanya. Husna tadi memang sudah merengek untuk meminta pulang waktu menelepon. Tapi Anisa memberikan pengertian kepadanya agar tak usah pulang, cukup saat aqiqahan saja. Tapi ternyata bandel juga anak itu.
"Karepmu! Ngikut di ketiak Ayah aja terus!" ujar Bunda. Tawa seisi ruangan pun tak dapat dielakkan.
Tangan Husna menjulur menunjuk ke arah Eza.
"Eh-eh! Eza kira udah izin sama Bundanya," ujar Eza saat sorot mata membunuh Bunda menyala.
"Tenang Bunda, Husna tetap ngaji kok! Kak Wardah udah diberi amanah sama Abah Munif untuk jadi mudhifahnya selama di rumah," bela Husna.
"Nanti Bunda telepon Abah Munif kalau gitu," ujar Bunda.
"Upin Ipinnya mana?" tanya Wardah mencairkan suasana.
__ADS_1
"Lagi diperiksa dokter, nanti sorekan sudah pulang kita," jawab Umi.
"Namanya udah ada Mi?" tanya Wardah.
"Masih rahasia katanya. Besok kalau aqiqah baru dibongkar. Umi aja juga penasaran," jawab Umi.
"Mas, minjam baju ganti dong! Cuacanya semakin panas ternyata," ujar Eza mendekati Farhan. Kini ia memang tengah memakai setelan koko. Efek kembali dari pesantren. Wardah saja juga masih mengenakan baju kurung dengan sarung ala-ala mbak santri.
Farhan memberikan setelan kaos dan celana jins selututnya pada Eza. Menambah kesan ketampanannya saja. Ia justru terkesan seperti Mas-mas kuliahan.
"Sayang, ikut Bunda jemput kembar yuk!" ajak Bunda pada Wardah.
Dengan senang hati Wardah mengikuti Bunda keluar. Tak sabar rasanya ingin menggendong baby twins. Melihat dari luar kaca saja Wardah sudah kegirangan. Apalagi sudah menggendong salah satu dari keduanya?
Wardah tak bisa membedakan dari dua baby ini. Sungguh tak bisa. Yang Wardah tahu, salah satunya ada tahi lalat di bawah bibirnya sebelah kanan. Dan yang satu sebelah kiri. Comel sekaliiiii.
Dengan perlahan Wardah mengambil alih gendongan perawat. Bayi ini terlihat tampan nan menggemaskan sekali. Kembali ke ruangan Anisa, Wardah ditodong oleh Eza.
"Gantian Ay... Mas pengen gendong juga," ujar Eza menghadang Wardah setelah sampai di ruangan Anisa.
"Nggak mau! Belum puas," bantah Wardah.
"Ini-ini, nggak usah rebutan. Masih ada satu lagi," lerai Bunda.
__ADS_1
...Bersambung ...