
[ArVin Arc - #2]
...----------------...
"Aku benar-benar minta maaf.."
Ingin rasanya, dia mati saat itu juga. Seseorang baru dirasa berharga setelah orang itu meninggal. Tapi, dia mengurungkan niatnya, mengingat saat ini dia masih mempunyai seseorang yang harus dia bahagiakan.
"Kenapa sekarang ayah sangat berbeda?"
Lima detik setelahnya, Dae-Vin mengangkat wajahnya yang basah karena tercelup air.
"Bagaimana cara menyelesaikan masalah ini ya? Yang ada di pikiranku, adalah ide gila." batin Kim Dae-Vin sambil berpikir. Dia benar-benar kesal dan frustasi akibat dugaan tadi. Dia juga mencelupkan kedua telapak tangan ke dalam air. Di dalam situ, dia mengepal-ngepalkan tangannya, berharap mendapatkan ide dan juga rencana.
...----------------...
Saat ini, Kim Dae-Vin sudah duduk di kursi meja belajarnya. Mencari di mana dia meletakkan ponsel pribadinya. Mencari di lemari kabinet, di atas tumpukan buku yang jarang sekali dia baca.
"Nah, ini." kata Dae-Vin setelah menemukan ponselnya yang berada di antara tumpukan buku-buku itu. Kemudian dia mengambilnya.
Dia pun mengaktifkannya, melihat baterai ponselnya yang tinggal lima persen, dia cepat-cepat mencari kontak seseorang, yaitu kontaknya Hanny. Apa yang sebenarnya akan dia lakukan?
"Hanny,"
Dae-Vin mengirim pesan pada Hanny. Hanya langsung membalasnya tanpa membuat Dae-Vin menunggu.
"Ada apa? Apa yang terjadi tadi?"tidak sampai lima detik, pesan singkat itu telah diterimanya. Dae-Vin segera mulai mengetikkan balasan.
"Kau tak perlu tau.
Kau punya kontaknya Araya?"
"Iya, aku punya."
__ADS_1
"Kirimkan padaku."
"Baiklah.
Sebenarnya ada apa sih?"
"Nanti kau juga pasti akan tau.
Terima kasih."
Setelah itu, Dae-Vin mengakhiri pesannya setelah Hanny mengirimkan kartu kontak dengan nama 'Araya'. Dae-Vin langsung menyimpan kontak itu. Kemudian, mulai mengetikkan pesan untuknya.
Baru mengetik beberapa huruf, ponsel Dae-Vin tiba-tiba mati. Baterainya sudah benar-benar habis, lowbat. Dia meletakkan ponselnya dengan kasar sampai mengeluarkan bunyi. Setelah itu dia menghela nafasnya sembari menyandarkan tubuh pada sandaran kursi.
"Haah, menyebalkan sekali." batin Dae-Vin frustasi. Dari tadi dia sudah beberapa kali menerima ketidakberuntungan. Daripada terus memendam rasa frustasinya, lebih baik segera mencharge baterai ponselnya, kemudian menyusun rencana. Itulah yang Kim Dae-Vin pikirkan.
Dae-Vin mengambil pulpen dan juga selembar kertas kosong. Kemudian mulai menuliskan sesuatu, sesuai dengan apa yang dia pikirkan sejak beberapa detik lalu.
...----------------...
"Waktunya rencana." batin Dae-Vin, dia sudah membulatkan tekad untuk melakukan rencana ini seorang diri.
Saat ini, Kim Dae-Vin sedang bersiap. Bersiap untuk melakukan rencananya. Dia mengenakan jaket berwarna hitam polos, celana panjang yang juga berwarna hitam. Pokoknya, semua yang dia pakai sekarang berwarna hitam. Jadi seperti bayangan.
Diam-diam, dia melangkahkan kakinya menuju ke ruangan Araya untuk memberikan suratnya tadi. Berusaha melangkah cepat tanpa harus menimbulkan suara, itulah yang dia inginkan, seperti seorang yang akan melakukan tindak kejahatan. Tapi bukan seperti itu, Dae-Vin berniat baik.
Sesampainya di sana, dia hendak memberikan surat itu secara tidak langsung. Caranya seperti surat kaleng. Memberikan suratnya dengan cara memasukannya melalui celah bawah pintu. Pintu di sana celahnya memang sangat kecil, jadi suratnya jangan terlalu tebal supaya bisa masuk.
