Elemental Gen-Z

Elemental Gen-Z
Chapter 82


__ADS_3

[Primary Members Arc - #2]


...----------------...


"Huuh.. Dinginnya.." Menghembuskan nafasnya, Araya berucap pelan sambil menggosokkan telapak tangannya yang terlapisi sarung tangan.


Mereka sudah sampai di Kutub Utara sejak beberapa menit yang lalu. Mereka sudah mulai melaksanakan misi pertama sekali terakhir selama menjadi anggota primer.


Berjalan di atas salju adalah hal baru bagi Araya, toh dia sebelumnya tinggal di negara tropis yang hanya ada dua musim.


"Eh?" Araya memandang ke arah Steve dengan heran. Laki-laki itu baru saja memakaikan jaketnya pada Araya. Dan sekarang, ia hanya memakai seragamnya saja ada outfit lain yang dia pakai.


"Kau pakai saja, aku tidak dingin." Ucapnya dengan nada datar, kemudian mulai berjalan lagi.


"Dia tidak dingin? Apakah sudah terbiasa?" Araya bertanya dalam hati, tentu ia heran bagaimana ia bilang tidak merasa dingin.


Setelah itu, mereka bertiga melanjutkan perjalanan. Hanya bertiga? Ya, di tempat itu hanya ada mereka bertiga. Sedangkan Henry dan Adli pergi ke tempat lain setelah memutuskan untuk berpencar.


Araya dan Lucas langsung menghentikan langkah setelah Steve berhenti tiba-tiba. Menatap lurus ke depan, ada sesuatu yang berhasil membuatnya memutuskan untuk menghentikan langkah sejenak dan kembali memantau alat transformasi.


"Ada apa?" Tanya Araya sambil menatapnya yang sedang fokus mengamati. Steve tidak akan melewatkan satupun petunjuk yang bisa berguna.


"Wah, ada goa.." Araya berucap pelan setelah melihat tempat di depan mereka. Ada goa yang mengarah ke bawah tanah, tempatnya ada di tengah-tengah hamparan salju.


"Sinyal element-nya semakin kuat di sekitaran sini. Kemungkinan besar ini tempatnya. Ayo masuk," kata Steve untuk meyakinkan kedua rekannya itu. Perlahan, Steve melangkahkan kakinya masuk ke goa tersebut. Tentu saja gelap, ia menyalakan penerangan hanya dengan alat transformasi miliknya.


Araya menatap dinding goa itu yang terbuat dari batu. Di permukaannya, terdapat goresan-goresan. Dari motifnya, Araya berhipotesis kalau goresan-goresan itu dibuat saat masa prasejarah. Itu bisa saja, motifnya pasti mempunyai makna tertentu. Semacam kode yang menyimpan suatu rahasia.


Setelah beberapa menit berjalan, mereka kembali menghentikan langkahnya, kemudian menatap sekelilingnya. Tepat di depan mereka, ada jurang yang memisahkan.


"Sinyal element-nya benar-benar semakin kuat, pasti sudah tidak jauh." Bergumam, Steve berucap sambil mengamati jurang sedalam tiga belas meter itu.


"Aku yang akan ke sana, kalian bisa tunggu di sini." Lucas menanggapi, ia sudah berdiri di dekat pinggiran jurang itu.

__ADS_1


"Tapi, bagaimana caranya? Kalau lompat tidak akan sampai kan?" Araya cukup terkejut dengan penuturan Lucas barusan. Lebar jurang itu sekitar sepuluh meter, apakah bisa kalau dilompati tanpa bantuan alat?


"Mudah saja. Di dalam sana, banyak bebatuan. Aku bisa lewat bawah dan kemudian baru ke atas." Menunjuk ke bawah, Lucas berucap sambil memasang seringai tipis.


"Hah?"


"Jangan khawatir, aku seorang atlet parkour." Sekilas, Lucas menatap Araya yang khawatir. Belum sempat Araya kembali merespon, Lucas sudah langsung lompat saja.


Tahu olahraga parkour? Olahraga ini terbilang ekstrim, karena seseorang akan melewati berbagai rintangan secepat dan seefisien mungkin hanya dengan tubuh, alias tanpa alat. Umumnya, olahraga ini dilakukan oleh laki-laki, mungkin karena berbahaya dan memicu adrenalin.


Dalam hitungan detik, Lucas sudah berada di daratan seberang tanpa luka sedikitpun. Araya takjub melihatnya. Jika sebelumnya ia hanya pernah melihat aksi itu di televisi, sekarang ia melihatnya secara langsung.


"Baiklah, aku pergi." Lucas berbalik, kemudian berjalan cepat untuk melanjutkan pencarian.


"Kalau Kak Lucas yang mencarinya, apa yang harus kita lakukan Kak?" Tanya Araya pada Steve yang terdiam sejak tadi. Mereka memang bukan orang yang seru menurut Araya. Yah, mungkin karena belum akrab saja.


"Kita menunggu, aku juga akan menghubungi Henry sebentar." Jawabnya datar, Araya hanya mengangguk pelan.


