
[Primary Members Arc - #5]
...----------------...
Di kawasan sekitar markas organisasi Elemental ...
Terjadi kekacauan di mana-mana. Anggota tersier sedang berusaha keras dalam mengendalikan segala macam serangan dari Darkness Swordman yang menyerang mereka besar-besaran.
"Haha! Bagaimana rasa makanannya? Enak kan?" menahan serangan pedang Hanny hanya dengan satu tangan, Darkness Swordman level empat itu bertanya sembari menyeringai.
"Apa maksudmu?" Hanny tak terlalu menghiraukan pertanyaan itu. Ia hanya fokus untuk bisa menebas tangannya, dan kemudian membantu anggota lainnya.
"Kamu sudah merasakannya, kan? Kamu bahkan sampai muntah-muntah karena makan makanan buatanku!"
Secara tiba-tiba, Hanny menghentikan kegiatannya. Kemudian, selangkah ia melangkah ke belakang sambil memasang sikap waspada.
"Kenapa? Kamu terkejut ya? Aku menaruh racun pada makanan yang akan kamu makan tadi."
Tangan kanan Hanny semakin erat memegang pedangnya. Sekilas ia teringat bagaimana rasanya sakit perut akibat keracunan. Tapi, dengan sigap rekan-rekannya yang lain membantu dirinya. "Hentikan omong kosongmu! Aku baik-baik saja sekarang!"
Hanny menancapkan pedangnya di tanah. Berusaha secepat mungkin untuk memakai teknik terdahsyatnya untuk bisa mengalahkan banyak Darkness Swordman sekaligus yang ada di sekitar sana.
"Mega Light Attack!"
Seketika muncul garis-garis di atas permukaan tanah. Garis-garis yang bercahaya yang seakan bisa membelah tanah. Namun, bukan seperti yang kalian bayangkan. Garis-garis tersebut sebenarnya adalah perangkap. Tanah yang tidak bercahaya akan memberikan efek medan magnet super kuat, sedangkan cahayanya berfungsi untuk membuat Darkness Swordman menjadi tak bisa melihat.
"Heh, kau pikir jurus lemah ini bisa menghentikanku?"
Tanpa Hanny duga, Darkness Swordman yang sedang dia lawan itu sama sekali tidak terpengaruh oleh tekniknya. Dalam sekali hentakan kaki, garis-garis cahaya di tanah seketika menghilang. Keadaan tanahnya jadi seperti semula seakan tidak pernah terjadi apa-apa.
"Apa yang-" Hanny terperangah. Dia tidak menyangka, padahal tekniknya itu sudah tingkat 'mega' yang berarti sudah dalam kategori hebat. Tapi, tentu ada yang lebih hebat daripada satuan mega, misalnya giga dan tera.
Di tengah situasi membingungkan itu, tanpa Hanny ketahui, ada beberapa Darkness Swordman lain yang mengekangnya dari belakang.
"Eugh! Lepaskan!" sembari bergerak meronta, Hanny mencoba membebaskan diri. Tapi, tentu tenaganya tidak sebanding dengan sembilan Darkness Swordman dan mengerubunginya.
__ADS_1
"Hiko, kamu ada saran apa?" kehabisan ide, Hanny memutuskan untuk bertanya pada Hiko—sistemnya—berharap supaya menemukan jalan keluar dari situasi sulit ini.
"Gunakan element suara tahap ketiga." Hiko merespons dengan cepat. Hanny segera melakukan pengaturan pada alat transformasinya untuk mengubah mode element.
"Elemental change! Sound element, third mode!" sekilas armor tahap ketiga Hanny menyala sebagai tanda berganti element. Jika sebelumnya menggunakan element cahaya, sekarang ia menggunakan elemen suara.
Setelah itu, Hanny pun memakai teknik terdahsyat yang bisa dilakukan oleh seorang pengendali element suara. Teknik yang menggunakan gelombang suara ultrasonik tertinggi yang bisa sampai mempengaruhi kinerja otak Darkness Swordman.
"Hati-hati Hanny! Penggunaan berlebihan bisa ... Hanny!" ucapan Hiko terpotong setelah menyadari kalau pemiliknya itu dalam keadaan yang menyimpang dari kata normal.
Hanny meringkuk sambil memejamkan matanya dan sebisa mungkin menutup telinganya yang berdengung hebat. Tekniknya memang tidak mengecewakan, Darkness Swordman di sana bergelimpangan akibat gelombang ultrasonik yang Hanny buat. Ini adalah efek samping dari teknik yang dia gunakan barusan.
"Sunny! Kau baik-baik saja?" seseorang menghampiri Hanny, kemudian membantunya untuk kembali duduk.
"Gifa ...." ucap Hanny agak lemas, tenaganya cukup banyak yang terkuras untuk teknik tadi.
"Apa ada yang terluka? Biar aku membawamu ke tempat yang aman." seseorang bernama Gifa itu merangkul bahu Hanny. Berusaha membawanya pergi sebentar dari tempat kacau itu.
