
[Desert Mission Arc - #4]
...----------------...
"Maaf, aku terpaksa melakukan ini padamu, Hanny." gumam Zaaryan sembari memasang tatapan serius yang ditujukan pada Hanny yang dikuasai Darkness Swordman.
Daerah itu sudah gelap sejak beberapa menit yang lalu. Bukan sudah malam, tetapi memang mataharinya sedang tertutup oleh benda langit lainnya, yakni bulan. Sedang terjadi gerhana matahari di sana, tepatnya gerhana matahari sebagian.
Mereka berdua sama-sama berada pada daerah yang gelap, dan tak jauh dari sana masih ada daerah yang terang.
Saat gerhana ini dimulai, sifat Hanny berubah total. Kini, jadi seperti Darkness Swordman sungguhan. Beruntung Zaaryan masih tetap dalam kesadarannya. Dia sedang dalam usaha mengembalikan sifat Hanny seperti semula.
Zaaryan mengambil awalan untuk berlari. Setelah dirasa siap, dia pun berlari dan menerjang Hanny dengan sangat kuat. Alhasil, Hanny pun terdorong hingga beberapa meter.
BRUAKH!
Setelah serangan barusan, Hanny terduduk diam setelah tubuhnya terhempas dengan keras. Dia menunduk. Entah apa yang dia rasakan.
Tangannya terkepal erat. Sikunya sedikit lecet. Matanya terpejam.
Zaaryan diam seribu bahasa untuk menunggu reaksinya. Tidak lama kemudian, tangan kiri Hanny terangkat, dan menyentuh kepalanya.
Hanny berucap, "Zaaryan, ini.. Di mana?" setelah membuka matanya, Hanny menoleh pada Zaaryan.
"Aku, juga tidak tau. Sepertinya ini dimensi Darkness." balasnya sembari berjalan mendekat.
"Maaf, tadi aku mendorongmu terlalu kuat. Sekarang kau sudah pulih?" lanjut Zaaryan bertanya sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Hanny berdiri.
"Memangnya aku kenapa?" mendengar dua kata 'sudah' dan 'pulih', Hanny mengernyit heran. Dia tak ingat apapun yang terjadi padanya beberapa sejak saat yang lalu.
"Lihatlah, bajumu basah kuyup. Kamu bermain di sungai tadi." mengedikkan dagunya ke arah sungai yang berada dalam daerah yang gelap, Zaaryan berucap santai.
Hanny berdiri, dan melihat seberapa basah pakaiannya itu.
"Hahaha, iya. Kamu benar, sepertinya aku-" tak melanjutkan kalimatnya, Hanny menatap ke arah satu titik yang berada dalam daerah gelap. Titik yang bersinar di antara kegelapan.
"Ada apa?" menolehkan kepalanya untuk melihat apa yang Hanny lihat, Zaaryan kembali melontarkan pertanyaan.
Belum sempat dirinya bereaksi, Hanny sudah berlari ke arah benda bercahaya tersebut.
"I-ini kan.. Batu Elemental untuk tahap keempat!" sembari mengangkat kotak kaca berukuran sejengkal tangan orang dewasa, mata Hanny berbinar. Karena itu kotak kaca, jadi dapat langsung terlihat apa yang ada di dalamnya.
"Kau benar. Kita sudah menemukannya." setelah berlari mengejarnya, Zaaryan menundukkan badannya untuk melihat lebih dekat kotak tersebut. Dirinya juga cukup terengah-engah tak mampu menyaingi kecepatan larinya Hanny.
__ADS_1
...----------------...
BRUK!
Araya kembali jatuh tersungkur untuk yang kesekian kalinya. Kekuatan fisiknya semakin melemah akibat racun yang telah mengalir di pembuluh darahnya.
Di tempat itu, malam telah tiba. Sudah saatnya matahari untuk menyinari daerah yang berada di bagian bumi lain di barat. Tempat ini lumayan gelap, hanya diterangi oleh cahaya ribuan bintang-bintang yang ada di langit malam. Bahkan di tempat itu, mereka juga bisa melihat galaksi.
Tetapi, hal itu tak akan sempat mereka lakukan. Mereka masih belum selesai menyelesaikan urusan mereka.
"Shiroi, hal apa.. yang tidak disukai ular?" tanya Araya pada sistemnya. Napasnya sudah tersendat-sendat akibat dirinya telah cukup lama menghadapi Dae-Vin yang telah dihipnotis.
"Ular tidak suka bau yang wangi." jawab Shiroi tanpa membuang-buang waktu. Seketika muncul sebuah ide dalam benak Araya.
"Shiroi, bisa kau hasilkan bau wangi menyengat dari armor ini?"
"Tentu."
"Lakukan sekarang!"
"Okey!"
Lima detik berikutnya, armor Araya telah berhasil mengeluarkan aroma wangi yang menyengat. Saking wanginya, mungkin seperti habis disiram dua liter parfum.
Dae-Vin menghentikan langkahnya, dia yang hendak kembali menyerang Araya langsung mengurungkan niatnya setelah mencium bau wangi tersebut.
BRUK!
Sejurus kemudian, Araya berhasil mengunci pergerakan Dae-Vin. Dia duduk tepat di atas tubuh Dae-Vin yang telah ambruk.
