
[Return Arc - #4]
...----------------...
"Memangnya kenapa?" tanya Araya heran. Saat itu, pintu lift telah tertutup dan mulai bergerak ke lantai tiga. Belum sempat Dae-Vin memberikan jawaban, pintu lift sudah terbuka kembali.
"Tidak apa-apa. Aku hanya kasihan padamu. Yang melukaimu kan pedangku." jawab Dae-Vin berjalan di samping Araya.
"Tapi kan bukan kamu yang melakukannya, Dae-Vin. Tidak apa-apa."
"Sudahlah. Aku menunggu di luar." ucapnya sambil mengedikkan dagunya ke arah pintu masuk supaya Araya lekas ke sana. Ia mengangguk, dan kemudian masuk.
...----------------...
Setengah jam telah berlalu dan Kim Dae-Vin masih berada di sana untuk menunggu Araya. Ketika pintu kaca itu terbuka, dirinya langsung menatap Araya.
"Sudah selesai?" tanyanya.
"Sudah. Maaf membuatmu menunggu."
"Bukan masalah. Kan aku yang mau. Ehm, bagaimana kondisimu Araya?" tanya Dae-Vin dengan topik yang berbeda. Saat ini, mereka sudah mulai berjalan tanpa tau tujuan mereka.
"Lebih baik. Setelah perbanku diganti, luka-lukanya mulai membaik meskipun sedikit." jawab Araya sambil menatap tangan kanannya yang masih dipasangi gips.
"Ooh, tadi ganti perban. Semua diganti?"
Araya mengangguk pelan. Dae-Vin kembali bertanya, "termasuk yang di dalam?"
"Iya." balas Araya singkat dan jelas.
Suasana menjadi sunyi selama beberapa detik. Mereka tidak akan langsung ke ruangan, tidak tau mereka mau ke mana. Pikiran mereka seakan sedang kosong.
KRUWUUUK!
Suara itu berhasil memecah keheningan di antara mereka. Mereka saling pandang. Araya menahan senyumannya, bola matanya bergerak-gerak.
"Kau lapar? Ayo makan." ajak Dae-Vin yang menyadari keadaan Araya. "Sudah lebih dari sepekan kamu tidak makan kan?" lanjutnya.
"Iya, aku hanya menghabiskan puluhan kantong infus saja." jawab Araya sambil kembali berjalan.
"Sebenarnya bukan hanya kantong infus. Kamu juga sudah menggunakan darahku, Araya." kata Dae-Vin dalam hati sambil memasang senyum tipis saat melihat wajah samping Araya.
__ADS_1
Pada akhirnya, mereka berdua pun pergi ke kantin. Karena jam makan malam sudah selesai, jadi tempat itu sudah sepi dan agak gelap.
Araya duduk di bangku yang letaknya di pojok. Sedangkan Dae-Vin berdiri di seberangnya.
"Kamu mau makan apa? Biar aku buatkan." tanyanya sambil meletakkan kedua telapak tangannya di atas meja.
"Sungguh?"
"Iya. Apapun yang kau mau." jawabnya santai.
"Hmm kalau begitu, roti saja."
"Tidak. Kamu sudah lama tidak makan. Harus makan supaya kamu cepat sembuh." ujar Dae-Vin sedikit memaksa. Araya kembali terdiam untuk memikirkan apa yang akan dia request untuk menu makan malam.
"Kalau begitu, nasi goreng saja yang biasa. Jangan yang pedas." Araya berucap sambil sedikit mendongakkan kepalanya.
"Oke, tunggu sebentar." setelah itu, Dae-Vin segera berjalan menuju dapur yang tak jauh dari sana. Dia mulai mencari bahan-bahan yang diperlukan dari dalam kulkas.
Dia mengambil sebutir telur dan wortel yang berukuran kecil dari sana. Kemudian berjalan menuju meja di dekat kompor untuk mengambil bawang putih dan bawang merah sebagai bumbunya.
Araya terus memperhatikannya dalam diam. Baru kali ini dia melihat seorang laki-laki yang begitu lihai dalam hal memasak selain chef-chef di televisi.
Sepuluh menit kemudian, Dae-Vin sudah duduk di samping Araya. Di depannya sudah ada seporsi nasi goreng dan sekotak susu rasa cokelat.
"Sudah jadi, ayo di makan." ucapnya mempersilahkan. Sekilas Araya menatap nasi goreng di depannya yang terlihat menggiurkan. Aroma bumbunya yang khas, serta tampilannya yang terlihat spesial bagi Araya. Nasi goreng dengan campuran telur dan sosis itu mampu membuat Araya menelan ludahnya.
"Ah iya, aku lupa kalau kedua tanganmu masih belum bisa digunakan." ucap Dae-Vin membuat Araya tersadar. Dia agak tersentak, kemudian memalingkan pandangannya dari sepiring nasi goreng porsi sedang itu.
"Aku akan menyuapimu." lanjutnya yang membuat Araya terdiam. Entah mengapa, dia tidak mau mengangguk ataupun menjawab.
