Elemental Gen-Z

Elemental Gen-Z
Chapter 2


__ADS_3

[Opening Arc - #2]


...----------------...


Araya pun memutuskan untuk pulang saja. Dalam perjalanan, dia sambil memikirkan tentang keputusannya nanti, apakah akan menerima atau menolak.


Sesampainya di rumah, terlihat pintu depan rumahnya yang terbuka. Apakah ada tamu? Jadi, Araya memutuskan untuk masuk lewat pintu samping yang akan langsung sampai di dapur.


Ketika sampai, suasana di sana sedang sunyi, mungkin ibunya sedang di ruang tamu bersama tamu yang sedang berkunjung tersebut.


"Hah ... haus," batin Araya setelah merasakan kerongkongannya yang kering akibat kurang minum. Dia pun mengambil minuman isotonik dari dalam lemari es.


Ketika dia hendak membuka botolnya, tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya dari belakangnya.


"Araya," panggil ibunya pelan, tapi masih dapat didengarnya.


"Ada apa ibu?" tanya Araya setelah tidak jadi menyeruput air isotonik tersebut, ia juga menjauhkan mulut botol dari mulutnya yang tadi sudah bersiap untuk minum.


"Ada yang mencarimu. Dan, bagaimana dengan keputusanmu?" Ibunya bertanya lagi.


"Aku belum memutuskannya Bu," jawab Araya to the point. Dan kemudian, dia melanjutkan kegiatannya yang tertunda.


"Ooh, baiklah," Ibunya menghela napas pelan sebelum akhirnya kembali ke ruang tamu.


Glek! Glek! Glek!


"Ahh, segarnya ...." ucap Araya setelah air isotonik dingin tersebut membasahi kerongkongannya yang sebelumnya kering.


"Tadi Ibu bilang, ada yang mencariku? Siapa ya?" gumamnya pelan setelah menutup rapat botol air isotonik tadi, kemudian memasukkannya kembali ke dalam kulkas. Akhirnya, dia memutuskan untuk menemui ibunya di ruang tamu.


Setelah sampai di ruangan tersebut, di sana ada dua orang, yaitu ibunya dan seseorang yang tadi tak sengaja bertemu dengannya. Orang itu adalah Hanny.


"Hanny?" tanya Araya setelah melihat Hanny yang sedang duduk berhadapan dengan ibunya. Sekilas ia mendengar pembicaraan santai mereka sebelum Araya sampai di ruangan itu.


"Eh? Ternyata kamu yang aku cari-cari," kata Hanny sambil menunjukkan senyuman ramah, Araya sama sekali tidak mengerti maksud dari pernyataannya.


"Kenapa mencari aku?" tanya Araya sambil duduk di sebelah ibunya. Cukup membingungkan baginya, toh mereka baru kenal beberapa menit yang lalu, dan sekarang Hanny sudah mencarinya?


"Bukankah kau sudah menerima suratnya kan?" tanya Hanny lagi. Araya memasang wajah bingung sambil mengernyit.


"Surat apa?" Araya yang balik bertanya.


"Surat panggilan dari organisasi Elemental Asia." Ibunya menjawab. Araya mengangguk setelah mengerti maksudnya.


"Ooh, jadi kau juga menerima surat itu?" tanya Araya pada Hanny. Hanny mengangguk.


"Iya, aku yang diminta untuk menjemputmu," jawab Hanny dan kemudian dia melanjutkan, "oh iya, namamu Araya kan?"


"Iya, dari mana kau tau namaku?" Araya bertanya lagi. Perlahan-lahan, dirinya mulai akrab dengan perempuan bernama Hanny itu.


"Aku yang diminta menjemputmu, jadi aku juga harus tahu namamu."


Setelah Araya dan Hanny berbincang sebentar, keadaan menjadi sunyi. Araya masih mencoba untuk memikirkan keputusannya yang belum mendapatkan jalan keluar.


"Jadi, bagaimana Araya?" tanya Ibu pada Araya untuk membuka pembicaraan.


"Hmm ... kalau aku setuju, nanti siapa yang akan menemani Ibu di rumah?" sebelum benar-benar memutuskan, Araya mempertimbangkan terlebih dahulu.


"Aku," ucap seseorang dari sebelah kanan ibunya, bukan Araya pastinya.

__ADS_1


"Eh? Kak Allucia? Kapan Kakak pulang?" tanya Araya setelah menyadari kalau di sana juga ada kakaknya.


"Aku di sini sejak tadi," jawab Allucia sambil melipat lengannya. Keberadaannya sedari tadi tidak disadari oleh Araya.


