
[Araya's Origin Arc - #1]
...----------------...
Dua belas tahun yang lalu. Di saat Araya masih berusia satu tahun empat bulan, dan Allucia masih berusia empat tahun.
Pagi itu, sekitar jam sepuluh. Araya sedang bermain balok di ruang tengah, ditemani oleh ibunya. Biasanya, permainan balok tersebut Allucia yang memainkannya. Saat itu, Allucia masih belum pulang dari sekolah.
"Ayo coba di susun baloknya." ucap sang ibu sambil mencontohkan.
Araya kecil pun mencoba melakukan hal yang barusan dicontohkan oleh ibunya. Yaitu meletakkan balok kecil di atas balok yang lebih besar yang telah di susun. Namun gagal, baloknya rubuh semua. Wajar, masih kecil.
Tok! Tok! Tok!
Terdengar suara ketukan pintu. Sepertinya ada seseorang yang mengetuk pintu depan, pastinya bukan Allucia. Kalau Allucia pasti akan mengetuk dan memanggil-manggil jika dia telah pulang.
"Sebentar ya, ibu mau bukakan pintu dulu." ucap Luccyana sebelum berjalan meninggalkan putri kecilnya itu. Araya menatapnya dengan wajah polos khasnya.
"Sayang, aku pulang." kata seorang laki-laki yang lumayan tampan, dan berusia sekitar tiga puluh tahunan sambil memeluk Luccyana dengan erat, sebab sudah setengah tahun tidak bertemu dan sangat jarang mengirim kabar.
"Akhirnya kau pulang, sudah setengah tahun kau tak pulang." ucap Luccyana, matanya berkaca-kaca setelah melihat seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya. Luccyana memeluk orang itu dengan erat, orang itu membalas pelukannya.
"Aku di beri cuti selama beberapa hari, jadi.. jangan sedih lagi ya." ucap laki-laki itu sambil menenangkan.
"Ayo masuk," ajak Luccyana setelah mengusap wajahnya yang agak basah. Setelah itu, mereka pun masuk ke dalam rumah. Setelah sampai di ruang tamu..
"Aku mau ke kamar mandi dulu ya," ucap laki-laki itu sambil menepuk pundak Luccyana dengan pelan.
"Masih ingat kan, di mana tempatnya?"
"Hehe, masih kok.."
"Okey, aku juga mau ke dapur untuk membuatkanmu minuman."
...----------------...
Beberapa saat kemudian, setelah laki-laki tersebut selesai mencuci tangan dan kaki di kamar mandi. Saat ini, dia sedang duduk di karpet di ruang tengah tempat Araya bermain. Araya menatapnya sambil tidak berani untuk lanjut bermain. Orang itu terasa asing baginya.
Tak lama kemudian, Luccyana telah datang sambil membawa nampan yang berisi segelas teh hangat. Dan meletakkannya di meja yang tak jauh dari sana.
Setelah menyadari kedatangan ibunya, Araya kecil segera memeluk ibunya dengan erat, mungkin dia takut.
"Aya kenapa?" tanya Luccyana sambil mengelus rambut Araya dengan lembut. Aya, itulah panggilan Araya saat dia masih kecil.
"Atut.." ucap Araya kecil dengan suara imutnya, sambil berusaha menunjuk seorang laki-laki yang ada di depannya dan juga ibunya.
__ADS_1
"Jangan takut, itu ayah." balas Luccyana sambil menunjuk ke arah laki-laki yang ada di hadapannya, yang merupakan suaminya dan juga ayah dari Araya dan Allucia.
"A..yah?" kata Araya yang seperti orang yang sedang mengeja.
"Iya, ini ayah. Ayo sama ayah," ucap ayahnya sambil mengulurkan kedua tangannya ke depan. Tetap saja, Araya masih takut. Dia menyembunyikan wajahnya di bahu ibunya.
"Hihi.. mungkin dia takut karena kau mengenakan seragam," ucap Luccyana sambil tertawa kecil.
"Oh ya? Baiklah, aku akan melepasnya. Suatu saat nanti, Araya juga akan memakainya." kata laki-laki itu sambil melepas seragamnya yang tampilannya seperti rompi yang biasa gunakan para tentara untuk latihan perang. Setelah dilepas, kini dia mengenakan atasan berubah t-shirt warna putih polos.
"Hah? Apa maksudnya tadi?"
"Ibu, aku pulang.." ucap seseorang dengan suara khas anak-anak, dia Allucia yang baru pulang dari sekolah.
"Yeey! Ayah pulang!" kata Allucia gembira sambil memeluk ayahnya dari belakang.
"Iya, ayah di beri libur untuk pulang selama beberapa hari," ucap ayahnya.
Dari pangkuan ibunya, Araya kecil tampak bingung saat memerhatikan mereka. Dia penasaran, tapi masih sedikit takut.
"Allucia, ganti baju dulu. Itu bajunya sudah ibu siapkan." ucap Luccyana pada Allucia.
"Oke ibu," jawab Allucia, kemudian pergi ke kamarnya.
Setelah kejadian itu, Araya menatap laki-laki yang dipanggil 'ayah' oleh Allucia tadi. Ayahnya hanya tersenyum tipis saat melihat putri kecilnya.
