
[Desert Mission Arc - #5]
...----------------...
Memejamkan matanya, Zaaryan meletakkan telapak tangan kanannya di atas permukaan pasir.
"Teknik terdahsyat Red Element, Earthquake!" setelah kalimat itu diucapkan, terjadi getaran di daerah itu. Bisa disebut juga sebagai gempa bumi dengan skala 2.0 skala Richter. Titip pusat gempanya berada tepat di bawah telapak tangan Zaaryan.
Hal ini memang belum seberapa, dia bisa saja melakukan teknik 'terdahsyat' itu dengan lebih dahsyat lagi. Tapi, dia tidak mau merusak lingkungan di sekitar sana.
Merasakan getaran itu, Dae-Vin segera menghentikan langkahnya. Saat itu pula, Zaaryan segera bangkit dan berlari mendekatinya.
Tidak butuh waktu lama, dia telah menarik bahu Dae-Vin ke belakang dan membuatnya terhuyung.
Tak semudah itu bagi Zaaryan untuk menjauhkan Dae-Vin. Sebelum Dae-Vin kembali menyerang, Zaaryan reflek langsung mencekal kedua tangannya hanya dengan tangan kanannya.
"Jangan menyalahgunakan benda ini!" menarik paksa alat transformasi yang digunakan Dae-Vin, kemudian Zaaryan melempar alat itu cukup jauh. Seketika armor yang digunakan Dae-Vin pun lenyap.
Di saat itu pula, Zaaryan berhasil membekuknya supaya tidak bergerak.
"Sshhh! Lepaskan aku!" ketika dia hendak menggigit, Zaaryan segera mengeratkan siku kirinya yang berada di leher Dae-Vin. Akibat dari itu, dia tak bisa menggigit.
"Hehe.. Kamu tak bisa menggigitku.." gumam Zaaryan sambil tersenyum puas.
"Hey Dae-Vin, lihatlah apa yang telah kamu lakukan pada rekan kita? Kamu melukainya. Apa kau tidak ingat, dia itu siapa? Kita harus sama-sama melindunginya. Aku tau kok, kalau kamu menyukai dia, aku tidak akan merebutnya. Tapi, kalau kau terus seperti ini, jangan salahkan aku." bisik Zaaryan, yang seketika Dae-Vin terdiam. Dia berpikir mengenai maksud dari ucapan Zaaryan tadi.
"Araya? Aku.. Aku pernah berjanji untuk melindungi Araya. Tapi, apa yang malah aku lakukan padanya? Aku menyakitinya.."
Di dalam raga itu, terdapat dua jiwa. Yang satu terikat dan yang satunya tidak. Jiwa yang terikat itu adalah Dae-Vin yang asli. Dia merutuki kesalahannya yang tidak berhasil menepati janjinya.
"Sudahlah, kamu diam saja! Raga ini sekarang milikku!" balas Dae-Vin yang lain. Dia yang tidak terikat, dia juga telah terpengaruh oleh Darkness Swordman.
"Biar aku yang membunuh mereka, kemudian menginvasi organisasi, dan kemudian seluruh dunia! Hahahaha!" dia tertawa lebar. Dia menatap Dae-Vin asli dengan tatapan meremehkan. Dia menyeringai saat mengetahui usaha Dae-Vin untuk membebaskan diri tak kunjung membuahkan hasil.
"Percuma saja, itu rantai besi. Kamu bahkan tak bisa bergerak sedikitpun." kembali berucap, dia kemudian berbalik dan hendak pergi dari tempat itu. Bukan pergi dari raga Dae-Vin, tapi dia hendak pergi dari tempat itu dan kembali mengendalikan raga itu untuk berbuat jahat pada ketiga rekannya yang lain.
"Hey parasit!"
"Apa? Kau menyebutku apa? Coba ulangi,"
__ADS_1
"Parasit!"
Dia berbalik setelah merasa dipanggil oleh Dae-Vin. Tanpa takut sedikitpun, dia mengulangi perkataannya.
"Karena kamu telah menjadi mengambil keuntungan dariku dan merugikan aku, maka kamu pantas disebut parasit!" ucap Dae-Vin menjelaskan secara singkat, alasannya dalam memanggilnya demikian.
"Oh ya? Baiklah, aku akan lebih merugikan kamu. Aku akan menghabisimu sekarang juga." dia berjalan mendekat ke arah Dae-Vin.
"Kalau kamu menghabisiku, ayahku pasti akan menyalahkan kamu." Dae-Vin berucap setelah makhluk itu tepat berada di depannya.
"Apakah aku peduli?"
"Hmm mungkin iya, mungkin tidak." dengan santai, Dae-Vin menjawab.
"Apa maksud perkataanmu itu hah? Katakan yang benar!" tidak terima akan jawaban Dae-Vin barusan, dia membentak supaya Dae-Vin memberikan jawaban yang lebih jelas.