"Hmm ... Hanny, boleh aku bertanya?" tanya Araya pada Hanny sebelum mengajukan pertanyaan aslinya.


"Tentu. Apa yang ingin kau tanyakan?"


"Ada berapa anggota di angkatan kita?" pertanyaan asli Araya. Hanny tidak merubah ekspresi wajahnya sama sekali.


"Sekarang masih tiga, tapi, kalau kamu mau bergabung, akan menjadi empat anggota." jawab Hanny santai. Araya tampak kembali berpikir.


"Jadi, bagaimana Araya?" kini giliran Hanny yang bertanya pada Araya.


"Baiklah aku mau, tapi Ibu ...." Araya menggantungkan kalimatnya sambil mengalihkan pandangannya pada Ibunya.


"Ibu akan baik-baik saja." ucap Ibu guna meyakinkan Araya.


"Iya, aku yang akan menemani Ibu selama kau pergi." ujar Allucia ikut meyakinkan.


"Baiklah." ucap Araya dengan yakin dan senyuman terukir di wajahnya. Hanny mengangguk ketika Araya menatapnya kembali.


"Kalau begitu ... ayo." ajak Hanny sambil sedikit mengedikkan dagunya ke arah pintu.


"Sebentar, aku akan bersiap-" ucapan Araya terpotong saat dia hendak berdiri.


"Tidak perlu, kau tidak perlu menyiapkan apapun. Semua keperluan kita sudah di sediakan," jelas Hanny yang membuat Araya membatalkan niatnya untuk berdiri.


"Baiklah kalau begitu,"


Araya menatap ibu dan kakaknya secara bergantian.


"Iya, berlatihlah dengan sungguh-sungguh, dan jangan membuat masalah, ya." Ibunya memberi nasihat. Araya mengangguk dengan pasti ditambah dengan senyuman.


"Kak, tolong jaga ibu dengan baik. Jangan nakal, dan sekolah dengan benar." ucap Araya pada kakaknya.


"Iya-iya. Sebenarnya yang kakak itu aku atau kamu?" tanya Allucia sambil menatap Araya dengan ekspresi kesal layaknya anak kecil.


"Hehe ... Kak Allucia." jawab Araya sambil menunjuk Allucia sambil tertawa kecil.


...----------------...


Saat ini, Araya sedang berjalan bersama dengan Hanny untuk pergi ke markas organisasi. Mereka berjalan bersebelahan.


"Hanny, apakah tempatnya masih jauh?" tanya Araya sambil mengusap dahinya yang sedikit berkeringat.


"Masih jauh, tapi percayalah, kita akan sampai di sana dalam waktu sepuluh detik." kata Hanny. Araya menatapnya bingung.


"Hah? Apa maksudmu? Sepuluh detik? Yang benar saja," tanya Araya tidak mengerti. Hanny menghentikan langkah kakinya. Kini, mereka berada di tempat paling terpencil di kota tersebut, sehingga suasananya sangat sepi. Tidak ada orang di sana selain mereka berdua.


"Ayo, rangkul aku." kata Hanny sambil berdiri membelakangi Araya.


"Apa maksudmu?"


"Aku tidak akan menggendongmu. Tujuannya supaya kita sampai dengan lebih cepat saja." kata Hanny menjelaskan. Araya mengangguk paham. Kemudian dia melingkarkan tangannya di pundak Hanny—seperti memeluknya dari belakang.


"Tutup matamu. Kau boleh membuka matamu setelah mendengar aba-aba dariku." pinta Hanny pada Araya yang sudah berdiri di belakangnya.


"Eumm ... baiklah." balas Araya sebelum dia menutup matanya. Araya pun menutup matanya. Perasaannya aneh, berbeda dengan yang sebelumnya.

__ADS_1


"Baiklah, buka matamu, Araya." kata Hanny setelah mereka berdua sampai di suatu tempat. Araya pun membuka matanya. Setelah dia membuka matanya, dia berada di tengah-tengah pulau kecil yang letaknya di tengah laut.


"Kita, ada di mana?" tanya Araya sambil menatap sekeliling, benar-benar berbeda dari tempat sebelumnya.


"Markas," jawab Hanny singkat sambil sedikit merentangkan tangannya. Araya kembali bingung. Tidak ada satupun bangunan di pulau tersebut. Hanya hamparan pasir putih yang dia lihat sejauh mata memandang.


