
"Assalamu'alaikum". Sapa Anisa ketika memasuki ruangan Farhan.
"Wa'alaikumussalam, sini sayang". Jawab Bunda. Anisa mencium tangan Bunda dan duduk disampingnya.
"Bunda udah dari tadi?". Tanya Anisa.
"Emmm, lumayan. Tadi ada Ayah, tapi tiba-tiba Ayah ada perlu. Ditinggal deh Bundanya". Jawab Bunda.
Farhan duduk di kursinya. Menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda tadinya. Anisa dan Bunda saling bercerita dan bercanda tawa.
"Bunda kesepian gak ada Husna. Kamu cepet nikah sama Farhan, biar Bunda ada temennya lagi". Ujar Bunda.
"Bundaaa, gak usah aneh-aneh deh". Jawab Farhan.
"Aneh-aneh gimana lho? Bunda pengen anaknya cepet nikah kok aneh". Ujar Bunda.
"Emm, gimana kalau kita makan siang?". Ujar Anisa melerai Bunda dan Farhan.
"Ide yang bagus sayang. Ayuuk. Farhan, kamu cari Ayah dulu baru makan. Ayo sayang". Ujar Bunda.
"Farhan gak ikut makan?". Tanya Farhan.
"Kamu makan kalau sudah ketemu Ayah. Bunda duluan sama Anisa, nanti bunda WA kamu tempatnya". Jawab Bunda. Bunda berlalu bersama Anisa.
"Aku kan juga lapar. Ayah dimanaa pula. Dari tadi di telvon gak angkat-Angkat". Monolog Farhan.
Farhan pergi mencari ayahnya diruang-ruang yang biasa Ayah nongkrong. Dari satu ruang keruang lainnya.
"Assalamu'alaikum yah?". Ujar Farhan ketika telvonnya sudah di angkat.
"Wa'alaikumussalam, ada apa Han?". Jawab Ayah.
"Ayah dimana? Dari tadi Farhan nyari gak ketemu-temu". Ujar Farhan.
"Ayaah, lagi makan siang sama Anisa dan Bunda". Jawab Ayah.
"Lho! Aiisssh! Kalian suka banget ngerjain Farhan". Ujar Farhan dan mematikan telponnya sepihak. Ia begitu geram dengan ulah Bunda dan Ayahnya.
Disisi lain, Bu Anggun yang melihat Anisa berjalan dengan ibu-ibu paruh baya tampak penasaran.
"Siapa wanita itu? Kenapa terlihat dekat sekali dengan Anisa? Oh, tunggu. Mereka tadi dari lantai atas. Buat apa? Bukankah dilantai atas hanya ada ruang kelas, ruang dosen, dan ruangan Mas Rektor? Haish! Ntah apa yang aku pikirkan". Gumam Bu Anggun yang tak sengaja satu lift dengan Anisa dan Bunda.
Ia bergegas ke lokasi yang barusan dikirim Anisa. Sesampainya di lokasi ia melihat orang tuanya tengan bercengkrama dengan Anisa bak anak dengan orang tuanya.
"Sebenarnya anak mereka itu siapa?". Gumam Farhan. Ia mendekati mereka.
"Baguuus! Farhan dikerjain ternyata". Ujar Farhan. Bunda, Ayah dan Anisapun tertawa melihat raut Farhan, masih tersisa kemarahannya.
__ADS_1
"Jangan marah-marah Farhan. Nanti cepat tua lho. Anisa gak jadi mau sama kamu nanti". Goda Ayah.
"Jangan ngomong begitu yah, omongan itu doa lho". Jawab Farhan tak terima.
"Sudah-sudah, Bunda masih lapar. Kita lanjutkan makannya. Farhan, kamu duduk. Pasti capek muter-muter. Hahaha". Sahut Bunda.
Mereka makan siang bersama diselingi obrolan ringan.
"Farhan, ikut Ayah rapat dulu ya". Ujar Ayah setelah menyelesaikan makan.
"Iya Yah. Tapi, Farhan ngantar Anisa dulu ya". Jawab Farhan.
"Tidak usah, Anisa biar pakai mobil kamu ke mansion dengan Bunda. Kamu sama Ayah". Jawab Ayah.
"Anisa mau kan nemenin Bunda dulu?". Tanya Bunda.
"Mau bun. Tapi, apa tidak papa kalau Anisa pakai mobil Mas Faridz?". Tanya Anisa.
"Ya gak papa dong sayang. Ya sudah, ayo kita berangkat Han". Ajak Ayah.
