
[Mars Mission Arc - #1]
...----------------...
Satu pekan telah berlalu. Ini adalah hari terakhir Araya dan Kim Dae-Vin menjalani 'hukuman'.
Saat ini, sekitar jam lima sore. Mereka sedang beristirahat sebentar sebelum pergi membersihkan diri. Mereka duduk bersebelahan, meskipun masih terdapat jarak. Sunyi, tidak ada yang memulai topik pembicaraan. Hingga..
"Araya," panggil Dae-Vin sembari sedikit menolehkan wajahnya ke arah Araya.
"Iya?"
"Menurutmu, kenapa kita berempat yang diminta masuk ke generasi kesembilan dari organisasi ini?" tanya Dae-Vin sambil menatap langit-langit ruangan fitness, kedua tangannya yang menopang berat tubuhnya.
"Tidak tau. Hari itu, ibuku bilang kalau aku harus masuk ke organisasi ini. Dari pagi sampai menjelang sore aku memikirkan keputusanku. Hingga aku terpaksa harus berhenti sekolah karena hal ini." balas Araya menceritakan singkat pengalamannya sebelum resmi menjadi anggota Elemental Organization of Asia.
"Nasib kita tak jauh berbeda, Araya.." gumam Dae-Vin, tapi Araya masih dapat mendengarnya dengan jelas. Araya sedikit mengerutkan dahi ketika mendengar 'tak jauh berbeda'.
"Kenapa begitu?"
"Yah, kau tau kan, ayahku seorang wakil komandan organisasi ini. Sifatnya juga agak keras kepala. Dia selalu mendorongku untuk melakukan yang terbaik, dan terkadang tanpa memikirkan perasaanku." ungkap Dae-Vin sambil menatap lurus dengan tatapan datar, namun bagi Araya, tatapan itu terlihat sendu.
Menurutnya, kehidupan Dae-Vin begitu terkekang. Aturan memang tidak boleh dihilangkan, tapi harus tetap memperhatikan keadaan yang diatur, iya kan? Namun, Dae-Vin bukanlah orang yang suka memberontak, dia cenderung menyimpan masalahnya sendiri. Dia orang dengan kepribadian introvert.
"Kupikir, kehidupanmu lebih sulit dariku. Kamu memang punya segalanya, tapi dirimu terlalu terkekang." ucap Araya dengan hati-hati, jangan sampai ucapannya melukai perasaan lawan bicaranya.
"Kata siapa aku memiliki segalanya? Masih ada yang belum dapat kumiliki. Iya, pendapatmu memang benar, hidupku terlalu diatur. Tapi menurutku, di markas ini lebih baik. Tidak kesepian, tidak jenuh, tidak perlu pergi ke sekolah.." masih belum mengubah posisi duduknya, Dae-Vin berujar.
Araya sempat agak bingung, orang sepintar Dae-Vin suka jika tidak pergi ke sekolah? Singkatnya, lebih suka hari libur.
"Kenapa kau suka kalau tidak pergi ke sekolah? Aku malah ingin pergi ke sekolah."
"Kamu belum merasakannya, Araya. Kehidupan di SMA tidak selalu menyenangkan. Selain materi pelajaran yang bertambah sulit, pergaulan juga mempengaruhi. Jujur saja, aku mulai jenuh sekolah. Tapi, aku memaksa diriku untuk tidak membolos." kata Dae-Vin sembari berdiri, mengarahkan pandangannya ke bawah untuk menatap Araya yang masih terduduk. Dia tersenyum tipis.
"Kamu berhasil mengingatkanku pada satu hal, Araya.."
__ADS_1
"Baiklah, aku duluan ya." ucap Dae-Vin sembari mulai melangkahkan kakinya menuju pintu ke luar.
"I-iya.." jawabnya singkat sembari menatap punggung kokoh Dae-Vin yang semakin menjauh, dan kemudian menghilang.
...----------------...
Selesai membersihkan dirinya, Araya duduk di kursi meja belajarnya. Memandangi layar komputer yang menyala dan menampilkan sebuah pesan dari kapten. Araya terdiam sesaat untuk memikirkan maksud dari pesan itu.
"*Selamat sore para anggota. Kami memberitahukan, bahwa besok kalian akan mendapatkan misi untuk mencari batu elemen tahap ketiga.
Misinya mungkin agak di luar nalar. Pasalnya, kalian akan melakukan misi di luar planet Bumi, tepatnya di planet Mars.
Berdasarkan rekaman kamera pengawas pada pesawat yang digunakan tim B saat ujian sepekan yang lalu, dapat disimpulkan bahwa Darkness Swordman tidak akan menunggu waktu yang tepat untuk menginvasi dimensi ini.
Setelah melakukan perundingan panjang, kami semua memutuskan untuk memulai misi kedua kalian. Besok pagi, kalian harus bersiap untuk pergi ke planet Mars.
Kami tau kalau misi planet Mars ini tidak akan mudah, tapi kami dan kalian tetap harus berusaha. Kami akan menyiapkan segalanya sebelum keberangkatan kalian besok jam delapan pagi. Sedangkan kalian harus menyiapkan mental dan fisik kalian. Pastikan kalian dalam kondisi benar-benar sehat. Pastikan pula alat transformasi kalian masih bagus dan tidak error.
