
"Kapan kita akan melancarkan aksi itu?". Tanyanya.
"Sabar. Aku masih ingin bermain-main dengan dua keluarga itu! Hahaha!". Jawab lawan bicaranya.
"Aku sudah muak dengan semua yang mereka lakukan!". Ujarnya.
"Kita ciptakan permainan yang handal". Jawab lawan bicaranya.
.
.
.
.
Sudah dua hari ini Anisa tak mengajar. Perutnya masih saja keram, tapi sudah mulai mendingan.
Kini ia tengah menyiapkan makan siang, Farhan langsung pulang jika selesai mengajar katanya. Anisa dibantu oleh Si Mbok. Bunda? Bunda tengah ikut arisan bersama mak-mak sosialita lainnya. Awalnya Bunda ingin mengajak Anisa, tapi melihat kondisinya yang sedang sakit, Bunda mengurungkan niatnya.
"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga Mbok". Ujar Anisa.
"Alhamdulillah, iyaa neng". Jawab Si Mbok.
"Anisa bersih-bersih dulu ya Mbok ke kamar". Pamit Anisa.
"Iyaa neng, Mbok juga mau ke belakang dulu". Jawab Si Mbok.
Anisa beranjak ke kamarnya lantai dua. Ia membereskan baju yang telah disetrika tadi, barulah ia mandi.
Setelah mandi, ketika Anisa tengah menyisir rambutnya, tiba-tiba!
__ADS_1
Prankk!
sebuah batu melayang memecahkan kaca kamar Anisa. "Astaghfirullah!". Kaget Anisa.
"Ada apa ini". Gumam Anisa sedikit gemetar. Ia terdiam berdiri.
CKLEK!
"Sayang?". Panggil Bunda yang tiba-tiba datang.
"Buuun". Lirih Anisa.
"Sini sayang, pelan-pelan". Ujar Bunda dengan memapah Anisa menjauhi pecahan kaca.
"Sayang?". Panggil Farhan yang berlari dari lantai bawah.
Direngkuhnya Anisa dalam pelukan.
"Kamu gak papakan? Ada yang terluka?". Tanya Farhan. Anisa menggelengkan kepalanya.
Farhan mengajak Anisa duduk di sofa kamarnya. Farhan mulai membuka kertas itu.
"Sebenarnya itu siapa mas?". Lirih Anisa yang ternyata sudah membacany.
HALLO ANISA! SEBENTAR LAGI KITA AKAN BERTEMU!
"Kamu tenang yaa, Mas akan selalu jagain kamu". Jawab Farhan dengan mengeratkan pelukannya.
Farhan sempat mendengar pecahan kaca yang sangat keras setelah keluar dari mobilnya. Awalnya ia hanya mengacuhkan saja, hingga.
"Den, kaca kamar Aden pecah". Ujar petugas keamanan.
__ADS_1
Tanpa ba bi bu Farhan langsung berlari menaiki anak tangga dan ia mendapati Anisa tengah dipeluk Bundanya.
"Bagaimana keadaan menantuku!". Teriak Ayah pada para pembantu yang tengah berdiri di depan kamar hendak membersihkan kaca.
"Tenang Yah, kamu malah membuat cantikku lebih takut". Ujar Bunda dengan menghampiri Ayah dan mengelus pundak Ayah.
"Anisa? Anisa tenang ya? Ayah dan Farhan akan segera membereskan masalah ini. Kamu jangan takut yaa". Lirih Ayah dengan mengelus pundak menantunya yang tengah dipeluk Farhan.
Anisa berusaha melepaskan pelukan Farhan.
"Anisa gak papa Mas, Yah, Anisa cuma kaget aja tadi. Tapi, setelah membaca kertas itu Anisa menjadi penasaran siapa yang melakukan ini. Atau ini juga berhubungan dengan paket yang disita sama Mas?". Tanya Anisa panjang lebar.
"Nanti mas jelasin, oke! Sekarang masih banyak orang. Mendingan kita makan siang dulu. Tadi Mas mencium bau masakan yang luar biasa". Ujar Farhan.
Anisa celingukan dan terkejut, disana sudah ada pak polisi dan para pekerja yang membereskan kekacauan ini. Anisa mengangguk.
.
.
.
.
Acara pemberesan kasus siang tadi sudah selesai. Semua diserahkan pada pihak berwajib. Dan kaca kamar mereka kini sudah diperbaiki.
Malam ini Anisa dan Farhan tengah menonton tv diruang keluarga. Biasanya ada Bunda dan Ayah, tapi kali ini mereka hanya berdua.
Anisa kini tengah memijit kepala Farhan yang tengah berbaring di pahanya. Pasti suaminya tengah pusing memikirkan masalah teror meneror, batin Anisa.
"Mas ke dapur dulu ya". Ujar Farhan dengan beranjak ke dapur.
__ADS_1
Bersambung.....
Dikit dulu ya gaeeesss 🙏🙏🙏🙏😖