Elemental Gen-Z

Elemental Gen-Z
Chapter 29


__ADS_3

[After Mission Arc - #2]


...----------------...


Keesokan harinya, sekitar jam tiga pagi. Kim Dae-Vin baru saja terbangun. Terbangun? Yang benar saja? Sebenarnya kemarin sore dia baru tidur satu jam, setelah itu dia pergi mandi.


"Masih jam tiga pagi. Awh, kenapa pipiku agak sakit?" kata Dae-Vin setelah dia terbangun, dia mengusap wajah mulusnya secara singkat, tapi kali ini..


"Ah iya! Kemarin aku lupa untuk membersihkan wajahku. Jangan-jangan.."


Kemarin sore, Dae-Vin memang tidak sempat, lebih tepatnya dia sudah sangat lelah dan malas gerak. Jadi, begitulah.


...----------------...


"Selamat pagi anggota! Hari ini kami memberi hari libur satu hari. Kalian boleh melakukan apapun. Kalau mau keluar markas, harap untuk izin dahulu. Selamat bersenang-senang!"


Kapten Akira mengirimi pesan. Araya sudah melihatnya sejak lima menit yang lalu. Saat ini, sudah jam enam pagi, beberapa menit yang lalu dia sudah terbangun. Hari ini hari libur, apa yang akan dia lakukan?


"Hari ini kami libur. Apa yang akan kulakukan ya? Hmm, mungkin aku akan pulang ke rumah dan mengunjungi Ibu. Pasti boleh kan?" gumam Araya. Dia berpikir sudah lebih dari seminggu dia tidak mengunjungi ibunya. Dan anggota disana sangat dibatasi untuk berhubungan dengan media sosial.


"Pasti boleh asalkan aku izin dahulu. Baiklah."


Setelah itu, Araya pun berjalan keluar kamar. Berjalan menuju ruangan utama untuk menemui siapapun seniornya untuk meminta izin pulang selama beberapa jam.


Baru saja dia keluar kamar, dia sudah hampir bertabrakan dengan Hanny yang juga dari kamarnya.


"Eh, Hanny. Selamat pagi." sapa Araya.


"Selamat pagi juga. Oh iya, kau mau kemana?" Hanny bertanya setelah membalas sapaan Araya.


"Aku ingin ke ruangan utama."


"Untuk apa? Kau mau pergi kemana?"


"Aku ingin meminta izin untuk.. Pulang sebentar dan mengunjungi ibuku."


"Waah kau ingin pulang sebentar? Apa aku boleh ikut?" tanya Hanny dengan mata yang berbinar.


"Emm, boleh." balas Araya. Setelah itu, mereka berdua pun pergi ke ruangan utama.


Di sana, hanya ada kapten Akira dan juga pak Lee. Mereka sedang berbincang sambil meminum kopi hangat.


"Permisi kapten," ucap Araya ketika memasuki Araya.


"Ada apa Araya?" tanya kapten Akira sambil meletakkan secangkir kopinya di atas piring kecil.


"Aku ingin meminta izin, kapten. Aku ingin pulang dan mengunjungi ibuku, sebentar saja. Apa boleh?" Araya bertanya dengan sedikit rasa tidak percaya diri di wajahnya.


"Ah itu. Kenapa tidak? Kan sekarang hari libur, jadi boleh-boleh saja. Asalkan kalian tidak menggunakan ban lengan ya. Dan jangan membocorkan identitas kalian pada orang lain. Mengerti?" ucap kapten Akira. Ternyata semudah itu meminta izin padanya. Asalkan saat hari libur dan tidak menggunakan ban lengan, kecuali saat melakukan misi-misi yang resmi.

__ADS_1


"Mengerti. Terima kasih, kapten." ucap Araya dan Hanny hampir bersamaan.


"Iya-iya."


...----------------...


Setelah itu, mereka berdua berjalan melewati lorong markas. Di sana, mereka bertemu dengan Zaaryan.


"Kalian mau kemana? Kenapa ke pintu keluar?" tanya Zaaryan setelah melihat Araya dan Hanny yang sedang berjalan ke arah pintu yang digunakan untuk keluar dari markas dan pulau ini.


"Aku ingin menemani Araya untuk pulang sebentar. Memangnya kenapa?" balas Hanny. Saat ini, mereka sudah berada di dekat tangga yang menunju ke atas, kalau melewatinya, bisa sampai ke permukaan.


"Bolehkah?" tanya Zaaryan lagi.


"Boleh, asalkan meminta izin dan- Ah, pokoknya kau meminta izin sendiri sajalah. Baiklah, kami pergi dulu." ucap Hanny, kemudian melanjutkan perjalanannya bersama dengan Araya.


"Boleh pergi ya? Hmm kalau begitu, aku ingin mengajak Dae-Vin pergi ke tempat main game." gumam Zaaryan sambil menatap Araya dan Hanny yang mulai menjauh.


Setelah itu, Zaaryan mengambil ponselnya dari dalam saku, dan mengirim chat pribadi untuk Kim Dae-Vin.


