
[Final Arc - #2]
...----------------...
Energinya sudah tinggal sedikit. Hanya tinggal sepuluh persen karena barusan ia menggunakan element Rigel dan juga teleportasi. Jika sebelumnya inti element pertamanya telah dicuri, ia masih bisa teleportasi sebab element barunya mewarisi element lamanya.
Sesampainya mereka di markas, ia segera membawa seniornya itu menuju ruang kesehatan. Setelah hal ini selesai, ia berniat kembali ke medan pertempuran untuk membantu rekan-rekannya yang lain. Tak peduli meskipun energinya nyaris habis.
"Araya."
Mendengar ada yang memanggilnya, Araya berbalik. Menatap Steve yang terbaring di atas brankar dengan tubuh yang babak belur dan berlumuran darah.
"Namamu … Araya, 'kan?"
Araya mengangguk. Ia begitu prihatin melihat seniornya seperti itu. Dapat terlihat jelas matanya yang berkaca-kaca. Saat ini ia melepas armornya untuk lebih menghemat energi.
"Kak, aku benar-benar minta maaf. Hiks. Semua ini salahku. Hiks. Aku benar-benar menyesal. Hiks." tanpa bisa ia bendung lagi, tangisannya pecah begitu saja. Tubuhnya terduduk di lantai yang dingin.
"Aku … tidak suka melihat orang menangis. Jangan menangis." Steve berucap dengan suaranya yang sudah berubah. Tangan kanannya bergerak berusaha melepas alat transformasi yang masih melekat di pergelangan tangan kirinya.
Meskipun ia telah kehilangan telapak tangan kirinya, ia masih beruntung karena ia tidak kehilangan alat transformasi yang sangat berharga itu.
"Berdirilah, Araya."
Araya perlahan berdiri, kemudian mengusap sisa-sisa lelehan air mata di wajahnya. Ditatapnya Steve yang mata yang sembab. Pemuda di depannya itu tersenyum tipis.
"Ini, aku memberikannya untukmu. Aku sudah tidak bisa ikut bertarung lagi. Maaf." Steve menyodorkan alat transformasi miliknya itu pada Araya. "Zack, tolong jaga Araya."
Sebelumnya, alat transformasi milik Steve itu telah kembali seperti semula, bersamaan dengan melelehnya para Darkness Swordman yang menyerang mereka. Dan sekarang, ia telah kembali seperti semula. Bisa bicara dan kekuatannya pun masih utuh.
"Tidak! Zack milikmu, Kak. Dia tidak boleh ada bersamaku." tolak Araya sambil mencegah Steve.
Steve menggeleng, masih dengan senyuman tipisnya yang begitu tulus. Dia terlihat sangat berharap Araya menerima pemberian terakhirnya.
"Araya, terima. Zack juga sudah setuju." celetuk Shiroi tiba-tiba. Menyadarkan Araya bahwa ia sudah cukup lama bertatapan dengan Steve.
"Park Hana, tolong kamu segera keluar. Kami akan menangani Steve." seseorang anggota tim medis menegurnya karena ia tidak langsung keluar setelah mengantarkan Steve ke tempat itu.
Araya segera menerima alat transformasi yang Steve berikan. Menatapnya lamat-lamat sebelum ia pergi. "Saat pertempurannya sudah selesai, aku akan mengembalikannya. Aku janji, Kak Steve. Tunggulah. Baiklah, aku pergi."
...----------------...
Araya berlari keluar dari gedung markas. Berlari secepat mungkin supaya bisa kembali ke area perbatasan dimensi. Zack juga sudah terpasang di tangan kanannya.
__ADS_1
"Ini permintaan terakhir Steve. Aku akan berusaha membantu Shiroi untuk melindungimu." kata Zack saat Araya masih berlari. "Terima kasih karena sudah menolong kami tadi."
"Kalau itu, tidak masalah. Tapi, apa maksudmu permintaan terakhir?" tanya Araya setelah merasa ada yang janggal dengan perkataan Zack. Ia mencoba menepis pikiran buruknya, dan mencoba lebih berpikir positif.
"Steve tidak punya tiga nyawa sepertimu. Dia adalah orang biasa. Eksekusi tadi membuatnya kehilangan begitu banyak darah."
Benar juga apa yang dikatakan Zack. Meski Steve mempunyai kelebihan, ia tetaplah manusia. Setiap yang hidup pasti akan kembali ke Sang Pencipta.
Araya diam. Memutuskan untuk tidak melanjutkan pembicaraan daripada membuatnya bertambah khawatir.
