
[Araya's Origin Arc - #5]
...----------------...
"I-ini.. Tidak mungkin.." gumam Arga setelah melihat patung batu tersebut. Tatapannya berubah kosong, tubuhnya melemas, namun masih mampu untuk tetap berdiri.
CTAK!
Setelah jentikan jari tadi terdengar, kedua patung tadi langsung berubah menjadi abu. Hancur lebur. Arga membelalakkan matanya melihat kejadian itu, sedangkan Darkzero memasang seringainya meskipun wajahnya tertutup topeng Darkness.
"Haah, apa kubilang? Kalian itu memang lemah dan tak bisa apa-apa. Kalian tidak pantas menggunakan kekuatan Elemental!"
Arga kembali mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras, dan tatapan matanya menyiratkan rasa kebencian yang teramat besar. Napasnya mulai tak beraturan.
"Ada yang marah rupanya. Daripada kau marah-marah, lebih baik kau segera kubuat seperti mereka tadi. Bersiaplah.." sembari memutar-mutar pedangnya, Darkzero kembali berucap. Pedang sepanjang satu setengah meter dan berat sekitar delapan kilogram itu seakan bukan apa-apa. Baginya, hal tersebut seperti memutar-mutar pulpen saja.
SYUU!
Darkzero hendak menusuk Arga dengan pedangnya. Dengan segera, Arga menghindarinya, hanya dengan sedikit memiringkan kepalanya dan pedang Darkzero berhasil meleset. Terlambat sepersekian detik saja, mungkin kepalanya akan tertusuk.
BUAKH!
Arga melakukan serangan balasan. Dia memukul pergelangan tangan Darkzero yang memegang pedang supaya pedangnya terjatuh. Namun, tak sesuai dugaan, Darkzero dengan cepat langsung menarik kembali tangannya.
"Tak semudah itu, haha!" sambil tertawa Darkzero berucap. Arga tak menanggapi dan lebih memilih fokus pada pertarungan.
Arga kembali menyerangnya pada bagian kakinya, tapi Darkzero dengan segera melompat saat hal itu terjadi.
PROK!
Arga membenturkan kedua telapak tangannya sampai terdengar suara. Seketika dari belakang Darkzero muncul tiga benda yang bentuknya mirip seperti piringan, bedanya, yang itu pinggirannya runcing. Benda itu berputar-putar dengan cepat mengarah pada Darkzero.
Tring! Trang! Trang!
Hanya dengan satu kedipan mata, ketiga benda tadi berhasil ditebas olehnya hingga terbelah menjadi dua bagian dan kemudian jatuh menyentuh lantai.
"Bagaimana mungkin? Dia seperti bisa memprediksi seranganku.." kata Arga dalam hati tak percaya. Refleksnya bisa sangat baik, hal tersebut memperkuat perkiraannya kalau Darkzero bukanlah manusia yang diubah menjadi Darkness Swordman. Tapi, dia adalah yang asli, tak lagi bisa diubah menjadi makhluk apapun.
"Sekarang giliranku.." bisiknya sambil dengan cepat menyerang Arga dengan pedangnya. Arga tak punya waktu untuk berpikir, jadi dia hanya mencoba menahan serangannya saja dengan armor.
"Sial, serangannya membuatku terpojok." sekilas menatap ke belakang, Arga sudah tak bisa mundur lagi. Ada dinding pembatas ruangan yang membuatnya terpojok. Gerakannya menjadi terbatas dan tak bisa leluasa.
__ADS_1
CEP!
Serangan barusan tak disadari oleh Arga. Mungkin itulah akibatnya kalau berpikir di depan Darkzero. Meskipun berpikir cepat, tapi masih belum bisa secepat pergerakannya.
Ujung pedangnya sudah menancap di dinding tepat di sebelah leher Arga. Hanya berjarak tiga sentimeter saja.
"Aku baik sekali masih memberimu kesempatan untuk hidup. Jadi, bagaimana? Pemikiranmu berubah?" ucapnya sambil mencekik leher Arga dengan tangan kirinya.
"Tidak.. Akan.. Pernah.." meskipun suaranya tercekat, sekuat mungkin Arga mencoba menjawab dengan menolak. Darkzero menghela nafasnya.
"Jadi kau pilih mana, mau kusiksa dengan tangan kiriku, atau.. Langsung kupenggal kepalamu dengan pedang di tangan kananku?"
Cengkramannya semakin kuat, membuatnya sampai tak bisa bernapas. Arga kembali mencoba untuk berbicara, tapi rasanya begitu sakit. Rasanya seperti pita suaranya telah putus ataupun terpotong.
"Tak bisa menjawab? Kalau tak menjawab, berarti kau memilih keduanya. Baiklah, mwahahahahaha!"
"ARGA!"
Sebelum Darkzero memulai eksekusinya, suara itu terdengar. Suara dua orang yang memanggil namanya secara bersamaan.
Arga mencoba mengangkat pandangannya, terlihat kedua temannya telah berdiri di sampingnya. Rain dan Fatih.
