
Sebuah foto dan caption di bawahnya: "zeyeeng, lihatlah! Aku ada di mana,"
Sebuah notif WhatsApp berhasil membuat Anisa kegirangan. Anisa segera mencari Farhan yang katanya sedang berada di ruang kerjanya.
"Mas! Mas Faridz! Mas!" teriak Anisa.
"Kamu kenapa sayang? Hati-hati," ujar Bunda Khawatir melihat menantunya yang berjalan dengan tergesa-gesa.
"Mau ketemu Mas Faridz Ma," ujar Anisa.
"Ayo-ayo, tapi pelan-pelan," ujar Bunda dengan menuntun Anisa ke ruang kerja anak dan suaminya.
Jelas saja Farhan tak mendengarnya, lha wong ruang kerjanya kedap suara. Bahkan Farhan tak mendengar saat Anisa dan Bunda memasuki ruangannya. Ia masih fokus pada layar laptopnya. Ntah sedang rapat kantor atau urusan Universitas.
"Bunda keluar ya," lirih Bunda agar tak mengganggu anaknya yang sedang bekerja.
Anisa mengangguk mengiyakan. Ia berjalan perlahan mendekati Farhan dengan senyuman yang merekah. Farhan yang baru menyadari keberadaan Anisa segera mematikan videonya dan menghampiri istrinya.
"Sayang, kok kesini? Ada yang kamu inginkan?" tanya Farhan lembut sembari mengelus perut istrinya.
Anisa menggeleng. "Mas, yang ngisi seminar Wardah ya? Kok Mas nggak ngomong sih?" tanya Anisa.
Farhan mendapatkan pertanyaan itu bingung sendiri. Ngapain dirinya ngundang Wardah? Kan seminar nanti siang temanya tentang dunia penyiaran. Seingat Farhan, sahabat istrinya itu lulusan ekonomi. Farhan mengajak Anisa duduk di pangkuannya sembari mengawasi rapat jajaran Universitas. Videonya off ya. Ya kalik mau dihidupin.
"Mas nggak ngundang Wardah," jawab Farhan sekenanya.
"Ini Wardah dijemput sama petugas Universitas," ujar Anisa menunjukkan foto di gawainya.
Oh iya! Farhan baru ingat jika Wardah sekarang bekerja di perusahaan penyiaran nasional. Anisa pernah memberitahunya. Mungkinkah Wardah satu agensi dengan narasumber yang diundang ke Universitas?
"Mungkin Wardah diajak bosnya untuk ikut ke Jombang," ujar Farhan lagi.
"Nanti aku ikut ke kampus ya Mas! Aku mau ketemu Wardah," ujar Anisa dengan mengatupkan kedua tangannya memohon. Jangan lupakan pupil matanya yang berkedip lucu itu. Sukses membuat Farhan tak sanggup mencegahnya.
__ADS_1
"Iya, tapi jangan capek-capek! Kalau capek bilang, kita ke kantornya Mas," ujar Farhan.
Anisa memeluk leher Farhan erat. Ia tak sabar ingin bertemu sahabat terbaiknya. Ia sungguh tak menyangka, Wardah sudah sukses. Bahkan ia bisa ikut perjalanan bisnis Bos-nya. Anisa harus berterima kasih pada bos Wardah. Karena telah mempertemukan dua sejoli yang sama-sama somplak kalau bertemu.
.
.
.
Selepas sholat zuhur, Anisa dan Farhan segera berangkat ke Universitas. Farhan harus mengisi sambutan nantinya, tak lucu jika terlambat. Sampai di kampus Farhan langsung mengajak Wardah ke ruang tamu. Menurut info, tamu undangan sudah datang. Tak berselang lama, notif dari Wardah muncul juga. Tampak ia mengirimkan sebuah foto. Anisa kenal betul di ruangan mana Wardah sekarang. .
Anisa terus saja merengek agar segera ke ruang tamu. Farhan memeluk erat pinggang Anisa sembari berjalan ke ruang tamu. Tak jarang para Mahasiswa tersepona melihat kemesraan rektor mereka. Histeris sudah untuk mereka yang melihat secara langsung.
Cklek!
Wardah berbinar dikala Anisa muncul di hadapannya. Ia segera berdiri dan berhambur memeluk erat bumil tersayangnya itu.
"Kangeeeennnn," lirih Wardah.
"Aku jugaaa," jawab Anisa membalas pelukan sahabatnya.
Berbeda dengan dua sejoli itu, manusia yang ada di ruangan itu tampak tercengang melihat perpelukan dua wanita itu. Kecuali Farhan tentunya. Farhan tampak tersenyum canggung mendapatkan tatapan kebingungan dari yang lain. Bagaimana bisa wanita yang datang bersama tamu undangan tampak begitu dekat dengan istri sang rektor?
"Udah-udah, nanti lagi. Malu dilihatin orang-orang." ujar Farhan melerai dua wanita dihadapannya itu.
"Aku mau ajak Wardah ke ruangan kamu aja Mas!" ujar Anisa setelah melepaskan pelukannya. Farhan mengangguk kemudian mencium kening istrinya.
"Pengen juga Mas..." celetuk Wardah dengan memberikan wajah memohonnya.
__ADS_1
Bukannya ciuman, malah toyoran dari Farhan yang menempel pada jidat Wardah.
"Udah sana sama Anisa," ujar Farhan.
.
.
.
Selama perjalanan Anisa tak melepaskan pelukannya pada tangan Wardah. Padahal lebih tinggi Anisa dari pada Anisa. Wardah rasa tak enak jika merangkul tangan orang yang lebih rendah darinya.
"Siapa laki-laki itu?" tanya Anisa ketika mereka berada dalam lift.
"Calon suami," celetuk Wardah.
"Iya! Beneran?" tanya Anisa memastikan.
"Hahaha, bukanlah! Itu bos aku," jawab Wardah akhirnya mengaku.
"Tampan, mungkin kalau aku belum menikah, bakalan kecantol sama tu orang," celetuk Anisa.
"Dasar! Udah mau lahiran masih aja mikirin cowok ganteng lain," jawab Wardah tak terima.
"Iiiisshhh! Jealous!" Goda Anisa.
Dua sejoli itu tampak memanfaatkan dengan baik acara temu kangen dadakan ini. Berbeda dengan dua laki-laki yang tengah duduk bersebelahan sekarang. Farhan hendak memulai pembicaraan, tapi sungkan. Ia ingin tahu bagaimana bisa kebetulan seperti ini? Wardah yang tiba-tiba tanpa interview bisa diterima kerja di Jakarta, dan kini malah kebetulan bisa bertemu di sini dengan bosnya juga. Ada apa gerangan ini.
Sedangkan Eza kini juga tampak berfikir, kenapa bisa Wardah kenal dengan laki-laki dan perempuan itu? Bahkan sepertinya sangat dekat. Perempuan itu, tampaknya memang cantik, tapi sungguh! Tak dapat melunturkan rasa cintanya pada Wardah.
...Bersambung.... ...
... Janji deh! Nanti bakalan up lagi! Serius! ...
__ADS_1