
[Opening Arc - #1]
...----------------...
26 Januari 2021
"Ibu bercanda soal ini kan? Ini tidak mungkin untukku ...." menyodorkan secarik surat yang tadi ibunya berikan padanya, dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang telah dia terima.
Dia bernama Araya, seorang gadis berusia sekitar tiga belas tahun. Dia tinggal bersama ibunya yang bernama Luccyana di rumah yang sederhana, di pinggiran kota yang keadaannya tidak terlalu ramai.
Saat ini, Araya masih bersekolah di jenjang sekolah menengah pertama, lebih tepatnya masih kelas 8. Di sekolah, dia dikenal sebagai murid yang lumayan pintar dan rajin. Dia selalu mengerjakan tugas sekolahnya tepat waktu dan juga hampir selalu mendapat nilai terbaik di setiap ujian.
Bukan hanya itu, Araya juga mempunyai wajah yang lumayan cantik, sifatnya juga baik dan ramah. Tapi, dia masih single bahkan sejak lahir.
Araya bukanlah anak tunggal, dia mempunyai seorang kakak perempuan yang bernama Allucia, yang kini telah berusia enam belas tahun dan telah sekolah mencapai jenjang SMA.
"Tidak, Araya. Ibu tidak sedang bercanda. Ini memang untuk kamu." balas ibunya untuk meyakinkan. Araya masih belum percaya. Baginya, isi surat itu seperti tantangan saja.
Yang benar saja?
...----------------...
Flashback on ...
Pagi hari, jam empat pagi. Luccyana alias ibunya Araya telah terbangun sejak beberapa menit yang lalu. Duduk disalah satu bangku di meja makan sambil menatap selembar kertas yang ada di hadapannya. Kertas itu berisi surat panggilan untuk Araya, namun surat tersebut bukan berasal dari sekolah. Melainkan dikirim oleh suatu organisasi, yang bernama 'Elemental Organization of Asia,' atau bisa disebut juga Organisasi Element Asia.
Surat tersebut berisi panggilan serta permohonan yang ditujukan kepada Luccyana untuk mengizinkan Araya—putri bungsunya—supaya bergabung dengan organisasi tersebut. Organisasi itu mempunyai tugas dan tanggung jawab yang besar, yaitu untuk memberantas dan mencegah segala peristiwa dan kekacauan yang diakibatkan oleh Darkness Swordman—pendekar kegelapan—yang merugikan umat manusia, ditambah lagi dengan menjadi penengah dalam suatu konflik dan mencari jalan keluar dari konflik tersebut. Selain itu, mereka juga mempunyai tugas untuk menjaga keseimbangan alam.
"Araya, kurasa waktumu telah tiba. Kau sudah mulai dewasa," batin ibunya Araya setelah membaca surat tersebut beberapa kali. Surat tersebut dia terima dari seorang pemuda yang mengenakan pakaian formal, kemarin sore. Pemuda tersebut adalah salah satu bukti kalau organisasi itu benar-benar ada.
Satu jam kemudian ...
"Hoaaahhmm! Selamat pagi Ibu," kata Araya ketika baru bangun tidur dan menyapa ibunya yang sedang duduk di kursi meja makan.
"Selamat pagi. Araya, tutup mulutmu ketika kau menguap." Ibunya menegur Araya yang menguap tanpa menutup mulutnya.
"Maaf Ibu, aku lupa. Setelah ini, aku tidak akan lupa lagi." kata Araya sambil menunduk.
"Baiklah. Itu, Ibu sudah membuatkan sarapan untukmu." kata Luccyana sambil mengarahkan pandangannya ke arah lemari makan di dekat rak piring. Araya pun berjalan ke arah benda itu. Kemudian mengambil sarapan yang sudah disiapkan oleh ibunya. Sarapannya berupa roti panggang dan telur ceplok.
__ADS_1
Araya pun memakannya setelah dia kembali duduk di kursi meja makan. Dia makan dengan nikmat tanpa bersuara. Hingga pada akhirnya, dia sudah selesai makan. Dia beranjak dan hendak pergi ke kamar mandi.
"Terima kasih untuk sarapannya Bu, aku akan bersiap pergi ke sekolah." ucap Araya setelah membereskan bekas sarapannya, dan hendak beranjak dari kursi.