Dae-Vin bergerak meronta-ronta untuk bisa membebaskan diri. Namun, Araya masih memegangi kedua tangannya.
"Apa yang terjadi denganmu? Kau bukan Dae-Vin! Kembalikan Dae-Vin!" mencoba menguatkan cengkramannya, Araya berucap. Dia tau kalau Dae-Vin sedang dikuasai oleh sesuatu akibat dihipnotis Darkness Swordman tadi.
"HRAAA!"
Serangan telah berbalik. Kini, malah pergerakan Araya yang telah terkunci dan tak bisa bergerak.
Tubuhnya telentang, Dae-Vin berdiri dan menginjak bahunya. Tunggu, dia tidak apa-apa ketika di sekitar sana telah menguar aroma yang begitu menyengat?
"Lihat, itu Araya kan? Apa yang Dae-Vin lakukan? HEY! KALIAN!" teriak Hanny dari kejauhan. Setelah itu, dirinya berlari ke arah kedua orang itu. Begitupun dengan Zaaryan, dia tetap mencoba mengejarnya meskipun beberapa kali dia ditinggal.
Dae-Vin menolehkan kepalanya ke belakang, kemudian mendesis layaknya ular.
__ADS_1
"Teman-teman, tolong aku.." ucap Araya lemah. Membuat mereka berdua tak bisa mendengarnya dengan jelas. Tapi, satu yang mereka dengar dengan pasti, 'tolong'.
"Hanny, kau lindungi Araya. Aku yang akan menghentikan Dae-Vin!" dengan cepat, Zaaryan membagi tugas. Hanny segera mengangguk.
Setelah itu, dia langsung menghampiri Araya yang tubuhnya telah lemas akibat terkena racun ular.
Sedangkan Zaaryan, dia berdiri berhadapan dengan Dae-Vin.
"Apakah dia juga dikuasai oleh Darkness Swordman? Jika iya, apa yang harus aku lakukan? Sifatnya juga tidak seperti Hanny tadi." batin Zaaryan sambil menatap lurus ke arah Dae-Vin.
"Aktifkan armor tahap kedua!" guna dapat mengimbangi kekuatan, Zaaryan tentu mengaktifkan armornya.
"Zaaryan, hati-hati.. Gigitannya beracun.." ucap Araya melalui alat komunikasi.
"Araya, jangan-jangan kamu terkena racunnya?" balas Zaaryan khawatir. Dia jadi sedikit lengah, dan tidak menyadari kalau Dae-Vin telah berada di belakangnya untuk melakukan serangan.
"Jangan khawatirkan aku. Kamu berhati-hatilah."
Komunikasi telah berakhir. Di akhir kalimatnya, suara Araya semakin melemah. Mungkinkah dia akan kehilangan nyawa keduanya?
"DAE-VIN! KETERLALUAN KAMU! BERANINYA MELUKAI TEMAN SENDIRI! KENDALIKAN DIRIMU!" meskipun suaranya tercekat akibat dia dicekik dari belakang, Zaaryan mencoba berteriak sampai lehernya semakin sakit.
"Ssshhhhh... Siapa temanku? Ssshh.." begitulah jawab Dae-Vin. Suaranya berbeda, dia berbicara disela-sela desisan.
BRUAKH!
Dengan mudah, Dae-Vin membanting tubuh Zaaryan dalam sekali gerakan. Bahkan dapat dia rasakan, kalau beberapa tulang dia tangan kanannya bergeser.
Tak hanya itu, Dae-Vin tak tanggung-tanggung. Dia langsung menyerangnya dengan menggunakan kekuatan element-nya untuk menjauhkan Zaaryan.
"JANGAN DEKATI MEREKA!" dari kejauhan, Zaaryan kembali berteriak setelah melihat Dae-Vin yang mulai berjalan mendekati kedua gadis itu.
Tapi, Dae-Vin sama sekali tak menggubrisnya. Dia masih melanjutkan. Tak lama, dia telah berjarak sekitar sepuluh meter dari Araya dan Hanny. Kemampuan berlari Zaaryan yang tidak cukup cepat, membuatnya tak punya banyak waktu untuk kembali menghalangi Dae-Vin. Akibat dari itu pula, dia mendapatkan sebuah ide.
"Dae-Vin, aku tau kamu menyukainya. Tapi, kamu tidak boleh melakukan ini. Kamu sudah berbuat keterlaluan. Jika kau benar-benar anggota Elemental, kenapa.. Kenapa kamu bukannya saling melindungi, kamu malah menyakitinya?"
Meskipun beberapa kalimat itu berhasil dia dengar melalui alat komunikasi, Dae-Vin belum menghentikan langkahnya.
"Dia tak mendengarkan aku? Baiklah, kalau begitu. Aku tidak akan menahan diri meskipun kamu rekan satu timku." Zaaryan mengepalkan tangannya, mulai berkonsentrasi untuk melakukan serangan balik dengan kekuatan element-nya.
**To be continued..
...----------------...
__ADS_1
Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai sejauh ini. Bagaimana menurut kalian? Apakah Dae-Vin benar-benar akan jadi bagian dari Darkness Swordman? Akankah usaha Zaaryan dalam mengembalikan temannya yang terkena hipnotis Darkness Swordman kembali berhasil?
Jangan lupa like dan komentarnya ya! Sekian**.