
[Darkness Invasion Arc - #8]
...----------------...
[Note : untuk chapter ini dan beberapa chapter berikutnya bakalan agak sadis]
Terjadi sebuah ledakan pada awalnya. Masih di tempat gelap itu, Araya dan Steve mencoba bertahan terlebih dahulu.
Kedua manusia berlainan jenis itu masih dalam posisi dekat supaya bisa saling menjaga satu sama lain.
"Park Hana, hati-hati, suhu lingkungan ini menurun." bisik Steve sembari melihat termometer hologram dari dalam armornya. Terlihat angka negatif dengan satuan derajat Celcius.
"Hah? Aku tidak merasakan apapun, Kak."
Balasan dari Araya barusan membuat Steve mengernyit. Bagaimana bisa gadis itu tak merasa dingin meskipun Araya tak punya penyakit seperti dirinya.
"Apa maksudmu?"
"Sungguh, aku tak merasakan perubahan suhu."
Steve mulai merasakan ada yang tidak beres. Dengan memanfaatkan fitur armornya sebaik mungkin, ia mencoba mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada mereka.
"Waah, sekarang kamu jadi orang yang tidak peka." celetuk Darkzero setelah beberapa detik ia terdiam sehabis membuat ledakan 'biasa'.
"Apa maksudmu tidak peka? Aku masih peka, kok." balas Araya menanggapi. "Aku peka pada perasaan orang." sambungnya. Ayolah, hal ini sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan perasaan.
"Heh, bukan itu maksudku. Sepertinya IQ-mu menurun ya?" Darkzero meremehkan sembari meregangkan persendian pada jari-jari tangannya.
Araya tambah dibuat bingung olehnya. Berbeda dengan Steve yang mulai merasakan kaku di sekujur tubuhnya. Meskipun dia tak bisa merasakan dingin, namun tubuhnya masih bisa merespon.
"Lihat, rekanmu sudah kedinginan." menunjuk Steve, Darkzero berucap dengan nada agak kegirangan. Sontak saja Araya menatap laki-laki itu.
Benar saja. Terlihat ada benda seperti es menempel di permukaan armornya.
"Kak Steve? Apa … apa yang sebenarnya terjadi? Kau kenapa?"
"Aku sedang tidak baik-baik saja. Sepertinya aku terkena hipotermia. Aku tak bisa bergerak."
Hipotermia, adalah keadaan di mana tubuh menjadi kaku dan mati rasa akibat suhu yang terlalu rendah atau dingin. Suhu di sana menurun dengan cepat setelah ledakan itu terjadi. Tapi anehnya, Araya tak merasakan apapun.
"Sudahlah, kalian berdua sudah banyak membuang waktuku. Kau tahu, aku sedang sibuk." Darkzero kembali berkata seraya berkacak pinggang. Dari nada bicaranya, dia terdengar bosan dan tidak suka.
"Cih, salahmu sendiri karena mau meladeni kami." Steve membalas perkataannya. Tentu saja itu berpotensi memancing amarah sang Raja Kegelapan, Darkzero.
"Ooh, jadi kalian tidak mau kuladeni secara langsung? Baiklah, biarkan anak buahku yang mengurus kalian." Darkzero berbalik. Dia tak terdengar marah sama sekali. Namun, setelah jentikan jari terdengar, seketika puluhan Darkness Swordman level empat hingga dua mengepung mereka berdua.
__ADS_1
"Sepertinya, aku sudah salah bicara." ucap Steve pelan, terdengar menyesal karena telah bicara tanpa berpikir lebih dahulu tentang akibatnya.
"Sekarang itu tidak penting! Bagaimana dengan suhunya, Kak?" memandang sekeliling, Araya bersiap memberikan tebasan untuk Darkness Swordman yang berani mendekat pada mereka.
"Suhunya naik setelah dia pergi. Aku bisa bergerak lagi."
"Syukurlah. Ayo kita selesaikan mereka!"
...----------------...
"Mereka seperti tidak ada habisnya!" ucap Araya sembari menahan Darkness Swordman level tiga dengan pedangnya, kemudian menghempaskannya ke tanah.
"Iya, mereka hanya untuk menguras energi kita." balas Steve sambil menangkap bumerang yang tadi dia lempar. Bumerang itu berhasil mengenai tiga belas Darkness Swordman sekaligus, tapi tak sampai bisa membuat mereka tumbang.
GREB!
Steve tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangan Araya dan menariknya mendekat setelah menyadari kalau ada Darkness Swordman yang mengincarnya dari jarak jauh. Jika Steve tidak bertindak, dapat dipastikan Araya terkena kapak terbang itu.
Fiuuh …
"Terima kasih, Kak."
"Tidak, jangan berterima kasih dulu."
Araya tak menanggapi, kemudian mencoba fokus kembali untuk menghadapi berbagai serangan.
"Park Hana! Kita harus pergi dari—"
BLAM!
...----------------...
"Euh …."
