
[Araya's Origin Arc - #4]
...----------------...
DUAAARRR!
Terdengar bunyi ledakan dari pagar terluar markas organisasi Darkness. Seketika debu berhamburan dan menutupi jarak pandang. Pelaku di balik kejadian ini adalah Arga. Hal itu dilakukannya untuk mengalihkan perhatian. Setelah banyak dari mereka yang perhatiannya teralihkan, maka Arga akan masuk melalui gerbang belakang yang tak dikunci.
"Ledakan berhasil. Waktunya aku menyelinap masuk." gumamnya setelah melihat puing-puing bangunan pagar itu. Kemudian, dia berjalan cepat memutarinya dan masuk ke sana layaknya penyusup.
"Di mana ruangan utama mereka?" tanyanya dalam hati sesaat setelah dia berhasil masuk beberapa langkah di dalam lorong itu. Melihat sekeliling yang gelap dan hanya diterangi oleh cahaya dari api yang dipasang di dinding layaknya lampu minyak.
Lorong bagian belakang itu sepi, seperti tidak ada penghuninya. Di sana, dia seperti seseorang yang sedang bermain di wahana rumah hantu. Tempat itu memang cukup menyeramkan bagi sebagian besar orang.
Arga berjalan semakin ke dalam. Banyak ruangan yang tertutup jeruji besi dan dikunci, dia sedang melewati ruangan tahanan. Di balik jeruji besi itu, hampir di setiap ruangan terdapat cairan merah yang berceceran di lantai maupun tembok. Sepertinya ini tempat eksekusi.
"Mereka kejam sekali, mana tempatnya tidak dibersihkan setelah eksekusi." gumamnya setelah melihat sekelilingnya yang berbau amis darah. Bagi yang fobia, mungkin akan langsung muntah setelah mencium bau seperti ini.
Arga sedikit bergidik setelah merasakan suhu udara yang menurun. Angin berhembus dari pintu belakang yang sebelumnya memang dibiarkan terbuka. Angin sepoi-sepoi itu mampu mematikan beberapa lampu minyak tersebut.
"Padahal cuma angin sepoi-sepoi, kenapa lampu minyaknya sampai mati begini?" tanyanya dalam hati setelah merasakan hal yang dirasa tidak normal. Angin sepoi-sepoi berhasil memadamkan banyak api pada lampu minyak?
Dan benar saja firasatnya, suatu bahaya sedang mengintainya. Dari bayangannya, muncul sepasang mata tanpa pupil berwarna merah terang. Dia masih mengikutinya ke manapun Arga pergi, tepatnya dia bersembunyi melalui bayangan Arga.
Tap!
Arga menghentikan langkahnya setelah merasakan sesuatu yang aneh. Dia menatap bayangannya yang hitam. Tidak ada apa-apa. Ketika dia hendak berbalik..
BUGH! BRUK!
Arga kurang refleks, serangan kejutan tadi berhasil membuatnya tersungkur ke depan. Belum sempat dia berdiri, punggungnya telah diinjak oleh kaki seseorang yang membuatnya tak bisa berdiri. Apalagi dengan tubuh yang tidak seratus persen fit. Saking kuatnya injakan kaki orang tersebut, Arga dapat merasakan beberapa tulangnya yang patah.
"Dasar lemah! Begitu saja kau tidak bisa?! Cih! Katanya anggota Elemental. Apa gunanya punya kekuatan element kalau fisik masih lemah?!" tuturnya dengan nada kasar yang disertai decihan. Bukannya berhenti, dia malah semakin kuat menginjaknya.
"Lemah! Lemah! Lemah! Bahkan tak kuat lagi untuk bicara, hahahahaha!"
Mendengar kalimat ejekan itu, Arga mengepalkan kedua telapak tangannya. Terlihat uratnya sampai menonjol. Dengan sekuat tenaga, dia berusaha meraih pergelangan kaki kiri musuhnya itu.
BUAKH!
__ADS_1
"Laki-laki sialan! Beraninya membantingku!" ucapnya geram setelah barusan Arga berhasil membanting tubuh dari si pemilik kaki. Bantingannya cukup kuat, membuatnya sampai mundur sejauh dua meter.
Kejadian itu langsung Arga manfaatkan untuk segera bangkit kembali. Tiba-tiba, tercetuslah sebuah ide, yakni untuk menggunakan jurus langkah seribu alias lari, tapi tentu dia punya rencana.
Tak! Tak! Tak! Wuuuuuush!
Tiga benda berbentuk seperti bola bekel memantul-mantul di dekat kaki makhluk itu. Setelah berhenti, bola itu berubah menjadi asap. Serangan asap untuk mengelabui pihak musuh.
Dengan segera, Arga berlari meninggalkannya sendirian sebelum asapnya menghilang.
Tak lama kemudian, setelah dia berlari sejauh dua puluh meter, kini dia sudah sampai di perempatan lorong. Dia berdiri tepat di tengah-tengahnya.
