
[Elements Transformation Arc - #3]
...----------------...
"Benarkah? Coba ku lihat," ucap Profesor F sembari berjalan ke arah meja makan mereka.
"Biar ku lihat, Araya." lanjutnya setelah berdiri tepat di samping Araya. Araya pun langsung menunjukkan alat transformasi miliknya. Dari luarnya, tidak ada yang aneh.
"Ini hanya eror settingannya saja, nanti ku perbaiki lagi. Sekarang, kalian makan dulu." Profesor F memberikan kesimpulan sembari tersenyum tipis. Setelah itu, mereka pun melanjutkan kegiatan maka siang yang tertunda.
Hanny dan Zaaryan sudah kembali berurusan dengan menu makan siang mereka, namun tidak dengan Araya.
"Araya, makan." ucap Zaaryan sembari menggeser piring makan Araya supaya berada tepat di depan Araya.
"Aku.. Aku belum lapar.."
Kruwuuuk!
Araya memang beralasan, tapi perutnya tidak dapat berbohong. Suasana di meja tempat mereka menjadi sunyi. Araya melirik sekeliling untuk mencari alasan lain.
"Ehm.. Di mana Dae-Vin? Dia tidak ikut makan siang?" tanya Araya dengan topik yang sudah berbeda lagi. Yang dia katakan memang ada benarnya, di ruangan kantin ini hanya ada mereka bertiga dan juga senior dan profesor mereka.
Hanny dan Zaaryan mengangkat bahu tanda tak mengerti.
"Araya, kalau kamu tidak bisa makan sendiri pakai sendok, biar aku membantumu." ucap Hanny bersedia membantu Araya, meskipun dia tidak minta bantuan.
"Benarkah? Sungguh? Tapi bukankah kau juga lapar?" tanya Araya untuk memastikan terlebih dahulu.
"Hahaha masalah itu, perutku bisa menunggu. Aku akan menyuapimu, adik kecilku.."
...----------------...
"Jadi, bagaimana profesor? Bisa diperbaiki kan?" tanya Araya sembari memiringkan kepalanya ketika melihat alat transformasi miliknya yang sedang diutak-atik oleh profesor F.
"Tentu saja, ini sangat mudah. Kau tunggu sebentar, dan jangan pergi!" tanpa melihat Araya, profesor berucap. Araya memang masih stay di sana dan tidak berniat untuk pergi ke mana-mana sebelum benda miliknya selesai diprogram ulang.
"Aku.. Aku tidak akan pergi kok, prof. Memangnya kenapa?"
__ADS_1
"Oh, baguslah. Sekalian kau belajar supaya bisa memperbaikinya sendiri." jawabnya.
Araya duduk dalam diam, sembari mengamati hal yang dikerjakan oleh profesor. Jujur saja, Araya tidak terlalu mengerti. Aslinya, caranya hampir sama seperti cara memprogram jam digital pada umumnya.
Tidak butuh waktu lama, profesor akhirnya telah selesai. Dia mengembalikan jam tersebut pada Araya.
"Jadi seperti baru.. Terima kasih banyak, profesor.." ucap Araya berterima kasih, kemudian segera memakainya kembali pada tangan kanannya, toh tangan kirinya masih terbalut diperban.
"Sama-sama, kalau ada apa-apa jangan ragu untuk bilang pada kami." balas profesor sembari tersenyum dan memasukkan telapak tangannya ke dalam saku jas labolatorium yang biasa dia kenakan.
"Ehm baiklah profesor, aku pergi dulu."
"Okey Araya,"
...----------------...
"Sudah selesai kah, Araya?" baru saja Araya ke luar dari ruangan, pertanyaan Hanny berhasil mengejutkan dirinya. Araya sedikit tersentak ke belakang.
"Eh? Iya sudah kok. Kenapa kau ada di sini?" jawab Araya sekaligus kembali bertanya. Hanny tersenyum tipis, kemudian merangkul bahunya.
"Syukurlah kau sudah kembali jadi manusia! Kalau masih jadi Half Cat kan, bisa-bisa kau nanti mencakarku." ucap Hanny mengutarakan keresahan yang dia rasakan sejak satu jam terakhir ini. Baru satu jam kan? Mereka mulai berjalan melewati lorong itu, menuju ke ruangan mereka.
"Terima kasih untuk yang tadi, Hanny. Akhirnya aku merasakan rasanya disuapi setelah sepuluh tahun terakhir ini." ucap Araya dengan topik lain.