Sangat di luar dugaannya, tiba-tiba pintunya terbuka ketika suratnya belum masuk semua, baru separuh bagian yang berhasil melewati celah bawah pintu.
Ketika pintu terbuka, tampak bagian interior ruangan pribadi Araya yang masih terang benderang. Araya masih belum tidur, dia sedang duduk di atas tempat tidurnya sambil memeluk lututnya.
"Si.. siapa kau?" tanya Araya setelah melihat seseorang yang tampak seperti bayangan sedang berjongkok di depan pintu kamarnya.
__ADS_1
"Psst, ini aku, Dae-Vin." Dae-Vin menempelkan telunjuknya di mulutnya, mengisyaratkan supaya Araya memelankan suaranya. Dae-Vin lekas berdiri, kemudian..
"Maaf, aku masuk sebentar ya." ucap Dae-Vin meminta izin sebelum melangkahkan kakinya masuk ke kamar Araya. Araya bingung harus menjawab apa, jikalau dia menolak pun, mungkin Dae-Vin akan memohon untuk melancarkan rencananya ini.
"Tadi, apa yang kau lakukan di depan kamarku?" tanya Araya sembari mengernyitkan dahi. Cukup aneh, awalnya dia menduga kalau pintu itu rusak, namun kali ini dia menghilangkan pikirannya tentang pintu rusak itu. Ternyata Dae-Vin.
"Ah, aku.. aku hanya ingin mengajakmu untuk berdiskusi sebentar." melangkahkan kakinya masuk, Dae-Vin berucap pelan. Seketika pintu yang sudah dia lewati pun kembali tertutup.
"Berdiskusi apa?" tanya Araya lagi, malam-malam begini kenapa mengajak berdiskusi?
"Soal tadi sore. Aku benar-benar minta maaf." Dae-Vin kembali meminta maaf sembari menundukkan pandangannya.
"Kubilang itu bukan salahmu. Kalau saja aku tidak pergi waktu itu, mungkin masalah ini tidak akan ada." ucap Araya lirih sambil menundukkan kepalanya juga. Sebenarnya, dia tidak terlalu mempermasalahkan hal ini. Kalau sudah berlalu, biarlah berlalu. Hal yang dia pikirkan hanyalah untuk tidak mengulanginya lagi di masa depan.
"Tidak hanya itu, Araya. Sebenarnya.. Wakil Komandan tadi adalah ayahku. Tolong maafkan dia." sedikit mengangkat pandangannya, Dae-Vin berucap lirih.
"Apa? Sungguh? Pantas saja namanya mirip sepertimu. Aku tidak mempermasalahkan hal itu kok, tidak apa-apa." balas Araya santai seakan tidak ada beban. Tapi ya tetap saja, itu hanya luarnya. Dalam hati, dia juga merasa tidak nyaman karena juga melibatkan Dae-Vin yang membuat ayahnya kecewa.
"Jadi.. hanya itu yang perlu didiskusikan?" lanjut Araya bertanya, setelah beberapa detik terdiam. Mungkin sudah tidak ada yang akan didiskusikan, jadi dia secara tidak langsung ingin Dae-Vin kembali ke ruangan pribadinya. Tidak baik malam-malam begini ada seorang laki-laki yang masuk ke kamar seorang gadis, kan?
"Tidak, bukan cuma itu. Kita juga akan berdiskusi untuk membuat rencana. Kita harus membuktikan kalau kita tidak bersalah." tekadnya sudah bulat, dia ingin membuktikan ketidakbersalahan mereka supaya pihak markas pusat bisa melakukan validasi lebih lanjut.
To be continued...
...****************...
Author note :
Terima kasih sudah membaca cerita ini.
Mungkin ada yang nanya. Generasi ke delapan cuma tiga orang? Nggak ya, yang tiga orang itu generasi ketujuh. Angkatannya Profesor R dan Profesor F. Terus siapa anggota keempatnya? Siapa anggota ketiga generasi ketujuh? Nah, hal itu akan di bahas di lain chapter ya. Mungkin menjelang novel ini tamat baru di bahas atau mungkin di pertengahan.
Okelah, itu aja. Jangan lupa like, komen, favorit ya. Sampai jumpa di chapter berikutnya!
__ADS_1