"Dae-Vin, apa kau punya rencana untuk hari ini?" Zaaryan mengirimkan pesan chat.


"Tidak," Dae-Vin langsung membalas.


"Kau mau bermain game komputer? Kalau mau, kita bisa pergi bersama."


"Haish, dia tak nak. Agaknya dia pelik sikit hari ni (Haish, dia tidak mau. Sepertinya, dia sedikit aneh hari ini)." kata Zaaryan kemudian mematikan ponselnya dan memasukkannya ke dalam sakunya.


...----------------...


Di perjalanan menuju rumah Araya. Mereka bisa leluasa berjalan berdua tanpa diketahui orang, sebab mereka memakai jaket dan juga masker kain supaya wajahnya tidak terlihat. Mereka berbincang-bincang tentang kehidupan mereka sebelum menjadi anggota 'Elemental Organization of Asia'. Kehidupan yang biasa saja dan sederhana, saat mereka masih sekolah.


"Hanny, bagaimana sekolahmu dulu?" Araya bertanya.


"Baik-baik saja, seperti pada umumnya." balas Hanny.


"Apa kau punya sahabat?"


"Dulu aku punya, tapi tidak banyak, hanya Riny dan Aarethya. Sekarang sahabatku adalah kamu. Dan Araya, apa kau pernah mempunyai seorang kekasih?"


"Emm, tidak punya dan tidak pernah. Aku.. aku single sejak lahir, hehe.." ujar Araya sambil terkekeh kecil.


"Kenapa?"


"Tidak apa-apa. Ibuku bilang tidak boleh, katanya aku masih terlalu kecil."


"Ooh begitu? Apa kau pernah di tembak?" Hanny bertanya lagi.


"Tidak, tidak pernah. Kalau aku di tembak, aku bisa mati nanti." dengan polos, Araya menjawabnya.

__ADS_1


"Bukan itu maksudku, Araya. Apakah pernah ada seseorang yang menyatakan perasaan padamu?" Hanny menjelaskan maksud yang sebenarnya.


"Hmm sejauh ini, belum pernah."


"Mungkin mereka merasa tidak cocok denganmu." Hanny mengira-ngira sambil mengusap pipinya singkat.


"Kenapa begitu?"


"Ya, kau kan pintar, cantik, dan juga berbakat kalau menurutku. Kau ceria tapi tidak cari perhatian, kau mandiri, dan- Ah pokoknya kau itu baik segalanya. Dan, kalau aku boleh tau, apa kau pernah menyukai seseorang? Kakak kelasmu mungkin?"


"Pernah. Tapi, dia sekarang sudah SMA dan kami jarang bertemu."


"Kalau pernah, berarti kau masih normal."


"Hey, apa aku ini terlihat tidak normal?"


Tanpa diduga, sekilas Araya melihat seseorang. Laki-laki yang memakai seragam SMA dan berjalan masuk ke pekarangan sekolah melewati gerbang depan sekolah yang bertuliskan 'SMA Negeri 3 Nebtown'. Bagi Araya, orang itu tidak asing. Laki-laki berusia sekitar enam belas tahun, berpawakan tinggi, dan membawa tas ransel berwarna coklat tua. Dia termasuk dalam kategori pria tampan, meskipun Kim Dae-Vin tentu saja lebih tampan.


"Siapa yang kau lihat, Araya?" tanya Hanny setelah melihat orang yang Araya perhatian sejak tadi.


"Hanya seseorang yang pernah muncul dalam hidupku."


"Iya, aku tau. Apa kau mengenalnya?"


"Dia dulu kakak kelasku. Dia juga mantan OSIS di sekolah kami. Dia sangat pandai bermain bola voli, dan juga baris-berbaris."


"Dan kau menyukainya?"


"Sekarang tidak, aku ingin move on setelah aku tau kalau dia sudah mempunyai pacar. Dan aku bertekad untuk tidak membuka hati untuk orang lain lagi." ucap Araya sambil mengalihkan pandangannya dari orang yang sedari tadi mereka tatap.


"Bilang saja kau patah hati. Tapi, kenapa kau tidak mau membuka hati lagi? Kau tidak mau mencintai?" ucap Hanny sambil merangkul pundak Araya.


"Ya, aku juga tidak mau dikecewakan."


"Termasuk kepada Kim Dae-Vin?"


"Eh, kenapa kau bertanya begitu?" tanpa dia ketahui, wajahnya mulai merona.


"Hihihi.. lupakan saja. Ayo lanjut jalan, rumahmu sudah dekat kan?" ucap Hanny dan kemudian mereka melanjutkan perjalanan.


To be continued..


...----------------...


Maaf baru update, aku lagi agak susah mikirin kata-kata nya, namanya juga author pemula, ya kan?


Kira-kira, Dae-Vin kenapa? Badmood kan? Sakit kah? Atau yang lain?


Terima kasih sudah membaca cerita ini. Jangan lupa like, komen dan favorit supaya tidak ketinggalan update cerita ini. See you..

__ADS_1


__ADS_2