Steve membuka matanya, mengerjap pelan untuk menyesuaikan pencahayaan. Lagi-lagi, tempat yang gelap temaram. Ia mencoba menggerakkan tubuhnya.
TRANG!
Tubuhnya tak bisa bergerak karena terkekang oleh rantai. Lebih tepatnya, tangan dan kakinya saja yang dirantai.
"Di mana aku …?" tanyanya pada diri sendiri. Tidak membutuhkan waktu lama, ia sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.
Ruangan itu sempit dan ada bau amis darah meskipun dia tak bisa mencium baunya. Ukuran ruangan tersebut sekitar tiga kali tiga meter. Tepat di depannya, terdapat jeruji yang digunakan untuk menutup ruangan itu.
Di ruangan itu pula, ia tak menemukan seseorang yang dia cari. "Di mana, Park Hana?" gumamnya. Di ruangan tempatnya dikurung, hanya ada dia seorang diri.
__ADS_1
"Zack, sebenarnya ini—Zack? Zack? Kenapa ini? Kenapa dia tidak ada?" Steve malah panik sendiri setelah mendapati kalau alat transformasi miliknya berubah menjadi batu, seperti milik Araya beberapa saat yang lalu.
Ia juga baru mengetahui kalau ia telah kehilangan telapak tangan kirinya. Tentu ia tahu karena melihatnya, bukan merasakannya. Darah segar mengucur dari pergelangan tangannya yang sudah terpotong.
Pemuda berusia sembilan belas tahun itu syok melihatnya. Apalagi dia tidak bisa merasakan kalau ada anggota tubuhnya yang hilang.
Dengan siapa dirinya bisa bertanya saat ini? Dia tidak mengetahui apapun tentang kejadian belum lama ini. Jika bertanya dengan sistemnya, apakah dia akan menjawab? Biarkan waktu yang menjawab pertanyaannya.
Tap! Tap! Tap! Tap!
Samar-samar, terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat. Steve masih diam, berjaga-jaga jika yang datang adalah Darkzero ataupun Darkness Swordman lain.
Tap! Tap! Tap!
Lagi, suara langkah kaki itu menggema dan memecah keheningan ruangan penjara. Tidak berselang lama, sesuatu muncul dari balik tembok pembatas.
"Apa yang kau inginkan, hah?! Belum puas melihatku seperti ini?!" Steve seketika berteriak setelah melihat siapa yang datang. Darkzero sekarang sudah berada di depannya.
Makhluk itu menatapnya dengan tatapan biasa. Sedangkan Steve menatapnya penuh kebencian, namun juga tersirat rasa takut. Ia takut kalau sampai rekannya diapa-apakan oleh mereka.
Darkzero masih belum membuka suara. Ia membiarkan Steve bicara apapun yang dia pikirkan.
"HEI! LEPASKAN AKU! MASIH BELUM PUAS KAU SETELAH MEMOTONG TANGANKU?! BELUM PUAS KALAU AKU BELUM MATI?!" Steve kembali berteriak sambil berusaha menggerakkan paksa tubuhnya. Jikalau dia bisa merasakan sakit, sudah pasti dia mungkin akan berhenti. Tapi sayangnya, itu tidak akan terjadi.
"WOI! JAWAB PERTANYAANKU?! KENAPA KAU DIAM, HAH?!" Steve berteriak untuk yang ketiga kalinya. Ia berteriak sampai urat lehernya menonjol. Suaranya akan langsung hilang setelah pita suaranya terputus.
Darkzero menghela napas, menatap pemuda yang saat ini terengah-engah karena sudah teriak-teriak.
"Sudah puas bicara, hmm?" akhirnya, Darkzero berucap setelah sejak tadi hanya diam.
Steve tidak menjawab. Dia masih mencoba menormalkan pernapasannya kembali.
"Aku akan menjawab pertanyaanmu sebelum kau mati. Dan jawabanku … ya. Aku masih belum puas kalau kau belum mati." jawab Darkzero dengan santainya. Dia juga sepertinya tersenyum licik ketika menatap Steve yang sekarang tak berdaya di dalam ruangan eksekusi itu.
Sebenarnya, apa yang dia rencanakan? Pikir Steve sambil mengamati gerak-gerik Darkzero di depan ruangan itu.
"Aku sama sekali belum puas kalau belum melihatmu tersiksa dan mati mengenaskan." lanjut Darkzero berucap.
"Siksa saja aku! Aku tidak akan merasakan sakit!"
Begitulah cara Steve menanggapi perkataan Darkzero. Dalam hati dia bersyukur karena punya penyakit CIPA yang membuatnya tak bisa merasakan sesuatu, terutama tak bisa merasa sakit.
Dia juga menganggap penyakit serius itu sebagai karunia. Namun, ada risikonya. Ia akan langsung mati tanpa bisa merasakan tanda-tandanya.
To be continued …
__ADS_1
Terima kasih buat kalian yang sudah membaca. Jangan lupa tinggalkan like dan komen ya, biar author semangat.