
[Final Arc - #10]
...----------------...
Lima belas menit berlalu tanpa adanya serangan dari kedua belah pihak. Mungkin bisa disebut sebagai waktu istirahat untuk memulihkan energi.
"Darkzero, beraninya kau ingin melawan mereka sendirian." celetuk seseorang dari arah belakang Araya. Tanpa menolehpun, dia sudah tahu siapa yang bicara.
"Hehe maaf, aku hanya ingin bersenang-senang." balas Darkzero pada sesama Darkness Swordman level satu yang barusan datang.
Sekarang ada dua Darkness Swordman level satu, apa yang harus dilakukan? Kalau begini terus, bisa-bisa kami masuk segel lagi. Axel berpikir keras. Dia bingung apa yang harus dilakukan untuk saat ini.
Sedangkan di posisi Henry dan Arga, kedua orang itu masih bersiaga di sana. Sambil mencari saat yang tepat untuk membantu junior mereka.
"Sekarang ada dua Darkness Swordman level satu? Ini tak boleh terjadi." Henry beranjak, tanpa pikir panjang ia hendak melangkahkan kakinya ke medan pertempuran. Namun, Arga segera menarik pergelangan tangannya dan menyuruhnya kembali duduk.
"Jangan gegabah. Kita masih belum tahu apa yang direncanakan oleh Darkness Swordman sialan itu." ucapnya penuh penekanan, berharap Henry mengerti dan bisa membantunya menganalisis serangan.
Pemuda itu menghela napasnya, kembali menunduk dan mengamati keadaan di depan dalam diam saat sistemnya menampilkan layar hologram.
Kembali ke posisi Araya. Masih belum ada serangan semenjak rekan Darkzero itu datang. Araya dan Axel saat ini berdiri di antara kedua Darkness Swordman itu.
"Hey, kau sudah membuang banyak waktu, kawan." kata rekan Darkzero hendak menyudahi pembicaraan.
"Ah iya juga. Baiklah, ayo kita bersenang-senang!"
Tanpa menunggu lama, rekan dari Darkzero itu segera mengeluarkan suatu jurus. Tak mau membuang-buang waktu, dia langsung menunjukkan jurus andalannya.
Muncul seperti petak-petak di tanah. Setiap garisnya menghasilkan warna ungu terang. Sebut saja bentuknya seperti bangun belah ketupat yang tersusun dari ratusan belah ketupat yang ukurannya lebih kecil. Kawasan yang terdapat bentuk-bentuk itu hanya yang ada di bawah Araya dan Axel saja.
__ADS_1
"Hey, kita harus menghindar!" Axel menoleh pada Araya. Untuk berjaga-jaga kalau suatu saat simbol belah ketupat itu dapat menimbulkan bahaya bagi mereka.
Araya bergeming. Ia sedikit menggerakkan kaki kanannya. Seketika garis-garis berwarna ungu serta susunan belah ketupat itu hilang tanpa bekas.
Hah? Bagaimana bisa? Dengan mudah ia menghapusnya saat aku merasa energiku terhisap, Axel membelalakkan matanya. Dengan mudahnya Araya menghapus petak-petak itu. Padahal, di setiap milimeter garisnya terdapat energi kegelapan kuat yang menyertainya.
Begitupun dengan si pembuatnya tadi. Ia cukup terkesan pada Araya yang 'jauh lebih kuat' dari anggota Elemental yang pernah ia temui.
"Hey gadis kecil, aku punya saran untukmu. Kau itu 'kan kuat, kenapa kau tak memanfaatkannya untuk kesenanganmu saja? Daripada untuk menolong orang lain, belum tentu mereka mengucapkan terima kasih." Darkness Swordman itu maju selangkah sambil berkacak pinggang. Ia menatap Araya yang hanya diam.
"Benar, sebagian besar manusia tak tahu rasa terima kasih. Padahal mengucapkan terima kasih itu tidak sulit. Kenapa berat sekali seakan-akan itu bisa menghancurkan harga diri mereka." sambung Darkzero. Ia juga berjalan maju selangkah untuk mengepung kedua manusia itu.
"Kalian salah. Terima kasih tidak selalu diucapkan secara langsung, bisa dengan cara apapun." akhirnya setelah sekian lama, Araya berusaha setelah beberapa lama ia tutup mulut.
"Eh? Bisa bicara rupanya. Kukira kau tunawicara." Darkzero menanggapi. Sebelumnya, ia sempat mendengar suara Araya saat dalam permainan 'ambil jiwa' yang berlangsung di dalam ilusinya.
"Lagipula, kami tak membutuhkan terima kasih. Melihat orang yang kami sayangi bisa tersenyum bahagia saja sudah membuat kami ikut bahagia. Dan asalkan kalian tahu, organisasi Elemental dibuat bukan untuk mendapat jutaan ucapan terima kasih dari setiap orang, melainkan untuk melindungi kebahagiaan mereka dan juga kami sendiri." jelas Araya. Entah bagaimana ia bisa bicara selancar itu. Dari mana ia mendapat argumen bagus itu?
