
Pulang dari kediaman Wardah, Anisa dan Farhan langsung meluncur ke Universitas. Hari ini Farhan ada meeting dengan jajaran pemimpin Universitas. Tepat saat mereka sampai di parkiran Universitas, Husna tiba-tiba menelepon Anisa.
"Assalamu'alaikum. Iya dek? Ada apa?" tanya Anisa.
"Wa'alaikumussalam, kakak kok nggak ajak Husna sih ke rumahnya Kak Wardah? Kan Husna pengen ikuut," adu Husna.
"Lha tadikan kamu lagi simakan Al-Quran sama Uminya kakak, ya udah kakak nggak mau ganggu adek," jawab Anisa. Sedangkan Farhan juga tak jadi turun, ikut mendengarkan istrinya berbincang dengan adiknya.
"Pengen ikut padahal... Sekarang kakak dimana? Adek mau nyusulin," ujar Husna.
"Di kampus dek, sinilah minta tolong anterin Mang Darma. Kakak nanti di ruangan Mamas kamu," jawab Anisa.
"Oke! Tunggu ya kak. Assalamualaikum!"
Farhan memberikan isyarat meminta jawaban mengenai topik pembicaraannya dengan Husna. Tampak sekali Anisa menyajikan raut wajah bingung atas sikap adiknya itu.
"Nggak tahu Mas, tiba-tiba ngeluh gegara nggak di ajak ke rumah Wardah," jawab Anisa.
Mereka segera turun untuk pergi ke gedung rektorat. Dengan manisnya Anisa merangkul lengan kokoh Farhan. Ini masih terlalu pagi untuk memulai rapat. Rapat akan dimulai satu jam lagi. Lebih baik ia menemani Anisa sembari menunggu rapat dan Husna datang.
Berhubung mereka berdua belum sarapan, Farhan memilih untuk memesankan makanan melalui ojol. Supaya tak repot-repot memasak. Wkwkwk.
Farhan dan Anisa kini tengah berbaring di kamar mereka sembari menunggu menu datang. Farhan membuka laptopnya untuk mempelajari bahan yang akan dibahas pada rapat. Anisa membaringkan kepalanya di pangkuan Farhan juga. Menenggelamkan wajahnya di perut suspect suaminya itu.
Sreekk! Suara pintu rahasia mereka terbuka. Menampilkan Husna yang membawa nampan berisi makanan di atasnya.
"Kalau pesan makanan tuh ditunggu! Kasihan mas-mas ob-nya nungguin di depan," celetuk Husna yang duduk di sebelah Farhan. Makanannya ia letakkan dimeja santai sisi tempat tidur.
__ADS_1
"Lupa," jawab Farhan singkat. Kini telah kembali fokus pada laptopnya.
Anisa merubah posisi tidurnya menghadap adik iparnya.
"Kenapa kok kayaknya antusias banget mau ikut ke rumah Kak Wardah?" tanya Anisa.
"Ya nggak papa, pengen aja ikut main ke sana," jawab Husna mengelak.
.
.
Selesai mempelajari materi untuk rapat, Farhan mengajak istrinya untuk sarapan. Husna tak tinggal diam. Ia juga ikut andil merecoki kakak-kakaknya yang sarapan.
Anisa mencuci piring yang telah ia gunakan tadi. Sedangkan Farhan merapikan dasi dan kemejanya. Dihampirinya Anisa dan mencium keningnya.
"Mas ke ruang rapat dulu ya... Husna temani Kak Anisa. Assalamualaikum kembarnya Abi," pamit Farhan mengecup perut Anisa.
Husna duduk di sofa sembari memainkan gawainya.
"Daebak!" seru Husna. Anisa yang baru saja selesai mencuci piring terkaget-kaget.
"Kenapa dek? Ngagetin aja," ujar Anisa kini duduk di samping adiknya.
"Hehehe, nggak papa Kak. Nemu akun IG-nya artis favorit aku," jawab Husna dengan cengiran khasnya.
Tampak Husna memiringkan gawainya agar tak terlihat oleh kakak iparnya. Baru saja ia menemukan akun IG Eza setelah dari kemarin mencari info laki-laki itu. Di scroll-nya postingan feed untuk menghilangkan rasa keponya. Ia tengah mencari selipan foto perempuan di akunnya. Jika tidak ada, itu berarti dia single. Hahaha.
__ADS_1
Hanya terlihat foto Eza dengan perempuan paruh baya yang masih terpancar kecantikannya. Sepertinya itu sang ibunda. Ada kemiripan memancar dari keduanya. Hingga di postingan lainnya, terlihat sesosok perempuan dari arah belakang yang sedang memandangi lautan lepas. Pemandangan yang sangat cantik.
Husna terus mengamati foto perempuan itu. Tampak tak asing melihat postur tubuhnya. Sayangnya tak tampak wajahnya.
"Hey! Fokus banget lihatin hp! Simakan yuk!" ajak Anisa.
"Kak! Aku mau tanya," lirih Wardah.
"Kenapa?" tanya Anisa.
"Kak Eza sama Kak Wardah ada hubungan apa sih?" tanya Husna to the point.
Anisa tampak heran mendengar pertanyaan adik suaminya itu. Ia mencium bau-bau perasaan cinta di sini.
"Kakak rasa, mereka hanya sebatas atasan dan bawahan saja. Kenapa?" tanya balik Anisa.
"Nggak papa sih kak, hehehe," elak Husna.
"Hafalannya diperhatikan, jangan main perasaan dulu, hmm," ujar Anisa.
"Iya kak," lirih Husna.
.
.
.
__ADS_1
Maafkan Lhu-Lhu yang jarang banget up. Hehehe.
Semangatin Lhu-Lhu dooong....