
[Mars Mission Arc - #11]
...----------------...
"ARAYA!" seru Dae-Vin, Hanny, dan Zaaryan secara bersamaan. Tubuh Araya sudah terkapar dengan darah segar yang masih terus mengalir.
Sedangkan Grey, dia sudah pergi sejak beberapa detik yang lalu. Sungguh tak punya rasa bersalah dan juga licik.
Setelah Grey pergi, suasana di tempat itu jadi seperti semula, tak lagi terpengaruh oleh efek dari aura kegelapan yang terpancar dari setiap Darkness Swordman.
Mereka bertiga segera menghampiri Araya untuk mengecek kondisinya.
"Araya, kamu mendengarku? Bertahanlah!" ucap Dae-Vin panik sambil menepuk-nepuk pipi Araya yang wajahnya sudah tak tertutup Armor. Wajahnya yang pucat pias, serta suhu tubuhnya sudah mendingin. Denyut nadi di lehernya juga sudah tak terlalu terasa.
"Kita harus segera membawanya kembali ke pesawat." Hanny memberi usulan setelah mendapati Araya yang sudah tak bisa merasakan apapun.
"Tidak, kita akan pulang ke markas." Dae-Vin membantah sembari mengangkat tubuh lemas Araya. Menatap lamat-lamat wajahnya yang semakin memucat akibat darahnya terus ke luar.
"Tapi, bagaimana dengan pedangmu, Dae-Vin?" benar yang dikatakan Zaaryan. Setalah dia bilang, Hanny dan Dae-Vin baru menyadari kalau pedang Dae-Vin masih menancap di tubuh Araya.
"Jangan dicabut, nanti darahnya yang ke luar akan semakin banyak!" jawab Hanny cepat.
Dae-Vin menatap keduanya secara bergantian kemudian berucap, "kalian berdua, lakukan teleportasi."
Hanny dan Zaaryan langsung mengangguk setuju. Dengan segera mereka melakukan teleportasi ke pesawat mereka.
...----------------...
"Hanny, jaga Araya. Kita harus cepat sampai ke markas." ujar Dae-Vin setelah meng-amanahkan Hanny untuk menjaga Araya selama perjalanan pulang. Hanny mengangguk. Kemudian Dae-Vin segera menyusul Zaaryan ke ruangan kabin.
"Kita pakai mode profesional." sembari duduk dan memasang sabuk pengaman, Dae-Vin berkata tanpa berpikir panjang.
"Apa? Kita belum pernah melakukannya."
"Makanya itu kita harus mencobanya." Dae-Vin kembali membantah. "Lagipula ini darurat, aku akan mengirimkan kode biru ke markas supaya mereka bisa bersiap."
__ADS_1
"Ya," jawab Zaaryan singkat. Memegang erat stir kemudi pesawat sambil menatap ke depan.
...----------------...
Dalam tujuh menit, pesawat mereka kini sudah mendarat dengan selamat di landasan tersembunyi milik organisasi Elemental Asia. Dengan segera mereka mengevakuasi Araya yang nyawanya di ujung tanduk.
Saat ini banyak anggota yang berkumpul di depan ruangan gawat darurat. Sebagian besar adalah anggota pasif yang bekerja dalam bidang medis.
"Ini," ucap seorang wanita muda mengembalikan pedang Dae-Vin yang sudah kembali bersih dan mengkilap. Tentu sudah dibersihkan dengan kain setengah kering.
Sekilas Dae-Vin melihat saat-saat yang tak akan dia lupakan. Ketika para anggota medis itu mencabut pedangnya dari tubuh Araya, seketika darahnya yang mengucur jadi bertambah banyak. Mungkin sekitar tiga kali lipat dari sebelumnya.
Dae-Vin menerima uluran pedangnya dengan tangan yang gemetar. Tubuhnya terasa lemas, terutama kakinya yang seakan tak mampu lagi menahan berat tubuhnya.
Ketika pintu ruangan gawat darurat itu tertutup, perasannya menjadi sangat sakit. Dia masih tak percaya kalau Araya tertusuk pedang yang biasa dia gunakan, bahkan sampai kondisinya seburuk itu. Yah, meskipun bukan dia yang melakukannya, tapi Grey Darkness Swordman. Dia merasa kalau dia akan selalu kepikiran dan trauma jika menggunakan pedang itu.
"Kalian," suara bariton seseorang terdengar dari arah belakang mereka bertiga yang masih berdiri mematung di depan ruangan itu.
Mereka masih tidak fokus pada keadaan karena masih syok dan dilanda rasa ketidakpercayaan pada kejadian ini.
Plok!
"Aku tau kalian masih tidak percaya. Tapi, cobalah untuk tetap rela. Hal seperti ini adalah hal biasa." ucap Lee Hyun-Jae sembari menggeleng pelan. Dari nada bicaranya, seakan dia tidak khawatir pada keadaan Araya yang lebih dari kata parah.
"Apa maksudmu kak? Kondisi Araya sangat parah. Apa itu hal biasa?" balas Hanny yang terkesan membantah pada pernyataan Hyun-Jae barusan.
"Iya, Araya sudah seperti saudara kami sendiri." Zaaryan meneruskan.
