Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Peyuk


__ADS_3

Ruangan yang semestinya nyaman, sejuk, dan rapi, kini menjelma menjadi ruangan yang panas, pengap, dan menegangkan. Kini Farhan tengah dihadapkan dengan Ayah yang diam membisu. Ayah yang memanggilnya, tapi Ayah juga yang mendiamkannya setelah Farhan masuk.


"Kenapa sih Yah?" Tanya Farhan basa-basi.


"Masih tanya kenapa kamu?" Bukannya menjawab, beliau malah kembali bertanya.


"Maaf Yah, kami di sana tinggal jalan-jalannya saja... Farhan juga gak bisa makan makanan luar. Nanti kalau mual, ya malah malu sendiri Yah," Ujar Farhan.


"Itu sih alasan kamu-nya aja. Ya udah sana! Kamu seperti itu juga gara-gara Ayah yang juga seperti itu," Jawab Ayah.


"Iya Yah? Dulu Ayah ngidam seperti itu?" Tanya Farhan penasaran.


"Iya! Tapi nggak separah kamu," Jawab Ayah membela dirinya.


Yang awalnya dikira akan membahas kepulangan Farhan, ternyata Ayah membahas hal lain. Ayah membahas rencana empat bulanan Anisa. Bukan acara besar-besaran untuk empat bulanan. Mungkin hanya mengajak beberapa santri dari pesantren tempat Husna mondok. Ya! Ini berawal dari permintaan anak putri Ayah yang ingin melihat kakak iparnya.


Jadilah Ayah mendiskusikan pada Abi dan Umi. Bukan hanya 4 bulanan, di bulan ke lima nanti akan dilaksanakan acara yang sama. Kali ini permintaan Farhan sendiri. Tepatnya implementasi ajarannya di pesantren dahulu. Lebih baik pembacaan Khotmil Qur'an untuk ibu hamil itu pada bulan ke 4,untuk menyambut roh baru yang menempati raga debay di dalam perut. Kemudian bulan ke 5 dan ke-7 acara syukuran juga.


Di balik 3 acara di atas, sebenarnya hanya adat istiadat yang berkembang pada dunia islam. Karena pada dasarnya acara doa-mendoakan itu dilakukan setiap hari. Hanya saja, 3 acara itulah yang melibatkan orang banyak. Sepertinya keluarga besar hingga para tetangga.

__ADS_1


.


.


"Gimana Yang? Mas besok jemput Husna ya," Tanya Farhan setelah keluar dari ruang kerja.


Kini mereka ada di teras samping menikmati pemandangan taman yang terawat.


"Mas-kan baru pulang, janganlah... Adek masih pengen peluka-pelukan sama Mas. Husna biar dijemput sama Kak Ical ajah, pasti Faiz juga ngikut pulang kalau Husna pulang," Rengek Anisa semakin mengeratkan pelukannya pada lengan Farhan.


"Iya-iya, nanti Mas ngomong sama Ical dulu," Jawab Farhan.


"Semoga mereka selalu bahagia seperti ini ya Jang," Ujar Pak Narto. Tenang saja, suara mereka tak sampai di Farhan dan Anisa.


"Aamiin, semoga Pak. Setahu saya Den Farhan dan Neng Anisa tidak pernah bertengkar," Jawab Mang Ujang.


"Iya, alhamdulillah, keluarga di rumah ini memang selalu terbuka. Selalu di selesaikan dengan baik-baik," Sambung Pak Narto.


.

__ADS_1


.


Dalam renungan nyamannya di pelukan Farhan, pikiran Anisa tiba-tiba kini menjurus pada satu wanita yang bersama Farhan tempo waktu. Ntah lah! Meskipun ia bersikap biasa saja, tapi tak dapat dipungkiri jika ia merasa was-was.


"Mas gak ke kampus?" Tanya Anisa.


"Kan sekarang sebenarnya jadwal mas masih di Thailand, jadi hari ini bisa sama kamu terus," Jawab Farhan.


"Mas kemarin cuma makan pagi sama siang aja lho Yang," Celetuk Farhan.


"Kok bisa?" Tanya Anisa yang kini mendongakkan kepalanya pada Farhan.


"Gak napsu... Waktu di perjalanan aja sama sekali gak masuk, bolak-balik Mas ke kamar mandi," Lirih Farhan.


Cup! Cup?


Satu kecupan mendarat pada dahi dan bibir Anisa.


"Haaaa! Mau peyuuuuk," Rengek Anisa dengan manjanya.

__ADS_1


...Bersambung... ...


__ADS_2