Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Pesanan


__ADS_3

Sepertinya Anisa dan Farhan harus bermalam di pesantren lebih lama. Abah memberi kabar jika kepergiannya selama seminggu. Itu berarti pakaian yang dibawa mereka kurang. Mau tak mau mereka harus membeli pakaian di pusat perbelanjaan dekat pesantren. Alhamdulillah hari ini jadwal meeting Farhan siang, sehingga tak mengganggu rencana belanja mereka.


Tidak hanya berdua. Mereka mengajak Wardah dan Cak Ibil sekalian. Kini Anisa dan Farhan tengah menunggu di depan asrama khusus mereka.


"Adek pakai baju ini?" Tanya Farhan melihat penampilan Anisa yang cukup sederhana. Biasanya sang istri lebih suka jika mengenakan gamis.


"He'em, males mau ganti. Ini aja, aku minjem sama Husna. Kenapa Mas? Jelek ya?" Tanya Anisa.


"Ndak, mau pakai apapun juga bagus. Heran aja, biasanya kan lebih suka pakai gamis," Jawab Farhan. Anisa hanya tersenyum kecut.


"Assalamualaikum Ustadzah," Sapa seorang santriwati bersama temannya.


"Wa'aliakumussalam, ada apa Mbak?" Tanya Anisa.


"Emm, tadi diaturi (disuruh) Gus Hasan. Minta tolong beli bahan makanan dapur umum," Ujarnya.


"Oalah, ya sudah sekalian aja kalian ikut ya. Saya juga mau beli sandangan. Kalian ikut ya?" Ajak Anisa.


"Siap Ustadzah," Sudah pasti mereka senang. Langka momen-momen keluar pesantren itu. Hahahaha.


"Disiapkan apa saja yang perlu," Ujar Farhan.


Mereka mengangguk patuh. Kemudian pamit.


.


.


.


"Nis!" Panggil Wardah menghampiri Anisa.


"Makasih lhoo kadonya," Ujar Wardah dengan sumringahnya.


Anisa melihat Farhan dengan senyuman yang mengembang. Alhamdulillah jika mereka senang.


"Iyaa sama-sama. Minggu depan kita berangkat," Jawab Anisa.


"Kita? Kalian juga? Waaah! Pasti asik. Makasih banget lhoo An, Mas Farhan," Ungkap Wardah lagi.


"Berangkatnya dari kampus kalian kan?" Tanya Wardah lagi. Anisa mengangguk.


"Aku udah lama pengen lihat kampus kalian ngajar," Wardah begitu gembira. Senyuman tak pernah luntur dari wajahnya.


Di dalam mobil, dua santri yang diminta ikut oleh Anisa bagai nyamuk yang siap menghisap darah. Mereka harus disuguhkan pemandangan dua pasangan di depannya. Anisa dan Farhan yang duduk di jok depan, Wardah dan Cak Ibil yang duduk di jok tengah, dan mereka yang duduk di jok belakang. Sabar ya ndoook.


.


.


.


Jika sangkaan kalian akan pergi ke pasar tradisional, salah besar. Farhan membawa mereka ke salah satu mall yang lebih jauh dengan pesantren. Bukannya ngedumel, kedua santri itu semakin semarak saja. Hahaha.


Farhan meminta kepada mereka untuk memilih bahan dapur yang dibutuhkan. Ternyata mereka sudah diberi catatan oleh ibuk dapur umum. Setelah Farhan dan Anisa membeli pakaian, mereka akan menyusul mereka. Sedangkan Wardah dan Cak Ibil dipersilahkan untuk jalan-jalan sesuka hati mereka.


Farhan dan Anisa berpisan setelah mengantarkan kedua santri itu ketempat belanjaan mereka.




Wardah dengan isengnya memotret dua pasutri yang sangat menggemaskan baginya. Besar harapan Wardah, semoga ia dan suaminya bisa seperti itu. Menciptakan keluarga yang harmonis, sakinah, mawadah, warahmah.


"Ngapain di foto?" Tanya Cak Ibil.


