Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Gus Hasan


__ADS_3

Siang menjelang zuhur, Farhan dan perintilannya masih berada di pendopo. Hanya sekedar berbincang-bincang bersama. Sedangkan Faiz, ia tengah sibuk berselancar dengan gawainya. Mumpung hari ini waktu bebas, maka ia manfaatkan.


"Kapan Husna punya ponakan?". Tanya Husna dengan iseng mengelus perut Anisa.


"Doakan saja yaa". Jawab Anisa. Husna tersenyum dan memeluk Anisa. Tak terasa, akhirnya azan zuhur berkumandang.


Anisa mengikuti Husna ke asrama. Tepatnya di asrama Wardah. Sedangkan Farhan mengikuti Faiz. Awalnya ia ingin ke asrama Cak Ibil, tapi sepertinya beliau tidak ada.


Selama perjalanan dan di masjid Anisa menjadi topik perbincangan para santriwati. Memang tidak secara terang-terangan. Akan tetapi, pandangan mereka sesekali ke arah Anisa. Entah itu karena Anisa sebagai orang baru di pesantren ini ataupun karena Anisa istri dari seleb pesantren. Hahahaha.


.


.


.


Anisa dan Farhan kini telah berada di sebuah asrama, tepatnya kamar yang ternyata disiapkan oleh Umi. Umi meminta kepada Wardah untuk menyiapkan kamar itu. Setelah sholat zuhur, Wardah mengajak mereka berdua.


"Kita beneran gak pulang berarti?". Tanya Farhan yang kini tengah duduk bersender di ranjang dengan Anisa.


"Kan tadi udah nelpon Ayah, kok masih ragu sih mas? Kalau kita pulang gak enak sama Umi. Umi udah nyiapain semua ini". Jawab Anisa.


"Iya sih, Mas masih bingung mau bantu apa selama disini". Ujar Farhan. Ia membawa Anisa dalam pelukannya.

__ADS_1


""Biasanya Abah atau Umi yang akan meminta kita untuk membantu Mas, tenang ajah". Anisa menenangkan.


"Emm, Anisa ke dapur ndalem dulu ya? Mau masak makan siang". Pamit Anisa.


"Mas gimana?". Tanya Farhan gusar.


Cup! Satu kecupan mendarat di pipi Farhan.


"Tenang Mas, jangan panik gitu... Mas kan bisa ke asrama Cak Ibil". Ujar Anisa.


"Cak Ibil gak ada, dari tadi Mas gak nampak dia". Jawab Farhan dengan wajah paniknya.


"Hahaha, lucu banget muka Mas kalau lagi gitu. Tenang Mas, Gus Hasan kan ada. Nanti aku coba suruh santri minta buat Gus Hasan nemenin mas". Ujar Anisa.


"Gak disuruh-suruh, kan biasanya Gus Hasan juga seneng kok kalau diminta ngobrol-ngobrol sama tamu". Jawab Anisa.


"Mas kenal sama Gus Hasan kan?". Tanya Anisa.


"Iya kenal, tapi sudah lama sekali gak berinteraksi dengan beliau". Jawab Farhan.


"Udah tenang ajah. Adek ke dapur dulu, assalamu'alaikum". Pamit Anisa meninggalkan Farhan.


"Wa'alaikumussalam".

__ADS_1


Padahal letak kamar mereka tak jauh dari dapur ndalem. Kamar mereka terletak di samping ndalem. Anisa menuju ndalem, sebelumnya ia mencoba untuk mencari Gus Hasan. Ia dulu merupakan tangan kanan Gus Hasan, makanya Anisa tak begitu sungkan. Akan tetapi masih pada ukuran yang sewajarnya. Ia masih paham benar batasan antara orang biasa atau santri dengan Gus putra Kyai.


Beruntung kali ini Gus Hasan tengah duduk di ruang tamu dengan memainkan gawainya. Anisa perlahan mendekati beliau.


"Assalamu'alaikum". Sapanya.


"Wa'alaikumussalam, lho! Nis, kamu disini? Udah lama banget gak ketemu kitanya. Kabar-kabar kamu sudah kawin ya? Wah! Jahat kamu gak nungguin aku". Ujar Gus Hasan panjang lebar.


"Hehehe, bahasanya difilter Gus. Iya saya sudah menikah. Emm, gimana yaa, saya mau minta tolong Gus". Jawab Anisa. Ternyata ia cukup sungkan kali ini.


"Ada apa Nis? Aku pengen ngobrol sama kamu lho!". Ujar Gus Hasan.


"Begini Gus, saya minta tolong untuk mengajak suami saya ngobrol. Saya mau bantu-bantu di ndalem". Lirih Anisa.


"Oalah, iya-iya. Saya bentar lagi ke asrama kamu dan suami kamu". Jawab Gus Hasan.


"Lho, njenengan tahu tempatnya?". Tanya Anisa heran.


"Tahu, Umi tadi juga pesan begitu. Ya sudah sana kamu masak-masak. Sudah lama banget saya gak makan masakan kamu, gara-gara lama di Mesir". Ujarnya.


"Baik Gus, terima kasih Gus, saya ke belakang dulu. Assalamu'alaikum". Pamit Anisa.


"Wa'alaikumussalam".

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2