"Tidak masalah, mungkin jika kau sudah dewasa, kau akan lebih sering merasakannya." masih sambil merangkul bahu Araya, Hanny mengira-ngira. Beberapa waktu sebelumnya, dia sempat mengira kalau masa depan Araya adalah rekan satu tim mereka sendiri.
"Hah? A-apa.. Apa maksudmu, Hanny?" tanya Araya pura-pura tidak tau, padahal wajahnya sudah bersemu merah.
"Eh, siapa itu?" tanya Hanny sambil menyipitkan matanya dan memandang ke ujung lorong itu.
"Ada apa?" Araya mengernyit sembari bertanya. Dia tidak sempat melihat apa yang Hanny lihat tadi. Siluet seseorang yang bergerak cepat, dan kemudian menghilang.
"Ayo ikuti!" ajaknya, Hanny langsung melepas rangkulannya, dan kemudian berlari mencari siluet orang itu. Tanpa pikir panjang, Araya pun ikut.
Tap! Tap! Tap! Tap! Tap!
Langkah kaki mereka menimbulkan bunyi yang bergema. Lorong itu cukup luas dan juga panjang, Hanny dan Araya masih belum berhenti untuk mengejar siluet yang tidak jelas asal-usulnya.
__ADS_1
Hingga setelah sekitar seratus meter berlari untuk mengejarnya, kini mereka berdua tiba di ujung lorong tersebut. Bukan buntu, namun sengaja ditutup dengan pintu.
Pintu itu terbuat dari logam aluminium. Di bagian atasnya, terdapat kaca gelap sehingga cukup sulit untuk melihat apa yang ada di dalamnya.
"Araya, sepertinya di dalam ada banyak orang." bisik Hanny setelah mendengarkan suara dari dalam ruangan tersebut dengan seksama. Araya mengangguk pelan, setuju dengan apa yang Hanny katakan.
Di dalam memanglah bukan suara manusia, suaranya seperti berasal dari mesin. Baik mesin potong besi, mesin las, mesin penghancur, mesin penghalus logam, dan lain sebagainya.
"Hanny, apa yang akan kau lakukan?" bisik Araya bertanya setelah melihat Hanny yang menekan kenop pintu.
Tapi, Hanny tidak mendengarkan dan tidak menggubris. Dan yang membuat mereka terkejut, belum juga pintunya didorong, pintu tersebut malah sudah terbuka dengan sendirinya. Atau mungkin, ada seseorang yang menariknya dari belakang?
"Eh?!" Hanny dan Araya tentu baru tau, kalau ternyata di markas ini tidak hanya ada sembilan anggota saja. Namun di ruangan itu, ada puluhan orang sedang sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
"Nona Hanny, Nona Araya.." ucap perempuan berusia sekitar sembilan belas tahun itu sembari menundukkan badannya memberi hormat.
Sontak, semua orang yang mengetahui juga langsung melakukan hal yang sama. Araya dan Hanny tentu belum mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa mereka begitu dihormati?
"M-maaf. Tolong anda semua berdiri dengan normal." ucap Araya supaya semuanya berdiri seperti biasanya, tidak perlu sehormat itu.
Setelah Araya menyelesaikan ucapannya, mereka pun melakukan apa yang dia minta, yakni berdiri seperti biasa. Tapi, orang-orang berseragam itu menatap Araya dan Hanny dengan tatapan takjub.
"Araya? Hanny? Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya seseorang dari arah belakang mereka.
"Profesor R?" tanya mereka berdua kompak. Profesor tersenyum tipis.
"Kalian belum tau, ya? Di sini adalah ruangan khusus para anggota pasif." ucapnya memberi pernyataan. Araya semakin penasaran.
"Anggota pasif?"
"Ya, anggota yang bertugas secara tidak langsung. Tugas mereka adalah menyiapkan segala peralatan yang mungkin dibutuhkan dan memperbaharuinya jika ada yang rusak. Singkatnya, mereka yang bertanggung jawab dalam bidang peralatan." jelas profesor R. Araya dan Hanny mengangguk mengerti.
Araya kembali memandang ke dalam ruangan itu. Luasnya mungkin seluas lapangan sepak bola. Di situ, terdapat banyak sekali mesin. Salah satu yang mencuti perhatian adalah, kerangka pesawat tempur.
To be continued..
...----------------...
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca kisah petualangan Araya dan kawan-kawan. Maaf lama update, author memang nggak bisa konsisten. Rasa malas selalu menyerangku.
Jangan lupa like, komen dan favorit ya!