"Aku harus pergi ke mana? Ada empat jalur, mana yang mengarah ke ruangan utama?"
Dalam hati, Arga bimbang. Jika dirinya tak bisa menemukan jalur yang mengarah ke ruangan utama, itu akan membuang-buang waktu dan tenaga. Dia harus menemukan Darkzero dan mengalahkannya, kemudian menutup pembatas dimensi Darkness dengan dimensi manusia.
"Aktifkan fitur pendeteksi jalan." ucapnya pelan dan seketika muncul layar hologram di depannya. Pada hologram itu menampilkan peta bangunan tersebut. Di situ juga terdapat beberapa tanda panah yang dapat membantunya menemukan ruangan utama.
"Lewat kanan, kemudian naik tangga sampai ke lantai empat."
Setelah berhasil memutuskan, Arga segera berlari melewati lorong yang mengarah ke kanan. Sesampainya di ujung lorong, dia melewati puluhan anak tangga untuk sampai ke lantai empat.
Singkat cerita, kini Arga telah sampai di depan sebuah pintu yang lumayan besar dan terbuat dari bahan logam. Itu adalah pintu untuk masuk ke ruangan utama. Sebelum dia masuk, Arga sempat tak sengaja mendengar pembicaraan orang di dalam.
"Apa? Para bawahanku kalah? Cih! Mereka masih terlalu lemah."
"I-iya tuan, sekitar empat puluh persen dari mereka telah berhasil dikalahkan pihak organisasi Elemental."
"Haha, mereka masih terlalu dini untuk membuat kejutan. Buat ilusi di seluruh dimensi ini. Pastikan mereka tak akan bisa ke luar dari sana."
"Siap tuan."
Begitulah, samar-samar terdengar perbincangan antara Darkzero dengan salah satu bawahannya.
Arga segera mundur beberapa langkah dan kemudian memasang mode tembus pandang supaya tak terlihat. Karena pintu yang terbuka dan makhluk tadi ke luar dari ruangan utama.
Sebelum pintu kembali tertutup, Arga dengan cepat masuk ke dalam ruangan itu.
"Hah, jangan kira aku tidak tau kau di sana." ucap Darkzero tiba-tiba, membuat Arga berhenti melangkah untuk sesaat.
__ADS_1
"Insting yang bagus, Darkzero." ucap Arga sambil memunculkan dirinya. Tubuhnya yang sebelumnya tembus pandang, kini sudah terlihat seperti sedia kala.
"Apa yang kau inginkan?" berdiri dari duduknya, Darkzero bertanya. Suaranya yang berat nan mengerikan, serta tubuhnya yang tiga kali lipat lebih besar, sama sekali tak membuat Arga gentar dalam menghadapinya.
"Aku ingin kalian berhenti mengacaukan dunia manusia." tanpa ada rasa takut, Arga berucap.
"Memangnya kenapa? Kalau itu benar-benar keinginanmu, serahkan batu element kalian."
"Tidak akan!"
"Asal kau tau ya, aku ini bukan tipe seseorang yang mudah merelakan. Apapun itu, aku ingin selalu mendapat kesetimpalan."
"Kalau kau suka kesetimpalan, lalu kenapa kau mengacaukan dunia manusia kalau kami tidak mengacuhkan dunia Darkness? Bukankah aslinya itu sudah adil? Justru kau yang tidak adil!"
Dengan mudah Arga membalikkan kata-katanya supaya balik menyerangnya sendiri. Tapi, Darkzero tetaplah Darkzero.
"Itu karena kalian juga, mempunyai kekuatan yang tak kami punya. Itu tidak adil!"
"Itu adil! Kami para manusia memang tak sekuat kalian, itulah sebabnya kami diberi kekuatan element untuk menciptakan perdamaian di dunia ini."
"Lihatlah ke sana." ucap Darkzero mengalihkan topik. Dirinya sudah merasa kalah dalam berdebat dengan Arga tentang masalah yang tadi.
"Jangan mengalihkan topik!"
"Sudah, kau lihat saja!"
Pada akhirnya, Arga pun menolehkan kepalanya ke arah yang ditunjuk oleh Darkzero. Di sudut ruangan itu, ada dua patung batu berbentuk manusia.
"Hahaha, manusia memang lemah ya. Lihatlah mereka menjadi batu karena tak bisa menggunakan kekuatan element-nya dengan baik." dengan sombong Darkzero berucap. Arga membelalakkan matanya setelah menyadari itu adalah patung siapa. Kedua tangannya kembali terkepal.
"Kenzo? Jeremy?" ucapnya lirih, pandangannya masih terkunci pada kedua patung batu manusia tadi. Mereka adalah teman-temannya juga meskipun dari organisasi Elemental yang berbeda.
To be continued..
...----------------...
Sampai beberapa bab lagi, masih fokus flashback ya^^
Jangan lupa like kalau kalian suka, komen, favorite biar nggak ketinggalan sama kelanjutan ceritanya. Terima kasih!
__ADS_1