Elemental Gen-Z

Elemental Gen-Z
Chapter 90


__ADS_3

[Darkness Invasion Arc - #1]


...----------------...


"Hoi! Kalian berdua baik-baik saja?" tanya Henry sembari mengguncang pelan tubuh Araya. Gadis itu perlahan membuka matanya, kemudian mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi.


Araya tak menjawab apapun, ia mendudukkan dirinya dan melihat sekeliling.


"Tempat ini, jadi seperti kapal pecah …." kata Araya dengan suara lirih. Ia mengedarkan pandangannya.


"Iya, tapi syukurlah kalian berdua selamat. Aku sangat khawatir tadi. Kupikir kalian kenapa-kenapa. Inti element kita juga masih utuh 'kan?"


Araya hanya mengangguk. Tak jauh dari tempatnya berada, terlihat Lucas dan kedua rekan lainnya sedang beristirahat setelah perjuangan yang sulit.


Sekilas Araya ingat apa yang terjadi pada mereka berdua. Saat Darkness Swordman tadi menyerang dengan jurus pamungkasnya. Jurus itu mengenai mereka dan menyebabkan teknik gabungan mereka terpisah seketika saat ledakan terjadi.


Suasana menjadi sunyi. Hanya terdengar suara ombak yang bersahut-sahutan di sana.


"Oh iya, mesin pesawat kita rusak karena tadi ada makhluk … makhluk …." Araya berucap, namun ia lupa nama makhluk kecil yang sempat muncul tadi. "Makhluk apa, Kak?" ia pun melempar pertanyaan itu pada Lucas.


"Gremlin." jawabnya dengan singkat.


Tak lama setelahnya, Adli berdiri dan kemudian berlari ke dalam pesawat.


Mungkin ia bersiap memperbaikinya, itu tebakan mereka. Memang benar kalau Adli itu cukup ahli dalam urusan teknik mesin. Tapi, tebakan mereka salah. Adli kembali sambil membawa radio kecil tak lama setelah ia masuk.


"Teman-teman! Kita dapat pesan!" ucapnya dengan nada cemas dan ekspresi yang berbeda. Keempat rekannya yang lain pun langsung mendekat ke arahnya.


"Ada apa? Kukira kamu akan minta bantuan kami untuk memperbaiki pesawat." Henry berdiri di sebelahnya. Bagian ruangan mesin pesawat memang porak poranda akibat ulah Gremlin itu tadi. Energi juga habis karena dihisapnya.


"Tadinya memang begitu. Tapi, kalian dengarkan ini …." setelah semua rekannya mendekat, ia mulai memutar pesan suara dari alat komunikasi itu.


Terdengar suara 'nit, nit, nit, nit' tapi dengan jeda yang berbeda-beda. Ada yang panjang, ada yang pendek juga. Itu adalah sandi yang berisi pesan rahasia.


"Markas diserang." celetuk Steve setelah selesai mendengarkan dengan seksama. Seketika ekspresi rekan-rekannya berubah drastis.


"Hah?!"


"Kawasan di sekitaran markas pusat telah dijajah oleh Darkness Swordman. Mereka telah ada di mana-mana. Anggota tersier dan sekunder sudah kewalahan menghadapi mereka. Salah satu dari anggota sekunder juga berada di antara wujud manusia dan Darkness Swordman. Jadi, para petinggi organisasi memerintahkan kita untuk membatalkan misi dan langsung pulang ke markas sekarang juga." ucap Steve panjang lebar. Yah, dia yang paling hebat dalam hal literasi. Bahkan ia bisa menerjemahkan sandi morse di radio dalam sekali dengar.

__ADS_1


"Sekarang juga? Tapi pesawatnya rusak, 'kan?" Lucas menanggapi. Kerusakan pesawatnya cukup parah. Kalau diperbaiki, pasti akan memakan waktu berjam-jam, belum lagi pesawat juga harus diisi energinya.


"Kita bisa menggunakan teleportasi untuk dapat langsung sampai ke markas." Steve menjawab masih dengan nada yang sama.


"Bukankah itu membutuhkan energi yang besar? Dan nanti pasti kita akan sedikit banyak mulai membantu regu lain mengatasi invasi Darkness Swordman." kali ini, Shiroi yang berucap. Pertanyaan Shiroi sudah mewakili isi pikiran Araya.


"Yah, kau memang benar. Tapi, kita tidak punya pilihan lain. Urusan energi, itu bisa diisi ulang." Henry menjelaskan setelah melihat Steve yang agak kesulitan menjelaskan apa yang dia pikirkan.


...----------------...


Singkat cerita, para regu primer telah sampai di markas lima menit setelah mengetahui isi pesan rahasia tersebut. Saat ini, mereka berada di hanggar, meskipun mereka kembali tanpa menggunakan pesawat.


"Kenapa ada banyak kertas?" gumam Araya sembari mengambil salah satu di antara banyak lembaran kertas yang berserakan di ruangan tersebut. Pada kertas itu, terdapat tulisan.


