
[Test Arc - #7]
...----------------...
Keesokan harinya, saat pukul tujuh pagi. Araya sedang bersiap untuk pergi ke ruangan belajar, sesuai dengan pesan dari Kapten Akira kemarin. Araya hanya membawa tablet beserta dengan stylus pen yang biasa dia pakai. Dia tidak membawa alat tulis, karena di sini kan sudah canggih. Jadi lebih praktis kalau belajarnya menggunakan tab. Setelah itu, dia langsung saja pergi ke ruangan belajar.
...----------------...
Tiga menit kemudian, Araya sudah sampai di depan ruangan belajar. Setelah itu dia pun langsung masuk saja.
"Selamat pag-" Araya tidak melanjutkan perkataannya setelah melihat ada Kim Dae-Vin yang sedang duduk di tempat duduknya sambil menatap tab yang sedang dia gunakan.
"Dae-Vin, sedang apa kau di sini?" Araya bertanya, sebelum dijawab, dia berjalan ke arah tempat duduknya.
"Kau akan tau." jawabnya singkat sambil sekilas mengalihkan pandangannya dari tab-nya. Tak lama kemudian, dia beranjak dari tempat duduknya kemudian berjalan mendekati tempat duduk Araya yang berjarak sekitar satu setengah meter.
"Geser sedikit," ucap Dae-Vin meminta Araya supaya dia sedikit menggeser kursinya. Araya memasang ekspresi bingung.
"Kenapa?" sebelum itu, Araya bertanya. Alih-alih menjawab pertanyaan Araya, Dae-Vin malah memberikan tatapan dingin pada Araya.
"B.. Baiklah," kata Araya singkat setelah menyadari arti tatapan Dae-Vin, yang mungkin dia bilang, 'Jangan banyak tanya'. Araya pun menggeser kursinya seperti yang Dae-Vin katakan.
Setelah itu, Dae-Vin mengambil kursinya dan meletakkannya tepat di samping tempat duduk Araya. Berarti, dia duduk satu meja dengan Araya. Dae-Vin di sebelah kiri dan Araya di sebelah kanan.
"Araya," panggil Dae-Vin dengan nada datar seperti biasanya.
"I.. iya?"
"Kau akan belajar denganku hari ini." Dae-Vin berujar sambil mengarahkan pandangannya ke arah Araya.
"Apa? Yang benar saja? Bukankah kemarin Kapten Akira-"
"Aku tidak bohong. Dia sendiri yang memintaku untuk mengajarimu. Sehari ini, kau akan belajar materi pelajaran kelas sembilan, denganku. Tidak boleh menolak."
"Emm, baiklah."
...----------------...
Sudah dua jam Araya belajar bersama dengan Dae-Vin. Menurutnya, sangat membosankan. Dae-Vin yang dingin, bagaimana dia bisa menyampaikan materi dengan baik?
Araya menutup mulutnya, dia menguap akibat mengantuk dan juga diserang rasa bosan. Dari tadi, Dae-Vin belum memberikan waktu istirahat satu menit pun.
__ADS_1
"Hah, membosankan sekali.. Mungkin akan lebih baik jika aku belajar sendiri atau bersama dengan Hanny. Di sini terlalu canggung." batin Araya. Sedari tadi, Dae-Vin hanya memberikan rangkuman materi dan menjelaskannya dengan paling banyak adalah tiga kalimat. Apalagi saat ini sedang belajar matematika. Sulit memahaminya jika kurang penjelasan dan tidak diberi contoh soal.
Saat ini, Araya sedang mengerjakan soal yang bertema 'Bilangan akar dan bilangan berpangkat'. Dia jadi sedikit tidak suka jika matematika yang sedang dipelajarinya membahas tentang bilangan akar, bilangan berpangkat, dan juga bilangan pecahan. Dia lebih suka kalau membahas tentang bangun datar dan bangun ruang. Ya, di sekolah dasar juga sudah dipelajari.
"Aku sudah selesai," ucap Araya sambil menunjuk kan soal yang telah dia jawab, lengkap dengan rumus dan perhitungannya juga. Meskipun Dae-Vin hanya memberikan tiga soal, tapi ini sudah yang ketiga kalinya. Satu jam yang lalu, mereka belajar tentang fisika.
"Hmm.. ada yang salah." ucap Dae-Vin setelah melihat hasil kerja Araya.
"Di bagian mana?"
"Ini. Di soal kan yang ditanyakan itu -5³. Bilangan pokoknya adalah negatif dan berpangkat bilangan ganjil. Maka hasilnya adalah bilangan negatif, bukan positif." kata Dae-Vin sambil menunjuk jawaban soal yang salah, yaitu pada soal pertama.
Pada soal tertulis, berapakah hasil dari -5³? Cara menjawabnya adalah (-5) × (-5) × (-5), jadinya adalah 25 × (-5). Kenapa bisa 25? Karena bilangan negatif jika dikalikan dengan bilangan negatif hasilnya adalah positif. Jika bilangan positif dikalikan dengan negatif, maka hasilnya adalah bilangan negatif. Jadi 25 × (-5) hasilnya adalah -125. Araya hanya kurang tanda negatifnya saja.