"Hehehe, gak papa Mas, lucu aja lihat mereka berdua," Jawab Wardah.


"Mau beli apa? Ayo aku antar," Ajak Cak Ibil sembari meninggalkan Wardah.


Wardah sedikit berlari menyelaraskan langkahnya dengan Cak Ibil.


.

__ADS_1


.


.


Di belahan pusat perbelanjaan khusus pakaian, Anisa tengah memilih-milih Farhan. Begitupun sebaliknya, Farhan memilih-milih untuk Anisa.


Ternyata mereka harus menghabiskan waktu yang cukup lama. Tak mudah mencari model yang sesuai dengan selera mereka berdua.


"Udah ah Mas, ini aja. Kasihan mbak-mbak santri nungguin nanti. Mana gak dibawain uang lagi," Ujar Anisa.


"Dua setel dibilang aja? Daebak! Totalnya udah 4 setel lho Yank, ditambah jilbab kamu juga," Jawab Farhan.


"Sejak kapan ikut-ikut pakai bahasa korea-an?" Tanya Anisa.


"Sejak liatin Husna nonton sama adek," Jawab Farhan.


"Hahaha, udah ah sewotnya. Yuk ke lokasi awal," Ajak Anisa dengan merangkul Farhan.


Dari pada sang suami ngedumel di liatin mbak-mbak kasir, mending di ajak pergi. Mana diketawain lagi!


Memang ya, wanita! Kalau sudah disuguhi jilbab dengan berbagai motif gak ada puasnya. Itu kalau Anisa dan Lhu-Lhu sih, gak tahu deh kalau para pembaca. Hehehe.


.


.


.


Beberapa orang tengah berlalu lalang memilih barang belanjaan yang diperlukan. Pusat perbelanjaan ini memang sangat besar. Tentu saja barang yang diperlukan tersedia lengkap di sini. Bahkan saat ini Anisa dan Farhan dibingungkan dengan keberadaan mbak-mbak santri tadi. Mereka sudah berkeliling kesana kemari mencari mereka. Tak juga bertemu.


"Itu lho Mas, lagi jongkok di deretan parfum-parfum," Ujar Anisa. Pantas saja tak terlihat, mereka tertutup troli. Belanjaan mereka banyak juga ternyata. Hahaha.


Tanpa basa-basi Farhan segera menggandeng Anisa menghampiri mbak-mbak santri itu.


Sadar dengan kehadiran seseorang, Mbak-mbak santri yang awalnya asik menjajal parfum berbalik.


Mereka berdua segera berdiri dan menunduk takdzim.


"Ndak apa-apa Ustadzah, biar kami saja," Jawab salah satu dari mereka. Bahkan Anisa belum kenal dengan mereka. Hahaha.


"Kalian beli saja keperluan kalian sekalian. Jangan lupa, aya juga pernah menjadi santri. Momen seperti ini sangat langka kan?" Ujar Farhan.


"Sudah jangan sungkan, mumpung ada yang mentraktir," Bisik Anisa.


Farhan mendorong troli itu menuju kursi tunggu tak jauh dari kasir.


"Belanjaan titipan ibu dapur sudah lengkap semua?" Tanya Anisa.


"Sudah Ustadzah," Jawab mereka.


"Emm, kalian tahu, parfum favorit saya di pesantren yang ini," Ujar Anisa dengan mengambil sebotol parfum berbahan kaca. Ia paha jika mbak-mbak santri ini sungkan. Ia harus bisa mencairkannya.


"Iya Ustadzah, tadi saya coba menghirup, baunya kalem," Jawab salah satu dari mereka. Bagus! Sepertinya mulai terpancing.


"Tapi, untuk kantong santri ini terlalu mahal. Kalau di pasar tradisional mah bisa ditawar. Kalau disini gak bisa. Dulu Ustadzah biasa beli patungan. Satu asrama parfumnya sama. Jadi belinya gak berat. Hehehe," Ujar Anisa.