Tidak lama kemudian, ia menghentikan langkahnya saat sampai di tempat kejadian perkara. Di depannya, ada ratusan Darkness Swordman dari level lima hingga dua sedang menghadangnya.
"Shiroi, Zack, bantu aku!"
"Ya!"
Armor yang berbeda telah terpasang di tubuhnya. Jika sebelumnya menyesuaikan element yang dia gunakan serta tahapannya, kali ini berbeda. Yang sebelah kanan, armornya berwarna hitam, dan yang kiri berwarna putih. Warna itu didapat dari element inti dari keduanya.
"Apa?! Bagaimana bisa seperti itu?"
"Tidak mungkin!"
"Element kegelapan? Bagaimana bisa?"
Kekuatan yang luar biasa. Aku bisa merasakannya. Energinya kembali penuh. Terima kasih, Kak Steve. Aku akan menggunakannya sebaik mungkin, pikir Araya setelah dirinya bertransformasi.
"SERANG DIA!"
Perang telah diumumkan. Para Darkness Swordman itu bergerak menuju ke arahnya.
1 vs 100+, siapa yang akan menang?
Di tempat lain, seorang perempuan berusia kepala empat sedang berjalan mondar-mandir, ia mencemaskan seseorang.
"Ibu, tolong tenanglah." ucap putri sulungnya yang tidak lain adalah Allucia.
"Ibu tidak bisa tenang. Ibu sangat khawatir dengan keadaan Araya adikmu, Nak." balasnya sambil menatap Allucia.
"Araya pasti akan baik-baik saja."
"Iya, kamu benar. Ayo kita bantu dia dengan do'a."
...----------------...
__ADS_1
DUUAARRRR!
Ledakan hebat terjadi. Asap dan kobaran api mendominasi di kawasan sekitar situ. Seseorang berdiri di antara ratusan mayat yang sudah tidak terbentuk lagi. Tangan kanan orang itu mengeluarkan aura kegelapan, sedangkan tangan kirinya terlihat bercahaya.
Hah …
Kekuatan ini sangat sulit dikendalikan, tapi tak menutup kemungkinan untuk bisa dikendalikan. Araya melangkahkan kakinya, berjalan melewati ratusan mayat Darkness Swordman yang sudah meleleh menjadi cairan hitam seperti oli.
Langkahnya begitu berat. Energi yang dia punya terasa akan meledak kapan saja, seperti tadi. Inilah yang terjadi jika element Rigel dan element kegelapan digunakan bersamaan. Efeknya akan meluas hingga radius satu kilometer. Beruntung di lokasi itu hanya ada Darkness Swordman.
Terlihat tanah yang gosong akibat diinjak—dilewati—oleh Araya. Hal itu membuktikan seberapa panasnya element yang dia gunakan.
Drap! Drap! Drap!
"Hey, siapa itu? Kenapa dia terlihat tidak normal?" tanya Eve ketika melihat Araya yang berjalan di tempat bekas ledakan itu.
"Entahlah. Mungkin dia yang menyebabkan ledakan ini." balas Theo, ia juga terlihat heran setelah melihat Darkness Swordman abnormal—Araya—yang meledakkan rekan-rekannya sendiri.
Ledakan besar tadi berhasil memancing beberapa orang pihak Elemental datang ke lokasi itu.
Araya masih melanjutkan langkahnya. Tak menghiraukan rekan-rekannya yang menganggapnya sebagai sekutu Darkzero. Padahal, Araya adalah rekan Elemental.
"Berhenti kau!" teriak Theo sambil berlari ke arah Araya, diikuti Eve di belakangnya.
Araya pun berhenti. Kemudian jatuh terduduk karena tak mampu untuk mengendalikan kekuatan ini lagi.
"Eh? Apa yang—" Eve dibuat bingung olehnya. Mana ada Darkness Swordman yang menyerahkan diri begitu saja, begitulah pikirnya.
"Hey, siapa kau?" Theo berdiri di depan Araya, memasang sikap waspada jikalau Araya sewaktu-waktu menyerang.
"Zack, kita harus berhenti sekarang. Aku pikir, Araya masih belum kuat mengendalikan kekuatan besar ini." kata Shiroi pada Zack.
"Kupikir kamu benar. Baiklah." balas Zack, dan kemudian armor hitam putih yang Araya pakai tadi pun perlahan lenyap dan menampilkan Araya yang diam tak berkutik.
"Park Hana?!"
To be continued …
Sial, aku hampir nangis waktu ngetik part ini :')
Aku dobel up nih, spesial chapter ke-100.
Jangan lupa like ya!
__ADS_1