
Setelah menenangkan dua mahasiswa, Anisa segera masuk ke ruangan pak suami. Ternyata is sudah disemprot terlebih dahulu oleh Ayah. Hahaha. Kasihan sekali lelaki itu.
"Ayah tahu mood kamu lagi naik turun, tapi harusnya bisa dong Han menahan atau mengesampingkan terlebih dahulu. Yag namanya taggung jawab ya tanggung jawab. Nggak bisa seenaknya gitu. Kalau gak bisa hadir langsung, kan bisa secara daring," Ujar Ayah panjang lebar.
Tiba-tiba dada Anisa begitu sesak melihat Farhan dimarah seperti itu. Walau bagamana pun secara tidak langsunh, keadaan Farhan juga gara-gara diri Anisa.
Oek! Farhan kembali mual. Ia berlari menuju kamar mandi. Ayah terheran-heran melihat Farhan. Apa mungkin anaknya juga merasakan mual? Atau hanya masuk angin biasa? Maklumlah, Ayah memang belum tahu jika Farhan juga mual-mual merasakan penderitaan Anisa. Yang Ayah tahu hanya perubahan sikapnya saja.
"Tenang Yah... Mas Farhan hanya lagi mual bawaan kandungan Anisa kok... Tadi pagi Anisa udah telepon dokter, katanya hal seperti itu wajar," Jelas Anisa saat melihat kekhawatiran di raut wajah Ayah.
Anisa mendekati Ayah. Ia duduk di samping Ayah dan menyentuh jemari Ayah yang masih terlihat sehat meskipun kerutan kecil sudah ada di sana.
"Maafkan Mas Faridz ya Yah... Mood naik turun kayak tadi memang susah ngontrolnya Yah... Tiba-tiba lepas gitu aja, Anisa juga sudah meminta maaf dengan dua mahasiswa tadi kok..." Lirih Anisa.
__ADS_1
Huufft! " Ya sudahlah... Ayah mau ke ruangan Ayah. Sayang, kamu jaga Farhan, jangan sampai keblabasan seperti tadi," Ujar Ayah kemudian keluar dari ruangan Farhan.
What! Apa itu? Farhan nangis? Beneran dah! Setetes bening meluruh dari kelopak mata laki-laki tegas itu? Oh no! Rasanya Anisa ingin tertawa tapi juga kasihan.
Anisa mendekati Farhan dan mengelus pundaknya. Kini giliran Anisa yang harus bersabar mengurus pakmil. Sepertinya kedua anaknya ingin penderitaan orang tuanya sama rata. Hahaha. Sama-sama merasakan penderitaan bumil.
Tiba-tiba Farhan memeluk Anisa dengan erat. Seolah tak memberikan celah sama sekali untuk Anisa melepaskannya.
"Mas harus ngajar dulu..." Ujar Anisa.
"Mas dan adekkan juga pakai parfum, tapi gak mual tuh?" Tanya Anisa heran.
"Kalau yang makai kamu, Mas gak papa, malah suka," Jawab Farhan.
__ADS_1
"Kalau gitu, adek yang mau ngajar," Ancam Anisa. Spontan Farhan menggelengkan kepalanya yang ada di dada Anisa dan semakin mengeratkan pelukannya. Mati-matian Anisa menahan geli.
"Ya udah, ngajarnya online ajah... Bilang ke ketua kelasnya.. Cepet ah! Nanti adek pulang loh!" Tegas Anisa.
"Iya-iya,"
Serepot dan segeram inikah Farhan dulu mengurus dirinya? Anisa jadi merasa bersalah, tapi ia juga senang. Rasanya adil, bisa merasakan penderitaan satu sama lain.
Farhan mulai mengambil dan membuka laptopnya. Masih terukir semburat kemalasan di wajahnya. Ia mulai membuka aplikasi zoom dan memberikan stimulus kepada para mahasiswa. Ia sama sekali tak meminta maaf atas keterlambatan yang sangat lama itu. Ouh! Dasar calon bapak satu ini.
"Jangan cemberut Mas!"
Langsung saja wajahnya dibuat ceria. Meski sedang mengajar, tangan kekar Farhan tak dilepaskan sama sekali dari menggenggam jemari Anisa. Sepertinya harus benar-benar diganti ini dosen.
__ADS_1
...Bersambung......