"Kalau pergi sama Umi atau Ustadzah di pesantren, biasanya itu waktu yang tepat buay beli parfum. Selain memberikan makanan, beliau juga menawarkan parfum. Ya udah, Ustadzah pasti pilih yang ini. Hehehe. Bukannya matre' ya, tapi Umi dan Ustadzah lainnya memang menyarankan yang merek ini. Ini kan tanpa alkohol. Jadi aman buat sholat," Sambung Anisa.


"Yang benar Ustadzah?" Tanya mbak santri itu lagi.


"He'em," Jawab Anisa dengan anggukan mantab.


"Sekarang kalian pilih, kan ada beberapa varian juga, bebas mau pilih yang mana," Ujar Anisa.


Mereka tersenyum dan mengambil varian menurut selera mereka masing-masing.


"Untuk perlengkapan yang lain?" Tanya Anisa lagi ditengah-tengah perjalanan ke arah Farhan.


"Tidak usah Ustadzah," Jawab mereka.


"Kalian duduk di sana dulu ya, saya masih ada barang yang diperlukan," Anisa kembali ke deretan barang-barang lagi. Ia mengambil keranjang kecil untuk tempat barang belanjaan. Sudah dipastikan sang suami nanti akan protes. Tak apalah.


.

__ADS_1


.


.


"Lama banget sih yank?" Keluh Farhan setelah Anisa kembali.


"Maaf bos! Hehehe," Jawab Anisa. Wardah dan Cak Ibil ternyata juga sudah berada di kursi tunggu juga.


"Ayuk ke kasir," Farhan meletakkan barang yang ada di keranjang di atas troli. Anisa mengikutinya dari belakang.


"Untuk sabun-sabun dan parfumnya itu di kantong terpisah ya Mbak, dijadikan dua," Ujar Anisa pada Mbak Kasir.


"Baik Mbak," Jawab Mbak Kasir itu.


"Kenapa dipisah?" Tanya Farhan.


"Buat mbak-mbak itu," Jawab Anisa.


"Oalah,"


"Totalnya Rp.968.000,00 ya Bang. Mau dibayar cash atau kartu kredit?" Tanya Mbak itu. Farhan terkaget dengan panggilan "Bang". Sedangkan Anisa tengah menahan tawa dibuatnya.


"Emmm, kredit saja," Jawab Farhan. Diambilnya dompet dari tangan Anisa dan segera memberikan pada kasir itu. Bisa-bisanya ia dipanggil bang. Farhan orang jawa tulen. Jadinya ia sedikit asing dengan panggilan abang.


"Pin-nya, silahkan diketik," Tanya Mbak Kasir itu.


Farhan mengetikkannya.


.


.


.


"Bisa-bisanya dipanggil Bang," Gerutu Farhan dengan berjalan keluar.


"Hahaha! Adek aja nahan tawa tadi," Jawab Anisa.


.


.


.


"Ini belanjaan kalian," Ujar Anisa memberikan bingkisan kepada Mbak santri.


"Kok banyak banget Ustadzah?" Tanya mereka.


"Gak papa, buat oleh-oleh temen seasrama jajannya," Jawab Anisa.


"Maturnuwun sanget Ustadzah," Ujar mereka.


"Iya, sama-sama," Jawabnya lagi.


"Oh iya, nama kalian siapa?" Tanya Anisa.


"Kulo Pina Ustadzah," Jawab salah satu dari mereka.


"Kulo Fatin," Jawab yang satunya.


.


.


.


.


Barang telah terkumpul di dalam mobil. Kini saatnya mengisi perut. Mereka masih di mall itu. Farhan mengajak makan siang di food court. Bukan apa-apa, supaya nanti langsung pulang ke pesantren saja. Sekali jalan maksudnya.


Anisa tampak kepo dengan belanjaan Wardah. Ia terus saja mendesak Wardah agar memberi tahunya. Padahal Wardah dan Cak Ibil tadi hanya membeli peralatan mengajar (ATK) saja. Pikiran Anisa sudah bercabang kemana-mana. Awalnya ia ingin mengajak Wardah berbelanja barang pribadi, karena barang pesanan Ibu Dapur sudah terlampau banyak dan menghabiskan waktu panjang akhirnya tak jadi.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2