
[Elements Transformation Arc - #1]
...----------------...
"Iya, ini tinggal 30 persen. Untung saja aku belum mendapatkan elemen tahap kedua." Jawab Hanny.
"Oh iya, baru kalian berdua yang dapat tahap kedua. Bagiamana?" Lanjut Hanny.
"Biasa saja." Balas Dae-Vin dengan datar. Baginya memang biasa saja, tapi aslinya luar biasa. Mendapatkan kekuatan yang lebih kuat, dan kemampuan yang dapat melebihi batas kemampuan sebelumnya. Dan juga akan mendapatkan armor yang tahan terhadap serangan.
"Emm teman-teman, aku pergi dulu ya." Ucap Araya, kemudian dia langsung pergi dari tempat itu. Belum sempat teman-temannya menjawab, dia sudah pergi duluan. Dia berjalan cepat ke ruangan utama. Sesampainya di sana, dia menemui profesor.
"Permisi, profesor." Ucap Araya ketika memasuki ruangan. Di sana, hanya ada Profesor R seorang.
"Ada apa Araya?" Tanyanya.
"Profesor, apakah alat pengendali elemen-ku sudah selesai diperbaiki?" Dengan sedikit keraguan, Araya bertanya. Sedikit ragu, karena mungkin dia merusakkan benda itu dengan kerusakan yang cukup parah, sehingga sulit diperbaiki.
"Tentu saja. Ini barusan selesai." Ucap Profesor sambil menunjukkan alat pengendali elemen milik Araya sudah dengan tampilan yang berbeda, terdapat warna hijau tosca yang bergradasi dengan warna putih.
"Tunggu, Profesor. Kenapa warnanya jadi seperti itu?"
"Memang seperti ini setelah dimasukkan upgrade card." Balas Profesor sambil memberikan alat itu pada Araya.
"Aku.. sudah boleh menggunakannya kan, profesor?" Araya kembali bertanya. Profesor mengangguk.
"Tunggu, memangnya apa yang mau kau lakukan, Araya? Kau kan masih belum sembuh total."
"Aku akan kembali kesana."
"Kembali kesana? Bukankah di sana sudah ada Zaaryan?"
"Iya, tapi aku sedikit merasa khawatir. Jika dia baik-baik saja, maka aku tidak akan mengacau. Aku hanya akan melihat dari jauh." Balas Araya, dia memiliki firasat buruk sejak Zaaryan menghilang tadi.
"Ooh, baiklah. Hati-hati." Ujar Profesor R sambil menepuk pelan pundak kanan Araya. Araya mengangguk, kemudian segera menghilang dari sana.
"Araya, kamu selalu mengingatkanku pada seseorang. Sifatmu begitu mirip dengannya. Apa kabarmu, kawan? Aku merindukanmu."
...----------------...
Saat ini, Araya baru sampai ke tempat yang tadi. Posisinya tidak terlalu jauh dari posisi Zaaryan bersama Darkness Swordman. Araya bersembunyi di balik suatu bangunan. Mengintai mereka berdua dari kejauhan.
"HAHAHAHA! Kau tak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang! Di sini hanya ada kau seorang diri!" Araya mendengar suara Darkness Swordman yang tertawa dengan begitu mengerikan. Araya kembali melihatnya dari kejauhan. Zaaryan sudah terpojok. Bagaimana bisa?
Tiba-tiba, Darkness Swordman menoleh ke arahnya. Sontak, Araya langsung kembali bersembunyi supaya tak terlihat olehnya.
"Araya? Apa yang dia lakukan di sini?" Kata Zaaryan dalam hati. Tapi, sesuatu yang tak dia inginkan pun terjadi, Darkness Swordman berjalan ke arah Araya.
__ADS_1
"Araya, apa yang kau lakukan di sini? Darkness Swordman berjalan ke arahmu!" Ucap Zaaryan dengan menggunakan alat komunikasi yang sudah terdapat pada armor pelindung kepala. Selain itu, menggunakan alat pengendali elemen juga bisa, fungsinya jadi seperti walkie-talkie.
"Aku.. aku hanya ingin melihat keadaanmu saja. Tunggu, apa? Darkness Swordman ke arahku?" Suara Araya terdengar melalui alat komunikasi mereka. Saat Araya hendak kembali mengintai, tiba-tiba ada tangan yang menariknya ke belakang, dan membekap mulutnya.