"Argumen yang bagus." bisik Axel pada Araya. Sedangkan Araya sudah kembali seperti sebelumnya, diam dengan ekspresi datar.
Dipuji malah kembali memasang ekspresi datar bukannya senang, pikir Axel. Ia cukup penasaran kenapa Araya kembali memasang ekspresi seperti itu, padahal barusan ia berhasil mengungkapkan argumen yang lumayan bagus—menurutnya.
"Baiklah, cobalah lindungi kebahagiaan kalian!" Darkzero menghilang dalam sekejap mata, kemudian kembali muncul di detik berikutnya.
Dia juga membawa seseorang—tidak, dua orang yang dia bawa. Siapa yang dia bawa? Dia Arga dan Henry.
"Heh! Apa-apaan kau?!" kata Henry sembari berusaha memberontak, melepaskan diri dari Darkzero yang memegangi kedua tangannya hanya dengan tangan kiri.
Dia menggunakan sandera untuk membuat kami menyerah, pikir Axel. Ia memegang pundak Araya sembari bercak pelan, "Jangan ceroboh, ya. Kita harus lebih berhati-hati."
__ADS_1
"Hey, Nak! Jangan pikirkan aku! Habisi saja si Monster ini!" kata Arga pada Araya. Tapi, Araya masih bergeming. Setelah mendapat element Rigel, ia malah lebih banyak diam.
Tapi, aku belum mau mati, Pak! Dalam hati, Henry berucap. Berharap Araya masih mempunyai rasa untuk tidak langsung menghabisi Darkzero tanpa berpikir.
Araya menyodorkan salah satu pedangnya pada Axel, tanpa mengatakan apapun, gadis itu langsung berlalu begitu saja.
"Eh, tunggu! Kenapa—" belum sempat Axel menyelesaikan kata-katanya, Araya sudah menghilang dari pandangannya.
Ia tidak pergi, ia hanya berpindah tempat menggunakan teleportasi. Ia juga kembali memasang armor hitamnya. Secepat kilat Araya telah berada di belakang Darkzero. Ia handak menebasnya dari belakang supaya tidak mengenai orang yang dia sayangi itu.
"Kau pikir aku tidak tahu?" Darkzero menyeringai, lantas berbalik dengan cepat dan otomatis serangan Araya malah mengenai Henry.
"Uhuk!" Henry terbatuk. Serangan yang Araya gunakan tadi cukup berpengaruh, bahkan saat Henry masih dalam mode armornya.
Menyadari hal itu, Araya mundur beberapa langkah. Matanya melebar. Ia benar-benar tak menduga bahwa Darkzero akan berbalik hanya dalam waktu sepersekian detik. Padahal ia sudah berusaha secepat mungkin untuk bisa mengalihkan perhatiannya. Sedangkan pedangnya tergeletak jatuh begitu saja.
"Uhuk! Uhuk! J—jangan khawatirkan aku, Araya! Aku … aku baik-baik saja!" Henry bisa mengetahui lewat gerak-gerik Araya kalau dia sedikit takut mengenai mereka sewaktu menyerang. Meskipun Araya diam tak bersuara dan memasang wajah datar, dia tetap masih punya perasaan takut.
Berbeda dengan Araya, Axel berniat mencoba mode armor yang sudah enam tahun tak digunakan. Rasanya sedikit berbeda. Armor putihnya terlihat mencolok di lingkungan yang gelap itu.
"Wah, kuharap armor milikmu sudah kekecilan." celetuk Darkness Swordman setelah melihat wujud Axel dalam mode armor.
"Mana mungkin! Armor ini didesain untuk mengikuti ukuran tubuh penggunanya. Lagipula, masa pertumbuhanku terhambat karena segel di Darksialan itu!" balas Axel tak mau kalah.
"Oh ya? Ternyata perkembangan umat manusia sudah semakin maju. Tapi, sayang sekali, mereka mengikuti jalan yang salah karena tak mau bergabung dengan organisasi Darkness. Lihatlah aku, aku sukses setelah dua tahun bergabung."
"Memangnya aku peduli? Cih!" Axel berdecih, kemudian membenarkan posisi berdirinya. "Akan aku buktikan, kalau aku bisa lebih sukses daripada kau!" tanpa rasa takut, Axel menunjuk—menantang—Darkness Swordman level satu itu untuk adu kesuksesan.
Bukan untuk pamer, tujuannya adalah untuk membuktikan bahwa manusia tak selemah yang para Darkness Swordman kira.
__ADS_1
To be continued …
Terima kasih sudah baca, ya! Jangan lupa like, komen, favorit kalau kalian suka (≧▽≦)