"Araya.. Bukan hanya teman kami. Dia adalah bagian dari kami. Kalau dia tidak ada, kami tidak akan menjadi tim lagi." Dae-Vin berucap dengan mata berkaca-kaca. Ini pertama kalinya bagi Zaaryan dan Hanny melihat ekspresi Dae-Vin yang demikian.
Hanny menatapnya dengan tatapan iba. Begitupun dengan Zaaryan. Mereka sudah menyadari perasaan Dae-Vin pada Araya, maka dari itu mereka juga tidak mau kalau sampai Araya kenapa-kenapa.
"Sudahlah. Kalian bertiga diminta untuk berkumpul di ruang utama." Hyun-Jae berucap mengakhiri pembicaraan, kemudian mulai melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu.
...----------------...
__ADS_1
"Aku senang karena kalian berhasil menyelesaikan misinya dengan baik. Tapi, aku tau ada hal yang membuat kalian tidak senang." tutur Kapten Akira sembari memandang ke arah anggota generasi kesembilan yang tertunduk sedari tadi.
"Eee, maaf Kapten. Sebenarnya batu element yang asli itu yang mana?" tanya Hanny sambil sedikit mengangkat pandangannya. Memberanikan diri untuk bertanya hal yang sedikit di luar topik.
"Yang asli adalah yang ditemukan Araya. Yang di lelang itu yang palsu." jawab Kapten Akira dengan santai.
"Hah? Jadi, kami telah menghabiskan uang empat puluh miliar hanya untuk melelang batu element palsu?" Zaaryan angkat bicara. Jika hal itu benar, maka mereka sudah rugi besar, tidak, sangat besar.
"Tidak, lelangnya kan dibatalkan karena Darkness Swordman berulah. Jadi otomatis saldo kartu hitam VVIP masih utuh semua." jelas Kapten yang membuat Hanny dan Zaaryan menghembuskan nafas lega. Jika saja tadi Grey tidak berulah, maka mereka telah melelang batu element palsu. Mereka juga diuntungkan dalam hal ini.
"Ehem! Kami suka dengan sikap blak-blakan kamu itu, Hanny." dari arah belakang Kapten Akira, Profesor R berucap setelah berdeham.
"Ha? Apa maksudmu, Profesor?"
"Kamu cepat dalam mengambil keputusan. Hal itu diperlukan di organisasi ini."
"Kapten, Profesor, apa Anda semua memanggil kami ke sini hanya untuk ini?" pertanyaan Dae-Vin berhasil membuat suasana ruangan itu menjadi hening sejenak. Semua pasang mata menatap ke arahnya.
"Tidak. Ada hal penting yang harus kalian ketahui. Ini tentang Araya." balas Profesor F sambil berdiri mensejajarkan diri dengan Kapten.
"Profesor, menurut Anda apakah Araya akan baik-baik saja?" Hanny bertanya yang langsung dibalas dengan anggukan oleh Profesor.
"Yah, tentu saja. Aku sangat yakin, kalau Araya pasti akan baik-baik saja. Dia bukan orang yang lemah." balasnya terdengar serius. Ketiga juniornya menatapnya dengan tatapan bertanya.
"Inilah yang ingin kami bicarakan dengan kalian. Hal ini harus kalian ketahui, tentang masa lalu Araya. Supaya kita semua bisa berusaha agar hal serupa tak kembali terulang." sambung Profesor F yang membuat ketiga pemuda-pemudi itu menjadi sangat penasaran sekaligus agak khawatir. Penasaran seperti apa masa lalu Araya, dan juga khawatir dengan apa yang terjadi pada saat itu.
"Tapi sebaiknya, kalian tidak mengatakannya pada Araya nanti, biarlah dia mengetahui kebenarannya suatu saat nanti." ucap Profesor R pelan, tapi masih terdengar jelas di ruangan persegi yang tertutup itu.
"Sebelumnya, kalian tau kan, kalau kami berdua adalah anggota Elemental generasi ketujuh?" Profesor F hendak mulai bercerita dengan diawali sebuah pertanyaan. Ketiganya mengangguk kompak.
"Elemental generasi ketujuh, anggotanya bukan hanya dua orang, melainkan tiga. Aku, Profesor R, dan yang ketiga adalah ayahnya Araya." ketika Profesor F bercerita, Dae-Vin, Hanny, dan Zaaryan mendengarkan dengan serius. Mereka agak terkejut setelah mengetahui kalau anggota ketiga dalam Elemental generasi ketujuh adalah ayahnya Araya.
"Biar kulanjutkan. Saat misi terakhir kami, dia sedang diberi cuti untuk pulang. Tapi, kami mengacaukannya. Itu karena kami terlalu lemah, kami justru membuatnya mengakhiri kebersamaannya dengan keluarganya." dengan sendu, Profesor R yang melanjutkan. Dalam hati, dia merasa sangat bersalah akibat kesalahannya dua belas tahun yang lalu. Kesalahan yang berakhir mengenaskan.
To be continued..
__ADS_1
...----------------...
Kira-kira, seperti apa masa lalu Araya? Temukan di chapter berikutnya. Sebelum itu, jangan lupa like kalau suka, komen, dan share kalau kalian mau. Terima kasih!