
[Test Arc - #11]
...----------------...
Pagi harinya, sekitar jam setengah delapan pagi, Araya baru bangun dari tidurnya. Dia sengaja bangun agak siang, sebab semalam dia tidak bisa tidur karena dia kembali mengulang materi, dan untung saja tes ulangnya dimulai jam sepuluh pagi.
"Hmm baru setengah delapan pagi ya? Kukira sudah jam sembilan." batin Araya setelah membuka matanya dan melihat ke arah jam. Setelah itu, dia meregangkan tubuhnya.
"Baguslah, aku bisa belajar lagi."
Setelah beranjak dari tempat tidurnya, Araya pun memutuskan untuk mandi pagi, supaya lebih segar. Apalagi dia sedang.. emm di chapter kedua sebelum ini sudah ada.
Araya butuh waktu sekitar empat puluh lima menit untuk bersiap. Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, dia kembali melihat-lihat rangkuman pelajaran yang dia pelajari kemarin. Memang itulah kebiasaan baik Araya, dia tidak suka membuang-buang waktu, apalagi untuk hal yang tidak bermanfaat.
...----------------...
"Pagi, Araya!" sapa Hanny saat dia berpapasan dengan Araya. Mereka satu arah akan pergi ke ruangan belajar.
"Pagi, Hanny.." balas Araya.
"Bagaimana, kau sudah siapa?" tanya Hanny dengan nada yang sama seperti tadi.
"Mudah-mudahan aku sudah siap." Araya memelankan suaranya sambil menatap ke bawah.
"Kok mudah-mudahan? Kau harus siap. Jangan mengecewakan dia." Hanny menepuk singkat pundak kanan Araya.
"Hmm, ya." jawab Araya setelah bergumam.
Singkat cerita. Semua tes ulang telah berakhir. Semuanya bisa lulus sekarang. Namun, mereka masih belum resmi menjadi anggota 'Elemental Organization of Asia'. Kenapa? Karena mereka masih belum tentu lulus di misi pertama mereka. Tak lama lagi, mereka akan mendapatkan misi.
"Aku benar-benar tidak menyangka. Hasilnya bagus. Semua yang ada di rangkuman Dae-Vin benar-benar muncul di soal." Araya membatin.
Nilainya memang lumayan, di atas target minimal. Nilainya yaitu 82. Lebih dua puluh dua dari target minimal, tapi tentu saja belum bisa mengalahkan Dae-Vin yang nilainya sembilan puluh enam. Menurutnya, Kapten Akira memang tidak salah memilih Dae-Vin untuk mengajarinya kemarin.
Bukan hanya itu, IQ dan EQ-nya juga sudah meningkat. IQ nya naik, menjadi 144 dan EQ nya 126.
"Hey Araya." sapa seseorang yang duduk di samping kiri Araya. Orang itu adalah Kim Dae-Vin.
"I.. iya?" balas Araya sambil menoleh ke arah orang yang memanggilnya.
"Kau.. tidak akan berterima kasih padaku?" tanya Dae-Vin sambil balik menatap Araya.
__ADS_1
"B.. bukankah kemarin aku sudah berterima kasih, padamu sebelum aku pergi?" Araya balik bertanya. Memang waktu itu dia sempat berterima kasih sebelum pergi meninggalkan ruangan belajar.
"Pergi ke mana?" Hanny menyahut sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Hmm.. merilekskan pikiran." kata Araya.
"Kemudian Dae-Vin mencarimu kan? Sebelumnya, apa yang terjadi?" Hanny bertanya lagi, ekspresi penasarannya sama sekali belum lenyap dari wajahnya.
"Ada kejadian apa kemarin?" Zaaryan ikut bertanya juga. Mereka berdua begitu ingin tau.
"Ah, hanya Dae-Vin agak berlebihan." balas Araya dengan hati-hati saat berucap. Bisa gawat jika dia sampai membuatnya tersinggung.
"Kenapa dia bilang 'agak'? Padahal aku kemarin memang benar-benar sudah berlebihan." batin Dae-Vin wajahnya pura-pura tidak melihat, namun dia mendengarkan.
"Kenapa bawa-bawa aku?" sahut Dae-Vin tanpa harus menatap mereka bertiga. Dia hanya berpura-pura.
"Karena kemarin hanya kau yang terus bersamaku. Kalian berdua jangan berpikiran buruk ya," kata Araya sambil menatap Hanny dan Zaaryan secara bergantian.
"Aah, tidak kok." jawab Hanny dan Zaaryan hampir bersamaan.