"Iya, kalau kamu membunuhku, semua orang akan mengalahkan kamu. Kamu mau disalahkan? Rasanya tidak nyaman. Hidupmu tidak akan tenang. Kamu akan dibenci. Yah, meskipun mungkin ada beberapa yang akan memaafkan tindakan bodohmu itu." menggerakkan bola matanya, Dae-Vin tetap tenang dalam menjawab pertanyaannya.
"Memangnya kamu pernah disalahkan?"
"Pernah. Aku pernah disalahkan memecahkan kaca rumah orang saat aku bermain bola. Waktu itu, aku masih kecil. Aku aku langsung lari ke rumah. Orang tuaku menghukumku supaya aku tak mengulanginya lagi." Dae-Vin berucap dengan lancar dan dengan nada yang tetap. Tentu itu hanyalah rekayasanya saja. Aslinya, dia adalah laki-laki berotak bebal yang suka keras kepala.
Dae-Vin mengangguk, "iya, sangat menyakitkan rasanya disalahkan. Apalagi kalau sebenarnya kita tidak melakukan apa-apa tapi disalahkan. Tertuduh itu membuat perasaanmu sangat tidak nyaman. Kamu bahkan akan sulit tidur dalam beberapa pekan."
Dae-Vin kembali mengada-ada dalam ucapannya. Dia meneruskan setelah menyadari perubahan sikap pada makhluk di depannya itu.
"Bagaimana? Pasti sangat menyakitkan rasanya disalahkan. Tapi, sebelum itu terjadi, kamu bisa melepaskan aku." setelah membiarkan makhluk tersebut terdiam sejenak, Dae-Vin kembali berucap.
"Tapi, kalau aku melepaskanmu, aku pasti akan diberi hukuman berat olehnya." gumamnya sembari tertunduk.
"Hukuman? Dia siapa maksudmu?"
"Tentu saja Darkviper. Menurutku, dia adalah wanita paling jahat di dimensi kami."
"Kalau kamu sudah tau dia jahat, kenapa kamu ikuti?" memiringkan kepalanya yang tak terikat, Dae-Vin kembali bertanya.
"Karena, dia.. Dia yang mengubahku jadi seperti ini. Tadinya aku hanyalah anak-anak normal seperti kamu, tapi setelah aku bertemu dengannya, dia berusaha membujukku supaya aku berada dalam pihaknya. Awalnya aku menolak, tapi setelah dia banyak berbuat baik padaku, perlahan-lahan aku mulai menerima. Tetapi pada akhirnya nasibku malah seperti ini." ucapnya menceritakan peristiwa beberapa tahun lalu.
"Hah, berbuat baik yang tidak ikhlas. Oh iya, kalau boleh tau, siapa namamu?"
__ADS_1
"Mereka biasa memanggilku Kenn,"
"Baiklah Kenn, kamu harus mengakhiri hubunganmu dengan Darkviper."
"Caranya?"
"Bantu aku kalahkan dia."
...----------------...
"Bagaimana dengan Dae-Vin?" tanya Hanny pada Zaaryan yang telah berada di depan mereka.
"Dia baik-baik saja, aku merasakan kalau dia sedang melawan seseorang dalam batinnya." ucap Zaaryan berhipotesis. Dari kejauhan, terlihat Dae-Vin masih berdiri mematung sembari tertunduk.
"Bagaimana kondisimu Araya?" mengalihkan topik, Zaaryan bertanya pada Araya.
"Lebih baik, tapi setelah racunnya menyebar, pembuluh darah di tangan kanannya menghitam." menundukkan tangan kanannya, Araya menjawab.
"Ini tidak bagus," balas Zaaryan sambil sekilas menggelengkan kepalanya.
Tidak lama kemudian, terdengar suara benda jatuh. Suaranya dari arah Dae-Vin. Sontak, mereka menolehkan kepala dan melihat tubuh Dae-Vin yang telah tergeletak di atas pasir yang mulai mendingin.
"Eh?"
"Aku akan coba melihatnya," ujar Zaaryan singkat, kemudian berdiri dan berjalan menghampiri Dae-Vin untuk mengecek kondisinya.
Dia tak sadarkan diri dengan kondisi yang telah pulih menjadi manusia. Tidak ada lagi sisik-sisik ular di kulitnya. Gigi taring ularnya juga sudah menghilang.
"Dia sudah pulih kah?" Zaaryan membatin setelah melihat perubahan pada Dae-Vin. Dia masih berada di situ, kemudian berjongkok dan menyentuh pergelangan tangannya.
"Apa yang terjadi, Zaaryan?" tanya Hanny tanpa menghampirinya. Dia masih menemani Araya untuk beristirahat di tempat itu.
"Dia baik-baik saja."
**To be continued..
...----------------...
Terima kasih sudah mengikuti cerita ini. Jangan lupa kasih like dan komen ya**^^
__ADS_1