
[Primary Members Arc - #9]
...----------------...
"Maaf ya, Ryusei. Aku akan mengekangmu dulu." kata Chris pelan sambil menatap tubuh Dae-Vin yang terikat dengan rantai. Yah, tanya tangan dan kakinya saja yang terikat, sedangkan badannya tidak.
"Keadaannya semakin memburuk saja. Belum ada kabar terbaru dari regu tersier." mengusap wajahnya yang berkeringat dingin, Profesor R berucap. "Aah! Kapan krisis ini akan selesai?"
"Aku juga berharap masalah ini cepat selesai." Kapten Akira menanggapi. Kali ini benar-benar keadaan yang buruk sepanjang sejarah Elemental. Baru kali ini para Darkness Swordman menyerang mereka secara besar-besaran.
Saat ini, mereka semua berada di ruangan teraman di markas pusat. Letaknya dirahasiakan. Hanya anggota aktif saja yang mengetahuinya. Sedangkan para anggota pasif telah diungsikan ke tempat yang aman.
"Profesor, apa sudah ada kabar dari anggota primer?" Theo bertanya pada Profesor F. Sejauh ini, memang baru tadi malam mereka semua berangkat dari markas, terakhir kali mengirim kabar saat mereka sedang dalam perjalanan menuju lokasi Segitiga Bermuda.
Profesor F menggeleng pelan, "Sekitar empat jam yang lalu mereka mengirim kabar. Sekarang belum ada kabar lagi. Aku harap, misi mereka bisa berjalan dengan lancar dan mereka bisa cepat kembali."
...----------------...
BRUAKH!
Sudah kesepuluh kalinya, fusion Elemental Araya dan Lucas dibanting oleh Darkness Swordman. Sudah sepuluh kali juga, serangan mereka berdua dipatahkan dengan mudah olehnya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Lucas khawatir. Tentu bukan hanya dirinya yang merasakan sakit di sekujur tubuh, Araya juga merasakannya.
"Iya, Kak. Aku baik-baik saja." balas Araya sedikit berbohong. Nyawanya memang masih dua, hanya fisiknya yang terasa nyeri, terutama tangan kiri yang terasa terkilir.
"Ternyata benar kalau upgrade ini tidak sepenuhnya baru. Terbukti dia bisa dengan mudah menebak serangan kita." gumam Lucas sambil menatap ke depan. Menatap Darkness Swordman yang tidak tergores sedikitpun.
"Sebenarnya, seberapa kuatkah dia? Dan seberapa kuat Darkzero?" lanjutnya sambil menggigit bibir bawahnya. Mencoba berpikir keras untuk mengalahkannya—setidaknya bisa mengusirnya dari sana—dengan berbagai serangan kombinasi mereka.
__ADS_1
"Shiroi, Kyle, tolong beri tahu serangan kuat yang bisa digunakan untuk menghalaunya …." ucap Araya pada Shiroi dan Kyle. Kedua sistem itu hanya diam dan menurut saja pada majikannya.
"Ehm, apa ya? Kyle, kamu ada ide?" Shiroi bertanya pada Kyle. Dia juga sebenarnya tidak terlalu mengerti tentang kelebihan dan kelemahan Darkness Swordman level dua yang ada di depan mereka.
"Dia itu sebenarnya tidak bisa melihat saat siang hari. Ia hanya mengandalkan keempat alat inderanya yang lain-" ucapan Kyle terpotong, sebab Araya sudah lebih dulu menyahut.
"Nah, itu dia! Kita menemukan kelemahannya. Kak Lucas, bisakah kau mengatur tekanan udara supaya dia tidak bisa mengetahui keberadaan kita dengan instingnya?" tanya Araya dengan antusias. Saat Darkness Swordman itu sedang santai, dia berusaha memikirkan ide untuk bisa mengalahkannya sebelum rekan-rekan lainnya kembali.
"Tidak bisa lah, tekanan udara tidak ada hubungannya dengan insting." jawab Lucas yang seketika mematahkan semangat Araya. "Tapi, aku akan mencoba." lanjutnya. Setitik harapan muncul di tengah kegelapan dan kebimbangan yang melanda perasaan mereka.
"Bunyi akan lebih mudah merambat pada benda yang penyusun mediumnya rapat. Kalau tekanan udara lebih rendah, kupikir itu bisa berguna supaya bunyi tidak cepat merambat." pikir Araya. Sekilas materi pelajaran fisika yang pernah ia pelajari bersama Dae-Vin terlintas di benaknya.
Ibarat di luar angkasa. Jika tidak ada medium, maka gelombang bunyi tidak akan bisa merambat hingga ke pendengaran.