"Kalau kemarin kemarin Kapten Akira tidak menyuruhku, aku tidak akan bersamamu." balas Dae-Vin, setelah itu ketiga teman-temannya yang lain menjadi diam. Ucapnya ada benarnya. Jika Kim Dae-Vin tidak diberi amanah, dia tidak akan mau.
...----------------...
Di ruangan olahraga, Hanny dan Zaaryan sedang bermain bulutangkis, Dae-Vin yang mereka minta untuk menjadi wasit. Sedangkan Araya, dia hanya menonton dari pinggir lapangan. Dia tidak terlalu mahir bermain bulutangkis, dia lebih suka bola basket.
Hingga suatu saat, Araya jadi merasa sangat bosan. Tapi, entah mengapa, dia jadi teringat kata-kata dari Hanny waktu itu.
...---------------------------------------------------------...
"Bagaimana kalau kau menggunakan kekuatan itu untuk pergi ke masa depan, misalnya sepuluh tahun yang akan datang. Kau akan lihat siapa yang akan menjadi suamimu. Bagaimana?" goda Hanny, Araya melebarkan matanya.
...---------------------------------------------------------...
Tak lama setelah itu, Araya jadi ingin melakukannya, time travel ke masa depan, sepertinya menarik. Hal itu juga membuatnya penasaran. Kemudian, dia pun memutuskan untuk..
"Bawa aku ke masa depan sepuluh tahun yang akan datang." ucap Araya sambil menekan tombol berwarna hijau pada alat pengendali elemen miliknya. Kalau sekarang sebenarnya belum bisa disebut 'pengendali elemen', karena miliknya itu masih bukan elemen.
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Araya..
BRUK!
__ADS_1
Tiba-tiba, Araya sudah terjatuh, dengan keadaan yang seperti orang tidak sadarkan diri, matanya tertutup.
"Araya!" seru Hanny setelah melihat kejadian itu. Dia jadi mengabaikan shuttle cock yang bergerak menuju tepat ke arahnya. Alhasil, shuttle cock itu mengenai kepalanya.
"Aduh!" Hanny mengaduh setelah benda tadi mengenai dahinya, setelah itu dia berlari ke arah Araya yang tergeletak tidak jauh dari sana. Begitupun dengan Zaaryan. Tapi, tidak dengan Dae-Vin. Dia tidak panik sama sekali dan tetap berjalan santai.
"Araya, bangun!" ucap Hanny panik sambil menepuk-nepuk pipi Araya.
"Araya kenapa? Dia tidak punya riwayat penyakit kan?" tanya Zaaryan dengan wajah bingungnya.
"Tentu saja tidak! Jika iya, dia tidak akan dipilih untuk masuk ke organisasi ini." ucap Hanny dengan nada tinggi. Berharap supaya Zaaryan bisa cepat mengerti maksudnya.
"Kalian ini kenapa? Dia itu baik-baik saja." ucap Dae-Vin yang baru saja sampai.
"Apa maksudmu dia baik-baik saja? Dia tidak sadarkan diri secara tiba-tiba, kau pikir itu baik-baik saja?" Hanny bertanya dengan intonasi yang agak cepat, sambil memangku Araya.
"Haish.. Itu hanya luarnya saja." kata Dae-Vin.
"Hanya luarnya saja? Apa maksudmu?" Hanny masih belum mengerti.
"Dia itu sedang time travel, entah ke masa lalu atau masa depan. Dia masih pemula. Jadi belum terlalu bisa menggunakannya. Jadi, raganya itu tertinggal di sini, tidak ikut time travel." Dae-Vin menjelaskan. Hanny dan Zaaryan mengangguk tanya sudah mengerti.
"Tunggu, bagaimana kau tau?" tanya Zaaryan sambil menatap Dae-Vin.
"Aku melihatnya menggunakan kekuatan itu tadi," balas Dae-Vin dengan nada datarnya. Sebenarnya, sejak tadi dia selalu mencuri-curi pandang ke arah Araya. Tapi, Araya tidak menyadari hal itu.
"Sejak tadi, kau memperhatikan Araya? Apa kau-" ucap Hanny terpotong.
"Apa?!" tanya Dae-Vin dengan nada ketus. Dia tidak ingin sampai ada yang tau hal sebenarnya.
"Hmm, tidak jadi." kata Hanny. Dia mengurungkan niatnya untuk bertanya.
"Kalau begitu, ayo bantu aku membawanya ke kamarnya."
To be continued..
...****************...
Author note :
Terima kasih sudah setia membaca cerita ini, sebab novel ini masih sedikit pembacanya.
__ADS_1
Mulai sekarang, aku nggak akan panjang-panjang bikin author note ya.
Jangan lupa like, komen dan favorit ya. Sampai bertemu di chapter selanjutnya.