Fatih segera mengarahkan telapak tangannya ke depan dan seketika muncul cahaya yang sangat terang, mampu membuat Darkzero menjadi buta sesaat.
"Ugh.. Iya.." balas Arga singkat, tentu sebabnya karena lehernya masih sakit. Dia menatap ke arah Fatih yang balik menatapnya sembari tersenyum tipis.
"Syukurlah.. Kami datang tepat waktu." ucapnya lirih.
"Tepat waktu apanya?! Aku mengalah sebentar tadi."
DUAR!
Setelah Darkzero kembali berucap, terjadi ledakan di ruangan itu yang membuat ruangan tersebut menjadi gelap gulita.
"Aku tak bisa melihat. Fatih, di mana kau? Munculkan cahaya lagi.." Rain berucap melalui alat komunikasi. Tak lama kemudian, Fatih merespon.
"Tidak bisa, tenagaku tiba-tiba tinggal sekarat."
"Hah? Kok sama?"
"Apa? Kau juga?"
__ADS_1
Benar saja, tenaga mereka yang sebelumnya masih setengah, kini hanya tinggal lima persen setelah ledakan tadi. Tapi, tidak bagi Arga. Tenaganya masih sama seperti sebelumnya.
SRAK! BUAKHH!
Arga merasakan tubuhnya ditarik, kemudian dihempaskan dengan keras dan akhirnya membentur dinding. Saking kuatnya, dinding ruangan utama itu sampai retak.
"Hah? Suara apa itu? Arga, di mana kau?" Rain mencoba berkomunikasi dengan Arga melalui alat komunikasi yang terpasang pada armornya.
"Aku.. masih di sini kok.." balas Arga lirih. Mencoba untuk menormalkan suaranya supaya teman-temannya tidak khawatir.
"Kau baik-baik saja?" kini, Fatih yang bertanya.
"Iya. Jaga diri ka- Argh!" belum sempat Arga menyelesaikan kata-katanya, tubuhnya sudah kembali terhempas membentur dinding untuk yang kedua kalinya. Kali ini lebih kuat, bahkan sampai membuat Arga terlempar dari bangunan markas Darkness Swordman melalui dinding yang bolong.
Keadaan di dalam ruangan telah bisa terlihat seperti sebelumnya. Rain dan Fatih membelalakkan matanya setelah menyadari kalau di situ hanya ada mereka berdua. Perasaannya bertambah tidak nyaman setelah melihat dinding yang berlubang lumayan lebar itu. Rupanya teknik Darkzero tadi digunakannya hanya untuk mengelabuhi mereka berdua supaya bisa bertarung dengan Arga, satu lawan satu.
Di luar markas Darkness Swordman, Arga mencoba berdiri menggunakan tubuhnya yang terasa nyeri, memar, dan lebam. Bahkan di bagian tertentu, tulangnya yang patah sudah bertambah.
"Sakit ya? Baiklah, kalau begitu, mari bertarung tanpa senjata." sambil membuang pedangnya, Darkzero berucap setelah melihat Arga yang belum sepenuhnya bisa berdiri.
"Haah sudah lemah, masih saja keras kepala. Kenapa pula kalian tidak langsung menyerahkan kekuatan element kalian daripada susah-susah dan sakit-sakit bertarung melawanku?" melipat tangannya di depan dada, Darkzero berucap sambil sesekali menggeleng tak menyangka.
Tak lama kemudian, Arga telah berhasil berdiri meskipun kakinya bergetar akibat sudah lemas.
"Tidak, aku tidak boleh kalah. Aku yang harus mengalahkannya. Jika aku berhasil mengalahkannya, maka dunia ini akan kembali damai. Aku tak boleh menyerah." dalam hati, Arga berucap sambil mencoba berdiri tegak.
"Aku sudah berjanji pada Allucia dan Araya kalau aku akan kembali dengan selamat. Hah, setidaknya mereka masih bisa melihatku saat aku mati nanti.."
Entah mengapa, Arga bisa mempunyai pikiran seperti itu. Dia kembali teringat perjuangan Araya beberapa saat yang lalu, ketika Araya berusaha keras berjalan ke arahnya. Meskipun beberapa kali terjatuh, Araya kembali memulainya lagi. Dan terakhir Arga berhasil menangkap tubuhnya saat akan terjatuh lagi.
"Araya, ayah ingin bertemu denganmu lagi. Di masa depan nanti, datanglah ke sini dan kalahkan dia. Kamu tak perlu menyelamatkan aku, tak perlu mencariku."
Di lain tempat dalam waktu yang sama, seorang anak perempuan berucap satu tahun empat bulan sedang berdiri di samping jendela. Menatap langit yang sedang mendung, wajahnya murung.
"Araya, ternyata kamu di sini nak." ucap ibunya dan kemudian menggendongnya.
"I-ibu.. Ayah.. Ke-mana?" meskipun bicaranya belum begitu fasih, Araya kecil mencoba bertanya hal itu pada ibunya.
To be continued..
...----------------...
__ADS_1
Terima kasih buat teman-teman yang sudah membaca. Jangan lupa like dan komentarnya ya. Sekian..