"Segera tinggalkan tempat ini tanpa membawa senjata, atau kalian akan meledak bersama dengan markas kalian." Henry membaca tulisan pada kertas tersebut. "Ini ultimatum!"


Tanpa menunggu lama lagi, Araya membuang kertas yang dipegangnya itu. Kemudian, ia segera ikut berlari dengan rekan-rekannya guna mencari anggota lainnya.


Ultimatum itu, pasti Darkness Swordman sudah datang ke sini, pikir Araya sambil berusaha menyamai langkah cepat teman-temannya.


Saat di perempatan lorong, Araya berhenti tiba-tiba. Karena saat itu ia berlari paling belakang, jadi mereka tidak tahu kalau Araya berhenti.


Sejurus kemudian, Araya berlari melewati lorong yang dia lihat tadi. Sejenak ia melupakan tujuannya datang ke markas dan berpisah dengan rekan-rekannya tanpa memberitahu lebih dahulu.


Beberapa meter ia berjala cepat menyusuri lorong gelap itu, Araya menemukan sebuah ruangan. Ruangan yang pintunya terbuka, namun di dalamnya gelap dengan pencahayaan remang-remang.


Tanpa pikir panjang, Araya pun masuk ke ruangan tersebut.


"Kak Aria!" begitu terkejutnya Araya setelah melihat seniornya dalam keadaan yang memprihatinkan. Tangan kirinya patah, dan terlihat kabel semrawut di bagian pundaknya. Tak hanya itu, tubuhnya juga terikat erat oleh tali tambang.


Akhirnya terbongkar kalau seniornya itu sebenarnya adalah humanoid. Araya mencoba untuk melepas tali yang mengikat tubuhnya.


"Araya … " Aria memanggilnya dengan suara yang lirih, dia juga memanggilnya dengan nama asli. "Pergilah dari sini."


"Apa? Aku tidak bisa membiarkanmu terus seperti ini, Kak. Aku akan membantumu!" Araya bersikeras untuk melepas tali yang mengekang Aria. Meskipun tali itu sulit dilepas dengan tangan kosong, Araya masih berusaha.


"Tidak. Kalau kamu tetap di sini, kamu akan meledak bersamaku … " sekilas Aria berusaha membalikkan badannya walaupun sekilas, supaya Araya melihat apa yang ingin ia tunjukkan.


Dan Araya melihatnya. Di punggungnya, ada sebuah bom yang diikat bersamaan dengan tubuhnya. Waktu pada bom itu menunjukkan angka 08 : 32—dalam menit—dan masih terus menghitung mundur.

__ADS_1


Araya terdiam—tercengang—melihatnya.


Siapa yang tega melakukan ini?! Pikirnya.


"Pergilah Araya. Aku tahu, setelah melihat ini, kamu ingin pergi dari sini-"


"TIDAK! Aku tidak akan pergi! Aku akan menyelamatkanmu, Kak!" mata Araya berkaca-kaca. "Shiroi, mode gunting!"


"Siap!" Shiroi menanggapi, kemudian segera mengubah sebagian alat transformasi menjadi benda yang Araya inginkan.


"Putus salah satu kabel untuk menonaktifkan bomnya, Araya." Shiroi memberitahu. Mengingat bahwa Araya sama sekali tidak berpengalaman dalam menjinakkan bom, jadi sistemnya itu berinisiatif membantunya.


"Kabel yang mana?"


"Terserah, pokoknya salah satu saja."


Pada bom itu, terdapat tiga kabel. Ada yang warna merah, biru, dan kuning. Araya hendak memutus kabel yang warnanya biru—letaknya ada di tengah.


Sedetik setelah kabel itu diputus, ketika waktu yang dihitung mundur jadi berkurang tiga menit! Bukannya hilang, waktu yang tertera menjadi 05 : 09. Itu artinya, waktu yang dia punya semakin sedikit.


"Hah?! Bagaimana ini, Shiroi?!" tentu gadis itu menjadi panik melihat hal yang dia lakukan tidak sesuai ekspektasi.


"Aku juga tidak tahu."


"Sudahlah Araya, tinggalkan aku. Teman-temanmu membutuhkan bantuanmu." Kak Aria kembali berucap seakan ia sudah pasrah pada nasibnya.


"Tapi, Kak Aria juga memerlukan bantuan. Aku akan berusaha lagi!"


"Dengarkan aku, Araya! Teman-temanmu memerlukan bantuan, terutama Kim Dae-Vin! Dia hampir berubah menjadi Darkness Swordman!" Kak Aria berusaha supaya Araya meninggalkan tempat itu dan menemui rekan-rekannya yang lain.


Araya kembali tercengang mendengar penuturan seniornya.


Dae-Vin? Darkness Swordman? Tidak mungkin …


Tanpa sadar, air matanya meleleh. Ia berada dalam dilema. Jika ia pergi, maka seniornya akan ikut meledak dengan bom itu. Tapi, jika ia tidak pergi, maka Dae-Vin mungkin akan benar-benar menjadi Darkness Swordman.


**To be continued …


Apa yang akan terjadi pada Araya dan rekan-rekannya? Pantau di chapter berikutnya** ^^

__ADS_1


__ADS_2