Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Sambang


__ADS_3

Pagi ini Anisa dan Farhan tengah bersiap untuk sambang (menjenguk) Husna dan Faiz di pesantren. Mumpung hari libur. Mereka hanya berdua, yang lainnya masih sibuk dengan urusan masing-masing.


Sejak pagi tadi, tepatnya selesai lalaran, Anisa sudah sibuk memasak untuk para adik-adiknya. Tidak sendiri, ia dibantu Bunda dan si Mbok. Kini ia sudah siap dengan baju yang berwarna senada dengan Farhan.




Sudah lama tidak melihat wajah mereka, Lhu-lhu kangen. Hahaha.


"Udah siap?". Tanya Farhan menghampiri Anisa yang berada di depan meja rias.


"Sudah, ayuk Mas". Jawab Anisa merangkul lengan Farhan.


Mereka turun dan mengambil bawaan untuk ke pesantren. Bunda menyelesaikan bekal yang akan dibawa.


"Bunda padahal pengen ikut. Tapi harus nemenin Ayah ke luar kota". Ujar Bunda sambil menyerahkan bingkisan kepada Farhan.


"Bunda yang sabar. Nanti kita VC-an disana". Ujar Anisa.


"Iyaa sayaang". Jawab Bunda kemudian mencium kening Anisa.


"Ayah titip salam buat Pak Kyai ya". Ujar Ayah.


"Siap yah. Kami berangkat dulu. Assalamu'alaikum". Jawab Farhan dan berpamitan.


"Wa'alaikumussalam".


.

__ADS_1


.


.


Mereka tak langsung berangkat. Mereka harus mampir terlebih dahulu ke rumah Abi dan Umi. Faiz menitipkan sesuatu ternyata. Kebiasaan sekali anak itu. Pasti ada saja barang yang mau dibawa lagi. Padahal di pesantren sudah tersedia.


"Assalamu'alaikum". Sapa Anisa dan Farhan ketika memasuki rumah.


"Wa'alaikumussalam". Ternyata sudah berkumpul di ruang tamu semua. Mulai dari Abi, Umi, Kak Ical, dan Kak Aisy.


"Ini sarung titipannya Faiz. Tadi Umi mau masakin juga. Eh kata Bunda kamu sudah masak". Ujar Bunda, setelah Anisa dan Farhan menyalami dan duduk.


"Perasaan sarung di pondok sudah banyak deh. Perangai si adek. Menuhin lemari ajah". Ujar Anisa.


"Hallah! Kayak kamu dulu nggak ajah! Lemari sampai penuh juga. Malah ada yang nitip ke lemari kawan". Potong Kak Ical.


"Ngawur! Nggak ada kakak ngadu". Sanggah Kak Aisy.


"Neeng, jangan manggil Mbak, manggilnya Kakak. Berapa kali Umi ngomong. Gak balens ama panggilan Kak Ical". Omel Umi. Bunda tahu ajah ada kesalahan seuprit.


"Hehehe, lupa Mi,Umi mah kayak anak akuntansi ajah. Kak, maklum kalau anak cewek tuh. Nanti kalau mau lulusan langsung ludes dah satu lemari. Pada minta jatah kenang-kenangan. Harusnya kan kebalik. Yang dikasih kenangan yang lulus". Jawab Anisa panjang lebar. Membalas Umi sekaligus Kak Ical.


Sedangkan Abi dan Farhan hanya menonton perdebatan antara kakak, adik, emak, dan kakak ipar itu.


"Nanti keburu siang loh kalau terus-terusan debat kek gitu". Ujar Abi akhirnya bersuara.


"Udah sana bawa bini lo pergi Han. Gak habis-habis ngobrol aja nanti". Ujar Kak Ical.


"Iya-iya Anisa sama mamas suami berangkat. Syirik aja dah. Mbak, eh! Kak Aisy gak ikut?". Tanya Anisa.

__ADS_1


"Maunya sih ikut. Tapi kasihan sama calon debay nya". Jawab Kak Aisy sambil mengelus perutnya yang sudah membesar.


"Ya sudah, ayo yang. Kami pamit dulu Abi, Umi, dan kakak-kakak kece". Pamit Farhan. Kemudian menyalami semua yabg ada di sana. Diikuti Anisa.


"Assalamu'alaikum".


"Wa'alaikumussalam".


.


.


.


.


"Mang Darma, kami pamit dulu yaa". Ujar Farhan ketika mobilnya di depan pos penjagaan.


"Mau kemana Mas? Kok rapi bener sama si Eneng". Tanya Mang Darma.


"Mau sambang Faiz sama Husna Mang ke pondok". Jawab Farhan.


"Oalaah, iya-iya. Hati-hati Mas, Neng". Ujar Mang Darma kemudian bergegas membukakan gerbang.


"Assalamu'alaikum".


"Wa'alaikumussalam,".


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2