Sementara Steve mencoba menghubungi Henry, Araya terdiam mengamati sekeliling. Selama menjalankan misi sebagai anggota pasif, Araya akan mendapatkan pengalaman yang tidak akan ia dapatkan kalau menjadi orang biasa.


"Park Hana, apa kamu tahu sesuatu?" Celutuk Steve sambil mengalihkan pandangannya dari tab yang ada di tangannya.


Araya langsung menatapnya, "apa?"


"Aslinya, ini Kutub Selatan."


Araya mengerutkan keningnya, ia bingung. "Kutub Selatan? Kok bisa? Bukankah arah jarum kompas kita mengarah ke utara?" Tanya Araya berturut-turut. Ia juga memastikan dengan cara melihat kompas yang terdapat pada tab yang ia bawa. Benar, jarum kompasnya memang mengarah ke sini.


"Kamu tahu teori kemagnetan bumi? Bumi punya dua kutub kan? Utara dan Selatan?"


Araya mengangguk, Steve akan mulai menjelaskan tentang hal itu.


"Kamu tahu sifat-sifat magnet?"

__ADS_1


Araya kembali mengangguk, "magnet akan tarik-menarik jika kutub yang berbeda saling didekatkan, dan tolak-menolak jika kutub yang sama didekatkan."


"Ya, begitupun dengan kemagnetan pada bumi. Konsep itulah yang mendasari kalau kutub utara kompas mengarah ke sini, tempat ini sebenarnya adalah kutub selatan bumi."


"Kalau ini kutub utara, kutub pada magnet itu kutub selatan?" Tanya Araya untuk memastikan. Steve mengangguk. Ini adalah materi pelajaran fisika kelas 9 yang seharusnya sudah ia pelajari bersama Dae-Vin beberapa bulan yang lalu. Waktu itu, Araya tidak belajar dengan maksimal, jadi ia tidak terlalu memahami tentang hal tersebut.


"Jadi, yang benar itu yang mana?"


"Aku pun juga masih agak bingung. Mungkin ini disebut kutub utara karena kutub utara magnet mengarah ke sini, supaya mudah mengingatnya. Bisa jadi begitu. Tapi, bisa jadi juga kalau magnet yang biasa kita gunakan sebagai patokan itu kutub selatannya" Steve mengambil kesimpulan. "Dan apakah kamu tahu, kalau kompas yang ada di sini sebenarnya membentuk sudut 90 derajat?"


Lagi-lagi, pertanyaan Steve membuat Araya tertarik. "Bagaimana bisa begitu?"


"Tempat ini adalah medan magnet bumi, seperti halnya magnet, kalau diibaratkan bumi juga mempunyai garis gaya magnet. Dan tempat ini adalah pusatnya." Saat Steve menjelaskan, beberapa kali pandangan mereka bertemu. Araya bersungguh-sungguh mendengarkannya. "Seakan ada magnet besar di bawah tanah, membuat jarum kompas yang berada di sini membentuk sudut 90 derajat dari bidang horizontal. Namanya sudut inklinasi."


Araya mengangguk pelan, ia baru mengetahui hal ini. "Oh iya, kalau boleh tahu, Kak Steve sudah lulus kuliah kah?" Tanya Araya dengan topik berbeda. Tiba-tiba saja, ia ingin mengetahui hal itu. Sebab, meskipun pendiam, Steve ternyata bisa menjelaskan dengan lancar.


"Aku belum lulus SMA. Baru naik kelas tiga, dan kemudian diminta bergabung dengan organisasi." Jawab Steve sambil menatap ke bawah. "Dan kamu Park Hana, belum lulus SMP ya?"


"Sebelumnya, aku masih kelas dua SMP. Setelah tugas kita benar-benar selesai, apakah kita akan melanjutkan sekolah?"


Steve mengangkat bahunya pelan, kemudian menatap Araya dengan tatapan yang dalam. Tentu Araya tidak mengerti maksudnya.


Entah mengapa, Araya jantung Araya berdebar-debar saat itu, seperti seseorang yang habis kaget. Ia mencoba mengalihkan pandangannya supaya tidak berlama-lama bertatapan dengannya.


Tanpa ia sadari, tangan kanan Steve memegang pundak kirinya. Perasaan Araya terasa aneh kala itu. Sekilas ia menatapnya, kemudian kembali mengalihkan pandangan. Ia merasa tidak nyaman.


"Park Hana.." ucapnya dengan nada pelan, nada yang berbeda dari yang sebelumnya. Suaranya terdengar lebih berat dari sebelumnya.


"I-iya? Ada apa.. Kak Steve?" Araya membelalakkan matanya, setelah menyadari kalau jarak mereka berdua sudah begitu dekat.


"Aku menyukaimu." Bisiknya tepat di depan Araya.


Steve sebenarnya sudah menunggu saat ini. Semenjak ia mengetahui identitas Park Hana setelah resmi menjadi anggota, ia mulai tertarik dengan anak itu. Usia memang terpaut agak jauh, namun itu tak menjadi penghalang bagi Steve untuk mengungkapkannya pada Araya. Apakah Araya akan menerima?

__ADS_1


To be continued..


Terima kasih sudah membaca kisah Araya dkk. Semoga suka ya..


__ADS_2