Mereka berdua pun seketika menghilang dari tempat tersebut.
...----------------...
"Aaaaa! Jangan apa-apakan aku!" Ucap Araya sambil berjongkok dan memejamkan matanya. Dia juga melindungi kepalanya dengan kedua lengannya.
"Hey, Araya." Ucap seseorang. Suara yang tidak asing. Orang itu ikut menunduk dan mengusap bahu Araya.
"Eh? Zaaryan?" Araya membuka matanya, dia melihat Zaaryan yang berada di sampingnya. Dia tersenyum, senyuman yang terkesan menenangkan, dan seolah berkata 'Tidak apa-apa'.
"Zaaryan, kau baik-baik saja?" Araya bertanya dengan wajah yang terdapat ekspresi khawatir.
"Iya, aku baik-baik saja." Balas Zaaryan sambil tersenyum dan mengangguk pelan. Kemudian, mereka berdua pun kembali berdiri.
"Kau sendiri, kenapa kau kemari?" Zaaryan bertanya.
"Aku.. aku hanya punya firasat buruk. Aku tidak mau kalau kau sampai kenapa-kenapa." Ucap Araya sambil menundukkan kepalanya.
"Dia mencemaskan aku? Yang benar saja? Apakah dia menyukai aku? Kenapa tiba-tiba aku jadi berpikir kalau Araya itu imut? Tunggu, apakah aku menyukainya? Bisa-bisa aku dihajar Dae-Vin kalau ketahuan menyukai Araya." Kata Zaaryan dalam hati. Dalam pikirannya, terdapat beberapa pertanyaan tentang perasaannya. Singkatnya, dia sedikit baper atau mungkin memang baper.
Zaaryan terdiam beberapa saat. Pikirannya masih berusaha mencerna perkataan Araya tadi. Hingga..
"I.. iya? Ada apa, Araya?" Tanya Zaaryan setelah tersadar dari lamunannya. Araya menatapnya bingung.
"Kenapa kau melamun? Apa kau mendengarkan aku tadi?" Tanya Araya sambil memasang ekspresi cemberut. Tampaknya perkataan Araya tadi tidak didengarkan ketika Zaaryan melamun.
"Emm maaf aku tidak mengerti maksudmu. Bisa kau ulangi lagi?" Daripada bilang tidak mendengarkan, mungkin akan lebih baik kalau bilang tidak mengerti, begitu pikir Zaaryan. Araya menghela napas pelan sebelum kembali mengulangi perkataannya barusan.
"Pertanyaanku. Bagaimana rasanya menggunakan elemen tahap kedua? Apa ada cara khusus untuk mengendalikannya? Apakah berbeda dari yang sebelumnya?" Araya mengajukan tiga pertanyaan sekaligus.
"Rasanya luar biasa. Kalau pengendalian, itu mungkin tergantung pada elemen apa yang akan dikendalikan. Sedikit berbeda dari yang sebelumnya, tapi menurutku itu masih turunan." Jawab Zaaryan tanpa ada kesulitan sedikitpun.
"Luar biasa? Dae-Vin bilang biasa saja." Pikir Araya setelah mendengar pendapat dari Zaaryan yang berkebalikan dengan pendapat Kim Dae-Vin.
Maksudnya masih turunan yaitu element tahap kedua yang dikendalikan masih mirip dengan elemen tahap pertama atau elemen sebelumnya. Misalnya, tahap pertama elemen api, tahap kedua elemen lava, seperti yang digunakan Zaaryan saat ini.
Ada pula yang tahap pertama elemen air, tahap menjadi element es. Tapi, element Dae-Vin bukan es untuk saat ini. Tahap pertama elemen suara, tahap kedua menjadi elemen cahaya. Suara dan cahaya memang berbeda, tapi mempunyai kesamaan, yaitu sama-sama dapat merambat dengan cepat.
Tapi, Araya sedikit berbeda dari yang lain. Pada tahap pertama, Araya tak memiliki elemen, tetapi pada tahap kedua, dia jadi mempunyai elemen, yakni Nature Element, atau elemen alam, yang dia dapat dari upgrade card yang terbuat dari batu zamrud.
"HAHAHA! Ketemu, kalian berdua!" Suara Darkness Swordman dari arah belakang Araya. Refleks, Araya segera berbalik dan mengambil ancang-ancang jika sesuatu terjadi.
