Elemental Gen-Z

Elemental Gen-Z
Chapter 3


__ADS_3

[Opening Arc - #3]


...----------------...


Saat ini, Araya sedang berjalan bersama dengan Hanny. Berjalan melewati lorong yang tidak terlalu luas dan tidak pula terlalu sempit. Lorong itu sunyi, hanya terdengar suara langkah kaki mereka yang bersahut-sahutan.


"Hanny, sebenarnya siapa mereka tadi?" tanya Araya membuka topik pembicaraan. Memang baru kenal tadi, namun ia berusaha mengakrabkan diri dengan rekannya itu.


"Yang mana?" tanya Hanny sambil menatap lurus ke depan.


"Selain kita, Zaaryan dan Kim Dae-Vin."


"Ooh, tadi itu ada Kapten Ryuzaki Akira, Kak Lee Hyun-Jae, dan Kak Ashley Aria. Ada juga Profesor R dan Profesor F." jawab Hanny sambil sekilas menatap Araya saat mengabsen anggota di sana.


"Profesor R dan Profesor F? Siapa nama aslinya?"


"Entahlah, aku juga tidak tahu. Mungkin R dan F adalah inisialnya saja." ujar Hanny menerka-nerka. Memang sebelumnya, nama mereka berdua masih rahasia—misterius—mereka merahasiakan namanya karena suatu alasan.


...----------------...


Kini, mereka berdua telah sampai di suatu ruangan dengan luas 5×5 meter dengan warna putih abu-abu. Di ruangan itu, terdapat tempat tidur yang lumayan luas, lemari pakaian, meja belajar, dan juga meja khusus untuk komputer. Dan tak lupa, jendela kaca super tebal yang tak bisa dibuka.


"Waaah, ini ... ruangan apa?" tanya Araya setelah melihat ke sekelilingnya. Ia takjub, ruangan seperti ini memang terbilang cukup mewah, tapi tentu saja belum dapat menyamai ruangan hotel bintang lima.


"Kau bertanya ini ruangan apa? Sudah jelas ini ruang istirahat pribadi kan?" ujar Hanny sambil menunjukkan barang-barang utama dari ruangan itu.


"Ini ruangan siapa?" tanya Araya lagi. Kalau dia sudah penasaran, akan sulit menghentikan niatnya untuk bertanya.


"Sudah jelas ruangan untuk kamu."


"Untukku? Sungguh? Lalu kau ..." Araya belum menyelesaikan kata-katanya, tangan kanannya menggantung di udara menunjuk Hanny.


"Iya, aku tidak bohong. Profesor telah memintaku untuk menunjukkan ruangan ini padamu. Kita tidak akan satu ruangan, aku mempunyai ruangan sendiri, di sebelah ruanganmu." Hanny menjelaskan sambil diiringi senyuman, Araya mengangguk mengerti. Setelah itu, keadaan menjadi hening.


"Araya, coba kau lihat ke sana." Hanny menepuk singkat pundak Araya, memintanya untuk melihat ke belakangnya.


Awalnya gelap dan biasa saja, setelah itu, Hanny berjalan ke arah tirai jendela yang lumayan besar di depan mereka. Hanny membuka tirai tersebut dan terlihatlah pemandangan coral dan terumbu karang di laut tersebut.


"Wooow, indah sekali ...." Araya takjub, matanya berbinar melihat pemandangan bawah laut yang dapat dilihat seratus delapan puluh derajat.


"Ya, tapi semua ini sudah mulai rusak akibat dampak dari pemanasan global. Panas matahari terperangkap di dalam atmosfer bumi, menyebabkan suhu bumi meningkat secara signifikan. Dan suhu air laut juga meningkat, hal itu bisa merusak terumbu karang." Hanny menjelaskan. Araya terdiam untuk berpikir. Mengapa manusia kurang peduli dengan planet yang merupakan tempat tinggal mereka sendiri?


"Eumm, Hanny .... Aku ingin bertanya. Apa tugas kita yang sebenarnya?" Araya mengajukan pertanyaan, yang mungkin pertanyaannya sudah lain dari topik pembicaraan yang sebelumnya.


"Kau akan tau, tidak akan lama lagi." balas Hanny kemudian memasang senyuman yang terlihat misterius.

__ADS_1


...----------------...