Hanny semakin berjalan ke tengah-tengah pulau itu, Araya mengikutinya di belakangnya. Hingga, mereka menemukan benda yang berbentuk balok, dengan warna yang menyerupai warna pasir di sana. Kemudian, Hanny menempelkan sebuah alat aneh yang terpasang di pergelangan tangan kirinya. Setelah itu, muncullah tangga yang menghubungkan dengan ruang rahasia di bawah tanah.


"Tangga ini, menuju markas?" Araya bertanya sambil menatap Hanny yang berdiri memandang ratusan anak tangga yang mengarah ke bawah.


"Iyap! Ayo." ucap Hanny bersemangat. Dia pun masuk dan melewati tangga tersebut lebih dahulu. Araya kembali berjalan di belakangnya.


Tap! Tap! Tap! Tap!


Ruangan itu gelap sepanjang lorong menuju ruang bawah tanah. Tidak ada setitikpun cahaya di lorong itu, hanya ada cahaya remang-remang dari alat aneh yang dipakai oleh Hanny tadi.


Hingga setelah berjalan sekitar lima puluh meter dari permukaan, cahaya mulai terlihat lagi. Cahaya itu berasal dari ruangan yang tidak terlalu luas, namun rapi dan modern. Di dalam ruangan itu, terdapat tujuh orang. Enam di antaranya adalah laki-laki dan yang satunya perempuan.


Ruangan itu dicat dengan warna silver, terdapat pendingin udara, beberapa meja kerja dan meja hologram di tengah-tengah ruangan yang berbentuk lingkaran.


"Selamat datang," ucap perempuan yang berusia sekitar dua puluh tahunan. Araya dan Hanny hanya tersenyum dan memberi hormat.


Semua orang menatap Araya sambil tersenyum, kecuali ... ada satu orang yang menatapnya datar. Seorang laki-laki berusia sekitar enam belas tahun, berparas tampan, namun terlihat dingin dan cuek—sekilas terlihat seperti orang Korea—warna matanya agak biru dan sedikit sipit.


Di ruangan itu ada dua orang laki-laki yang mengenakan jas labolatorium berwarna putih polos. Dan yang lainnya menggunakan baju biasa, termasuk Araya sendiri.


"Baiklah, semuanya sudah hadir kan? Silakan berkenalan," ucap salah satu orang yang mengenakan jas lab tadi. Semua orang di sana diam tak bersuara. Mungkin masih asing, terutama bagi Araya.


Suasana masih sunyi sampai beberapa detik. Hingga pada akhirnya ....


"Tidak ada yang berinisiatif untuk berkenalan duluan?" tanya seorang laki-laki berjas yang satunya. Tidak ada yang menjawab.


"Baiklah ... Zaaryan, kau duluan." lanjutnya. Kemudian seorang laki-laki berusia sekitar enam belas tahun, rambut dan matanya berwarna coklat gelap, serta wajahnya terlihat ceria.


"Ehem ... halo semuanya. Namaku Zaaryan, usiaku enam belas tahun, aku berasal dari negara Malaysia. Salam kenal semua ...." ucap laki-laki yang bernama Zaaryan itu, dia mengakhiri perkenalannya dengan melambaikan tangannya dan senyuman terukir di wajahnya.


"Dae-Vin, giliranmu," ucap laki-laki berjas yang sama seperti tadi.


"Namaku Kim Dae-Vin, usia enam belas tahun, dari negara Korea Selatan. Salam kenal," ucapnya to the poin dengan ekspresi yang masih datar.


Kemudian, sekarang giliran Hanny, sebab dia sudah mendapat kode dari laki-laki yang memakai jas juga.


"Namaku Hanny Aretha, usiaku lima belas tahun, dari negara Mongolia." ucap Hanny memperkenalkan dirinya.


"Giliranmu," bisik Hanny pada Araya.


"H ... hai semua, namaku Araya Putri, usiaku tiga belas tahun, dari negara Indonesia. Salam kenal ...." ucap Araya sedikit gugup. Dia memang sering gugup jika berbicara dengan orang yang belum dia kenal. Apalagi, di ruangan ini, dialah yang usianya paling kecil. Saat dia berbicara, semua pasangan mata memandangnya, membuatnya makin gugup.


To be continued..


...****************...


Author note :


Maaf kalo ceritanya nggak menarik, cerita ini cuma buat mengisi waktu liburan author aja.


Pada bagian ini juga belum ada konflik, belum apa-apa.


Kalo kalian suka, tolong di like. Komentar biar author termotivasi dan semangat buat update ceritanya ya. See you..

__ADS_1


__ADS_2