
[Araya's Origin Arc - #7]
...----------------...
CPRAT! CPRAT! CPRAT!
Suara tangan bayangan yang terputus akibat usaha dari Rain dan Fatih untuk membebaskan diri. Sejak beberapa saat yang lalu, tangan-tangan bayangan tersebut memang mulai melemah, mungkin karena Darkzero memfokuskan tenaganya hanya untuk menyerang Arga.
"Rain, ayo. Sebelum kita terlambat." ajak Fatih sambil mengedikkan dagunya.
"Tapi, kita kan tidak tau di mana mereka."
"Kau benar juga. Lalu kita harus apa sekarang?"
"Kita berdoa saja." jawab Rain singkat. "Kita juga harus mengabari markas dulu." lanjutnya. Fatih mengangguk setuju.
...----------------...
"Sebentar lagi, aku akan menyegelmu supaya kau tak bisa berulah lagi. Kemudian akan kubawa tubuhmu yang telah menjadi batu dan menunjukkannya pada teman-temanmu."
"Itu tidak akan terjadi!" balas Arga tegas sambil mengeratkan genggaman pedangnya. Dia berusaha mengatur pernapasannya supaya bisa lebih fokus.
"Kalau benar-benar terjadi, bagaimana?"
"Aku tak akan membiarkannya!" sembari berlari ke arah Darkzero, Arga bersiap untuk menghabisinya dalam sekali serangan terakhir. Namun..
Tanpa sepengetahuannya, tanah yang dia pijak mendadak runtuh dan membuatnya masuk ke dalam jurang yang dalam. Bukannya pergi, Darkzero malah ikutan masuk ke sana. Mungkin ini adalah bagian dari rencananya.
"Semakin dalam.. Semakin sempit..." katanya dalam hati setelah merasakan tubuhnya yang mulai terhimpit bebatuan yang menjadi dinding jurang. Pasokan udara juga mulai menipis, membuatnya mulai kesulitan bernapas.
CEP! TCING!
Arga berusaha menancapkan pedangnya di dinding jurang itu guna menahan supaya dia tak jatuh semakin ke dalam. Tapi apa? Pedangnya malah patah dan hancur seketika.
"Tidak semudah itu.." suara itu kembali terdengar. Suara Darkzero yang entah berada di mana. Arga memcoba melihat sekelilingnya, gelap. Dia tak bisa melihat dengan jelas.
BUAKH!
Tak lama kemudian, dia merasakan ada bola besi tajam yang menghantam tubuhnya. Bola besi yang biasanya digunakan untuk menghancurkan bangunan. Hantamannya lebih kuat dari yang sebelumnya, mungkin karena Darkzero tau kalau Arga yang menggunakan kekuatan element kegelapan menjadi dua kali lipat lebih kuat dari yang sebelumnya.
__ADS_1
Akibat dari itu, tubuhnya kembali terhempas. Arga mencoba memanfaatkan kejadian itu untuk berpegangan pada dinding. Namun nihil, pada dinding itu tidak ada satupun batu ataupun kerikil yang bisa dia gunakan untuk berpegangan. Dinding itu halus dan licin.
"Darkzero, kau berubah menjadi pengecut?!" ucap Arga sambil melihat sekeliling sesaat setelah tubuhnya berhasil mendarat di dasar jurang.
"Terserah kau mau menyebutku apa. Tapi yang pasti, aku berhasil membuat ilusi di dalam ilusi. Keren kan?" menampakkan dirinya, Darkzero berucap sambil tersenyum bangga.
"Keren apanya?! Kau hanya mengacaukan ilusi yang kubuat!"
"Salah siapa. Kubilang kan kau itu lemah dan belum bisa memanfaatkan element dengan sempurna."
"Kau-" baru saja mengucapkan satu kata, Darkzero sudah kembali berucap sembari menjentikkan jarinya.
"Lihat ini."
Di dekat mereka, muncul sebuah hologram yang menampilkan keadaan Darkzhi yang sungguh malang. Armornya yang telah enam puluh persen memudar, kekuatannya yang menurun drastis, membuatnya mudah untuk tertangkap.
"Darkzhi, tertangkap?"
"Hahaha! Makanya, jangan jadi pengkhianat. Bagi mereka yang mengkhianati organisasi Darkness, maka mereka akan disiksa di dalam penjara sampai dia mati secara mengenaskan." Darkzero berucap sambil menjentikkan jarinya untuk menghilangkan hologram tadi.
"Darkzhi, bukan pengkhianat. Dia adalah temanku! Kamu yang memaksanya untuk bergabung di organisasi Darkness. Apakah pemaksaan itu adil?! Semua makhluk hidup itu punya hak masing-masing!"
Karena sudah tidak tahan lagi, pada akhirnya Darkzero benar-benar mengeluarkan serangan terdahsyatnya untuk menyegel Arga.
Banyak benda-benda seperti kertas origami yang berwarna hitam pekat yang berterbangan di sekitar Arga. Tentu Arga tak sebegitu menyadari serangannya barusan.
Hingga, saat dia kurang refleks, satu lembar kertas hitam itu berhasil menempel di tengkuknya yang seketika membuatnya tak bisa digerakkan.
"Apa ini? Kenapa leherku tak bisa bergerak?" membatin Arga sembari berusaha mengambil kertas yang telah menempel di leher belakangnya. Tapi, sebelum itu terjadi, tangannya juga sudah ditempeli oleh kertas hitam itu. Membuat tangannya juga tak bisa digerakkan. Kaku.