"Aku baik-baik saja. Aku masih bisa ... Agh! Mataku!" Hanny kembali memejamkan matanya. Belum juga dengungan di telinganya mereda, sekarang sudah ada efek samping lanjutan. Matanya terasa panas seakan ada bara api yang membakar.
Di markas pusat organisasi Elemental ...
"Lapor, tidak ada yang mencurigakan di sekitar koridor lantai dua." kata Xela melalui alat komunikasi. Para anggota sekunder memang ditugaskan untuk melindungi markas jika ada serangan. Begitupun dengan para senior yang tersisa dan bertugas di markas.
"Bagian labolatorium kimia juga aman." sahut Theo setelah dirinya memeriksa kawasan labolatorium milik markas pusat.
Markas tersebut memang tiga kali lebih besar daripada markas cabang. Jadi, mereka memutuskan untuk berpencar supaya bisa lebih cepat menyelesaikan patroli.
"Bagian kantin sudah aman. Tidak ada yang mencurigakan." setelah selesai memeriksa kawasan kantin yang sekilas ada yang mencurigakan, Kenneth memberi laporan setelah mengambil kesimpulan kalau di sana tidak ada apa-apa. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Berjaga-jaga jika ada serangan tiba-tiba di ruangan sepi itu.
"Bagian hanggar sudah kondusif. Tidak ada tanda-tanda Darkness Swordman." setelah berpindah-pindah dari satu sisi ke sisi lainnya, giliran Chris yang memberi laporan.
"Ryusei, bagaimana kondisi labolatorium komputer?" sekarang, Chris melontarkan pertanyaan pada Ryusei alias Kim Dae-Vin yang sedari tadi tidak bersuara.
"Ehm, maaf ... aku belum selesai." balas Dae-Vin dengan nada yang tidak bersemangat. Bahkan saat disapa, dirinya seperti tersentak dari lamunannya.
__ADS_1
"Tolong agak cepat ya, kamu belum mengecek bagian koridor lantai tiga." kali ini, Theo yang bersuara. Mereka memang sudah sepakat dengan jatah patroli mereka. Jadi, mau tidak mau, mereka harus menerima tugas itu.
"Iya." jawab Dae-Vin singkat. Kemudian, dia memandang sekeliling. Ruangan laboratorium komputer yang gelap karena lampunya tidak dia nyalakan.
Di sana, terdapat belasan komputer canggih yang berjejer di atas meja. Dae-Vin menyalakan lampu, dan seketika ruangan menjadi terang benderang.
Akibat dari cahaya lampu itu, Dae-Vin tidak mengetahui kalau ada salah satu komputer yang menyala. Komputer tersebut membelakanginya, otomatis layarnya tidak terlihat.
Dae-Vin berbalik dan hendak kembali mematikan lampu, "Bagian labolatorium komputer aman. Tidak ad-" Dae-Vin tidak melanjutkan laporannya setelah merasakan ada sebuah tangan yang mencengkram kepalanya dari belakang.
Cengkraman itu menguat, Dae-Vin baru merasakan kalau ada sesuatu yang janggal. Dia berusaha tetap tenang, kemudian melakukan gerakan secepat mungkin untuk menyingkirkan tangan itu.
Namun, gerakannya terbilang sangat lambat di mata musuh. Belum sempat tangannya menyentuh tangan misterius tadi, di belakangnya sama sekali tidak terlihat apa-apa. Tidak mungkin ini adalah perbuatan hantu yang iseng.
"Ryusei? Ryusei, apa yang terjadi?" Xela bertanya melalui alat komunikasi. Saat ini, mereka memang sedang tidak dalam mode armor.
Kim Dae-Vin tidak menjawab. Pandangannya masih terfokus pada ruangan itu.
"Ryusei, kau baik-baik saja? Ada apa?" kali ini, Chris yang bertanya. Lagi-lagi Dae-Vin abaikan.
Sekelebat bayangan hitam terlihat melalui sudut mata kirinya. Seketika, Dae-Vin menoleh ke kiri.
"Uuuu! Dasar lemah! Uuuu! Dasar lemah! Dasar lemah! Dasar lemah!"
Suara itu bergema. Dae-Vin mencoba mencari tahu di mana sumber suaranya. Dia berjalan mendekati salah satu komputer yang tadi menyala. Dan yang dia temukan adalah ...
"Teman-teman, aku menemukan portal di-" lagi-lagi, Dae-Vin harus menghentikan ucapannya secara tiba-tiba. Kali ini, tangan yang tadi mencengkramnya itu menarik bahunya memasuki layar komputer yang telah menjadi portal.
Dae-Vin berusaha sekuat tenaganya untuk memberontak. Portal itu pasti menuju dimensi lain, begitulah pikirnya. Tapi, makhluk itu sama sekali tidak menyerah. Dia tetap menarik paksa Dae-Vin ke dalam sana.
...----------------...
To be continued …
Apa yang akan terjadi pada Kim Dae-Vin? Akankah dia baik-baik saja? Pantau terus kisahnya ya …
__ADS_1
Terima kasih karena sudah membaca ^^