Sekian dan terima kasih. Selamat beristirahat malam ini*."
Araya menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi yang empuk. Belum apa-apa, dirinya sudah gugup. Perasaannya seperti sehari sebelum melakukan ujian nasional. Dirinya memikirkan apa saja kemungkinan hal yang akan terjadi pada mereka. Hanya itu sebenarnya.
"Kok mendadak sekali misinya? Apa karena kekhawatiran akan serangan Darkness Swordman?" batin Araya. Perkiraannya memang benar.
Kalau suatu saat nanti terdapat serangan dari Darkness Swordman level satu, dan jika mereka belum sampai ke tahap terkuat, kan bisa lain ceritanya.
"Eh iya, di sana tidak ada Darkness Swordman, kan?" Araya menegakkan posisi duduknya. Memajukan kursinya mendekati meja, dan kemudian mulai mengetikkan sesuatu melalui keyboard komputer tersebut.
"Kapten, aku ingin bertanya. Di planet Mars, apakah ada Darkness Swordman?" Araya bertanya dengan membuat balasan pada pesan tersebut.
Setelah terkirim, dia kembali terdiam. Sembari menunggu jawaban, dia berpikir. Entah apa hal yang lebih penting sampai-sampai membuat Araya terus memikirkannya.
Tidak lama kemudian, terdapat pop up di beranda komputer, yang berarti sudah ada balasan dari kapten Akira. Dengan segera, Araya mengeceknya.
"Kemungkinan besar, Darkness Swordman tidak akan muncul di planet Mars. Jikalau dia akan muncul, kemungkinannya juga tidak sampai dua persen."
__ADS_1
Setelah selesai membaca balasan pesannya, Araya masih mempunyai perasaan khawatir. Tidak sampai dua persen juga, tapi kemungkinannya munculnya juga tetap ada.
...----------------...
Pagi ini, jam setengah delapan. Keempat anggota Elemental generasi kesembilan sudah berkumpul di ruangan utama. Berdiri seperti sebelum mereka melaksanakan ujian.
"Jadi, sudah jelas kan, kalian diberi waktu tujuh hari untuk mendapatkan batu element itu?" tanya profesor F setelah selesai memprogram layar hologram supaya menampilkan hologram batu element yang harus mereka cari di planet Mars.
"Jelas, profesor!"
"Bagus. Selama tujuh hari itu, kalian tidak perlu khawatir tentang persediaan makanan. Di pesawat sudah disiapkan lebih dari cukup. Hampir semua ada di pesawat, hanya saja.. Kalian tau kan, di ruang angkasa tidak ada gravitasi? Nah itulah keterbatasannya." ujar profesor F menanggapi, sembari menurunkan tangan kanannya yang memegang tablet canggih yang tidak diproduksi di pasaran.
"Ooh, sudah jelas berarti. Kami akan ke sana naik pesawat." Araya membatin. Belum juga dia bisa lancar mendaratkan pesawat, mereka sudah harus bisa membawa pesawat mereka ke ruang angkasa.
"Ini pertama kalinya kalian akan pergi ke ruang angkasa, jadi kalau ada yang ingin kalian tanyakan, langsung hubungi markas. Kami selalu siap jika terjadi apa-apa." ucap kak Aria menimpali ucapan profesor. Keempat junior mereka mengangguk dengan pasti.
"Baiklah, kalian silahkan menuju ke hanggar."
Setelah mendapatkan persetujuan dari kapten, anggota Elemental generasi kesembilan berjalan menuju hanggar yang tidak jauh dari sana. Tapi sebelum itu, tak lupa mereka memberi hormat terlebih dahulu.
Mereka berempat berjalan bersebelahan. Dalam perjalanan ke sana, perasaan mereka bercampur aduk. Antara gugup, takut, dan juga tidak sabar karena mereka akan pergi ke ruang angkasa. Tapi, rasa takut mereka telah terkalahkan oleh tekad mereka yang kuat bagaikan baja.
Setibanya mereka di sana, di ruangan hanggar, ruangan paling besar di markas ini. Ada banyak sekali orang. Mereka adalah para anggota pasif yang bertugas menyiapkan segala sesuatunya.
Mesin pesawat sudah dinyalakan. Bahan bakar pesawat sudah terisi penuh. Baterai cadangan juga sudah ada dan bisa dipasang kapan saja. Pesawat sudah siap digunakan.
Pintu terbuka. Menampilkan ruangan dalam pesawat yang sudah siap untuk perjalanan jauh nan lama.
To be continued..
...----------------...
Terima kasih buat kalian yang setia membaca cerita ini. Aku tau kok, cerita ini masih ada yang baca, terbukti dari jumlah views yang selalu bertambah meskipun hanya satu angka.
Jangan lupa like kalau suka, komen untuk memberi semangat dan saran, share juga supaya pembacanya tambah banyak. Sekian dari author..
__ADS_1