
[Araya's Origin Arc - #6]
...----------------...
"Ayah ke mana Bu? Aya mau ke-temu sama Ayah.." Araya kecil kembali berbicara. Menatap ibunya yang sedang memasang wajah cemas. Tentu saja Araya masih belum mengerti arti tatapan ibunya itu.
Araya mengalihkan pandangannya, dirinya jadi menatap ke arah sudut ruangan. Saat menatap ke arah itu, Araya tersenyum.
"A-yah.. Ayah pulang!" ucap Araya sambil mengarahkan kedua tangan kecilnya ke depan seakan minta digendong. Ibunya seketika bingung dan menatap ke arah yang ditatap Araya. Kosong, tidak ada apapun di sana.
Ibunya mendekap Araya dengan erat. Tanpa Araya ketahui, ibunya telah menangis karena terlalu khawatir.
"Kasihan Araya, dia belum sempat menghabiskan waktu dengan ayahnya, dan sekarang ayahnya sudah harus pergi lagi.."
...----------------...
"Hahahaha! Seru sekali ya, dan sekarang sudah hampir sekarat.." Darkzero tertawa setelah melihat Arga yang kembali ambruk dan sambil mengusap darah yang ke luar dari hidungnya. Armornya memang telah menghilang sejak beberapa menit yang lalu. Saat ini, benar-benar akan menjadi pertarungan yang hanya dengan tangan kosong.
"Apa.. Yang harus aku lakukan? Aku seperti tidak sanggup lagi.." kata Arga dalam hati sesaat setelah tubuhnya kembali diserang oleh Darkzero.
Darkzero bahkan tak memberinya kesempatan untuk kembali berdiri. Saat baru akan berdiri, sudah diserang lagi dan akhirnya kembali ambruk. Begitulah sedari tadi.
"Tulangku terasa remuk.. Darahku seperti akan habis.." sekilas memandang ke bawah yang terdapat banyak tetesan darahnya yang masih baru menetes.
Mulai dari tangan, kaki, dan wajah sudah mengeluarkan darah. Pakaiannya sudah kotor akibat terkena darah dan juga tanah.
BRUK!
Darkzero menendang tubuhnya hingga kembali terkapar. Tidak sampai di situ, dia langsung menginjak bahunya dengan kuat, bahkan sampai terdengar bunyi 'krak'.
"ARGHHH!"
"ARGA!"
"Jangan ikut campur kalian!" mengarahkan tangannya ke belakang, Darkzero menggunakan satu jurus kuat yang mampu menghempaskan tubuh Rain dan Fatih yang hendak datang dan menolong Arga.
__ADS_1
Belum puas pada kejadian itu, Darkzero membuat tangan-tangan dari bayangan yang kemudian dia gunakan untuk mengekang Rain dan Fatih. Tangan-tangan itu bahkan juga berusaha merebut paksa kekuatan Elemental yang ada pada mereka. Karena energinya sudah sekarat, mereka jadi tak bisa melawan. Darkzero memang hanya berkuasa di dalam daerahnya sendiri.
"HENTIKAN!!!" sekuat tenaga Arga berteriak. Tapi Darkzero tetap tak merespon dan masih saja menyiksa Rain dan Fatih.
Meskipun dalam keadaan yang sulit, Arga masih bisa berusaha dan tidak menyerah. Dia mencengkram pergelangan kaki Darkzero dengan kedua tangannya yang sudah terluka parah.
"Lepaskan! Dasar sialan!" Darkzero kembali menghempaskan tubuh Arga sampai sekitar sepuluh meter.
"Masih tidak menyerah?! Sebenarnya kau mau diapakan hah?! Seperti punya banyak nyawa saja!" kini malah Darkzero yang mulai terbawa emosi. Menatap nyalang pada Arga yang sudah bisa berdiri.
"Tidak perlu diapa-apakan. Orang bebal seperti aku bisa melakukan apapun, karena.. Aku masih punya dua nyawa! Elemental change! Darkness element!"
Arga mengganti kekuatan element-nya. Jika sebelumnya menggunakan element dari organisasi Elemental, maka sekarang dia menggunakan kekuatan element yang diberikan Darkzhi padanya beberapa saat yang lalu.
Setelah bertransformasi, seketika armor hitam pekat terpasang pada tubuhnya. Darkzero membelalakkan matanya tak percaya.
"Cih! Dari mana kau mendapatkan Darkness element itu? Siapa pengkhianat yang berani melakukan ini? Bawa dia ke sini!"
Mendengar perkataan Darkzero barusan, sontak puluhan Darkness Swordman yang juga berada di sana langsung bubar untuk mencari Darkzhi. Tempat itu seketika jadi sepi.
"Jangan khawatir, tak perlu cemaskan aku. Yang penting, apakah dengan kekuatan ini aku bisa mengalahkannya? Hal itu belum pernah terjadi sepanjang sejarah Elemental, iya kan?" Arga merespon dengan memberikan pernyataan yang terdengar masuk akal. Ini memang pertama kalinya ada anggota yang menggunakan kekuatan element kegelapan semenjak organisasi Elemental dunia didirikan.
