Elemental Gen-Z

Elemental Gen-Z
Chapter 21


__ADS_3

[Inauguration Exam Arc - #2]


...----------------...


"Kalian diizinkan untuk berangkat,"


Kapten telah mengizinkan mereka. Mereka berempat pun memasuki portal itu. Hanya seperti melewati sebuah pintu, cuma dengan melangkahkan kaki satu langkah, saja sudah langsung sampai di tempat tujuan. Dengan cara seperti ini, mereka bisa menghemat waktu dan juga energi.


Sesaat setelah melewati portal, suasana langsung berubah. Yang tadinya terlihat terang dan modern, kini sedikit gelap dan lebat dengan pohon-pohon berbatang besar dan berdaun lebat. Apalagi sekarang masih pagi hari, udaranya masih sedikit dingin, tapi sangat segar. Oleh sebab itu, mereka disarankan untuk memakai jaket dan training panjang supaya tidak terlalu dingin dan supaya tidak digigit serangga.


"Waah, jadi ini hutannya? Luas sekali.." kata Hanny setelah dirinya melewati portal. Dia melihat sekeliling, hanya ada pohon-pohon yang sedang menghasilkan oksigen. Di sana, juga terdengar suara jangkrik yang saling bersahut-sahutan.


"Iya, luas sekali. Apakah sekarang kita berada di tengah hutan?" balas Zaaryan. Hutan itu memang terletak di sebuah pulau terpencil, dengan luas sekitar empat puluh kilometer persegi, atau bisa juga empat puluh ribu meter persegi, jika di turunkan satuannya menjadi meter.


"Jadi kita akan mulai dari mana?" Araya bertanya. Melihat luasnya hutan itu, sepertinya mereka harus berpencar, atau mereka akan kehabisan waktu dan tidak bisa lulus nantinya.


"Mungkin kita harus berpencar untuk menghemat waktu. Araya kau tidak boleh sendiri-" ucapan Dae-Vin terpotong, sebab Hanny sudah lebih dulu menyahut.


"Aku akan bersama Araya." kata Hanny mengajukan diri. Aslinya, Dae-Vin yang ingin bersama Araya, tapi malah keduluan. Pada akhirnya, dia mengalah, dia tidak ingin perasaannya pada Araya sampai terbongkar.


"Baiklah, aku dan Zaaryan tidak akan bersama. Kau berani sendiri kan?" tanya Dae-Vin pada Zaaryan yang sedari tadi memperhatikan sekeliling.


"Eh? Iya, tentu saja aku berani." balas Zaaryan.


"Ayo mulai berpencar." kata Dae-Vin sambil mulai berjalan ke arah depan. Setelah itu, Zaaryan berjalan ke arah kanan, dan Araya serta Hanny berjalan ke arah kiri.


...----------------...


Di tengah hutan, Araya berjalan beriringan dengan Hanny di sebelahnya. Mereka tidak membuka pembicaraan, perjalanan saat itu menjadi perjalanan yang sunyi. Hanya ada suara sepatu yang bergesekan dengan tanah, serta suara jangkrik yang terdengar jelas dan seperti bersahut-sahutan.


Mereka telah berjalan selama kurang lebih lima belas menit, mungkin mereka sudah menempuh perjalanan sejauh satu kilometer lebih.


"Emm, Hanny.." kata Araya, dia ingin membuka topik pembicaraan supaya tidak terlalu sunyi.


"Iya, kenapa?" balasnya sambil menoleh ke arah Araya.


"Kenapa sedari tadi kau tidak bicara denganku?" tanya Araya, jika dia tidak memanggil Hanny, mungkin Hanny masih belum berbicara dengan nya.

__ADS_1


"Memangnya kau mau membicarakan apa? Ah iya, kemarin apa yang terjadi dengan kalian? Dae-Vin meminta nomor ponsel pribadimu lho." kata Hanny. Dia menemukan suatu topik pembicaraan yang sepertinya akan menarik.


"Benarkah? Untuk apa dia meminta nomor ponselku?" Araya balik bertanya, sebelumnya Dae-Vin kan belum sempat mengirim pesan, jadi dia jelas belum tau maksudnya.


"Kenapa kau malah bertanya padaku? Bukankah dia mengirimimu pesan?"


"Tidak tuh, dia tidak mengirimkan apa-apa."


"Aneh sekali, mungkin dia hanya ingin menyimpan nomor kontakmu. Dan ada apa kemarin itu? Kenapa kalian dipanggil?"


"Hmm itu.. Kami terkena sedikit masalah." kata Araya sambil memelankan suaranya dan menundukkan kepalanya.


"Terkena masalah? Aku kira kalian akan langsung di resmikan organisasi. Memangnya masalah apa?" tanya Hanny lagi. Dia memang selalu ingin tau. Tapi, masalah ini sebaiknya tidak diprivasi, supaya anggota lain menjadi tau dan tidak meniru kesalahan mereka.


