
Farhan terus saja memberondong Anisa dengan pertanyaan-pertanyaan setelah sang empu bangun.
"Kenapa nangis?" Lagi-lagi Farhan bertanya.
"Adek tuh kasihan sama Wardah. Dia terus saja minta buat kita berhenti membantu meluluhkan hati Cak Ibil," Lirih Anisa dengan memeluk Farhan.
"Mungkin dia ingin berusaha dengan kemampuannya sendiri Yaank," Jawab Farhan.
"Perasaanku gak enak Mas, aku takut. Wardah harus bahagia Mas," Lirih Anisa lagi.
"Syuut, sudah... Kita doakan saja, semoga semuanya baik-baik saja dan rumah tangga mereka segera harmonis," Jawab Farhan.
"Aammiiin,"
.
.
Anisa dan Farhan kembali ke rumah setelah melaksanakan sholat asar. Sebelum pulang, Farhan mengajak Anisa ke sebuah pasar malam. Sudah lama rasanya tak jalan-jalan sore seperti ini. Masih sore, tapi suasana pasar malam sudah sangat samai.
__ADS_1
Anisa sudah mengajak Farhan menaiki wahana-wahana. Bukan yang extrim tentunya. Jelas saja Anisa takut. Karena datangnya sore, mereka berdua sholat maghrib di mushola tempat wisata itu. Baru kemudian memasuki wahana legendaris. Saatnya uji nyali. Yakni rumah hantu.
Pertama kali memasuki rumah hantu, suasana mencekam sudah khas dirasakan. Pencahayaan yang minim menambah kesan mistiknya. Tangan Anisa terus mencekam lengan Farhan. Anisa jelas saja tak menyukai hal-hal macam ini. Farhan yang sudah memaksanya.
Dari satu ruangan ke ruangan yang lain, dari satu lorong ke lorong yang lain, tak henti-hentinya Anisa menjerit. Susah payah ia selalu menutup matanya, ternyata sang pemain hantu itu malah memegang lengan Anisa. Tangisnya pecah!
Untung saja yang memegang cewek, kalau cowok sudah babak belur itu hantu di tangan Farhan. Tak menyelesaikan tantangan itu, akhirnya Farhan membopong Anisa keluar. Kasihan sudah. Ia sudah puas tersenyum memandang wajah takut sang istri. Kini malah menjadi panik.
Adegan gendong-menggendong itu pun tak lepas dari pandangan para pengunjung. Ada yang mengira kecelakaan, sakit, bahkan ada yang mengira jika Anisa memergoki suaminya selingkuh. Hahahaha. Dasar! Netizen! Sukanya gosip mulu.
Di mobil, Anisa masih sesenggukan. Farhan masih saja memeluknya. Sebenarnya Anisa tak takut, hanya kaget saja selalu dikagetkan dengan bentuk yang abstrak itu. Dan yakinlah, nanti malam tak akan bisa tidur dia. Hahahaha.
.
.
Kalau begini, ia janji tak akan memaksa istrinya untuk ikut uji nyali lagi. Sedangkan Anisa tengah tersenyum melihat suaminya dimarah habis-habisan. Anisa mengejek Farhan dengan menjulurkan lidahnya. Padahal ia sedang di dekap Bunda. Minta perang ini istri. Lihat saja, Farhan akan menghukumnya nanti.
.
__ADS_1
.
.
Sudah puas memarahi anaknya hingga jera, Bunda dan Ayah memperbolehkan Farhan mengajak Anisa ke kamar. Alasannya untuk istirahat sih.
Klik! Farhan sudah mengunci pintu kamarnya. Sang Bunda yang tiba-tiba nyelonong masuk tak akan kebobolan kali ini. Farhan langsung mendekap Anisa yang tengah membuka jilbabnya.
"Kamu harus dihukum Yaank, tega banget biarin Mas dimarahin Bunda sama Ayah," Lirih Farhan dengan mengendus leher Anisa.
"Mandi dulu yuk?" Ajak Anisa. Ditariknya jemari Farhan yang masih memeluknya ke dalam kamar mandi.
Sepertinya mandi selama satu jam tak membuat mereka kelelahan atau malah kedinginan. Mereka justru olahraga kembali setelah menunaikan kewajiban sholatnya. Farhan tak main-main dengan hukumannya.
"Biar gak kedinginan, kita pemanasan dulu ya," Begitulah katanya.
"Udah Mas, perutku agak keram," Kalau Anisa tak berbicara seperti itu, sudah dipastikan Farhan tak akan berhenti. 🙈🙈🙈
Malu deh akooohhh, aku masih keciiilll, beneran deh! 🙀🙀🙀
__ADS_1
Bersambung.....