
[Mars Mission Arc - #9]
...----------------...
"Empat puluh miliar dua ratus ribu!" seru Hanny sambil masih mengangkat papan yang masih dipegangnya.
"Hah? Dia masih mempunyai uang?!" lelaki berpakaian serba hitam itu terkejut setelah melihat Hanny yang sama sekali tidak menyerah. Dia mengira kalau mereka sudah tidak sanggup lagi menyainginya. Tapi nyatanya, mereka yang berhasil memenangkan acara lelang itu dengan harga tertinggi.
"Heee? Apa maksudmu Hanny?! Bukankah uang kita tadi empat puluh miliar saja? Dua ratus ribunya dari mana?" bisik Zaaryan setelah menyikut pelan lengan Hanny.
"Dua ratus ribu itu uang pribadi kita, terpaksa kita gunakan untuk kebaikan kita semua. Relakan ya, lain kali pasti akan terbalas." balas Hanny dengan berbisik pula, diakhiri dengan kedipan sebelah matanya. Zaaryan hanya menghela nafas.
"Ini harga yang luar biasa! Empat puluh miliar dua ratus ribu! Tidak ada yang mau menawar lagi, baiklah Nona Hanny silahkan ke sini." ucapnya sambil mempersilahkan Hanny untuk segera ke panggung.
"Yosh! Akhirnya berhasil. Tak lama lagi, kami akan segera kembali ke bumi." sembari melangkahkan kakinya menuju panggung yang megah, Hanny membatin sambil memasang senyuman.
Sesampainya di panggung, dia berdiri menghadap ke arah penonton. Ada sekitar dua ratus orang di sana.
"Ini silahkan Nona." ucap sang pembawa acara sambil menyerahkan sebuah kunci yang berwarna emas.
"Terima kasih." Hanny langsung menerima kunci tersebut. Tapi tiba-tiba..
"Hahahaha! Terima kasih gadis kecil," makhluk berjubah hitam itu langsung menyahut kunci yang dibawa oleh Hanny.
"Akh! Sial! Kenapa harus sekarang?!" gerutu Hanny setelah melihatnya yang sudah berada di depan kotak kaca dalam satu kedipan mata.
...----------------...
Nit! Nit! Nit! Nit! Nit! Nit!
Suara alat pendeteksi gelombang kekuatan element. Alat itu berbunyi nyaring, yang seketika mengalihkan perhatian dua orang berlainan jenis yang berada dalam satu ruangan. Mereka berdua melihat alat tersebut.
"Apa ini?" kata Dae-Vin setelah melihat dengan seksama layar dari alat itu. Terdapat empat titik di daerah yang tak tidak terlalu jauh dari lokasi perawat mereka. Keempat titik itu juga tak mempunyai jarak yang begitu jauh satu dengan yang lain.
"Apakah element? Bukankah element-nya masih di acara lelang?" tanya Araya sambil sedikit memiringkan kepala. Dae-Vin melakukan zoom pada layar itu untuk dapat melihat lebih jelas. Dan setelah dilihat, ternyata benar. Ada empat batu yang berbeda warna di lokasi yang sama.
"Aku merasakan sesuatu." kata Araya dalam hati sambil mengalihkan pandangannya. Melihat lingkungan luar melalui jendela di ruangan kabin.
__ADS_1
Entah bagaimana di luar sedang badai, padahal tadi cuaca sedang bagus. Terlihat ada angin tornado yang bergerak semakin mendekat.
"Hey Araya! Kau mau ke mana?!" teriak Kim Dae-Vin memanggil Araya yang tiba-tiba berlari ke luar dari ruangan.
Araya tak menghiraukannya, dia terus berlari ke luar pesawat tanpa ada keraguan sedikitpun.
"Anginnya kencang sekali.." gumam Araya sambil mencoba melihat ke sekelilingnya yang agak gelap. Jarak pandangnya begitu terbatas akibat angin yang menerbangkan debu-debu dan pasir di sana. Samar-samar dia bisa melihat angin yang bergerak berputar-putar. Angin tornado.
"Ada cahaya di dalam sana!" berusaha bergerak perlahan, Araya berjalan mendekat pusat angin itu sambil sedikit menutupi kedua matanya dengan telapak tangan supaya tidak kemasukan debu.
"Eh! Eh!" tubuh Araya mulai melayang seiring dekat dengan pusat angin. Padahal berat badannya sudah naik satu setengah kilogram, tapi masih saja bisa terangkat oleh angin tornado.
Plok! Seseorang memegang pundak Araya, menariknya ke bawah supaya tidak terbang terbawa angin.
"Itulah sebabnya, kamu harus makan lebih banyak." ucapnya sambil memandang ke langit yang berada di atas angin tornado.
Araya memandang wajah sampingnya yang tertutup. Armor birunya tampak begitu mencolok di tengah badai itu.
