Elemental Gen-Z

Elemental Gen-Z
Chapter 57


__ADS_3

[Return Arc - #2]


...----------------...


"Araya?!" tentu ketiga rekan satu generasinya dibuat terkejut oleh kedatangan Araya di ruangan itu. Padahal beberapa saat yang lalu, Araya masih terbaring tak sadarkan diri di ruangan.


Dan sekarang, Araya sudah berdiri di depan mereka semua. Bisa berdiri tegak meskipun tubuhnya belum seratus persen pulih. Kepalanya masih diperban, tangannya masih dipasangi gips dan pasti masih ada lagi luka yang tak bisa dilihat secara langsung.


"Hai," sapa Araya sambil tersenyum tipis. Sekilas dia melambaikan tangan dengan tangan kirinya.


"Araya, kapan kau sadar?" tanya Hanny sambil berjalan menghampiri Araya.


"Hmm sekitar lima belas menit yang lalu." Araya menjawab sambil menggerakkan bola matanya saat mencoba mengingat.


"Lima belas menit yang lalu, kami masih di sana." Zaaryan menanggapi.


"Oh mungkin sepuluh menit yang lalu." Araya membenarkan perkataannya yang tadi. Dirinya kembali memasang senyuman. Senyuman yang bagaikan cahaya matahari terbit bagi seseorang yang masih terdiam.


Siapa lagi kalau bukan Dae-Vin? Dalam hati, dia sangat bersyukur bisa melihat senyuman Araya lagi. Yah meskipun dirinya sudah tau kalau Araya tidak akan meninggalkannya secepat itu. Tapi tetap saja, bagi Dae-Vin senyumannya begitu menghangatkan.


"Kau baik-baik saja, Kim Dae-Vin?" sekilas memiringkan kepalanya, Araya bertanya pada Dae-Vin yang masih berdiri dalam diam.


"Eh, i-iya." pertanyaan Araya tadi berhasil membuatnya tersentak. Setelah menjawab dengan singkat, dia mengalihkan pandangannya.


"Syukurlah kamu sudah sadar, Araya. Bagaimana kondisimu?" tanya Profesor F pada Araya yang juga masih terdiam.


"Sudah lebih baik, Profesor. Hanya saja, aku agak kesulitan berjalan." jawab Araya.


"Apa kakimu juga terluka?" Zaaryan bertanya sambil mengamati Araya dari atas sampai bawah. Araya mengangguk pelan.


"Jadi, bagaimana caramu ke sini?" sambung Hanny bertanya.


"Ehm, setelah aku tersadar, aku langsung ke sini. Sepuluh menit aku gunakan untuk berjalan ke sini." dengan singkat, Araya menjelaskan. Beberapa saat yang lalu, dirinya sempat menahan nyeri di kaki kirinya untuk dapat berjalan ke ruangan utama.


Beberapa saat yang lalu juga, dirinya berjalan ke luar dari ruangan gawat darurat supaya tidak ketahuan oleh ketiga temannya. Seperti seorang pasien yang kabur dari rumah sakit. Tapi untunglah luka jahitannya tidak terbuka setelah dia gunakan untuk bergerak.

__ADS_1


"Ceroboh sekali. Untunglah tidak terjadi apa-apa padanya. Kalau sampai kejadian dan dia kembali terluka, haah.. Aku tak bisa membayangkannya." sambil mengacak singkat rambutnya, Dae-Vin membatin. Dirinya sudah cukup ngilu mendengar cerita singkat dari Araya, perjalanannya ke sini tentu beresiko.


"Jadi, kami ada misi lagi, Profesor?" tanya Araya dengan topik berbeda. Dirinya juga telah melihat hologram yang menampilkan beberapa gambar tadi. Otaknya berhasil menerjemahkan kalau mereka akan pergi ke tempat itu untuk menjalankan misi.


"Iya. Misi kali ini lebih sulit. Tapi, misi ini baru akan dimulai sepekan lagi. Jadi, kalian masih bisa persiapan dulu. Dan kamu Araya, jangan terlalu banyak bergerak supaya kamu cepat sembuh. Jangan lupa juga untuk cek kesehatan." jelas Profesor R, Araya mengangguk pelan.


...----------------...


"Araya, mau ku bantu?" tanya Hanny sambil menghampiri Araya yang hendak berjalan menuju pintu ke luar di ruangan utama.


Singkat cerita, saat ini pertemuan sudah selesai dan mereka diperbolehkan untuk ke luar.


"Ee, apa tidak merepotkan?" menatapnya sekilas, Araya bertanya sebelum menerima. Hanny menggeleng kuat dan kemudian tersenyum.


"Tidak, aku bersedia membantumu."


Pada akhirnya, Hanny benar-benar membantu Araya. Dia merangkul bahu Araya dan bersama-sama berjalan ke luar dari ruangan.


"Araya, kenapa kamu tidak memakai tongkat jalan?" tanya Zaaryan sambil mensejajarkan langkahnya dengan kedua gadis itu.


"Tangan kananku patah dan tangan kiri juga sedikit terluka. Tak bisa digunakan untuk memegang." jelas Araya sambil menunjukkan telapak tangan kirinya yang juga diperban.


