Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Jacy - Jeje


__ADS_3

Pagi ini Anisa terlihat malas-malasan diatas tempat tidur. Terlihat ia tengah memeluk Jacy. Hari ini ia mengajar sore, jadi sekarang ia bisa malas-malasan. Farhan? Farhan kini tengah mandi, setelah lalaran Farhan memutuskan untuk mandi agar tak mengantuk lagi.


"Gak bantuin Umi masak?". Tanya Farhan setelah keluar dari kamar mandi.


"Umi pergi kerumah besan. Kita ditinggalin berdua ajah". Jawabnya dengan meringkuk membelakangi Farhan.


"Kapan berangkat?". Tanya Farhan.


"Tadi pagi, kita lagi lalaran makanya gak tahu. Umi chat aku tadi". Jawab Anisa.


"Kamu meluk-meluk Jacy mas cemburu lhoo". Ujar Farhan setelah sadar istrinya memeluk kucing barunya.


"Sama kucing aja cemburuu. Lihat deh mas, imuut bangeet". Jawab Anisa.


"Kamu gak pernah lho ngelus-ngelus mas kayak gitu". Ujar Farhan mendekati Anisa dan memangku Jacy.


"Iiiihh, kok diambil siih? Kasihan, diatu bobok tadi. Jadi bangun kaan". Omel Anisa.


"Sana mandi, mau aku ajak ke kafe kucing". Ujar Farhan.


"Apaan tuh? Khusus kucing?". Tanya Anisa.


"Udaaah, mandi dulu sana". Ujar Farhan.


Dengan langkah gontai Anisa masuk kamar mandi.setelah beberapa waktu Anisa menyelesaikan ritual paginya. Tak dilihatnya Farhan di kamar.


"Mas Faridz kemana sih?". Gumamnya.


Anisa bersiap-siap terlebih dahulu. Memoleskan sedikit bedak baby dimukanya dan menggunakan lipbalm. Tak lupa mengoleskan minyak telon di lehernya. Dari dulu ia begitu menyukai wangi minyak telon. Barulah ia mengenakan jilbab.



Anisa POV


Kulihat Mas Faridz tengah memberi makan Jacy dan Jeje. Uhhh, perhatian sekaliiii. Kuhampiri Mas Faridz dan rangkul pundaknya. Oh! Tinggi banget sih. Padahal aku mau ngisengin dia. Alhasil aku terjinjit-jinjit.


"Mau sok-sokan tinggi? Pakai sepatu tinggi dulu dong yaang". Ujarnya. Akhirnya kulepaskan rangkulanku.


Jacy dan Jeje merupakan kucing peliharaan seorang nenek di dekat rumah keluarga ini. Sang nenek meminta tolong pada Anisa agar menggantikannya merawat mereka berdua. Sebab Jeje dan Jacy sendiri sering kali main dirumah Anisa. Tak jarang pula Anisa menyiapkan makanan kucing dirumahnya jika sewaktu-waktu mereka berkunjung.


"Kamu cantik bangeet sih". Sambungnya lagi.



"Iyalah cantik, kalau gak cantik mana mungkin Mas mau sama aku". Jawabku ketus.


"Hahaha, apa sih, ayo berangkat". Ujarnya.


"Jacy sama Jeje gak papa sendiri?". Tanyaku khawatir.


"Udah mas titipin sama Mbok Yem". Jawabnya.


Kami berangkat menuju cafe yang dibicarakan Mas Faridz. Alhamdulillah perjalanan kali ini lancar jaya. Tak ada macet sama sekali. Lumayan jauh ternyata tempatnya.

__ADS_1


"Masih jauh ya Mas?". Tanyaku lagi.


"Ini udah kali ke 5 kamu nanyain itu". Jawabnya


"Bentar lagi sayaang, tuh udah nampak". Sambungnya lagi.


"Ini cafe apa sih mas? Perasaan sama aja kayak cafe biasanya, kenapa harus sejauh ini?". Tanyaku.


"Ayo masuk". Ajaknya dengan menggandeng tanganku.


Ketika memasuki cafe yang pertama kali terlihat oleh mata adalah segerombolan kucing-kucing gendut tengah bertengger dan bermain-main disini. Lucuu sekaliiiiii.


"Masyaallah kok lucu bangeeet. Utututu....". Tanganku tak bisa kucegah untuk memainkan mereka. Aku tak peduli dengan para pengunjung lainnya. Untung saja masih sepi.


Kugendongi, kuelus-elus, terkadang saking gemasnya kuganggu-ganggu. Tak peduli lagi dengan Mas Faridz. Ntah dimana ia kini. Bisa-bisanya ia menemukan tempat luar biasa ini. Jadi tambah sayaang.


"Ayo sarapan dulu". Ujarnya mendekatiku. Panjang umur Mas, baru aku batin.


Kuikuti Mas Faridz dengan menggendong salah satu kucing. Ternyata Mas Faridz sudah memesankan makanan untukku juga. Tak buruk seleranya, makanya aku selalu menerima pilihannya.


