
Makan siang bersama keluarga saja sudah ramai, apalagi jika ditambah dengan ke-lima mahasiswa itu? Hahahaha! Mereka tampak menikmati hidangan siang kali ini. Ayah yang baru pulang dari rumah tetangga pun dengan sangat berantusias mewawancarai mereka.
Tentu saja para mahasiswa itu dengan senang hati menanggapi. Siapa yang tak senang diberi jamuan di rumah seorang pimpinan tertinggi Universitas. Di tambah dengan adanya Farhan yang notabenya adalah Rektor.
Tanpa sungkan para mahasiswa itu makan dengan lahapnya. Berbeda dengan para mbak-mbak yang masih malu-malu.
"Jangan dilihatin gitu, malu saya," Ujar Anisa ketika dirinya diperhatikan oleh mahasiswanya. Tepatnya saat dirinya mengambilkan makanan untuk Farhan.
"Maklum Mbak, udah pada pengen tu mereka," Celetuk Anas menyindir teman perempuannya.
"Hallah! Palingan juga kamu yang kebelet. Dasar sukanya membolak-balikkan fakta," Sanggah Dewi.
"Huussh! Sudah-sudah, ayo di makan," Lerai Ayah.
Mereka melanjutkan makan dengan tenang. Sesekali para mahasiswa itu juga membuka percakapan.
"Seneng banget lihatin Mbak Anisa ngelayanin Pak Rektor gitu," Celetuk Arumi.
"Hahaha, anggap saja ini sebagai pelajaran tak langsung dari dosen kalian," Ujar Bunda.
"Hehehe, iya Tante. Oh iya! Mbak, boleh gak Arumi minta ajarin buat kue?" Tanya Arumi.
"Satu kali les bayar 200 ribu," Jawab Farhan.
Bias dalam seketika wajah Arini.
"Boleh, gak usah di dengerin Pak Rektornya. Kalau sudah siap skripsinya boleh deh belajar," Ujar Anisa.
__ADS_1
"Mau juga Mbaaak," Rengek Dewi.
"Makanya cepet selesaikan, biar bisa cepet belajar. Bentar lagi puasa, habis itu lebaran. Bisa tuh buat peluang jualan kue, hahaha" Jiwa pengusaha Bunda mulai meluap. Itu pun mendapat persetujuan seisi meja makan itu. Kecuali Anisa tentunya. Hahaha.
"Jangan dong! Nanti kecapean kamu Yank," Ujar Farhan.
Fiks! Anisa malu. Bisa-bisanya ia memanggil sayang dihadapan mahasiswanya. Terlihat di sana para mahasiswa itu menahan senyumnya.
Setelah makan siang dan sholat zuhur, Anisa mengajak mahasiswanya bimbingan di taman. Agar lebih rileks. Memilih pendopo di pinggir kolam dengan pemandangan beberapa buah-buahan di sisi belakang pendopo.
Ternyata benar. Setelah pindah lokasi, mereka lebih fokus mengerjakan lembar demi lembar, ketikan demi ketikan mulai menari di atas keyboard.
"Perasaan Mbak Anisa lebih berisi pipinya," Ujar Dewi.
"Masa sih?" Tanya Anisa balik.
"Gegara habis makan itu, makanya jadi gemoy," Jawab Anas menimpali.
Setelah beraktifitas full seharian, rasanya badan Anisa sudah remuk-remuk. Setelah lalaran bersama Mas suami, ia memilih untuk merebahkan diri di tempat tidur. Farhan mengambil air untuk persediaan sewaktu-waktu haus. Diletakkannya sisi nakas Anisa dan nakasnya sendiri.
Farhan mengikuti sang istri berbaring. Dinyalakannya televisi karena memang ia belum mengantuk. Anisa mendekat dan menyembunyikan wajahnya pada ketiak Farhan. Anget! Itulah kata hang terpikirkan.
Tiba-tiba Anisa ingat ucapan Dewi tadi. Apa iya sih sekarang ia semakin gendaats?
"Mas?" Panggil Anisa.
"Hemm," Jawab Farhan.
__ADS_1
"Adek tambah gendut ya?" Tanya Anisa to the point.
"Biasa aja tuh, kenapa?" Tanya Farhan dengan spontan berbalik menindih Anisa.
"Katanya Dewi, adek tambah mbem," Jawab Anisa.
"Yaaa, gak papa dong... Kan makin imut jadinya," Sambung Farhan.
"Tapi,..." Ujaran Farhan terputus.
"Tapi kenapa?" Tanya Anisa dengan menangkup pipi suaminya.
"Ini kamu memang tambah berisi, Mas suka," Jawab Farhan dengan mendusel pada dada Anisa. Memiringkan tubuh Anisa dan memeluknya erat.
"Iiihhhh! Geli tahuu," Protes Anisa dengan mencoba melepaskan pelukan Farhan.
"Diem Yaank, Mas pengen bobok kayak gini," Ujar Farhan.
Anisa terdiam, menuruti kemauan Farhan. Dielusnya lembut rambut bagian belakang Farhan.
"Kalau sambil n*n*n kayaknya enak deh Yank," Goda Farhan.
"Ih! Kok mesum sih!" Protes Anisa.
"Hahaha, ndak-ndak... Mas mau bobok ah," Jawab Farhan.
Anisa terus mengelus rambut Farhan. Ditepuknya pelan nan lembut pundak Farhan pula. Pelukan erat Farhan perlahan mengendur. Sepertinya ia sudah terlelap.
__ADS_1
Bersambung....