"Ayo buka mulutmu." sambil menyodorkan sesendok penuh nasi goreng pada Araya, Dae-Vin berucap. Perlahan, Araya mulai membuka mulutnya, melahapnya, dan mengunyahnya.
"Enak sekali.." kata Araya lirih setelah menelannya. Rasanya sangat pas seperti dengan seleranya. Tidak terlalu asin, racikan bumbunya juga tepat.
"Benarkah? Kalau begitu, habiskan saja." kata Dae-Vin sambil kembali menyodorkan sesendok nasi goreng untuk yang kedua kalinya.
Kejadian itu berlangsung sampai beberapa kali. Hingga, ada seseorang yang datang dan memergoki mereka.
"Araya? Kim Dae-Vin?" tanya seorang perempuan dari arah pintu masuk. Sontak, mereka merasa terpanggil dan langsung menolehkan kepala.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanyanya lagi sambil berjalan ke arah mereka. Rupanya dia adalah Kak Aria.
__ADS_1
"Araya belum bisa makan sendiri, jadi aku membantunya." jawab Dae-Vin sambil menatap Araya.
"I-iya.." merasa dirinya sedang ditatap olehnya, Araya jadi agak tergagap dalam menanggapi.
"Ooh, aku mengerti. Baiklah, lanjutkan saja." sambil tersenyum tipis, Kak Aria berucap. Kemudian berjalan menuju lemari pendingin yang satunya untuk mengambil minuman. Setelah mengambil sebotol air limun, ia segera berjalan menuju pintu.
"Kak Aria mau ke mana?" tanya Araya yang untuk sementara mengabaikan Dae-Vin yang tangannya sudah menggantung sambil memegang sendok yang penuh dengan nasi goreng.
"Mau ke ruangan. Baiklah aku pergi," jawabnya kemudian melangkah ke luar.
"Entah mengapa, aku sedikit merasa aneh dengan Kak Aria yang barusan." gumam Dae-Vin lirih setelah sendok di tangannya kembali kosong.
"Anheh khenaphua?" saat hampir selesai mengunyah, Araya terpaksa bertanya karena dia juga penasaran.
"Dia seperti bukan Kak Aria yang biasanya. Akhir-akhir ini, dia juga jarang terlihat."
"Selama delapan hari ini? Ada apa memangnya?" setelah sselesai mengunyahnya, Araya kembali bertanya. Dia sangat penasaran tentang kejadian yang terjadi selama dia tak sadarkan diri. Dia juga belum tau kalau masa lalunya telah diketahui oleh ketiga rekannya, yang bahkan dia sendiri belum tau secara pasti.
"Iya, selama itu dia jarang muncul. Dan dari suaranya tadi, dia seperti sedang sakit meskipun wajahnya tidak pucat." jawab Dae-Vin setelah teringat akan suara Kak Aria yang sedikit berbeda. Ekspresinya juga berbeda. Yang biasanya ceria dan tersenyum lebar, tadi hanya tersenyum tipis yang seperti dipaksakan.
Araya hanya mengangguk pelan, kemudian melanjutkan kegiatan makannya.
...----------------...
Di tempat yang berbeda, di suatu ruangan dengan pencahayaan remang-remang, terlihat seorang perempuan yang duduk di atas kursi roda sedang berkutat dengan komputernya. Dia menggunakan kacamata, jari-jari sibuk mengendalikan sesuatu melalui komputer tersebut.
"Humanoidku.. Agak error." gumamnya sambil masih menatap layar komputer. Terlihat di situ ada gambar seseorang yang sedang berjalan. Seseorang dalam gambar itu sangat mirip seperti dirinya. Hanya saja, dia yang terekam di sana berjalan tanpa menggunakan kursi roda. Mereka berdua sama-sama Aria, yang selama ini diketahui oleh anggota Elemental generasi kesembilan itu ternyata adalah humanoid.
"Aku harus segera memprogramnya lagi sebelum mereka mulai curiga." ucapnya lirih sambil mengepalkan kedua telapak tangannya.
Tidak lama kemudian, pintu ruangannya terbuka dan seseorang yang sama dengannya masuk ke sana. Dia berjalan ke arahnya, kemudian menyodorkan sebotol air limun yang dia ambil dari dalam lemari pendingin tadi.
Aria segera mengambilnya, kemudian membuka tutupnya dan lalu menenggaknya.
"Hah.. Semoga mereka tidak curiga denganmu. Aku akan segera memprogram ulang kamu." ujarnya sambil menatap humanoid-nya yang masih memasang ekspresi datar khas robot. Dia tak menanggapi apa-apa karena selama ini suara yang dia pakai adalah suara Aria yang asli.
To be continued..
...----------------...
Ternyata dia yang biasa mereka lihat itu humanoid?! Tapi, kok bisa? Mungkin lain kali bakalan author ceritain. Jangan lupa like dan komentarnya ya! Terima kasih!
__ADS_1