"Araya, mulai hari ini kau tidak akan pergi ke sekolah." ucap ibunya, yang membuat Araya menatapnya dengan tatapan bingung.
"Hmm? Apa maksud Ibu?" tanya Araya tidak mengerti sembari mengernyit.
"Kau tidak akan bersekolah lagi." kata ibunya mengulang perkataannya tadi.
"Tapi kenapa, Bu? Apa aku melakukan kesalahan sampai aku harus dikeluarkan dari sekolah?"
"Tidak, coba Kau baca ini." ucap Luccyana sambil menyerahkan surat yang dia baca beberapa saat yang lalu. Araya membacanya dengan teliti, namun dia masih belum bisa menyimpulkan.
Flashback end ...
...----------------...
"Kenapa kita mendapatkan surat ini, Bu?" tanya Araya, dia tidak yakin dengan jawaban yang akan dikatakan ibunya.
"Entahlah, tapi kau harus mengikutinya." ucap Luccyana, ia juga tidak yakin apakah Araya akan mempercayainya.
"Tenanglah sayang, kau akan segera mengetahuinya, dan surat ini benar-benar untuk kita, tepatnya untukmu. Kamu akan kembali hidup normal setelah misi itu selesai." Ibunya menegaskan sekali lagi.
"Hah ... aku akan memikirkannya Bu. Tolong berikan aku waktu." pinta Araya setelah menghela nafasnya.
"Baiklah, usahakan kau sudah mempunyai keputusan sebelum jam dua siang." jawab Luccyana sambil mengangguk.
...----------------...
Jam satu siang, Araya sedang berada di taman sendirian. Hampir tiga jam dia berada di sana untuk memikirkan keputusannya. Jika sebelumnya dia di kamar, kemudian di teras, dan sekarang di taman kota. Di taman tersebut, dia duduk di atas ayunan yang letaknya di dekat pohon rindang, sehingga tempat itu menjadi tidak terlalu panas.
"Hah ... aku harus bagaimana?" tanya Araya pada dirinya sendiri, sambil perlahan menggerakkan ayunan yang dia duduki.
"Apakah aku harus menolak, atau menerima?" gumamnya pelan.
WUUUSHH!
Tiba-tiba, sesuatu yang sangat cepat melintas di depannya. Kecepatan gerakannya bahkan lebih cepat dari kecepatan kendaraan. Saat benda tersebut melintas, juga disertai dengan cahaya berwarna kuning keemasan.
__ADS_1
"Wah, apa itu?" tanya Araya bingung, sambil membenarkan rambut depannya yang sedikit berantakan akibat tertiup angin.
"Sedang melihat apa?" tanya seseorang dari arah belakang Araya. Suara seorang perempuan.
"Whoaa!" Araya terkejut untuk yang kedua kalinya. Bahkan kali ini, dia hampir saja terjungkal dari ayunan.
"Hehe ... maaf." ucap orang itu sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Araya berdiri.
"Siapa kamu?" tanya Araya sambil berdiri tanpa menerima uluran tangannya. Kemudian membersihkan pakaiannya yang sedikit terkena tanah.
"Namaku Hanny. Salam kenal." ucap gadis itu sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Araya juga mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman dengannya.
"Orang itu, sedikit aneh.." kata Araya dalam hati setelah melihat Hanny. Dia mempunyai warna mata jingga, dan rambut pirang, tapi ada sehelai yang berwarna hitam.
"Hmm, baiklah. Aku diminta untuk menjemput seseorang. Sampai jumpa." ucap Hanny sebelum akhirnya dia berjalan pergi.
"Sampai jumpa," balas Araya sambil menatap Hanny yang mulai berjalan menjauh darinya.
Setelah itu, dia merasakan—melihat matahari yang mulai condong ke barat—menandakan waktu sudah lewat tengah hari.
"Sepertinya sudah mau jam dua. Aku harus pulang. Tapi, aku belum memutuskan apapun ...." gumamnya.
"Baiklah, aku akan pulang saja."
To be continued..
Author note :
Selamat datang di karya ketiganya Author!
Kali ini aku bikin cerita fantasi.
Mohon dukungannya ya.
Kuharap kalian suka dan betah di karya ini.
Kalau suka, tekan like, favorit, beri komentar, dan juga vote ya. Biar authornya makin semangat.
See you..
__ADS_1