Ayah dan Farhan bergegas kembali ke kampus. Karena jarak restoran dan kampus tidak jauh, mereka tadi hanya berjalan kaki. Begitupun dengan Anisa.
Anisa Prov
Padahal aku gak pengen orang-orang kampus tahu hubungan ku dengan Mas Faridz, tapi sekarang Bunda dan Ayah malah terang-terangan mengajak aku makan siang.
Kami berempat terpisah menjadi dua di parkiran. Ayah dan Mas Faridz ke ruang rapat dan Aku dengan Bunda ke parkiran.
"Ini kuncinya". Ujar Farhan memberikan kunci dan berlalu dengan Ayah.
"Bun, ini kali pertama Anisa mengemudikan mobil kek gini". Lirih Anisa.
"Hallah. Bisa-bisa, ayo!". Jawab Bunda kemudian masuk ke mobil.
Anisa mengikuti Bunda dan mulai mengemudikan meninggalkan pekarangan kampus.
"Bisa kaan, mobilnya sama aja kok". Ujar Bunda setelah meninggalkan pekarangan kampus.
"Hehehe, iyaa bun. Tapi tetep aja, kerasa banget mobil mahal seperti ini hahaha". Canda Anisa.
"Kamu ini, ada-ada saja. Cepet nikah sama Farhan, biar Bunda beliin mobil kek gini". Ujar Bunda.
"Ah Bunda mah. Gak usah berlebihan. Mobil Anisa masih bagus kok. Nanti malah mubazir". Jawab Anisa.
"Yaaa, kita saja besok. Hahaha". Ujar Bunda.
__ADS_1
"Kak Ical satu bulan lagi resepsi kan sayang?". Tanya Bunda lagi.
"Iya bun, gak nyangka Kak Ical dah mau berkeluarga". Jawab Anisa.
"Hahaha, bentar lagi juga kamu jadi menantunya Bunda". Sahut Bunda.
"Bundaaa". Rengek Anisa dengan wajah merahnya.
*Mansion
Anisa dan Bunda kini tengah duduk di ruang keluarga. Bunda memegang sebuah album ditangannya.
"Ini mas Faridz?". Tanya Anisa.
"Iyaa, lucu kan". Jawab Bunda.
"Hmmmm, iyaa. Gemoy sekaliii, cute deh". Ujar Anisa.
Bunda menunjukkan foto Farhan waktu kecil dulu. Mulai bayi hingga remaja bahkan sampai sekarang.
"Dulu kakak kamu sering banget nginep disini. Waktu di pesantren mereka berdua terkenal dengan best friend katanya. Berduaaaa terus". Jelas Bunda.
"Kok Anisa gak kenal sama Mas Faridz ya Bun? Padahal biasanya Anisa masih tahu dikit-dikit tentang temannya Kak Ical ". Ujar Bunda.
"Kan selama Kakak kamu di pesantren, kamu juga dipesantren. Bahkan kata Umi, kalau Kak Ical pulang Anisa gak pulang. Iya kan?". Jawab Umi.
"Iya juga sih, apalagi setelah Anisa lulus langsung kuliah dan baru pulang beberapa bulan ini". Ujar Anisa.
Tiba-tiba, gawai Anisa berdering,
"Assalamu'alaikum kak". Jawab Anisa. Ternyata Faisal yang menelpon.
"Wa'alaikumussalam, dek bilangin sama Farhan ya kamu sama dia besok ke butik yaa. Kakak tadi udah bilang sama mbak Sisil, kamu tinggal ke sana aja sama Farhan". Ujar Faisal.
"Ngapain? Kok sama Mas Faridz juga?". Tanya Anisa.
"Hallah. Udah, kesana aja. Nurut sama mbak Sisil. Ya udah ya, kakak tutup, mau kencan dulu. Assalamu'alaikum". Jawab Faisal.
"Helleh. Gayanya, Wa'alaikumussalam". Jawab Anisa.
"Kak Ical?". Tanya Bunda.
"Iya Bun, nyuruh aku sama Mas Faridz besok ke butik. Gak tau mau ngapain". Jawab Anisa.
"Oalah, emm, kita buat makan malam yuk. Tapi sebelumnya kamu mandi dulu ajah, pakai baju Husna. Yuk Bunda antar". Ujar Bunda. Anisa mengangguk.
Bunda mengantarkan Anisa ke kamar Husna dan memberikan sebuah setelan gamis Husna untuknya. Bunda meninggalkan Anisa sendiri dan kemarnya untuk mandi sekaligus sholat asar.
__ADS_1
Bersambung....