
[Desert Mission Arc - #6]
...----------------...
"Di mana.. Aku?" kata Dae-Vin dalam hati setelah beberapa detik yang lalu dia tersadar. Dia mencoba menggerakkan tubuhnya, melihat-lihat sekelilingnya.
Tak jauh di depannya, terdapat perapian yang digunakan untuk menghangatkan diri. Namun, itu bukanlah perapian biasa. Di tempat itu, sama sekali tidak ada kayu. Api itu dapat menyala karena menggunakan element api.
Dae-Vin kembali melihat sekelilingnya. Tak jauh dari sana, ada tiga orang yang sedang duduk bersama sembari melihat bintang-bintang di langit.
"Seperti kuda unicorn yang ada di film-film ya?"
Suara Araya terdengar, dari nada bicaranya, dia sudah baik-baik saja saat ini.
"Iya mungkin. Soalnya kan sama-sama memiliki tanduk di kepalanya. Dan juga, sama-sama makhluk mitologi Yunani, iya kan, Yan?" balas Hanny bertanya pada Zaaryan.
"Iya. Ada banyak lagi konstelasi yang berbentuk binatang. Seperti Ursa major, Ursa minor, Scorpio, dan masih banyak lagi lah. Mau tau lebih lengkap, tinggal cari saja di internet." balas Zaaryan dengan nada agak malas. Dia memang sudah mulai mengantuk.
"Terus kalau 'Orion' itu apa?" tanya Araya lagi.
"Itu konstelasi yang bentuknya seperti pemburu. Ada legendanya juga, tapi aku lupa." jawab Hanny. Dia juga mulai merasakan matanya yang terasa pedas karena sudah mengantuk.
Saat ini sudah jam sebelas malam. Dan mereka bertiga masih berada di tempat itu. Hanny dan Zaaryan masih sibuk menahan kantuk, sedang Araya masih duduk diam sembari mengamati beberapa rasi bintang yang sudah diberitahu kedua temannya tadi. Sejak beberapa jam yang lalu, mereka memang duduk bersama-sama dan saling berbagi ilmu tentang hal itu.
Lima belas menit berlalu, dan sekarang Araya masih terjaga. Kedua temannya telah tertidur dalam posisi duduk. Entah mengapa, dia sama sekali belum mengantuk.
Kemudian, dia menatap ke belakangnya. Dia melihat Dae-Vin yang terduduk di samping perapian itu. Pandangan mereka pun bertemu, Araya hanya tersenyum tipis dan lalu menghampirinya.
"Kamu baik-baik saja? Tadi apa yang terjadi?" tanya Araya dengan suara yang pelan supaya tak mengganggu. Dia duduk berhadapan dengan Dae-Vin.
"Aku baik-baik saja. Tadi hanya ada sedikit masalah padaku, tapi sekarang sudah beres masalahnya." ujar Dae-Vin sedikit menutupi kejadian aslinya.
Hal yang sebenarnya terjadi adalah, dia memberikan izin pada makhluk tadi untuk ikut tinggal dalam raganya, dengan syarat dia tak akan mengambil alih kendali tubuhnya tanpa seizin dari Dae-Vin. Dia juga berjanji padanya untuk merahasiakan keberadaannya pada siapapun.
"Araya, maaf karena aku telah melukaimu." ucapnya lirih, kemudian menggenggam tangan kanan Araya.
"Gara-gara aku, kamu jadi seperti ini. Pasti sakit kan? Aku benar-benar minta maaf. Biar aku menebus kesalahanku dengan menghadapi Darkviper untuk mengambil penangkalnya." lanjutnya. Terlihat dia memasang ekspresi yang serius. Membuat Araya tak berani bertatapan langsung dengannya.
"Darkviper?"
"Iya, dia Pendekar Kegelapan yang bisa berubah wujud menjadi ular."
__ADS_1
"Bukan begitu, Dae-Vin. Ini bukan sepenuhnya salahmu. Kamu kan-"
Tak melanjutkan kalimatnya, Araya kembali merasakan sakit dari racun tadi. Namun, dia berusaha menahannya di depan Dae-Vin.
"Ehm, maksudku kamu tak perlu melakukannya sendirian. Kita berempat bisa melakukannya bersama-sama." ucap Araya mengoreksi kalimatnya tadi. Dia masih menunduk.
"Kalau tidak, kita bisa langsung pulang ke markas saja. Batu Element untuk tahap keempat sudah didapatkan." lanjut Araya di saat Dae-Vin masih terdiam.
"Yah, sepertinya itu ide yang lebih baik."
...----------------...
Keesokan harinya, di saat matahari baru terbit dan cuaca agak dingin. Mereka masih berada di sana untuk membereskan tempat istirahat mereka tadi malam.
Setelah selesai, sekarang mereka sudah bisa pulang ke markas. Tetapi, hambatan pun datang.