"Mwahaha! Kertas-kertas ajaibku itu tak akan bisa disobek! Inilah jurus terdahsyatku kalau kau ingin tau." tawanya kembali menggelegar. Di saat itu pula, semakin banyak kertas hitam yang menempel di tubuh Arga yang masih tertutup armor.
"Aku.. tak bisa bergerak.." meskipun berusaha bergerak, tetap saja tidak bisa. Kertas-kertas itu bagaikan semen yang mengeras setelah menempel di tubuhnya.
"Aku benar-benar minta maaf. Aku tak akan kembali. Aku gagal dalam misi. Fatih, Rain, tolong rahasiakan identitasku untuk sementara waktu. Araya, Allucia, maaf aku telah gagal menjadi ayah kalian. Aku tak bisa melindungi kalian. Aku tidak bisa-"
Sekarang, Arga sudah tertutup dengan kertas hitam keras itu, termasuk wajahnya juga. Dan akibat dari itu pula, Arga telah berhasil disegel oleh Darkzero. Sehingga dirinya tak akan bisa berbuat apa-apa sampai waktu yang belum bisa ditentukan.
Semua proses dan metabolisme dalam tubuhnya telah berhenti. Semuanya juga telah ikut mengeras. Sel berhenti membelah, darah berhenti mengalir, oksigen dan karbondioksida tak bisa masuk dan ke luar, serta jantung juga berhenti berdetak.
__ADS_1
...----------------...
"Kalian mencari siapa? Pergilah dari sini!" ucap Darkness Swordman lainnya yang berada di sekitar markas Darkness. Mereka sedang berhadapan dengan Rain dan Fatih yang masih belum menemukan keberadaan Arga.
"Tidak akan! Kami tidak akan pergi begitu saja sebelum menemukannya." balas Fatih tegas. Belum juga Darkness Swordman di depannya itu kembali menjawab, sudah ada yang menjawab lebih dulu.
"Kalian pasti mencari dia kan. Dia sudah tak bisa diharapkan." dari arah belakang, suara itu terdengar. Suara Darkzero. Sontak, mereka berdua pun berbalik dan menatapnya.
CTAK!
Darkzero menjentikkan jarinya dan seketika di sampingnya ada Arga yang telah selesai disegel. Tubuhnya sudah seratus persen terlapisi dengan kertas hitam tadi yang juga sudah mengeras semua.
"Apakah dia masih teman kalian? Lihatlah keadaannya. Menyedihkan sekali kan? Hahahaha!"
"Tidak, tidak mungkin itu Arga.." Rain berucap sambil menggeleng tak percaya.
"Tidak percaya? Lihatlah, bahkan kekuatan element kegelapan yang dia gunakan tadi juga ikut membatu dan tersegel." Darkzero berucap sambil menunjuk alat transformasi yang masih melekat sempurna di pergelangan tangan kiri Arga.
"Tidak.. Di sini, bukan hanya Arga yang punya element kegelapan. Itu pasti Darkness Swordman yang lain! Arga tak semudah itu kau kalahkan!" begitupun dengan Fatih, dia juga masih belum bisa percaya. Darkzero mengusap tengkuknya.
"Haah, bagaimana cara meyakinkan kalian ya? Padahal aku berkata benar. Hmm coba kalian cek dengan fitur pendeteksi di armor kalian, apakah dia Arga, atau bukan." ucap Darkzero dengan santainya. Duel memang telah berakhir. Pertempuran juga telah mereda sejak kedatangan Darkzero kembali ke markasnya.
Fatih menggunakan fitur pendeteksi pada armornya untuk mengetahui apakah itu benar-benar Arga atau bukan. Dan memang benar yang dikatakan Darkzero.
"Ya ampun, ternyata dia.. Benar-benar Arga. Arga telah dikalahkan.." kata Fatih melalui alat komunikasinya.
"Arga kalah?! Kita tak punya pilihan lain! Mundur dan segera ke luar dari dimensi Darkness!" sahut seseorang yang merupakan komandan organisasi Elemental dunia. Fatih dan Rain mengiyakan, kemudian melakukan teleportasi dengan energi darurat untuk pergi dari sana.
"Arga, maaf karena kami harus pulang tanpa membawamu juga.." kata Fatih dalam hati.
"Maaf Arga, seharusnya kamu tidak menghadapinya sendirian. Kita seharusnya bertarung bersama-sama, tapi aku tidak bisa karena aku memang lemah. Aku akan melakukan apa yang kamu inginkan. Sesampainya di markas nanti, aku akan langsung mengecek buku harianmu." sesal Rain dalam hati. Dirinya merasa tidak enak karena dia rasa selalu membebani Arga dengan tugas-tugas berat seperti pada hari ini. Dengan terpaksa dia harus memanggil Arga yang sedang diberi cuti setelah melakukan tugas berbahaya.
"Pergilah! Aku menunggu untuk melakukan hal yang sama pada generasi kalian yang akan datang! Wahahahaha!" Darkzero menyatakan kemenangannya dengan tawanya yang kembali terdengar.
Flashback end
...----------------...
Terima kasih buat teman-teman yang masih setia membaca cerita ini. Jangan lupa like dan komentarnya ya! Sekian..
__ADS_1