Tiga puluh menit kemudian, mereka diminta untuk berkumpul di ruangan utama, mereka menyebutnya dengan nama ruangan aula. Di sana sudah ada Zaaryan, Kim Dae-Vin, Kapten Akira, Lee Hyun-Jae, Aria, Profesor R, dan Profesor F. Lagi-lagi, Araya dan Hanny yang datang terakhir.


"Semua sudah hadir?" tanya Profesor R sambil mengamati sekeliling dan mengabsen anggota secara tidak langsung.


"Sudah, Profesor!" jawab Araya, Hanny, Zaaryan dan Dae-Vin dengan kompak, namun, semangat mereka berbeda-beda.


"Baiklah, pertama-tama, aku akan menjelaskan sebagai apa kalian di markas ini. Kedua, tes apa yang akan kalian dapatkan. Dan ketiga, selain tes, kalian juga akan dilatih dan diberi misi pertama.


Mulai dari yang pertama. Disini kalian berempat sudah menjadi bagian dari 'Elemental Organization of Asia' generasi ke sembilan. Elemental Organization of Asia, yaitu organisasi yang merupakan perkumpulan dari pengendali elemen, perwakilan dari Asia. Nanti akan ada elemen air, api, angin, tanah, petir, cahaya dan alam. Setelah tes, nanti kalian akan masuk ke tahap elemen yang pertama, yaitu elemen dasar. Tahap kedua, kalian akan mendapatkan elemen yang lebih khusus, dan tahap ketiga juga seperti itu. Sampai di sini, ada yang mau bertanya?" ucap Profesor R menjelaskan. Setelah itu, mengalihkan pandangannya dari layar hologram yang digunakan untuk visualisasi.


Zaaryan mengangkat tangan kanannya, sebelum mengajukan pertanyaan. Pandangan semua orang jadi mengarah padanya


"Profesor, jika ada tahapan-tahapan seperti itu, berarti kami bisa mempunyai lebih dari satu elemen?" Zaaryan bertanya, kemudian menurunkan tangannya.


Profesor R menaikkan kacamatanya, kemudian berucap, "Pertanyaan bagus, dan jawabannya adalah iya. Misalnya ditahap pertama, kalian bisa mengendalikan elemen air, ditahap kedua, kalian akan bisa mengendalikan elemen es. Seperti itu contohnya.


Kedua, sebelum mulai berlatih, kalian akan diberi tes terlebih dahulu. Tes tersebut meliputi tes kesehatan, tes kecerdasan, tes IQ dan EQ, serta tes ketangkasan." Profesor R kembali menerangkan. Kali ini, tidak ada yang mengajukan pertanyaan.


"Aku belum pernah melakukan tes IQ sebelumnya. Kira-kira, IQ-ku berapa ya?" Araya berujar dalam hati. Memang sebelumnya dia belum pernah melakukan tes IQ, tapi dia sudah tau tentang tes IQ itu apa, melibatkan apa, karakteristiknya seperti apa, dan fungsi dari tes IQ sendiri.


"Dan yang ketiga, setelah kalian melakukan semua tes tersebut, kalian sudah mulai belajar dan berlatih dalam menggunakan elemen. Belajar dan berlatih dalam mengendalikan, memanfaatkan, dan menggunakannya dengan sebaik dan se-efisien mungkin.


Araya tersadar dari pikirannya yang sedari tadi sedang traveling memikirkan masa depannya selama menjadi bagian dari Elemental Organization of Asia. Dia langsung berjalan ke depan setelah melihat Zaaryan yang sudah hampir sampai di depan.


Setelah sampai, mereka berdua diminta untuk berdiri di samping meja bundar yang sepertinya terbuat dari logam. Meja bundar dengan warna silver abu-abu tersebut, bagian tengahnya terbuka secara perlahan, kemudian menampakkan dua buah benda yang bentuknya seperti jam tangan.


"Nah, itu adalah jam elemen kalian. Zaaryan silahkan ambil yang warna merah dan Araya yang warna putih." ujar Profesor R untuk yang kesekian kalinya. Kemudian, Araya dan Zaaryan segera melakukan apa yang diminta.


"Masing-masing sudah ambil? Silahkan dipakai." pinta Profesor F. Araya dan Zaaryan pun segera memakai benda itu.


Setelah benda itu menyentuh kulitnya, seketika alat tersebut melekat begitu saja—seperti ada magnetnya. Melekat dengan sempurna seakan alat tersebut memang didesain khusus.


"Profesor, apa jenis element kami?" tanya Zaaryan dengan sangat antusias.