"Masalah.. Mereka menduga kalau kami terlibat romantisme."


"Apa?!" kata Hanny dengan suara yang sedikit kencang. Dia menghentikan langkahnya, dan memegang kedua bahu Araya. Araya hanya memasang ekspresi bingung.


"Bagaimana bisa? Memang sebelumnya apa yang kalian lakukan?" tanya Hanny lagi. Araya bingung harus mulai menjelaskan dari bagian mana.


Setelah itu, mereka kembali berjalan. Hanny menatapnya sambil memasang ekspresi penasaran.


"Kau benar-benar ingin tau?" tanya Araya lagi. Kan akan percuma kalau dia sudah menceritakan semuanya dengan panjang lebar, tapi teman nya tidak mendengarkan. Hanny mengangguk setuju.


"Jadi begini.."


...----------------...


Araya pun menceritakan kejadian kemarin. Hanny memasang pendengarannya dengan sangat baik. Setelah Araya selesai bercerita, Hanny memberikan nya sebuah tatapan, seakan mengatakan, 'Jangan terlalu di pikiran.'


"Hah, kejadian itu sangat tidak mengenakkan ya." ucap Hanny sambil menghela nafasnya setelah mendengarkan cerita Araya sampai selesai tanpa menyela sedikitpun.


"Eh iya, apa kau punya perasaan untuk Dae-Vin?" tanya Hanny lagi sambil menyikut singkat lengan Araya.


"Hmm tidak, biasa saja." jawab Araya setengah bergumam. Dia memang tidak, mungkin lebih tepatnya belum, belum merasakan sesuatu saat di dekat Kim Dae-Vin.


"Sungguh biasa saja? Hmm.." tanya Hanny lagi, kemudian menatap Araya dengan tatapan menyelidik. Langkah mereka berhenti.

__ADS_1


"Kenapa?" Araya bertanya sambil sedikit memiringkan kepalanya setelah di beri tatapan seperti itu. Tentu saja dia merasa tidak nyaman ditatap seperti itu.


"Kau benar-benar tidak merasakan apapun? Padahal dari jauh saja aku tau kalau Dae-Vin itu punya suatu perasaan untukmu." kata Hanny lagi. Araya hanya tersenyum tipis.


"Aku masih terlalu kecil untuk memahami hal itu." kata Araya. Dia memang belum terlalu mengerti tentang perasaan itu. Sejauh ini, baru sekali saja pernah ada satu laki-laki yang mengisi hari Araya, tapi bukan Dae-Vin. Melainkan kakak kelasnya dulu, sekarang sudah seumuran dengan Dae-Vin dan Zaaryan.


"Oh iya, kalau kau tau, kemarin itu Dae-Vin yang menggendongmu ketika kau berteleportasi secara tiba-tiba." ucap Hanny, Araya langsung mengubah ekspresi nya.


"Mmm, ayo lanjut jalan saja." kata Araya mencoba mengalihkan topik. Mulai melangkahkan kakinya, sambil memalingkan wajahnya supaya Hanny tidak melihat wajahnya yang merona. Jadi, apakah Araya berbohong?


...----------------...


Di bagian hutan yang lain, ada seorang laki-laki berjaket hitam sedang berjalan sendirian. Dia mencoba memasang penglihatan dan pendengarannya dengan sangat baik, untuk mendeteksi apakah ada orang lain atau tidak. Sejauh ini, dia belum menemukan siapa-siapa.


"Bosan sekali.. Kalau dia ada di sini, mungkin tidak." ucapnya dalam hati. Untuk saat ini, dia sangat menginginkan ada seseorang yang menemani nya. Seorang gadis kecil yang imut dan polos, Araya.


Dae-Vin menghentikan langkahnya, setelah melihat pemandangan padang rumput yang ada di depannya.


"Kenapa Kapten tidak memberi tau kalau di sini ada padang rumput?" tanyanya dalam hati. Padang rumput itu lumayan luas dengan beberapa batang pohon yang tersebar di sana.



(Sumber: Pinterest)


Dae-Vin terduduk di sana. Dia sudah cukup lelah, sudah tiga puluh menit dia berjalan tanpa istirahat.


"Kalau di pikir-pikir, di sini indah sekali. Apalagi kalau ada dia, pasti tambah indah." pikirnya sambil membayangkan dirinya bermain di bawah pelangi bersama dengan seseorang yang dia cintai. Apa yang dia pikirkan? Tidak biasanya.


To be continued..


...----------------...


Author note :


Terima kasih sudah membaca cerita ini. Selamat datang di arc yang kedua! Arc tentang petualangan saat ujian peresmian. Maaf chapter kali ini ngga terlalu banyak biar bisa update lagi besok.


Jangan lupa like, komen dan favorit ya. Sampai jumpa di chapter berikutnya!

__ADS_1


__ADS_2