Sebuah roti garlic dan secangkir coklat panas tersaji di atas meja dengan cantiknya. Ku duduk disampingnya dengan menggendong Koko kata Mbak pelayan tadi.


"Kok mas bisa tahu cafe ini?". Tanyaku.


"Yang punya temennya mas, udah lama dia nyuruh mas buat berkunjung kesini, tapi baru kali ini bisa". Jawabnya.


"Hebat yaa, udah bisa ngelola restoran sekaligus kucing-kucingnya, hehehe. Cowok atau cewek?". Tanyaku penasaran.


"Ciieee, tanya-tanya...". Godanya.


"Cewek". Mukaku mulai gak enak ini.


"Tapi udah bersuami". Sambungnya lagi dengan tawanya. Mungkin kini mukaku sedang merah. Malu kali akuuu.


"Cuci tangan dulu sana". Ujar Mas Faridz.


Author POV


Anisa mengikuti perintahnya dan siap untuk memakan hidangannya. Sebelum benar-benar makan ia menemui pelayan dibelakang.


Ternyata ia mengambil tempat makan kucing. Dituangkannya sereal kucing dan diletakkan di sampingnya duduk.


Para kucing itupun berangsur-angsur mendekati makanannya. Lucu kaliii. Barulah Anisa memakan garlicnya.


Setelah makan Anisa masih bermain-main dengan para kucing disini. Farhan mengamati tiap perlakuan Anisa pada kucing-kucing itu. Sesekali ia tersenyum melihat tingkahnya.


Anisa yang merasa diperhatikan pun melihat Farhan. Ia mengambil gawainya dan mulai memotret Farhan.


"Mas, senyum lagi". Ujar Anisa. Farhan mengikutinya sambil bergaya.


Ckrek!


__ADS_1


Uuuh, manisnya. Batin Anisa.


"Kita langsung ke kampus aja yaa?". Tanya Farhan.


"Okee, tapi Mas belum bawa jas". Lirih Anisa dengan mendekati Farhan.


"Aman itu mah, kita ke kampus sekarang yaa". Ajaknya.


"Ini baru jam setengah sembilan mas, kita ngajar jam 2". jawab Anisa.


"Ayolah, mas pengen sesuatu". Bisiknya menggandeng tangan Anisa keluar dari cafe.


Anisa bingung dengan pemikiran suaminya. Ngomong kok setengah setengah. Pengen apa dikampus? Dikampus gak ada hal yang terlampau menarik.


"Gak usah dipikirin. Kita bakalan senang-senang". Ujar Farhan melihat Anisa dari tadi diam saja.


Jarak kampus dengan cafe tak begitu jauh. Ternyata ada jalan pintasnya.


"Mas udah lama jadi rektor di kampus?". Tanya Anisa.


"Emmm, sekitar 7 bulanan. Mas sempat kerja di perusahaan kakak kamu sebelum diminta Ayah jadi Rektor". Jawab Farhan.


"Oooh, gitu".


Setelah beberapa saat akhirnya mereka sampai juga di lokasi. Farhan menggandeng Anisa menuju ruangan pribadinya. Sudah biasa dipandang kagum oleh orang-orang. Tapi tidak untuk Anisa, ia masih saja menunduk tak mau berpandangan dengan orang-orang yang sesekali memuji pak Rektor.


Sesampainya diruangan, Farhan mencegah Anisa untuk duduk di sofa.


"Kenapa?". Tanya Anisa saat tangannya dicekal Farhan.


"Ayo". Ajaknya.


Anisa semakin bingung dengan Farhan. Kemana lagi? Inikan sudah dikatornya. Ternyata Anisa diajak kekamar. Hahaha, dasar Farhan.


Anisa langsung merebahkan dirinya di ranjang.


"Masa pagi-pagi mo tiduran sih mas". Ujar Anisa masih dengan posisi tengkurap.


"Kita rebahannya yang berpahala sayang". Jawab Farhan.


"Kok suaranya beda sih?". Batin Anisa. Ia melihat Farhan ternyata sudah bersiap mendudukkan Anisa.


"Mas pengen". Lirih Farhan.


"Kita sholat dulu yaa". Ujar Anisa. Farhan mengangguk.


Setelah itu mulailah mereka menciptakan keindahannya bersama. Di ruang ini.


Bersambung....


Maaf reader, Lhu-lhu belum bisa konsisten tiap hari up. Lhu-lhu minggu ini dan minggu besok UAS. Jadi mohon maklum jika tidak up. Jangan terlalu menunggu Lhu-lhu up, cukup masukkan dalam daftar favorit nanti pasti muncul sendiri notivnya jika lhu-lhu up.


Terima kasih 🙏🙏🙏

__ADS_1


Sayang kaliaaan 😘😘😘😘


Jangan lupa dengan like + comen + vote + bintang limanya yaaa...


__ADS_2