"Ah iya, kenapa aku kepikiran Dae-Vin? Semoga dia dan yang lainnya baik-baik saja." Araya mencoba kembali fokus, setelah sekilas ia melihat bayangan Kim Dae-Vin dalam pikirannya.
"Park Hana, apa rencanamu selanjutnya?" pertanyaan Lucas yang tiba-tiba berhasil menyadarkan Araya dari lamunan singkatnya. Ternyata laki-laki itu sudah selesai menggunakan teknik element-nya. Element yang Lucas gunakan memang sama dengan Dae-Vin—sama-sama berawal dari element air—hanya saja, Lucas tentunya sudah berada dalam tingkatan yang lebih tinggi.
"Baiklah, tapi jangan memaksakan dirimu. Kalau tidak kuat, sebaiknya berhenti saja." Lucas memperingatkan, dan langsung dibalas dengan ekspresi cemberut oleh Araya.
"Ya ampun! Ekspresi apa itu? Imut …." dalam hati, Lucas gemas dengan ekspresi Araya saat sedang kesal. Namun, ia berusaha mengendalikan dirinya supaya tidak mengumbar perasaannya yang harus menjadi rahasia.
"Kak Lucas jangan meremehkan aku. Setidaknya, beri aku semangat."
"Iya, semangat ya. Aku mendukungmu …." kata Lucas pada akhirnya. Ia hanya mengalah saja sambil berharap supaya apa yang Araya lakukan bisa membuahkan hasil.
"Pak Arga, kenapa putrimu bisa seimut itu?" pikir Lucas, tentu dia masih belum bisa melupakan ekspresi Araya beberapa detik lalu, yang sekarang sudah berganti dengan ekspresi serius.
Serangan balik bermula saat Araya mengubah element yang ia gunakan menjadi nature element. Kemudian, ia mencoba menumbuhkan pohon bunga bangkai di sekitaran sana. Bunga bangkai, salah satu spesies bunga yang langka, dan mampu mengeluarkan aroma busuk bagaikan bangkai makhluk hidup.
__ADS_1
"Bau busuk ini tidak akan bisa mempengaruhi aku!" ucap Darkness Swordman, setelah sekilas ia mencium bau itu dengan menggunakan indera penciumannya.
"Oh ya?" Araya tersenyum tipis. Ia sudah punya rencana. Dia sudah menguasai tubuh itu. Jadi, ia juga bisa menggunakan kekuatan element yang sebelumnya digunakan oleh Lucas.
Araya mencoba menggunakan element udara, mengaturnya sedemikian rupa hingga tidak ada angin yang berhembus di pantai itu. Mungkin sikapnya ini cukup bisa membuat takdir menjadi berubah. Tapi, tindakannya bukan semata-mata karena keinginan pribadi, ini demi keselamatan banyak orang.
"Sialan, baunya tidak bisa hilang. Aku jadi tidak bisa mengetahui aroma mereka." kata Darkness Swordman dalam hati. Dia masih berdiri seperti sebelumnya. Menyerang pun tidak ada gunanya kalau dia tidak mengetahui keberadaan musuhnya. Dia mendadak menjadi lengah.
TCING! JLEB!
Rencananya berhasil. Dengan teori fisika dan biologi yang dia pelajari, Araya bisa membuat rencana yang bagus guna mengalahkan Darkness Swordman itu. Sekarang ini, tanpa diketahui gerak-geriknya oleh Darkness Swordman, Araya bisa menusukkan pedangnya pada makhluk kegelapan tersebut.
Hal itu cukup untuk membuat Lucas menjadi takjub. Meskipun Araya masih junior dan bahkan pengetahuannya masih terbatas, rupanya gadis itu punya rencana yang cerdik.
"Hey, Nak … kalian pikir bisa dengan mudah mengalahkan aku?" Darkness Swordman itu berkata setelah beberapa saat lalu diam tercengang.
Tangan kanannya menggenggam bilah pedang milik Araya yang saat ini telah menembus tubuhnya dan masih tertancap.
"Tidak mungkin! Kami pasti menang!" Araya berucap tegas. Berusaha untuk membelah tubuh Darkness Swordman menjadi dua bagian—meskipun dia sebenarnya takut.
"Lihat saja. Berhati-hatilah, karena … aku tidak akan menahan diri." Darkness Swordman tertunduk, tangan kanannya kembali menggantung ke bawah di samping tubuhnya.
Tiba-tiba, dari punggung Darkness Swordman, muncul empat buah tangan yang ukurannya lebih besar. Sontak, hal itu membuat Araya dan Lucas terkejut seketika.
"Bersiaplah … permainan yang sebenarnya akan segera dimulai."
To be continued …
...****************...
__ADS_1
Menurut kalian, apakah novel ini udah ada tanda-tanda mau tamat? Aku belum tau juga sih, mau ditamatin di chapter berapa. Pantengin terus ya :)