"Eh, hanya kurang tanda negatifnya saja ternyata."
"Ya,"
...----------------...
Setelah selesai, mereka belajar materi biologi. Hmm, sedari tadi, mereka belum istirahat sama sekali. Tapi kalau pelajaran biologi, Araya sanggup tanpa istirahat selama tiga jam sekalipun. Setelah membaca rangkuman dari tiga bab, Araya kembali diberi latihan soal. Baginya, ini lumayan mudah. Meskipun belum dipelajari waktu kelas delapan, tapi Araya pernah beberapa kali membaca buku pelajaran kelas sembilan di perpustakaan sekolahnya dulu.
"Hihi.. easy. Aku harus bisa benar semua." kata Araya berujar dalam hati sambil sekilas membaca kesepuluh soal kemudian melirik Dae-Vin yang sedang membaca-baca materi kelas 10. Pas sekali, materinya kesukaan Araya semua. Tentang genetika dan pewarisan sifat.
...----------------...
"Sekarang belajar geografi. Lihat rangkuman yang sudah aku kirim." ucap Dae-Vin. Dae-Vin mengajari Araya dengan cara yang sangat simpel, tapi sulit dimengerti. Dari tadi dia hanya mengirim rangkuman, kemudian latihan soal, seperti itu terus.
"Tunggu, kita sudah belajar selama tiga jam. Kenapa kau tidak memberiku waktu istirahat?" tanya Araya. Dia sudah mulai lelah karena belajar menggunakan metode kebut. Kalau bagi Dae-Vin, itu sudah biasa, terutama saat menjelang ujian sekolah, meskipun dia sudah belajar sejak jauh-jauh hari.
"Karena masih banyak materi yang belum selesai." jawab Dae-Vin. Araya hanya menghela nafasnya pasrah.
"Tapi kalau belajar sekaligus, bagaimana aku bisa paham? Otak-ku tidak diberi istirahat. Dan, sepertinya ruangan ini tambah pengap." ucap Araya. Memang dari tadi pintu tidak terbuka sekali pun, jadi tidak ada udara yang masuk sedikitpun. Kalau belajar akan lebih nyaman jika di tempat yang banyak oksigennya.
"Hah.. baiklah, istirahat lima menit dalam satu jam." Dae-Vin memutuskan, tapi reaksi Araya tidak seperti yang dia perkirakan.
"Tidak-tidak. Lima menit itu terlalu sebentar. Lima belas menit." Araya meminta supaya waktu istirahat menjadi bertambah tiga kali lipat dari yang dikatakan oleh Dae-Vin diawal tadi.
"Memangnya apa yang ingin kau lakukan dalam lima belas menit?" Dae-Vin bertanya supaya Araya bisa lebih mempertimbangkan.
"Mengistirahatkan otak."
__ADS_1
"Kau bicara denganku ini memangnya belum termasuk istirahat?" Dae-Vin bertanya lagi.
"Sudah jelas belum, karena aku memikirkan jawaban dari pertanyaan yang kau berikan padaku." Araya menjawab dengan santai. Kemudian..
"Haiss. Baiklah, setelahku pikir-pikir, aku juga sedikit lelah. Kita istirahat lima belas menit. Kau ingin main denganku?" ajak Dae-Vin, eskpresinya sedikit berubah dari yang tadi. Tolong jangan berpikir yang agak aneh.
"M.. main? Main apa?" tanya Araya ragu sambil sedikit mengalihkan pandangannya dari Dae-Vin. Dia juga belum menjawab mau atau tidak.
KREEK!
Dae-Vin beranjak dari tempat duduknya sampai membuat kursinya sedikit bergeser. Setelah itu, dia berjalan mendekati Araya.
"Mau atau tidak?" tanya Dae-Vin yang membuat Araya menjadi bingung. Sebenarnya dia ingin main apa sih? Membuat orang jadi bingung saja.
"Memangnya mau main apa?"
"Jawab dulu, mau atau tidak?"
"M.. mau. Eh! Maksudku tidak!" setelah Araya menjawab 'tidak', Dae-Vin malah menunjukkan seringainya. Aneh..
"Kau.. Pasti berpikiran buruk ya?" tanya Dae-Vin sambil meletakkan telapak tangannya pada meja belajar Araya.
"I.. itu tidak mungkin."
"Jangan bohong! Aku sudah tau dari reaksimu. Aku bukan orang yang seperti itu." Dae-Vin menegaskan dengan nada datarnya yang membuat Araya jadi tidak berani menatapnya.
"Jadi, aku tanya lagi. Mau atau tidak?"
"Y.. ya, aku mau."
"Bagus, aku akan membuatmu memahami materi geografi dan meningkatkan IQ-mu secara sekaligus."
To be continued..
...****************...
Announcement!
Terima kasih sudah membaca cerita ini. Semoga terhibur ya!
Aku mau kasih tau, mungkin setelah ini, updatenya nggak setiap 20 jam lagi. Soalnya kan besok udah masuk tahun ajaran baru (meskipun di sini belum sekolah tatap muka siih), tapi aku juga harus belajar lagi.
__ADS_1
Itu aja, tetap jaga kesehatan ya semua!