"Andaikan organisasi ini tak begitu terikat dengan aturan itu, pasti aku sudah membantumu sedari tadi." Dae-Vin membatin. Menatap ketiga rekannya yang berjalan sejajar di depannya dengan tatapan yang sulit diartikan.


Dirinya baru mengerti maksud dari aturan tentang hal itu. Tindakan seperti itu diperbolehkan dalam keadaan darurat yang benar-benar mendesak. Seperti saat delapan hari yang lalu. Dae-Vin yang membawa Araya ke ruangan gawat darurat, tapi dirinya sama sekali tidak mendapat teguran.


"Araya, kamu mau ke mana? Kembali lagi ke sana atau ke ruanganmu?" pertanyaan Hanny tadi berhasil membuyarkan lamunan Dae-Vin. Dirinya memang sempat melamun sambil berjalan.


"Ke ruanganku saja."


"Apakah dirimu tidak akan terkena masalah karena kabur diam-diam?" Hanny mengernyitkan dahinya. Dia mengira kalau Araya kabur dari ruangan itu. Tapi kenyataannya bukan seperti yang dia pikirkan.


"Tidak, sebenarnya aku sudah sadar sejak sekitar setengah jam yang lalu. Sebelum pergi ke ruangan utama tadi, aku sempat bilang dulu pada beberapa petugas di sana. Dan aku diperbolehkan. Bahkan mereka juga membantuku bangun dari brankar." Araya menjelaskan sambil mengingat urutan kejadian yang dia alami setelah dia tak sadarkan diri selama sepekan lebih.


"Benarkah? Tapi tadi saat kami ke sana, kamu masih belum siuman." merasa ada kejadian yang aneh, Zaaryan mengungkapkan pertanyaannya.

__ADS_1


"Itu.. Aku aslinya sudah sadar. Aku bahkan tau kalau kalian datang. Aku hanya memejamkan mataku saja. Aku ingin membuat kejutan untuk kalian." Araya kembali tersenyum. Hanny dan Zaaryan sedikit membelalakkan mata karena tak percaya pada ucapan Araya. Sedangkan Dae-Vin langsung menghentikan langkahnya setelah mendengar kata 'kejutan'.


Mereka tak menyadari kalau Dae-Vin berhenti di tengah jalan. Kemudian, Dae-Vin mempercepat langkahnya dan segera menyusul mereka. Berdiri di depan mereka yang membuat mereka bertiga juga berhenti.


"Ada apa, Dae-Vin?" menyadari sikap aneh Dae-Vin, Araya mencoba bertanya.


"Kejutanmu itu, benar-benar mengejutkan bagiku. Aku senang sekali sampai tak bisa berkata-kata setelah kau datang tadi." menundukkan kepalanya, Dae-Vin menjelaskan. Araya tertawa kecil.


"Aku senang kalau rencanaku berjalan lancar, hehe.." ucap Araya sambil terkekeh kecil yang disertai senyuman. Senyuman itu membuat bibir Dae-Vin ikut melengkung ke atas. Dia ikut tersenyum, meskipun itu hanya senyuman tipis.


...----------------...


Sesampainya di ruangan Araya, Hanny membantunya untuk duduk di tempat tidurnya. Dia kemudian bertanya pada Araya.


"Setelah ini, apa yang akan kau lakukan Araya? Langsung tidur?"


"Sepertinya tidak. Sudah puas aku tertidur selama delapan hari. Bagaimana bisa aku tidur selama itu ya?" mengusap pelipisnya, Araya bertanya pada dirinya sendiri.


Seluruh tubuhnya memang masih terasa sakit, terutama di bagian bawah tulang rusuk yang merupakan bagian yang tertusuk pedang. Dia bisa merasakan kalau bagian itu masih diperban, namun dia belum melihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Toh dia memakai baju.


"Euh, tubuhku terasa lengket." gumam Araya setelah mengusap wajahnya yang agak berminyak. Tubuhnya terasa lengket karena berhari-hari belum membersihkan diri.


"Jangan langsung mandi dulu Araya. Kalau kamu sudah lebih baik baru mandi." ucap Hanny sambil menggerakkan kedua telapak tangannya mengisyaratkan untuk mencegah tindakan Araya.


"Hah.. Rupanya aku harus berteman dulu dengan rasa yang melekat di tubuhku ini." menghela nafasnya, Araya berucap lirih sambil menundukkan kepalanya.


"B-bukan begitu Araya. Kalau kamu memang ingin mandi, aku bisa membantumu juga. Tapi, bagaimana dengan perbanmu kalau sampai basah?"


"Perban di sini semuanya sudah anti air. Meskipun luarnya basah, tapi lukanya tidak akan ikut basah. Mereka memberitahu aku sebelum aku ke luar tadi." jawab Araya yang membuat Hanny menyeringai.


"Baiklah, kalau kamu memang mau, ayo kita mandi bersama-sama!"


"Tunggu, apa?!"


To be continued..

__ADS_1


...----------------...


Apa yang akan terjadi pada mereka berdua? Nantikan di chapter selanjutnya! Terima kasih dan jangan lupa like-nya ****ya****!


__ADS_2