"Eh sudah mau pulang rupanya. Kalian menyelesaikan tugas terlalu cepat." ucapnya setelah beberapa detik yang lalu muncul di tempat itu. Kali ini, dia langsung muncul dengan wujud aslinya.
"Tutup mata semuanya!" sontak, Dae-Vin langsung berteriak memberi aba-aba pada teman-temannya supaya hal seperti kemarin tidak terjadi lagi.
Semuanya pun menutup mata, kemudian menggunakan mode armor setelah diberi aba-aba lanjutan.
"Shiroi, bantu aku untuk mendeteksi serangannya ya, soalnya aku tutup mata." bisik Araya pada Shiroi.
"Yang pertama, jangan biarkan teman-temanmu berpencar." ucap Shiroi pada Araya.
"Teman-teman, jangan berpencar ya! Tetaplah di tempat kalian dan jangan banyak bergerak." ucap Araya melalui alat komunikasi.
"Baiklah Araya, kamu juga harus berhati-hati." balas Hanny.
Setelah itu, Shiroi kembali mendeteksi sekitarnya. Selama beberapa detik, dia tidak merasakan ada pergerakan udara yang menandakan ada serangan. Hingga, tidak lama kemudian.
"Araya, dia akan menyerang dari belakang Hanny!" ucap Shiroi tiba-tiba.
"Hanny, di belakangmu!"
BRUAKH!
Seketika Hanny mengarahkan tendangan ke belakangnya dan tepat mengenai sasaran.
"Dae-Vin, di sebelah kirimu!" Araya ganti memberi tau Dae-Vin, tentu setelah Shiroi memberitahukan hal itu padanya terlebih dahulu.
__ADS_1
BRUK!
Pukulan itu tidak meleset. Lagi-lagi mengenai sasaran.
"Aah, sialan. Bagaimana dia-" kemudian, Darkviper pun berubah wujud menjadi ular viper yang berwarna kuning agak silver.
"Zaaryan, di bawahmu!"
"Apa? Di bawah?"
Bruk! Bruk! Bruk! Bruk!
Mendengar kata 'di bawah', Zaaryan seketika menghentak-hentakkan kakinya tepat di tempatnya berdiri. Seakan tidak ingin memberikan kesempatan bagi lawannya, Zaaryan tanpa henti masih menghentakkan kakinya. Sampai banyak debu-debu yang berterbangan. Setelah dia rasa kalau ular itu sudah gepeng atau mati, dia pun menghentikan tingkahnya.
"Araya, di sebelah kanan!" ucap Shiroi tiba-tiba, membuat Araya tak sempat refleks. Alhasil, dia pun terkena serangannya. Dan lagi-lagi, tangan kanannya yang kembali diserang.
Belum juga tangannya sembuh setelah misi planet Mars dan kemarin yang terkena racun, sekarang sudah harus menerima serangan lagi.
Ular itu melilit pergelangan tangan kanannya, semakin lama semakin kuat, bahkan sampai membuat aliran darahnya terhenti.
"Araya, di mana kamu? Apa yang terjadi?" Dae-Vin bertanya setelah mendengar suara-suara aneh yang seperti berada di dekat Araya.
"Aku.. Aku baik-baik saja. Jangan khawatir, hanya sedikit masalah." balas Araya seakan tak terjadi apa-apa. Dia tak ingin membuat rekan-rekannya khawatir.
"Apa yang terjadi Araya?" Zaaryan bertanya sambil membuka matanya. Dia melihat dari balik layar hologram.
"Araya!!" tanpa pikir panjang, ia menghampiri Araya yang berdiri tak jauh darinya. Menyadari hal yang tidak beres, Dae-Vin dan Hanny pun melakukan hal yang sama.
"Jangan mendekat!" berusaha untuk membuat teman-temannya menjauh, Araya berteriak.
"Hey, lepaskan Araya!"
"Tidak sebelum aku menggigitnya. Bersiaplah.." ucap Darkviper sambil melilit pergelangan tangan Araya semakin erat.
"Tolong menjauhlah!" sekali lagi Araya berteriak. Selang beberapa milidetik, tangannya langsung digigit olehnya.
"Gawat, lagi-lagi aku digigit. Akh! Aku pusing.. Aku tak bisa melihat.. Racunnya, bertambah banyak.." kata Araya dalam hati saat ia merasakan perubahan drastis pada tubuhnya. Racunnya semakin bertambah, apalagi kali ini racun yang lebih kuat daripada yang kemarin.
"Araya! Cobalah untuk tetap tersadar!" kata Shiroi dan sejurus kemudian, Araya langsung ambruk.
To be continued..
__ADS_1
...----------------...
Lagi-lagi Araya harus menanggung masalah. Apakah dia sanggup, atau kalah? Jangan lupa berikan like dan komentar untuk menyemangati author!