"Terima kasih, Dae-Vin." Araya berterima kasih. Jika saja Dae-Vin terlambat datang, mungkin tubuh Araya sudah terombang-ambing dan berputar-putar di angin itu.
"Maaf, aku merasakan sesuatu. Aku merasa kalau batu element juga ada di pusat angin ini." singkat dan jelas Araya berucap. Sontak ucapannya itu membuat Dae-Vin menolehkan kepalanya menatap Araya.
"Apa katamu? Element ada di sini? Lalu bagaimana dengan Hanny dan Zaaryan?"
"Tidak tau,"
"Baiklah Araya. Apa kau memikirkan hal yang sama?" tanya Dae-Vin masih sambil menatap Araya.
"Apa? Jangan-jangan yang di sana palsu?!" Araya mengalihkan pandangannya, dia juga merasa kalau kedua rekan timnya akan mendapatkan nasib buruk. Otak Araya mulai berpikir ke mana-mana. Dia juga berdoa supaya semuanya tetap baik-baik saja.
"Araya, tetaplah pegang tanganku." kata Dae-Vin berhasil membuat Araya tersadar dari lamunannya yang tidak tepat kondisi.
"Hah?" tentu Araya bingung, padahal alasannya sudah jelas.
"Sudahlah, pegang saja!"
Setelah itu, sambil berpegangan tangan mereka berdua berjalan perlahan-lahan ke tengah angin tornado itu. Kuat sekali pusaran anginnya. Ada banyak batu kerikil yang ikut berterbangan di udara.
__ADS_1
"Itu dia!" seru Araya setelah melihat sebuah kotak di tengah-tengah angin. Kotak yang sepertinya terbuat dari bahan kristal itu masih nampak berkilau meskipun sudah tertutup oleh lapisan debu.
Mereka masih berjalan bersama. Setelah sampai, Araya segera mengambil kotak itu dan mengamankannya. Setelah berhasil di ambil, seketika angin itu langsung menghilang.
"Anginnya langsung berhenti, hebat sekali." gumam Dae-Vin sambil melihat sekeliling. Araya masih membersihkan debu-debu yang menempel di permukaan kotak dengan telapak tangannya.
"Apa kita bisa membukanya di sini?" sebelum membuka kotak tersebut, Araya mendongakkan kepalanya sembari bertanya.
"Terserah kamu saja, aku yang akan berjaga." seperti tanpa beban Dae-Vin berucap disertai anggukan kecil. Araya kembali menunduk guna melihat kotak yang masih dia pegang.
KLEK!
Hanya dengan sekali tekan, kotak tersebut langsung terbuka. Menampilkan empat batu, ada warna merah hati, oranye, biru agak putih, dan pink.
"Biar ku periksa sebentar," tutur Dae-Vin singkat sambil sedikit menundukkan badannya dan mengarahkan tangan kirinya ke arah batu-batu tadi, supaya alat transformasi miliknya bisa mendeteksi apakah batu tersebut asli atau palsu.
"Ini batu element asli," Dae-Vin mengambil kesimpulan setelah mendapati kalau lampu di alat transformasinya berkedip-kedip semakin cepat.
"Kalau begitu, bagaimana dengan mereka berdua?" mereka berdua yang Araya maksud sudah jelas adalah Hanny dan Zaaryan. Apakah mereka berdua benar-benar telah ditipu?
"Aku akan menghubungi mereka," Dae-Vin segera menyalakan alat komunikasi yang tersedia dalam armornya.
...----------------...
"Zaaryan, kalian berdua segeralah kembali! Batu element yang ada di lelang itu palsu!" Dae-Vin berucap dengan sedikit mempercepat intonasi bicaranya.
"Apa? Yang benar saja? Di sini element-nya asli, Darkness Swordman saja mencoba merebutnya dari kami. Akh!" balas Zaaryan yang diakhiri dengan erangan. Dirinya baru saja terkena dampak serangan dari si pendekar kegelapan.
Semenjak Darkness Swordman menampakkan dirinya, kekacauan seketika terjadi. Acara lelang dibubarkan begitu saja, dan kini keempat batu element menjadi bahan taruhan antar kedua belah pihak. Pihak Darkness Swordman, dan pihak organisasi Elemental Asia.
"Zaaryan, kau baik-baik saja?! Baiklah. Aku dan Araya akan segera ke sana membantu kalian." tanpa pikir panjang, Dae-Vin langsung memutuskan untuk menuju ke sana bersama Araya guna membantu kedua rekannya yang lain.
To be continued..
...----------------...
Sejauh ini, aku pengen ucapin terima kasih banyak buat teman-teman yang sudah membaca sejak awal. Terima kasih juga buat dukungannya. Aku senang bisa membuat cerita ini. Mulai sekarang, aku akan berusaha update rutin meskipun ngga setiap hari. Sekali lagi, terima kasih!
__ADS_1