"Zaaryan elemen api, dan Araya.. bukan elemen." jawab profesor R dengan sedikit memelankan suaranya.


"Bukan elemen?" Araya, Zaaryan, dan Hanny kompak menanyakan pertanyaan yang sama. Kalau bukan element, lalu ... mengapa dia masuk organisasi Elemental?


"Ya, punya Araya bukan elemen. Meskipun begitu, dia punya keistimewaan tersendiri. Yaitu bisa ber-teleportasi kemanapun yang dia mau. Bahkan, dia bisa melakukan teleportasi waktu, misalnya kembali ke masa lalu atau berkunjung ke masa depan." jelas Profesor R. Araya, Hanny dan Zaaryan mengangguk mengerti.


"Jadi, aku bisa pergi ke mana pun?" tanya Araya. Ada maksud tersembunyi Araya bertanya seperti itu. Dia ingin berkunjung ke tempat-tempat luar biasa yang belum pernah dia kunjungi, pastinya tanpa harus mengeluarkan biaya sepeserpun untuk hal transportasi.


"Ya, tapi ingat untuk kalian semua. Jika kalian menggunakan kekuatan ini secara berlebihan, kalian akan merasakan efek sampingnya. Jadi, gunakan seperlunya saja ya." ucap Profesor F lagi.

__ADS_1


"Bagaimana dengan Hanny dan Dae-Vin?" Zaaryan bertanya. Pasalnya, Hanny dan Dae-Vin belum mendapatkan kekuatan seperti itu juga, sepertinya.


"Oh, mereka. Mereka berdua sudah mendapatkannya lebih dulu. Bahkan sebelum kalian berdua diminta datang ke sini." jelas Profesor R sambil menatap Araya dan Zaaryan secara bergantian.


"Kenapa begitu?" Araya kembali mengajukan pertanyaan. Di antara yang lain, mungkin Araya adalah anggota yang punya rasa penasaran tertinggi.


"Ya, karena kami sudah melihat potensi besar dari mereka berdua." sahut Profesor F. Setelah itu, suasana menjadi sunyi. Tidak ada yang berucap, sampai ....


"Profesor, boleh kami mencoba menggunakan kekuatan ini?" tanya Zaaryan. Profesor R dan


Profesor F saling bertukar pandang.


"Boleh, tapi lakukan di ruang latihan ya. Ingat, jangan berlebihan dalam menggunakannya. Beri tau kalau ada apa-apa." Profesor R memutuskan.


"BAIK!"


...----------------...


Di ruang latihan, mereka berempat sedang berkumpul dalam satu ruangan. Mereka sedang melakukan kegiatan masing-masing. Ada yang sedang melakukan sesi tanya jawab, ada yang duduk termenung, ada juga yang sedari tadi bersemangat untuk mulai menggunakan elemen apinya.


"Hanny, apa kekuatan element-mu?" tanya Araya pada Hanny yang terdiam mengamati sekeliling ruangan.


"Oh, punyaku element suara." balas Hanny sambil tersenyum, ia menatap Araya setelah dirinya ditanyai olehnya.


"Element suara? Apakah suara itu termasuk element?" Araya bertanya lagi. Dari sepengetahuan Araya, suara bukanlah element, melainkan sebuah gelombang. Gelombang yang memerlukan perantara supaya dapat merambat.


"Entahlah, jadi dengan menggunakan ini, aku bisa bergerak cepat, secepat suara. Tapi, kau tahu kan kalau suara memerlukan medium atau perantara untuk merambat? Jadi, kalau tidak ada mediumnya, aku tidak menggunakan kekuatan ini." Hanny menjelaskan. Araya terdiam.


"Hey, Araya ...." panggil Hanny setelah membiarkan Araya terdiam selama beberapa saat.


"Iya?"


"Bagaimana kalau kau menggunakan kekuatan itu untuk pergi ke masa depan, misalnya sepuluh tahun yang akan datang. Kau akan lihat siapa yang akan menjadi suamimu. Bagaimana?" goda Hanny, Araya melebarkan matanya, entah mengapa, wajahnya sedikit terasa panas.


"Haaa! Tidak mau, aku tidak mau." Araya berucap seraya menggeleng cepat.


To be continued..


...****************...


Terima kasih sudah membaca cerita ini. Semoga terhibur ya, dan mampir ke karyaku yang lain juga:)


Jangan lupa like, komen, favorit, dan vote biar aku makin semangat.


See you..

__ADS_1


__ADS_2