"Hati-hati, Arga.." balas Rain, meskipun dia ingin membantu, tapi hal itu tak akan terjadi karena tubuhnya terjebak oleh puluhan tangan bayangan yang dibuat oleh Darkzero.
"Tentu. Oh iya, tolong nanti cek buku harianku ya. Baiklah, sampai di sini dulu."
Sesaat setelah Arga mematikan alat komunikasi miliknya, dia kembali menatap ke depan. Menatap Darkzero yang sudah kembali memegang pedangnya yang tadi.
"Luar biasa.. Aku merasakan kekuatan besar setelah menggunakan Element Kegelapan." batinnya, semangatnya telah kembali. Meskipun tubuh yang terluka, tapi setelah menggunakan Element ini lukanya jadi tak sebegitu terasa. Energinya telah terisi penuh. Tubuhnya terasa lebih ringan. Armor kali ini memang terasa lebih longgar dari armor yang sebelumnya, tapi aslinya memang pas dan cocok.
"Ayo kita membalas semua kekacauan yang pernah dia lakukan."
Arga memcoba mengatur strategi untuk mengalahkan Darkzero. Dia hendak membuat ilusi seperti yang pernah beberapa kali dilakukan para Darkness Swordman terhadap dirinya.
Kabut hitam muncul di sekitar tangan kanannya. Tak lama kemudian, Arga berhasil membawanya ke dunia ilusi. Dunia di mana semua bisa berjalan sesuai dengan keinginannya. Di sana, kita bisa melakukan apapun seperti menjadi author. Kita bisa melakukan apapun pada tokoh-tokoh yang kita inginkan. Apapun bisa terjadi.
__ADS_1
Tapi, tak menutup kemungkinan para tokoh bisa bertindak di luar keinginan. Mereka bisa saja memberontak, seperti yang dilakukan Darkzero pada Arga saat ini.
"Menggunakan teknik yang sama denganku untuk balas dendam? Menarik sekali. Tapi, teknik buatanmu itu tak akan sekuat buatanku!" ucap Darkzero sembari dengan mudah memutus rantai yang sebelumnya berhasil melilit tubuhnya.
"Ini masih belum apa-apa." Arga tak bingung sama sekali. Ini di dunia ilusi, apa saja bisa terjadi. Di masa kecilnya dulu, Arga memang dikenal sebagai anak yang suka berkhayal dan berimajinasi. Dia sering membuat dongeng dan cerita fiksi versinya sendiri.
Arga menatap langit yang telah menghitam akibat tertutup awan mendung. Begitupun dengan Darkzero, dia melakukan hal yang sama karena tak kunjung mendapat serangan balasan dari Arga.
Berbeda dari dugaannya. Dia mengira kalau Arga akan membuat halilintar ilusi untuk menyambarnya. Dia juga mengira kalau Arga akan membuat angin tornado super besar untuk menerjangnya. Tapi apa? Yang turun ada air hujan tanpa angin dan tanpa petir.
"Bertarung di bawah hujan akan lebih seru. Ayo, sekarang aku akan benar-benar meladeni kamu, Darkzero!" mengacungkan telunjuknya, Arga berucap tanda duel yang sebenarnya akan segera dimulai.
...----------------...
BUAKH! CPRAT!
Untuk yang kesekian kalinya, Arga berhasil membanting tubuh Darkzero ke tanah yang terdapat banyak genangan air. Untuk yang kesekian kalinya pula, Darkzero tidak maksimal dalam menyerang balik. Arga mengira kalau Darkzero mulai kehabisan tenaga. Dia hanya perlu memperkuat serangannya dan mempersingkat durasi pertarungan supaya Darkzero bisa lebih cepat dikalahkan.
"Bagaimana? Aku lebih cocok menggunakan kekuatan ini untuk melawanmu." tanya Arga sambil terus mendorong pedangnya, sedangkan Darkzero sudah terlihat kewalahan dalam menghadapi dan menerima berbagai serangan dari Arga.
"Untung saja aku ini bukan tipe orang yang kejam. Jadi aku ingin kamu mati lebih cepat daripada tersiksa terus-menerus."
"Haha.. Hahahahahahaha! Sepertinya kau telah tertipu. Aku tak akan semudah itu kau kalahkan meski ini dunia ilusi buatanmu sekalipun."
"Kau kira aku tak punya rencana karena sedari tadi hanya diam menerima serangan darimu? Aku diam karena sedang menyiapkan dan mengumpulkan tenaga untuk teknik terdahsyat yang akan kugunakan untuk menyegelmu." lanjutnya sambil tersenyum bangga. Ekspresi Arga seketika berubah, yang tadinya terkesan baik-baik saja, sekarang tingkat kewaspadaannya meningkat.
To be continued..
...----------------...
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Akankah dia benar-benar disegel?
****Dan, author mau kasih tau sesuatu. Aku bikin novel baru, judulnya "My Humanoid Boyfriend" silahkan dilihat di profilku ya****!
Jangan lupa like dan komentarnya, supaya author makin semangat. Sekian dan terima kasih.
__ADS_1