"Mundur, Araya." Ucap Zaaryan sambil berdiri di depan Araya, niatnya untuk melindunginya.
__ADS_1
"Tidak, Zaaryan. Kita akan mengalahkannya bersama-sama." Balas Araya sambil melangkah ke depan. Kini, mereka berdua sudah berdiri bersebelahan.
"Kau yakin?" Zaaryan sedikit melirik Araya.
"Tentu. Aku sudah mendapat elemen tahap kedua." Balas Araya dengan suara yang pelan, supaya Darkness Swordman tidak mendengar perkataannya.
"Ooh, baguslah. Tapi, apa fisikmu sudah tidak apa-apa?"
"Aku tidak apa-apa. Jangan khawatir." jawab Araya sambil mengangguk dengan pasti.
Tanpa mereka berdua sadari, ada sesuatu yang bentuknya seperti tali, bergerak-gerak dan merambat tepat di belakang Araya seperti ular, warnanya hitam. Kemudian, tiba-tiba, tali tersebut sudah melilit tangan kanan Araya yang terdapat alat pengendali elemennya.
"WAAA! Apa ini?" Setelah Araya menyadari, dia begitu terkejut melihatnya. Melingkar di tangannya untuk menyedot kekuatan elemen.
"Hati-hati Araya! Benda itu dapat menyedot kekuatan elemenmu! Lepaskan benda itu!" Ucap Zaaryan, sambil menatap tajam ke arah Darkness Swordman.
"Eugh! Tidak bisa lepas!" Araya berucap sambil terus berusaha melepaskan tangan kanannya, namun setelah terlepas, tali hitam itu kembali melilit tangannya lagi. Begitulah seterusnya, hingga tidak akan lepas.
"Hahahaha! Kau tidak akan bisa lepas, nak." Darkness Swordman kembali tertawa, kemudian mengarahkan tangan kirinya ke atas. Seketika, tubuh Araya terangkat.
"WAAA! Lepaskan aku!" Araya berusaha memberontak, tapi tali tadi semakin kuat melilit tangannya. Tubuhnya tergelantung di udara. Akan lebih baik kalau dia jatuh sekarang juga dari ketinggian tiga meter, daripada harus membiarkan kekuatan elemen tahap kedua Araya diserap oleh Darkness Swordman.
"Awh! Tanganku," ucap Araya dalam hati. Semarang, tangan kanannya jadi ikut sakit juga.
"Bertahan, Araya! Red Element! Second Tipe! Armor Mode!" Zaaryan mengaktifkan alat pengendali elemen dan menggunakan tahap kedua, mode armor. Dia kembali menjadi seperti tadi.
"HAHAHAHA! Masih belum mau menyerah ya?" Ucap Darkness Swordman setelah melihat perubahan pada Zaaryan setelah mengaktifkan kekuatan elemen.
"Mungkin aku bisa melakukannya juga," Araya berkata lirih ketika Zaaryan berhasil berubah. Setelah itu, Araya menatap tangan kanannya, tepatnya pada alat pengendali elemennya.
"White Element, Second Tipe, Armor mode." Ucap Araya dengan suara pelan, supaya tidak terdengar oleh Darkness Swordman. Kemudian, dia berhasil berubah. Kali ini, dia bukan hanya mempunyai kekuatan teleportasi, melainkan dia juga mempunyai kekuatan elemen alam.
"Apa? Bagaimana mungkin?!" Ujar Darkness Swordman setelah menyadari perubahan Araya.
"Zaaryan, ayo buat kombinasi." Araya berkata melalui alat komunikasi mereka.
"Ide bagus, baiklah!" Zaaryan membalas. Kombinasi AZ.
"LAVA RAIN!" Pertama-tama, Zaaryan menggunakan jurus yang sama seperti tadi dan mengarahkannya tepat pada Darkness Swordman.
"Akh! Cih! Jurus yang sama, apa tidak ada yang lain?" Tanya Darkness Swordman sambil dengan mudah menghindar. Hal itu otomatis membuat tali bayangan tadi mengendur dan Araya berhasil bebas.
To be continued..
...----------------...
Terima kasih sudah membaca cerita ini. Jangan lupa like, komen dan favorit ya. Sampai jumpa di chapter berikutnya!
__ADS_1