"A.. yah?"
"Iya, itu ayah. Ayo." kata ibunya membujuk.
Setelah merasa cukup yakin kalau itu ayahnya, Araya kecil mencoba untuk berdiri, kemudian berjalan perlahan-lahan ke arah ayahnya. Beberapa kali dia terjatuh, namun dia selalu bangun lagi. Dan jaraknya tinggal sekitar tiga langkah lagi, dia terjatuh lagi, namun ayahnya menangkapnya dan Araya tidak terjatuh.
"Upss," ucap ayahnya sambil menangkap Araya yang hampir terjatuh. Kemudian memangkunya.
"Waah, selama ayah tinggal, sudah mulai bisa jalan ya.." kata ayahnya sambil memperhatikan wajah putrinya yang sangat imut, terutama pipinya yang tembam.
"A.. yah?" ucap Araya sambil menatap wajah ayahnya.
"Iya," jawab ayahnya sambil tersenyum.
Tak lama kemudian, Allucia sudah ada di sana.
"Dek, kamu sama ayah, aku sama ibu." kata Allucia sambil duduk di dekat ibunya.
Araya tidak menanggapi, dia fokus menatap sebuah alat yang terpasang di pergelangan tangan kiri ayahnya. Bukan jam tangan, bentuknya lebih panjang untuk disebut sebagai jam tangan, dari pergelangan sampai siku, setengah bagiannya tertutupi alat itu.
__ADS_1
"Ke depan yuk," ajak ayahnya pada Araya untuk ke depan (teras rumah) untuk melihat-lihat. Kemudian, dia menggendong Araya kecil dan berjalan ke arah teras rumah.
Belum lama berada di sana, sesuatu yang tak terduga telah terjadi. Alat yang terpasang di pergelangan tangan kiri ayahnya terlihat lampunya yang berwarna putih berkedip-kedip.
"Arga! Keadaan darurat! Terjadi serangan beruntun! Portalnya telah retak! Ugh! Arrghhh!" terdengar suara seseorang dengan nada panik, dan dari nada bicaranya, terdengar dia sedang diserang oleh sesuatu. Dan setelah itu, alat komunikasinya langsung mati.
"Rain! Rain! Apa yang terjadi?! Jawab aku?!" ucap ayahnya yang bernama 'Arga' dengan panik, tapi dia berusaha untuk menyembunyikan kepanikannya itu supaya Araya tidak takut.
"A..yah? Ke.. napa?" tanya Araya dengan sedikit takut.
"Aya jangan takut ya, tidak apa-apa. Ayo kita masuk." ucap Arga sambil mengelus rambut putri kecilnya itu, kemudian membawanya masuk ke dalam rumah.
Ketika kembali masuk ke dalam rumah, istrinya menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Sedih, khawatir, takut, mungkin hanya itu yang dapat dijelaskan.
"Ada apa?" tanya Luccyana khawatir.
"Sayang, tolong jaga anak-anak ya." ucap Arga sambil menyerahkan Araya pada istrinya.
"Ada apa ayah?" Allucia ikut bertanya.
"Maaf, ayah harus segera pergi. Sekali lagi ayah minta maaf," ucap Arga sambil menunduk untuk menyembunyikan kesedihannya.
"Ayah.. jangan pergi.. hiks.." Allucia memeluk ayahnya disertai dengan isak tangisnya. Arga mengusap kepalanya dengan lembut.
"Maafkan ayah, ayah tidak punya pilihan lain selain untuk melindungi kalian dan semua orang." ucap Arga berusaha untuk menenangkannya. Dalam hati terdalam nya, dia tidak mau pergi meninggalkan keluarganya, lagi.
"Ayah.. tolong jangan pergi lagi.. huaaaaaa!" kini, tangisan Allucia semakin menjadi-jadi. Dia takut kalau ayahnya akan terluka lagi. Setelah serangan dahsyat beberapa bulan yang lalu, menyebabkan orang yang dia sayangi itu koma selama beberapa hari.
"Jangan sedih ya.. ayah pasti akan baik-baik saja. Cia berdo'a saja." kata ayahnya, kini Allucia memelankan suara tangisannya. Arga mengusap pipi putri pertamanya yang basah dikarenakan air mata yang mengalir dari sudut matanya.
Setelah itu, dia menatap Allucia, kemudian menatap Araya yang masih dipeluk oleh ibunya.
"Allucia, Araya, kalian berdua jangan nakal ya.. Kalian harus nurut sama ibu." ayahnya memberi nasehat, Allucia mengangguk.
"Kalian berdua di sini sebentar ya." ucap Luccyana setelah mengusap bagian bawah matanya yang basah.
"Iya Bu.."
Kemudian, Luccyana mengambil seragam Arga yang masih tergeletak di lantai. Seragam yang berwarna putih dengan beberapa garis-garis hitam, dan dilengkapi dengan pelindung yang entah terbuat dari apa.
Setelah itu, Arga mengajak Luccyana untuk mengantarnya sampai ke depan rumah.
To be continued..
...----------------...
__ADS_1
Di sini, author ngga mau bilang apa-apa. Tapi terima kasih buat kalian yang sudah sering berkunjung ke novel ini..